Dursasana: Perbedaan antara revisi
Konten dihapus Konten ditambahkan
k Robot: Perubahan kosmetika |
M. Adiputra (bicara | kontrib) k Pengembalian suntingan oleh Liona Fernandes (bicara) ke revisi terakhir oleh 103.210.202.132 Tag: Pengembalian |
||
(17 revisi perantara oleh 10 pengguna tidak ditampilkan) | |||
Baris 15:
| Asal = [[Hastinapura]], [[Kerajaan Kuru]]
}}
'''Dursasana''' atau '''Duhsasana''' {{Sanskerta|दुःशासन|Duḥśāsana}} adalah tokoh antagonis dalam [[wiracarita]] ''[[Mahabharata]]''. Ia merupakan adik [[Duryodana]], pemimpin para [[Korawa]], putra Raja [[Drestarasta]] dengan Dewi [[Gandari]]. Ia dikenal sebagai Korawa yang nomor dua di antara seratus Korawa.
Tokoh ini mendapat peran signifikan dalam ''[[Sabhaparwa]]'' (kitab kedua ''Mahabharata''), yang mengisahkan permainan dadu antara lima [[Pandawa]] melawan seratus [[Korawa]]. [[Dropadi]], istri para Pandawa menjadi budak para Korawa setelah dipertaruhkan dalam permainan tersebut. Merasa sebagai pemilik budak, Dursasana berusaha melucuti pakaian Dropadi secara paksa,
Dalam [[wayang|pewayangan]] [[Jawa]], Dursasana memiliki seorang istri bernama Dewi
Nama ''Duhsasana'' terdiri dari dua kata [[bahasa Sanskerta|Sanskerta]], yaitu ''duh'' dan ''śāsana''. Secara [[harfiah]], kata ''Dusśāsana'' memiliki arti "sulit untuk dikuasai" atau "sulit untuk diatasi".
Baris 25:
== Kelahiran ==
Dalam ''[[Adiparwa]]'' diceritakan bahwa Dursasana lahir dari kandungan [[Gandari]] dalam keadaan tidak wajar. Dikisahkan bahwa Gandari merasa iri terhadap [[Kunti]], iparnya sendiri yang telah melahirkan seorang putra bernama [[Yudistira]], sementara ia belum melahirkan meskipun sudah hamil tua. Dalam frustasi, Gandari memukul-mukul kandungannya sehingga mengeluarkan segumpal daging berwarna keabu-abuan dari rahimnya. Resi [[Byasa]], paman suaminya segera dipanggil ke istana untuk mengatasi keanehan tersebut. Berkat pengetahuannya, daging tersebut dibelah sampai berjumlah seratus potongan. Ia memasukkan potongan daging tersebut, masing-masing ke dalam sebuah pot, lalu menguburnya di dalam tanah.
Setahun kemudian, salah satu potongan daging berubah menjadi bayi yang diberi nama [[Duryodana]], yang lahir bersamaan dengan kelahiran putra kedua Kunti yang bernama [[Bimasena]]. Beberapa waktu kemudian, ada satu lagi potongan daging putra Gandari yang berubah menjadi bayi, yang diberi nama Dursasana. Kemunculan Dursasana ini bersamaan dengan kelahiran [[Arjuna]], putra ketiga Kunti. Daging-daging sisanya sebanyak 98 potongan kemudian menyusul berubah menjadi bayi normal, bersamaan dengan kelahiran [[Nakula]] dan [[Sahadewa]], putra kembar [[Madri]], istri kedua Pandu.
Sebanyak 100 orang putra Dretarastra dan Gandari kemudian dikenal dengan sebutan [[Korawa]], sedangkan kelima putra Pandu disebut [[Pandawa]]. Dalam ''Mahabharata'' dikisahkan bahwa meskipun bersaudara sepupu, Korawa selalu memusuhi Pandawa akibat iri hati, karena Yudistira dicalonkan sebagai penerus takhta. Di samping itu, mereka diajarkan cara-cara untuk mencelakai para Pandawa oleh paman mereka, yaitu [[Sangkuni]], saudara Gandari yang memiliki dendam terhadap [[Dinasti Kuru]].
== Pelecehan Dropadi ==
[[Berkas:Draupadi s presented to a pachisi game.jpg|
Dalam ''[[Sabhaparwa]]'' diceritakan bahwa kecemburuan para [[Korawa]] terhadap [[Pandawa]] semakin memuncak ketika kelima sepupu mereka itu berhasil membangun sebuah istana yang sangat indah bernama [[Indraprastha]]. Berkat bantuan licik [[Sangkuni]], para Korawa berhasil merebut Indraprastha melalui sebuah [[Sabhaparwa|permainan dadu]].
