Clostridium botulinum: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
6QTRZY94S4N7 (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(6 revisi perantara oleh 5 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 60:
Berdasarkan karakteristik atau aktivitas metabolik bakterinya, C. botulinum dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu sebagai berikut :
 
1.      Kelompok I termasuk tipe A dan galur proteolitik tipe B dan
 
2.      Kelompok II termasuk tipe E dan galur nonproteolitik tipe B dan F.
 
3.      Kelompok III termasuk galur nonproteolitik tipe C dan D.
 
4.      Kelompok IV adalah tipe G
 
Secara umum, kelompok proteolitik I dari C. botulinum akan bekerja dengan bantuan enzim endogenous dari bakteri, tetapi neurotoksin yang dihasilkan oleh galur proteolitik kelompok II memerlukan protease eksternal seperti tripsin untuk aktifasinya (DAHLENBORG et.al., 2003).<ref name=":2">{{Cite journal|last=Natalia|first=Lily|date=2012|title=BOTULISMUS: PATOGENESIS, DIAGNOSIS DAN PENCEGAHAN|url=http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=565615&val=7169&title=Botulism%20Pathogenesis%20Diagnosis%20and%20Prevention|journal=WARTAZOA|volume=22|issue=3|pages=127-140|access-date=2021-06-16|archive-date=2021-06-16|archive-url=https://web.archive.org/web/20210616043331/http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=565615&val=7169&title=Botulism%20Pathogenesis%20Diagnosis%20and%20Prevention|dead-url=yes}}</ref> Spesies atau jenis yang terinfeksi sebagian besar yaitu manusia dan hewan sedangkan untuk kelompok 4 belum diketahui secara pasti spesies utama yang terinfeksinya.
 
== Sumber ==
Clostridium Botullinum banyak ditemukan pada makanan yang kurang diproses, sosis, produk daging, sayuran kaleng, produk makanan laut, makanan kaleng. C. botulinum dapat membentuk spora, dimanadi mana spora ini dapat ditemukan di tanah, tanaman, isi usus hewan mamalia, unggas, dan ikan (Natalia, 2012),<ref name=":2" />, sehingga dapat dikatakan penyebarannya ini sangat luas.
 
== Patofisiologi ==
Mekanisme masuknya C. botulinum ke dalam tubuh dapat melalui kontaminasi luka, mulut/makanan dan pernapasan. C. botulinum yang sudah masuk dalam tubuh dapat memproduksi neurotoksin dalam saluran pencernaan atau jaringan tubuh yang luka karena lingkungannya mendukung untuk pertumbuhannya. Lalu, neurotoksin akan diabsorbsi oleh tubuh di peredaran darah dan akan menuju ke synaps melalui NMJ (''Neuromuscular juntion''). <ref name=":2" />
 
Neurotoksin yang sudah ada di synaps akan masuk ke sitoplasma, dimana terjadi pemecahan protein oleh endopeptidase dari light chain toksin. Pemecahan protein ini akan membentuk sebuah synaptic fusion complex atau disebut ''soluble N-ethylmaleimide- sensitive factor attachment protein receptors'' (SNARE).
Baris 83:
Botulismus atau penyakit yang diakibatkan oleh C.botulinum ini merupakan kejadian yang cepat mematikan, sehingga diagnosis yang cepat perlu dilakukan untuk keberhasilan pengobatan atau penyelesaian masalah penyakit. Untuk mendeteksi C. botulinum dapat diambil pada sampel seperti feses, isi lambung, isi usus, swab luka dan jaringan akan membantu penegakkan diagnosis. Terkadang adanya beberapa galur C. botulinum penghasil beberapa macam toksin cukup menyulitkan.
 
Cara paling langsung dan efektif untuk memastikan diagnosis klinis botulisme di dalam labotarorium adalah dengan memeriksa adanya racun dalam serum atau kotoran pasien atau dalam makanan yang dikonsumsi oleh pasien. Saat ini, metode deteksi toksin yang paling sensitif dan digunakan secara luas adalah uji netralisasi tikus ( ''mouse neutralization test'' ). Uji ini memerlukan waktu 48 jam dengan pembiakan sample memerlukan waktu 5-7 hari. Botulisme pada bayi didiagnosis dengan memeriksa adanya racun botulinal <ref name=":2" /> dan ''C. botulinum'' di dalam kotoran bayi.
 
