Makam Ratu Mas Malang: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Bot5958 (bicara | kontrib)
k Perbaikan untuk PW:CW (Fokus: Minor/komestika; 1, 48, 64) + genfixes
Tidak ada ringkasan suntingan
 
(34 revisi perantara oleh 5 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1:
{{Infobox cagar budaya
| Name = Kompleks Makam Gunung Kelir<br>{{nobold|{{small|ꦥꦱꦫꦺꦪꦤ꧀ꦒꦸꦤꦸꦁꦏꦼꦭꦶꦂ}}}}
| Image = [[Berkas:Makam Ratu Mas Malang (1).jpg|250px]]
| caption =
Baris 6:
| Criteria = Situs
| ID = Belum ada {{br}}(Pengajuan 4 Oktober 2015)
| Location = Gunung Sentana, PedukuhanPadukuhan Gunung Kelir, KelurahanKalurahan Pleret, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
| Year =
| ownership = Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Baris 17:
| coordinates =
}}
'''Makam Ratu Mas Malang,''' '''Makam Gunung Kelir''', atau '''Makam Antakapura''' ([[bahasa Kawi]]: "istana kematian" atau "istana tempat menguburkan jenazah"), atau '''Makam Gunung Kelir''' ({{lang-jv|ꦥꦱꦫꦺꦪꦤ꧀ꦒꦸꦤꦸꦁꦏꦼꦭꦶꦂ|Pasaréan Gunung Kelir}}) adalah situs [[cagar budaya]] peninggalan dari [[Hamangkurat I|Amangkurat I]] atau Amangkurat Agung yang terletak di PedukuhanPadukuhan Gunung Kelir, [[Pleret, Pleret, Bantul|KelurahanKalurahan Pleret, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul]], [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta]]. Situs ini berada di puncak bukit [[Gunung Sentana]], dengan ketinggian <u>+</u> 99 meter di atas permukaan laut (mdpl). Keberadaannya berkaitan dengan tokoh yang dimakamkan di tempat ini, yaitu Ratu Mas Malang dan Ki Panjang Mas. Mas Malang adalah putri dari Ki Wayah, seorang dalang [[wayang gedog]], serta salah satu selir Amangkurat I. Sebelum menjadi selir, dia adalah istri dari Dalang Panjang, salah satu dalang terkenal di daerah [[Kesultanan Mataram]]. Makam ini dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu sejak Mas Malang meninggal tahun 1665 hingga selesai pada 11 Juni 1668. Konstruksi dinding bangunannya berasal dari dari balok-balok batu putih, sedangkan nisannya terbuat dari batu andesit. Secara keseluruhan, kondisi fisik kompleks permakaman ini sudah rusak, terutama disebabkan oleh faktor alam.
 
== Keadaan bangunan ==
 
Berdasarkan data dalam Laporan Studi Teknis Arkeologis yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta (saat ini BPCBBPK YogyakartaWilayah X) tanggal 27 September–12 Oktober 2004, kompleks Makam Ratu Mas Malang secara administratif terletak di puncak Gunung Sentana,{{efn|Gunung Sentana adalah nama dari puncak bukitnya, sedangkan Gunung Kelir adalah nama pedukuhannya ({{harvnb|Robson|2003|pp=71–72}}). }}{{sfnp|Pratama|Priswanto|2013|p=240|ps=}} PedukuhanPadukuhan Gunung Kelir, KelurahanKalurahan Pleret, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ketinggian <u>+</u> 99 meter di atas permukaan lautmdpl.{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=80–81|ps=}}{{sfnp|Setiadi|Fransisca|2018|p=11|ps=}}<ref name=":7" /> Priswanto dan Alifah menambahkan jika kondisi fisik kompleks permakaman ini secara umum mengalami kerusakan, terutama disebabkan oleh faktor alam, yaitu [[Gempa bumi Yogyakarta 2006|gempa bumi]] yang terjadi pada 10 Juni 1867 dan 27 Mei 2006 danmaupun [[mikroorganisme]] ([[alga]], [[lumut daun]], dan [[lumut kerak]]) yang merusak dinding makam.<ref name=":7">{{Cite web|last=Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta|first=|date=|title=Makam Ratu Mas Malang yang Malang|url=https://arkeologijawa.kemdikbud.go.id/2017/08/29/makam-ratu-mas-malang-yang-malang/|website=Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta|access-date=5 April 2020}}</ref>{{sfnp|Priswanto|Alifah|2019|p=25|ps=}}
[[Berkas:Antakapura (2).jpg|jmpl|260x260px|Makam Ratu Mas Malang pada 2021.]]
[[Berkas:Makam Retno Gumilang.jpg|jmpl|260x260px|Jirat makam Ratu Mas Malang (tengah).]]
Berdasarkan data dalam Laporan Studi Teknis Arkeologis yang dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta (saat ini BPCB Yogyakarta) tanggal 27 September–12 Oktober 2004, kompleks Makam Ratu Mas Malang secara administratif terletak di puncak Gunung Sentana,{{efn|Gunung Sentana adalah nama dari puncak bukitnya, sedangkan Gunung Kelir adalah nama pedukuhannya ({{harvnb|Robson|2003|pp=71–72}}). }}{{sfnp|Pratama|Priswanto|2013|p=240|ps=}} Pedukuhan Gunung Kelir, Kelurahan Pleret, Kapanéwon Pleret, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ketinggian <u>+</u> 99 meter di atas permukaan laut.{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=80–81|ps=}}{{sfnp|Setiadi|Fransisca|2018|p=11|ps=}}<ref name=":7" /> Priswanto dan Alifah menambahkan jika kondisi fisik kompleks permakaman ini secara umum mengalami kerusakan, terutama disebabkan oleh faktor alam, yaitu [[Gempa bumi Yogyakarta 2006|gempa bumi]] yang terjadi pada 27 Mei 2006 dan [[mikroorganisme]] ([[alga]], [[lumut daun]], dan [[lumut kerak]]) yang merusak dinding makam.<ref name=":7">{{Cite web|last=|first=|date=|title=Makam Ratu Mas Malang yang Malang|url=https://arkeologijawa.kemdikbud.go.id/2017/08/29/makam-ratu-mas-malang-yang-malang/|website=Balai Arkeologi Daerah Istimewa Yogyakarta|access-date=5 April 2020}}</ref>{{sfnp|Priswanto|Alifah|2019|p=25|ps=}}
 