Baris 43:
== Kematian ==
[[Berkas:Bhima drinks blood.jpg
Puncak permusuhan [[Pandawa]] dan [[Korawa]] meletus dalam sebuah [[perang di Kurukshetra|pertempuran besar]] di [[Kurukshetra]]. Pada hari keenam belas, Dursasana bertarung melawan [[Bimasena]]. Dalam perkelahian tersebut Bimasena berhasil menarik lengan Dursasana sampai putus, kemudian merobek dada dan meminum darah sepupunya itu. Bimasena kemudian menyisakan segenggam darah Dursasana untuk diusapkannya ke rambut [[Dropadi]] yang menunggu di tenda.
== Versi pewayangan Jawa ==
Dalam [[wayang|pewayangan]] [[Jawa]], Dursasana memiliki tempat tinggal bernama Kasatriyan
Kisah kematian Dursasana dalam pewayangan lebih didramatisir lagi. Dikisahkan setelah kematian putra [[Duryudana]] yang bernama [[Laksmanakumara|Lesmana Mandrakumara]] pada hari ketiga belas, Dursasana diangkat sebagai [[putra mahkota]] yang baru. Namun, Duryudana melarangnya ikut perang dan menyuruhnya pulang ke [[Hastinapura|Hastina]] dengan alasan menjaga Dewi [[Banowati]], kakak iparnya. Banowati merasa risih atas kedatangan Dursasana. Ia menghina adik iparnya itu sebagai seorang pengecut yang takut mati. Sebagai balasannya, Dursasana membongkar perselingkuhan Banowati dengan [[Arjuna]]. Ia menuduh Banowati sebagai mata-mata [[Pandawa]]. Sebagai pembenaran, ia menuding bahwa Banowati lebih menyesali kematian [[Abimanyu]] putra Arjuna daripada kematian [[Laksmanakumara|Lesmana]], anaknya sendiri.
Baris 60:
Setelah Korawa tertumpas habis, Kerajaan Hastina pun jatuh ke tangan para Pandawa. Bima menempati istana Dursasana, yaitu Banjarjunut sebagai tempat tinggalnya.
=== Versi pewayangan ''
[[Berkas:
Cerita penuh ini bisa disimak dalam lakon wayang kulit "Gathutkaca Gugur" atau "Dursasana Jambak" atau juga "Karna Tandhing". Dalam versi ''
Pertarungan antara Bhima melawan Dursasana berlangsung sengit, dan para pengawal dari kedua belah pihak yang melihatnya tidak berani mencegahnya dan hanya bisa menyaksikan saja. Pertarungan ini diwarnai dengan saling ejek-ejekan, membakar emosi keduanya, sampai pada akhirnya Dursasana kelelahan dan berniat lari dari pertarungan. Ia berhasil dicegat oleh Bima. Setelah babak belur, [[Duryudana]] dan para [[Kurawa]] yang lain datang menemui Bima. Duryudana memohon agar adiknya tersebut tidak disiksa terus-menerus, sambil berjanji bahwa apabila Dursasana diampuni, maka [[Kerajaan Hastina]] dan [[Kerajaan Amarta]] akan diberikan secara sukarela. Mendengar tawaran Duryudana, Bima menghentikan siksaannya terhadap Dursasana. Setelah mengingat bahwa Dursasana pernah menjambak rambut Dewi [[Drupadi]], Bima pun menjambak rambut Dursasana kembali.
Tak lama kemudian, Prabu Kresna dan Kyai Semar Badranaya tiba. Mereka menasehati agar Dursasana tidak diampuni. Semar berkata bahwa Dursasana lebih pantas dihukum atas dosa-dosanya terhadap Dewi [[Drupadi]] yang hingga saat ini tidak mau memakai sanggul karena rambutnya pernah dijambak oleh Dursasana dan diseret sampai tempat perjudian. Sementara itu, Prabu Kresna berkata bahwa dahulu Dursasana pernah bersumpah bahwa apabila kerajaan milik Pandawa yang ada di Hastina diserahkan, maka darahnya siap menjadi minuman untuk Pandawa sebagai pelepas dahaga atas hukuman pembuangan 12 tahun. Saran mereka membuat emosi Bima tersulut kembali, sehingga ia memutuskan untuk membunuh Dursasana. Darah Dursasana diminumnya, dan sebagian darinya ia peras untuk dipakai keramas oleh Dewi Drupadi. Sedangkan kulitnya dikelupas untuk dijadikan ikat kepala Begawan [[Abyasa]].
== Lihat pula ==
|