== Pencegahan ==
Faktor utama yang mengontrol pertumbuhan C. Botullinum dalam makanan adalah suhu, pH dan keasaman, Aw, potensi redoks, kecukupan nutrisi, adanya antimikroba dan mikrobiota kompetitif.<ref>{{Cite book|date=2019-06-01|url=http://doi.wiley.com/10.1128/9781555819972|title=Food Microbiology: Fundamentals And Frontiers|location=Washington, DC, USA|publisher=ASM Press|isbn=978-1-68367-047-6|editor-last=Doyle|editor-first=Michael P.|language=en|doi=10.1128/9781555819972|editor-last2=Diez-Gonzalez|editor-first2=Francisco|editor-last3=Hill|editor-first3=Colin}}</ref> Pencegahan dari toksin C. Botullinum ini dapat dilakukan dengan beberapa cara mulai dari proses pengolahannya sampai adanya vaksinasi, sebagai berikut :
 
1.      Kadar Aw
 
Untuk menghambat pertumbuhan organisme dapat dilakukan dengan penurunan ''aw'' seperti penggunaan garam diatas 10% untuk menghambat strain grup I dan garam diatas 5% untuk strain grup II. Selain itu, dapat pula digunakan konsentrasi gula yang tinggi yaitu sukrose 30%.<ref name=":0" />
 
2.      pH
 
Untuk kelompok 1 C. Botulinum ph yang dianggap aman adalah pH <4,6 sehingga C.botulinum tidak akan berkecambah, tumbuh lebih besar, dan membentuk toksin botulismus. Makanan dengan keamanan botulisme yang sangat baik adalah makanan atau produk makanan dengan pH <4,6 atau makanan asam tinggi. Sedangkan untuk kelompok 2, pH kritis adalah 5,0 untuk pencegahan perkecambahan spora dan pembentukan toksin botulisme.
 
3.      Suhu penyimpanan
 
Pertumbuhan yang baik untuk C. Botulinum terjadi pada suhu 20<sup>o</sup> sampai 45<sup>o</sup>C sehingga untuk menghambat pertumbuhannya dapat dilakukan dengan memperhatikan suhu penyimpanan yaitu 10<sup>o</sup>C untuk grup I dan 4<sup>o</sup> sampai 6<sup>o</sup>C.<ref name=":0" />
 
4.      Pengolahan atau penyimpanan
 
Semua makanan yang dikalengkan dan diawetkan secara komersial umumnya aman untuk dikonsumsi karena makanan telah disterilkan/ menggunakan ph yang tinggi/terlalu asam atau juga dengan diawetkan dengan cara lain. Untuk produk segar tidak berbahaya. Racun dapat dihancurkan pada suhu 75°-80&nbsp;°C, sehingga makanan yang telah dimasak dan dipanaskan aman dikonsumsi. Selain itu, dapat juga dilakukan pengasapan untuk mengurangi toksinnya. Menurut Heinitz dan Johnson (1998)<ref name=":0" /> menemukan bahwa pengasapan cukup efektif untuk menurunkan jumlah kuman, dimana tidak ada C. Botullinum yang ditemukan pada produk ikan yang diasapkan selama lima tahun penelitiannya. Ini dikarenakan adanya penghambatan yang diakibatkan oleh hasil dari kombinasi garam dan nitrat, asap serta suhu penyimpanan yang rendah (3,3<sup>o</sup>C).
 
Disarankan juga untuk memanaskan makanan dengan temperatur yang tinggi (makanan kaleng) dengan tujuan untuk mematikan spora; mendinginkan makanan yang tidak dimasak (suhu lebih rendah dari 3,3 <sup>o</sup>C); dan segera mengkonsumsi makanan yang telah dimasak karena apabila dibiarkan terlalu lama (suhu makanan 20 <sup>o</sup> sampai 45 <sup>o</sup>C) adalah suhu optimal untuk pertumbuhan ''C. Botulinum''.
 