[[Berkas:Antakapura (2).jpg|jmpl|left|260x260px|Makam Ratu Mas Malang pada 2021.]]
[[Berkas:Makam Retno Gumilang.jpg|jmpl|left|260x260px|Jirat makam Ratu Mas Malang (tengah).]]
''[[Babad Momana]]'' mencatat bahwa makam ini dibangun selama kurang lebih tiga tahun, yaitu ketika Mas Malang meninggal tahun 1665 hingga 11 Juni 1668.{{sfnp|Ricklefs|1993||p=68–70|ps=}}{{sfnp|Priswanto|Alifah|2019|p=14|ps=}} Amangkurat I menamakan tempat itu dengan nama Antakapura (bahasa Kawi) yang berarti “istana kematian” atau “istana tempat menguburkan jenazah”,<ref name=":02" /> sedangkan masyarakat sekitar menamakannya dengan nama Makam Gunung Kelir karena terdapat guratan-guratan di dinding makam yang menyerupai kelir dalam pementasan wayang kulit.{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=80–81|ps=}}{{sfnp|Rohman|2021||p=94|ps=}}
 
Situs cagar budaya{{sfnp|Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul|2013||p=1–2|ps=}} ini secara keseluruhan memiliki luas sebesar <u>+</u> 32 meter x 33 meter<sup>2</sup>.{{sfnp|Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta|2014||p=1|ps=}} Jumlah keseluruhan nisan yang berada di dalamnya mencapai 28 buah<ref name=":2">{{Cite web|last=Rohman|first=Taufiqur|date=|title=Istana Kematian Gunung Kelir, Lambang Cerita Cinta Memilukan Ratu Kelir|url=https://phinemo.com/istana-kematian-gunung-kelir-lambang-cerita-cinta-memilukan-ratu-kelir/|website=Phinemo|access-date=5 April 2020}}</ref> dan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu halaman depan sebanyak 19 buah, halaman inti sebanyak delapan buah (salah satunya makam Mas Malang), dan halaman belakang sebanyak satu buah (makam Dalang Panjang).{{sfnp|Pratama|Priswanto|2013|p=240|ps=}}<ref name=":02">{{Cite web|last=Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta|first=|date=|title=Situs Makam Ratu Malang|url=https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/situs-makam-ratu-malang-2/|website=Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia|access-date=5 April 2020}}</ref> Prasetyo dalam laman resmi BPCB Yogyakarta mengungkap bahwa konstruksi dinding makam tersebut terbuat dari balok-balok batu putih, sedangkan mayoritas [[jirat]] yang berada di makam itu terbuat dari [[Andesit|batu andesit]], dengan rincian 14 buah berbentuk kurung kurawal dan satu buah berbentuk jajaran genjang. Lebih lanjut, Prasetyo menambahkan bahwa nisan-nisan lain yang berupa tumpukan batu putih tidak memiliki jirat.<ref name=":0">{{Cite web|last=Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta|first=|date=|title=Situs Makam Ratu Malang|url=https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbyogyakarta/situs-makam-ratu-malang/|website=Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Republik Indonesia|access-date=5 April 2020}}</ref>
 
Situs lain yang berada satu kompleks dengan permakaman ini adalah Sendang Maya.{{sfnp|Rohman|2021||p=94–95|ps=}} Situs yang terdiri atas dua kolam itu berada di sebelah timur laut makam dan berfungsi sebagai penampung air hujan.{{sfnp|Sekarnina|2018||p=37|ps=}} Kolam yang berada di dalam dinding keliling berukuran <u>+</u> 3,5 meter x 5 meter, sedangkan yang berada di luar dinding keliling berukuran <u>+</u> 6 meter x 6 meter.{{sfnp|Rohman|2021||p=95|ps=}} Sendang tersebut dikelilingi dinding batu bata yang sama dengan Makam Ratu Mas Malang, serta memiliki ketinggian <u>+</u> 3 meter dan ketebalan 2,1 meter.<ref name=":02" /> Surakso Sardjito, [[juru kunci]] makam, yang diwawancarai oleh Rohman menuturkan bahwa sendang tersebut awalnya akan digunakan oleh Amangkurat I untuk memakamkan Mas Malang, tetapi tanahnya terus mengeluarkan air ketika digali.{{sfnp|Rohman|2021||p=95|ps=}} Amangkurat I akhirnya memakamkan wanita itu di kompleks permakaman yang sama dengan Dalang Panjang.{{sfnp|Sekarnina|2018||p=37|ps=}}
 
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya mencatat terdapat sebuah balok batu andesit yang ditemukan di kompleks permakaman ini.{{sfnp|Rohman|2021||p=96–97|ps=}} Penduduk setempat memercayai batu yang dinamakan dengan Watu Jonggol dan mempunyai dua tonjolan di kedua ujungnya itu adalah kotak wayang milik Dalang Panjang.<ref name=":3">{{Cite web|last=Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia|first=|date=|title=Kompleks Makam Gunung Kelir|url=http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/cagarbudaya/detail/PO2015100400652/kompleks-makam-gunung-kelir|website=Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya|access-date=5 April 2020}}</ref> Sardjito memperkuat pernyataan tersebut dengan menambahkan jika siapa pun yang cakupan tangannya mampu mencapai keseluruhan panjang batu tersebut, keinginannya akan terkabul.{{sfnp|Sekarnina|2018||p=37|ps=}}{{sfnp|Rohman|2021||p=97|ps=}}
 
<gallery>
Baris 42:
== Asal-usul pendirian ==
 
Menurut Adrisijanti, keberadaan situs ini berkaitan dengan Ki Dalem atau Ki Panjang Mas dan Ratu Mas Malang.{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=63|ps=}} Mas Malang merupakan putri dari dalang wayang gedog bernama Ki Wayah, yang kemudian dijadikan selir oleh Amangkurat I.<ref name=":02" /> Beberapa sumber menyebutkan Mas Malang mempunyai nama asli Retno Gumilang atau Nyai Truntum.{{sfnp|Rohman|2021||p=97|ps=}}<ref name=":9">{{Cite web|last=Redaksi Merapi|first=|date=|title=Makam Ratu Malang dan Kisah Cinta Memilukan (2) – Raja Terpesona dengan Kecantikan Sang Sinden|url=https://www.harianmerapi.com/kearifan/2020/07/19/103626/makam-ratu-malang-dan-kisah-cinta-memilukan-2-raja-terpesona-dengan-kecantikan-sang|website=Harian Merapi|language=|access-date=29 Mei 2021}}</ref><ref name=":10">{{Cite web|last=Sejarah Kita|first=|date=|title=Akhir Kisah Cinta Sang Paduka: Sunan Amangkurat I dan Ratu Mas Malang|url=https://sejarahkita.com/akhir-kisah-cinta-sang-paduka-sunan-amangkurat-i-ratu-mas-malang/|website=Sejarah Kita|language=|access-date=29 Mei 2021}}</ref>{{sfnp|Rohman|2021||p=97|ps=}} Sebelum diangkat menjadi selir, dia merupakan istri dari Dalang Panjang,{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=63|ps=}} salah satu dalang di wilayah Kesultanan Mataram yang hidup sejak pemerintahan [[Anyakrawati|Susuhunan Anyakrawati]] atau Panembahan Seda ing Krapyak.{{sfnp|Setiadi|Fransisca|2018|p=11|ps=}}<ref name=":7" />{{sfnp|Siswanta|2019|p=38|ps=}}{{sfnp|Mardiono|2020||p=238|ps=}} Dalang Panjang memiliki nama asli Soponyono, sedangkan asalnya dari [[Keresidenan Pati]].{{sfnp|Rohman|2021||p=97|ps=}} Beberapa sumber lisan menyatakan jika dia merupakan murid dari [[Sunan Kalijaga]], tetapi klaim tersebut tidaklah kuatbenar.{{efn|Ki Panjang Mas hidup pada masa Panembahan HanyakrawatiAnyakrawati dan Amangkurat I. HanyakrawatiAnyakrawati bertakhta tahun 1601–1613, sedangkan Amangkurat hidup tahun 1619–1677 dan berkuasa sejak tahun 1646. Sunan Kalijaga sendiri diperkirakan hidup tahun 1430–1580. Pendapat terkuat mengenai kelahiran Kalijaga sekitar tahun 1430-an adalah catatan mengenai pernikahannya dengan putri Sunan Ampel, bernama Siti Khafsah, pada 1450-an. Saat itu, Kalijaga berusia 20 tahun ({{harvnb|Sabiq|2021|pp=2–4}}). Adapun pendapat terkuat mengenai kematian Kalijaga sekitar tahun 1580-an adalah catatan yang menyebutkan dia pernah berkunjung ke Kesultanan Mataram ketika dipimpin oleh Panembahan Senapati. Wafatnya Kalijaga juga berkaitan dengan pergantian kepala Perdikan Kadilangu oleh putranya ({{harvnb|Farobi|2019|pp=110}}). Berdasarkan data-data tersebut, klaim Dalang Panjang merupakan murid dari Kalijaga tidaklah kuat karena masa hidup keduanya berbeda jauh.}}{{sfnp|Adrisijanti|2000||p=63|ps=}}
 