5.     Vaksin
 
Vaksin untuk pencegahan botulismus pada manusia dapat berupa pentavalent botulinum toxoid (PBT) yang telah digunakan sejak tahun 1959 dan masih dipergunakan sampai saat ini dengan berbagai modifikasi (SIEGEL, 1988; TORRI et al., 2002; DEMBEK et al., 2009).<ref name=":2" /> PBT adalah toksoid (toksin yang telah diinaktifasi), yang dibuat dari toksin serotipe A, B, C, D dan E yang diinaktifasi dengan formalin, dan mengalami pemurnian. Vaksin botulismus biasanya diberikan secara subcutaneous secara berseri (0, 2 dan 12 minggu), dan berikutnya dapat diberikan booster pada 12 bulan dan setiap tahun berikutnya.
 
6.      Mikrobiota yang kompetitif<ref name=":3">{{Cite book|last=Lund|first=Barbara M.|last2=Peck|first2=Michael W.|date=2013|url=https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/9781118684856.ch6|title=Guide to Foodborne Pathogens|publisher=John Wiley & Sons, Ltd|isbn=978-1-118-68485-6|pages=91–111|language=en|doi=10.1002/9781118684856.ch6}}</ref>
 
Mikrobiota kompetitif adalah mikroba  yang dapat menghambat kerja dari C.botullinum ini, misalnya bakteri asam laktat atau ragi. Bakteri asam laktat atau ragi ini yang memfermentasi gula dan substrat lain dalam makanan dengan cara memproduksi tingat penghambatan asam organik, alkohol. Contoh lain yaitu pengawet seperti nitrit.
 
Menurut salah satu sumber, ada beberapa faktor lain yang dapat mengendalikan tumbuh C.botulinum ini seperti kriteria proses pemanasan pada 12­1­­­121<sup>o</sup>C selama minimal 3 menit, proses dengan bantuan rendah asam ataupun melakukan sterilisasi termal dengan bantuan tekanan.
 
== Efek pada pangan ==
Baris 120:
 
* Secara umum, makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum dapat menimbulkan masalah kesehatan yang disebut botulisme.
 
* Pada kasus keracunan pangan, botulisme terjadi akibat intoksikasi neurotoksin yang diproduksi bakteri Clostridium botulinum. Manifestasi gejala yang timbul pada botulisme akibat keracunan pangan antara lain: keram perut, pandangan buram, kesulitan bernafas, dan kelemahan otot (biasanya didahului dengan kelemahan otot yang dipersarafi saraf kranial yang berfungsi mengatur gerakan mata, wajah, mengunyah, dan menelan).
 
* Pada kasus keracunan pangan yang berat akibat terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum adalah dapat terjadi gagal nafas.
 
* Gejala keracunan timbul dalam waktu 12-36 jam setelah mengonsumsi pangan tercemar, namun dapat juga timbul dalam 1-10 hari.
 
Baris 136 ⟶ 133:
* Botulisme bayi (''Infant botulism'')
 
Botulisme ini menyerang bayi di bawah usia 12 bulan.<ref name=":4" />. Nantinya setelah menelan spora yang terbentuk di usus akan memberikan bakteri vegetatif yang membentuk toksin. Botulisme ini pertama kali dikenal di Amerika Serikat, terjadi pada bayi berusia kurang dari satu tahun, paling sering pada bayi berusia kurang dari 35 minggu. Gejalanya dapat berupa sembelit, lemah, dan gejala neurologis lainnya. Dalam beberapa kasus C.botulinum terdeteksi pada tinja bayi tersebut.
 
* Botulisme luka (''Wound botulism'')
Baris 162 ⟶ 159:
[[Kategori:Bakteri]]
[[Kategori:Clostridiaceae]]
[[Kategori:Bakteri yang dideskripsikan tahun 1896]]