[[Berkas:Makam Ki Panjang Mas.jpg|jmpl|260x260px|Jirat makam Ki Panjang Mas.]]
[[Berkas:Makam Ratu Mas Malang (2).jpg|jmpl|260x260px|Beberapa nisan tanpa nama yang berada di halaman depan permakaman diduga merupakan makam pengrawit dan sinden yang ikut dibunuh bersama Ki Panjang Mas.]]
Sampai saat ini, Dalang Panjang dijadikan sebagai sanad spiritual dan keilmuan bagi para maestro pedalangan di wilayah [[Daerah Istimewa Yogyakarta|Yogyakarta]] dan [[Jawa Tengah]].<ref name=":11">{{Cite web|last=Habibi|first=Tri Nur|date=|title=Ki Dalang Panjang Mas, Sosok Penting Adanya Pergelaran Wayang Gelar Budaya Mataram|url=https://www.krjogja.com/berita-lokal/diy/bantul/ki-dalang-panjang-mas-sosok-penting-adanya-pergelaran-wayang-gelar-budaya-mataram/|website=Kedaulatan Rakyat|access-date=5 April 2020}}</ref>{{sfnp|Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta |2007||p=61|ps=}} Menurut kisah tutur yang diceritakan secara turun-temurun, nama Panjang Mas didapatkannya setelah melakukan pementasan wayang di Pantai Selatan. Penguasa LautPantai Selatan lantas memberinya baki panjang yang terbuat dari emas karena dia tidak mau diberi imbalan berupa uang.{{sfnp|Rohman|2021||p=97|ps=}} Hadiah itulah yang menyebabkan dirinya dikenal dengan nama Ki Panjang Mas.{{sfnp|Olthof|Sumarsono|2009|p=183|ps=}}
 
Dalang Panjang mempunyai olah napas panjang dan suara yang merdu, sehingga suluknya tidak terputus-putus atau tersengal-sengal. Lebih lanjut, dia juga berprofesi sebagai penulis yang membuat peraturan mengenai tata cara meruwat. Dia membuat peraturan bahwa siapa pun yang ingin melakukan upacara [[ruwatan]] di daerah Mataram harus meminta izin kepadanya. Selain itu, dia juga mengganti pertunjukan [[wayang beber]] dengan [[wayang kulit]] dalam upacara ruwatan. Sebagai seorang dalang, Dalang Panjang memiliki rombongan [[pengrawit]] dan [[Pesindhen|sinden]]. Salah seorang sindennya adalah istrinya sendiri, wanita yang memiliki bentuk tubuh nyaris sempurna jika ditilik dari sisi ''katuranggan'' (ilmu mengenai sifat suatu benda, manusia, dan hewan berdasarkan penampilan fisiknya).{{sfnp|Rohman|2021||p=97–98|ps=}} Hal inilah yang menyebabkan Amangkurat I terpikat kepada Mas Malang.{{sfnp|Olthof|Sumarsono|2009|p=183|ps=}}
 
Keterangan dalam ''Babad Tanah Jawi: Javanese Rijskroniek'' menunjukkan jika Amangkurat I awalnya memerintahkan pasukannya untuk mencari wanita yang akan dijadikan sebagai selir baru.<ref name=":4">{{Cite news|last=Sabandar|first=Switzy|date=|title=Kisah Dramatis Sinden Terkasih Raja Jawa|url=https://www.liputan6.com/regional/read/2567426/kisah-dramatis-sinden-terkasih-raja-jawa|work=[[Liputan6.com]]|access-date=5 April 2020|editor-last2=Mutiah|editor-first2=Dinny|language=id|editor-last=Mahbub|editor-first=Harun}}</ref> Amangkurat I lantas bertemu dengan Dalang Wayah yang mempunyai seorang putri, tetapi telah diperistri oleh Dalang Panjang dan hamil dua bulan.<ref name=":8">{{Cite web|last=Pamungkas|first=Muhammad Fazil|date=|title=Cinta Amangkurat I|url=https://historia.id/kuno/articles/cinta-amangkurat-i-PdlE7|website=Historia|access-date=5 April 2020}}</ref>{{sfnp|Sujarweni|2017||p=53|ps=}} Amangkurat I tidak menghiraukan hal itu dan memerintahkan pasukannya untuk membawa paksa wanita itu ke istana.{{sfnp|Olthof|Sumarsono|2009|p=183–184|ps=}} [[J.J. Meinsma|Johannes Jacobus Meinsma]] mengatakan bahwa Amangkurat I begitu mencintainya, sehingga Mas Malang kemudian diangkat sebagai ''selir kinasih'' (selir yang paling disayang)''<ref name=":5">{{Cite web|last=Redaksi Merapi|first=|date=|title=Pesareyan Antakapura Gunung Kelir – Selir dan Abdi Tak Bersalah Dibantai|url=https://www.harianmerapi.com/kearifan/2018/11/10/41682/pesareyan-antakapura-gunung-kelir-selir-dan-abdi-tak-bersalah-dibantai|website=Harian Merapi|access-date=5 April 2020}}</ref>'' dengan gelar Ratu Wetan.<ref name=":02" /><ref name=":2" /> Namun, wanita tersebut dianggap telah merusak rumah tangga kerajaan.{{sfnp|Meinsma|1875||p=80|ps=}} [[H.J. de Graaf|Hermanus Johannes de Graaf]] membantah hal ini dalam bukunya berjudul ''Runtuhnya Istana Mataram''. Berdasarkan pengamatannya, Amangkurat I sebenarnya tidak mengabaikan selir dan permaisurinya yang lain, tetapi perhatiannya memang lebih banyak dipusatkan kepada Mas Malang.{{sfnp|Rohman|2021||p=98|ps=}} Hal inilah yang menyebabkan Mas Malang dijuluki dengan Ratu Malang, yang berarti “yang melintang di jalan”.{{sfnp|De Graaf|1987||p=18–19|ps=}}
 
Singkat cerita, Mas Malang akhirnya melahirkan bayi laki-laki hasil hubungannya dengan Dalang Panjang sekitar tahun 1649, yang diberi nama Pangeran Natabrata atau Raden Resika.<ref name=":8" /> Amangkurat I lantas diam-diam memerintahkan pasukannya membunuh Dalang Panjang dan menguburkannya di puncak Gunung Sentana{{sfnp|Setiadi|Fransisca|2018|p=11|ps=}}{{sfnp|Siswanta|2019|p=38|ps=}} untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan.<ref name=":02" /><ref name=":2" /> Namun, Margana yang diwawancarai oleh Sabandar memiliki versi berbeda terkait pembunuhan Dalang Panjang. Dia menuturkan bahwa Amangkurat I mengundang Dalang Panjang, Mas Malang, serta rombongan pengrawit dan sindennya untuk mengadakan pementasan wayang di istana. Dalang Panjang dan seluruh rombongannya itu kemudian dibunuh pada pertengahan acara, kecuali Mas Malang. Wanita ini akhirnya bersedia menjadi selir karena tidak mempunyai pilihan lain.<ref name=":4" />
Baris 58:
Mas Malang lama-kelamaan akhirnya mengetahui bahwa suaminya telah dibunuh oleh prajurit istana. Wanita tersebut selalu mengigau dan sedih setiap mengingatnya.{{sfnp|Rohman|2021||p=100|ps=}} Tidak berselang lama kemudian, dia meninggal karena muntaber, tetapi ada pula yang menyebutkan bahwa dia diracun oleh orang-orang istana yang tidak menyukainya.{{sfnp|Olthof|Sumarsono|2009|p=183–184|ps=}} Amangkurat I di sisi lain juga mencurigai bahwa ''selir kinasih'' itu diguna-guna karena tubuhnya mengeluarkan cairan menyengat sebelum meninggal.<ref name=":8" /><ref name=":12">{{Cite news|last=Handoko|first=Doddy|date=|title=Kebengisan Amangkurat I, Kurung 60 Dayang Istana di Dalam Kamar Sampai Mati|url=https://nasional.okezone.com/read/2021/03/19/337/2380306/kebengisan-amangkurat-i-kurung-60-dayang-istana-di-dalam-kamar-sampai-mati|work=[[Okezone.com]]|access-date=21 Mei 2021}}</ref>
 
Dia juga menganggap bahwa igauan Mas Malang yang mengatakan "''dalem, dalem, dalem...''" adalah para kerabat dan selir yang iri dengannya.''<ref name=":5" />{{sfnp|De Graaf|1987||p=19|ps=}}'' Sementara Amangkurat I memerintahkan pasukannya untuk membangun makam bagi wanita yang dicintainya itu di Gunung Sentana, dia juga memerintahkan agar para [[abdi dalem]] dan selir yang dicurigainya dibunuh tanpa ampun.<ref name=":1">{{Cite web|last=Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|first=|date=|title=Permakaman Imogiri|url=http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=MzYz&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD0xJmZsZT1ZMjl1ZEdWdWRHUmxkR2xzTG5Cb2NBPT0mbGJhY2s9YTJGMFBXRnlkR3NtYVdROVRtcG5keVptYkdVOVdUSTVkV1JIVm5Wa1F6VjNZVWhCUFNac1ltRmphejFoTWtZd1VGZEdlV1JIYzIxWldFb3dZVEowYUdSRU1IcE9hVnB0WWtkVk9WZFVTVFZrVjFKSVZtNVdhMUl4U25OYVJXUnpZekI0ZFZGdE9XcFJWREE1U20xNGFWbFhUbkpRVjBWNVVtcENVVll3V2pWYVJXUjZZbGRHV0ZWVWJGVmlSa3AxVkZkc1lXSlhTa2hXVkd4WVZrVnJNVnBHWkZOVFJscDFWbTEwVW1Wc1dYcFhWbFp2VVd4Q1ZGZHVUbHBpVlZweFdWaHZlR0ZGTVhKWFdHUldVbTFTU0ZwV1pGTlRSMDE1VFZad1dGSlhPVE5YVmxKTFRVZEdTRlZyVms1VFIzaFBXbFphZDJSR2JISmFSbHBRVm0xU1ZsVXhVbGRoTVZsNFUydHNWMkpVVmxoWlZFWktaVVpPZFZSdFJsTldNVW8yVjFod1EwNUhVbGRTYmxKUVZqTkNVMVpyVWtKT1ZrNTBUVlJTYUZadGVGbFdSelZMVlZaWmQxWnFWbFppV0VKRVZsWmFXbVF4WkhGV2JVWlRWakZKTWxkWGVHdFNNV1JIVm14V2FWSnNXbGhaYTFaM1ZrWmFSMXBJVGxwV01IQlpWVEowYjFZeFdraGxSbXhYWVRGYWVWUldXbmRTTVhCSFZHeFNVMkpJUVhoV2JUQjRUVVpXZEZadVRsaFhTRUpaVm0xNFlXUnNWbGhsUlU1WFVtMVNNVlpIZUhkaFZscFhZMGhvV0ZadGFESmFWV1JIVW1zeFdWTnNhRmhTTVVwWVZsY3dlRlV4VGtkalJtUmhVbXMxVlZWcVFYaE9WbEpYVjI1a1dGSnJjRmxVTVZKUFYwWmFjMU5yZUZWV1YxSklWVEJhVjJOc1duSk9WazVUVm01Q1RsWXhaRFJpTWtsNVZHdGtZVkp0VW1oVmJGSnpZMVpzY2xacmRGZFdiR3cxVkd4a01GZEhTa2RpUkZaWFZucFdVRlp0ZUV0ak1VNXlUMVphVTJFeFZURldWVnBHVDFaQ1VsQlVNRDA9|website=Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|access-date=5 April 2020}}</ref><ref name=":13">{{Cite web|last=Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|first=|date=|title=Sejarah Makam Imogiri|url=https://budaya.jogjaprov.go.id/artikel/detail/363-sejarah-makam-imogiri|website=Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|access-date=5 April 2020}}</ref> Mereka dibunuh secara perlahan dengan cara diikat dan dikurung dalam suatu rumah, serta tidak diberi makan dan minum selama berhari-hari hingga mati karena lemas.<ref name=":4" /> Semua korban itu turut dimakamkan di Gunung Sentana.''<ref name=":5" />''
 
De Graaf memperjelas bahwa tindakan itu dapat dimengerti karena Amangkurat I curiga ketika selirnya itu meninggal dengan memperlihatkan gejala-gejala aneh. Dia lantas risau terhadap hal-hal remeh. Andaikata racun yang memang menjadi penyebabnya, pelakunya tentu harus dicari di kalangan terdekat korban, yaitu para selir yang pernah berkomplot dengan putra mahkota pembangkang (Pangeran Dipati) untuk melawannya.{{sfnp|De Graaf|1987||p=19–20|ps=}} Lebih lanjut, de Graaf menambahkan bahwa di kalangan kerabat istana juga timbul kecurigaan bahwa sang raja akan mengalihkan status putra mahkota kepada Natabrata, sekalipun dia bukan darah Mataram. Kecurigaan tersebut semakin menguat ketika terjadi dua kali percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota dengan racun yang dilakukan oleh sang raja sendiri. Percobaan pembunuhan itu menimbulkan perhatian besar sampai ke luar kerajaan. Masuknya Mas Malang ke dalam istana telah menimbulkan intrik politik yang luar biasa, sehingga raja pun menjadi tega untuk melenyapkan putranya sendiri demi kepentingan selir kesayangan dan anak tirinya. Tindakan Amangkurat I itu sungguh sulit dipercaya oleh akal sehat. Sangat masuk akal bahwa peristiwa percobaan pembunuhan itu dicatat oleh pemerintah Belanda di [[Batavia]] dalam laporan umum tertanggal 21 Desember 1663, yang berbunyi bahwa kejahatan yang mengerikan itu "akan melampaui segala kekejaman yang telah dilakukan terdahulu".{{sfnp|De Graaf|1987||p=21|ps=}}
 
Lebih lanjut, de Graaf menambahkan bahwa di kalangan kerabat istana juga timbul kecurigaan bahwa sang raja akan mengalihkan status putra mahkota kepada Natabrata, sekalipun dia bukan darah Mataram. Kecurigaan tersebut semakin menguat ketika terjadi dua kali percobaan pembunuhan terhadap putra mahkota dengan racun yang dilakukan oleh sang raja sendiri. Percobaan pembunuhan itu menimbulkan perhatian besar sampai ke luar kerajaan. Masuknya Mas Malang ke dalam istana telah menimbulkan intrik politik yang luar biasa, sehingga raja pun menjadi tega untuk melenyapkan putranya sendiri demi kepentingan selir kesayangan dan anak tirinya. Tindakan Amangkurat I itu sungguh sulit dipercaya oleh akal sehat. Sangat masuk akal bahwa peristiwa percobaan pembunuhan itu dicatat oleh pemerintah Belanda di [[Batavia]] dalam laporan umum tertanggal 21 Desember 1663, yang berbunyi bahwa kejahatan yang mengerikan itu "akan melampaui segala kekejaman yang telah dilakukan terdahulu".{{sfnp|De Graaf|1987||p=21|ps=}}
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di wilayah Pleret, Margana menuturkan bahwa Amangkurat I memang belum menerima kematian Mas Malang.{{sfnp|Rohman|2021||p=100|ps=}} Dia lantas membawa jasad wanita itu ke Gunung Sentana, tetapi tidak menguburkannya, melainkan membaringkan dan merawatnya agar tidak membusuk, bahkan sesekali masih bersetubuh dengan jasadnya.<ref name=":4" /><ref name=":6">{{Cite news|last=|first=|date=|title=Sejarah Makam Ratu Malang di Gunung Kelir|url=https://daerah.sindonews.com/read/1099528/29/sejarah-makam-ratu-malang-di-gunung-kelir-1460128101|work=[[Sindonews.com]]|access-date=5 April 2020}}</ref> De Graaf menerangkan bahwa Amangkurat I membawa putranya, Pangeran Natabrata, untuk menemaninya dan tidak bersedia kembali ke istana.{{sfnp|De Graaf|1987||p=24–25|ps=}} [[François Valentijn]] (menteri negeri Belanda) juga sampai membuat sebuah tulisan dalam ''Oud en Nieuw Oost-Indien'', yang menggambarkan keadaan Amangkurat I pasca ditinggalkan Mas Malang, sebagai berikut:<ref name=":8" />
 
Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di wilayah Pleret, Margana menuturkan bahwa Amangkurat I memang belum menerima kematian Mas Malang.{{sfnp|Rohman|2021||p=100|ps=}} Dia lantas membawa jasad wanita itu ke Gunung Sentana, tetapi tidak menguburkannya, melainkan membaringkan dan merawatnya agar tidak membusuk, bahkan sesekali masih bersetubuh dengan jasadnya.<ref name=":4" /><ref name=":6">{{Cite news|last=Subhanie|first=Dzikry|date=|title=Sejarah Makam Ratu Malang di Gunung Kelir|url=https://daerah.sindonews.com/read/1099528/29/sejarah-makam-ratu-malang-di-gunung-kelir-1460128101|work=[[Sindonews.com]]|access-date=5 April 2020}}</ref> De Graaf menerangkan bahwa Amangkurat I membawa putranya, Pangeran Natabrata, untuk menemaninya dan tidak bersedia kembali ke istana.{{sfnp|De Graaf|1987||p=24–25|ps=}} [[François Valentijn]] (menteri negeri Belanda) juga sampai membuat sebuah tulisan dalam ''Oud en Nieuw Oost-Indien (Hindia Timur Dulu dan Sekarang)'', yang menggambarkan keadaan Amangkurat I pasca ditinggalkan Mas Malang, sebagai berikut:.<ref name=":8" />
 
<blockquote>❝''Ketika wanita itu meninggal, sunan menjadi sedemikian sedihnya, sehingga dia mengabaikan masalah kerajaan. Setelah pemakamannya, diam-diam dia kembali ke makam tanpa diketahui seorang pun. Begitu kasihnya kepada wanita itu, sehingga dia tidak dapat menahan diri dan turut membaringkan dirinya di dalam kuburan❞''.<ref name=":8" /></blockquote>
 
Setelah sekitar dua minggu berada di makam, Amangkurat I bermimpi bahwa wanita itu telah bersatu dengan suaminya.{{sfnp|Rohman|2021||p=100|ps=}} Ketika terbangun, dia menyadari perbuatannya yang sudah memisahkan Mas Malang dengan suaminya dan menerima kematian selirnya ini.<ref name=":7" /> Amangkurat I lantas memerintahkan para prajuritnya untuk menguburkan jasad Mas Malang di tempat tersebut dan kembali ke istana.<ref name=":2" /><ref name=":6" /> Konon, mata air di Sendang Maya muncul bersamaan ketika jasad Mas Malang hendak dikebumikan di tempat ini. Masyarakat setempat memercayai bahwa air di sendang tersebut memiliki khasiat yang mujarab.<ref>{{Cite web|last=Widyawan|first=Andhika|date=|title=Di Balik Daya Sihir Gunung Kelir|url=https://ekspresionline.com/di-balik-daya-sihir-gunung-kelir/|website=Ekspresi Online|access-date=5 April 2020}}</ref> Kematian Mas Malang menjadi pukulan berat bagi Amangkurat I. Menurut laporan pejabat Belanda, dia tidak dapat menjalankan pemerintahan dengan baik hingga 4–5 tahun sesudahnya, bahkan dia tidak hadir menyambut utusan pejabat tinggi negeri Belanda ketika berkunjung ke Mataram. Tugas-tugasnya sementara digantikan oleh para menteri kerajaan.<ref name=":8" />{{sfnp|Rohman|2021||p=100|ps=}}
 
== Kesusastraan ==
Baris 78 ⟶ 80:
* [[Masjid Pajimatan Imogiri]]
* [[Museum Padepokan Sumber Karahayon]]
* [[Museum Sejarah Purbakala Pleret|Museum Pleret]]
* [[Permakaman Imogiri]]
* [[Situs Kerto]]
Baris 92 ⟶ 94:
'''Arsip'''
 
* {{Cite journal|last=Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul|first=|date=|year=2013|orig-year=|title=Daftar Benda Cagar Budaya Kabupaten Bantul Tahun 2013|url=https://pariwisata.bantulkab.go.id/filestorage/dokumen/2014/07/Cagar%20Budaya%202013.pdf|journal=|volume=|issue=|pages=|doi=|ref={{sfnref|Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul|2013}}|access-date=29 Agustus 2019|archive-date=28 Juni 2021|archive-url=https://web.archive.org/web/20210728082354/https://pariwisata.bantulkab.go.id/filestorage/dokumen/2014/07/Cagar%20Budaya%202013.pdf|dead-url=yes}}
* {{Cite journal|last=Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta|first=|date=|year=2014-2019|orig-year=|title=Daftar Inventaris Bangunan Cagar Budaya Tak Bergerak di Kabupaten Bantul|url=http://purbakalayogya.com/potensi-bantul.html|journal=|volume=|issue=|pages=|doi=|ref={{sfnref|Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta|2014}}|access-date=29 Agustus 2019|archive-date=4 September 20192021|archive-url=https://web.archive.org/web/20190904071749/http://www.purbakalayogya.com/potensi-bantul.html|dead-url=yes}}
* {{Cite book|title=De opkomstvanhet Nederlandsch gezag in Oost-Indie: Verzameling van Onuitgegeven Stukken uit het Oud-Koloniaal Archief. Register op deel I-VII/bew door (Vol. 1)|last=Meinsma|first=Johannes Jacobus|publisher=|year=1875|isbn=|location=|page=|ref={{sfnref|Meinsma|1875}}}}
 
Baris 107 ⟶ 109:
* {{Cite book|title=The Kraton: Selected Essays on Javanese Courts|last=Robson|first=Stuart|last2=|first2=|date=|publisher=Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV)|year=2003|isbn=978-900-4487-93-2|location=Leiden|pages=|ref={{sfnref|Robson|2003}}|url-status=live|url=}}
* {{Cite book|title=Sunan Kalijaga dan Mitos Masjid Agung Demak|last=Sabiq|first=Fairuz|last2=|first2=|date=|publisher=Adab|year=2021|isbn=978-623-6233-81-8|location=Indramayu|pages=|ref={{sfnref|Sabiq|2021}}|url-status=live}}
* {{Cite book|title=Profil Wisata Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul|last=Setiadi|first=Amos|last2=Fransisca|first2=Yunike|date=2018|publisher=Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Penataan Kawasan Wisata Puncak Sosok|year=|isbn=|location=Bantul|pages=|ref={{sfnref|Setiadi|Fransisca|2018}}|url-status=live|url=http://e-journal.uajy.ac.id/15994/1/BookLet%20Abdimas2018_Amos1.pdf}}
* {{Cite book|title=Menelusuri Jejak Mataram Islam di Yogyakarta|last=Sujarweni|first=V. Wiranata|last2=|first2=|date=|publisher=Anak Hebat Indonesia|year=2017|isbn=978-623-2447-35-6|location=Yogyakarta|pages=|ref={{sfnref|Sujarweni|2017}}|url-status=live}}
* {{Cite book|title=Menebang Pohon Silsilah|last=Tranggono|first=Indra|last2=|first2=|date=|publisher=Kompas Media Nusantara|year=2017|isbn=978-602-4121-94-5|location=Jakarta|pages=|ref={{sfnref|Tranggono|2017}}|url-status=live}}
Baris 114 ⟶ 115:
 
* {{Cite book|title=Inventarisasi Kearifan Lokal Tahun 2007|last=Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|first=|last2=|first2=|date=|publisher=Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|year=2007|isbn=|location=Yogyakarta|pages=|ref={{sfnref|Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta|2007}}|url-status=live}}
* {{Cite book|title=Profil Wisata Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul|last=Setiadi|first=Amos|last2=Fransisca|first2=Yunike|date=2018|publisher=Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Penataan Kawasan Wisata Puncak Sosok|year=|isbn=|location=Bantul|pages=|ref={{sfnref|Setiadi|Fransisca|2018}}|url-status=live|url=http://e-journal.uajy.ac.id/15994/1/BookLet%20Abdimas2018_Amos1.pdf}}
 
'''Jurnal'''
Baris 144 ⟶ 146:
* [https://news.okezone.com/read/2015/06/21/510/1168895/warga-tebangi-pohon-di-makam-ratu-malang Warga Tebangi Pohon di Makam Ratu Mas Malang]
 
[[Kategori:KabupatenCagar budaya di Bantul]]
[[Kategori:Bangunan bersejarah di Bantul]]
[[Kategori:Makam di Yogyakarta]]