Habib Muda Seunagan: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Rameune (bicara | kontrib)
Tidak ada ringkasan suntingan
Tag: Pengembalian manual
 
(23 revisi perantara oleh 2 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1:
 
'''Habib Muda Seunagan''' atau '''Abu Peuleukung''' adalah seorang ulama dan pejuang yang berasal dari daerah [[Seunagan, Nagan Raya|Seunagan]], [[Kabupaten Nagan Raya|Nagan Raya]], [[Aceh]]. Nama lengkapnya adalah As-Sayyid Muhammad Muhyiddin bin [[Sayyid Muhammad Yasin]] bin Qutbul Wujud Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir bin Sayyid Athaf bin Sayyid Abdussalam bin Sayyid Ali Al-Qadiri Al-Kailani Al-Jailani Al-Hasani.<ref name=":0">{{Cite journal|last=Shadiqin|first=Sehat Ihsan|date=1 April 2017|title=DI BAWAH PAYUNG HABIB: SEJARAH, RITUAL, DAN POLITIK TAREKAT SYATTARIYAH DI PANTAI BARAT ACEH|url=https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/substantia/article/download/2914/2132|journal=Substantia|volume=19|issue=1|doi=|pmid=|access-date=21 September 2018|archive-date=2022-07-12|archive-url=https://web.archive.org/web/20220712224651/https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/substantia/article/download/2914/2132|dead-url=no}}</ref> Ia hidup pada masa penjajahan Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia. Selain di ladang politik, ia juga seorang ulama lintas generasi yang berperan di [[Kabupaten Aceh Barat|Aceh Barat]], [[Kabupaten Gayo Lues|Gayo Lues]], [[Kabupaten Nagan Raya|Nagan Raya]], [[Kabupaten Aceh Barat Daya|Aceh Barat Daya]], [[Kabupaten Aceh Selatan|Aceh Selatan]], dan bagian Aceh lainnya. Ia adalah seorang [[mursyid]] utama [[Tarekat Syattariyah|Tarekat Syattariah]] di Seunagan yang masih berkembang hingga kini. Salah satu peninggalannya yang sampai saat ini dinikmati masyarakat Nagan Raya yaitu saluran irigasi untuk sawah petani diberi nama "Lhung Abu" sepanjang 25 kilometer.<ref>{{Cite news|url=https://aceh.antaranews.com/berita/27487/kiprah-abu-habib-muda-seunangan-merebut-kemerdekaan|title=Kiprah Abu Habib Muda Seunangan Merebut Kemerdekaan|last=Wahid|first=Salahuddin|work=[[Lembaga Kantor Berita Nasional Antara|ANTARA News]]|language=id-ID|access-date=2018-09-21|date=2015-11-10|archive-date=2023-04-10|archive-url=https://web.archive.org/web/20230410055310/https://aceh.antaranews.com/berita/27487/kiprah-abu-habib-muda-seunangan-merebut-kemerdekaan|dead-url=no}}</ref>
{{Infobox Officeholder
|image = Habib_Muda_Seunagan.jpg
|image_size =
|caption =
|office = [[Mursyid]] [[Tarekat Syattariyah]] [[Seunagan]]
|order = ke-31
|predecessor = Habib [[Sayid Muhammad Yasin]]
|successor = [[Habib Quresh]]
|office2 = [[Tokoh]] [[Pejuang]], [[Ulama]] dari [[Kabupaten Nagan Raya]]
|order2 =
|term_start2 =
|term_end2 =
|predecessor2 =
|birth_date = 1860
|birth_place = [[Kabupaten Nagan Raya|Peuleukung]], Indonesia
|death_date = 1972
|death_place = [[Peuleukung, Seunagan Timur, Nagan Raya]]
|nationality = <!-- Kolom ini hanya untuk warga negara asing --> Indonesia
|party =
|spouse =
|children = <!-- Baris ini diisi hanya jumlah anak; hanya nama anak yang secara independen sudah terkenal atau telah memiliki artikelnya di Wikipedia; bila ada rujukan/referensi, uraikan dan tulis pada artikel -->11 orang, salah satu adalah [[Habib Qudrat]]
|parents = [[Sayid Muhammad Yasin]] (Ayah)
|relations =
|relatives =
|alma_mater =
|occupation =
|profession = [[Ulama]] <br> [[Tokoh masyarakat]]
|religion = <!-- Kosongkan bagian ini; kolom terkait Suku, Agama dan Ras telah dinonaktifkan -->
|signature =
|website =
|footnotes =
}}
 
'''Habib Muda Seunagan''' atau '''Abu Peuleukung''' adalah seorang ulama dan pejuang yang berasal dari daerah [[Seunagan, Nagan Raya|Seunagan]], [[Kabupaten Nagan Raya|Nagan Raya]], [[Aceh]]. Nama lengkapnya adalah As-Sayyid Muhammad Muhyiddin bin [[SayyidSayid Muhammad Yasin|Sayid Muhammad Yasin]] bin Qutbul Wujud Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir bin Sayyid Athaf bin Sayyid Abdussalam bin Sayyid Ali Al-Qadiri Al-Kailani Al-Jailani Al-Hasani.<ref name=":0">{{Cite journal|last=Shadiqin|first=Sehat Ihsan|date=1 April 2017|title=DI BAWAH PAYUNG HABIB: SEJARAH, RITUAL, DAN POLITIK TAREKAT SYATTARIYAH DI PANTAI BARAT ACEH|url=https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/substantia/article/download/2914/2132|journal=Substantia|volume=19|issue=1|doi=|pmid=|access-date=21 September 2018|archive-date=2022-07-12|archive-url=https://web.archive.org/web/20220712224651/https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/substantia/article/download/2914/2132|dead-url=no}}</ref> Ia hidup pada masa penjajahan Belanda hingga masa kemerdekaan Indonesia. Selain di ladang politik, ia juga seorang ulama lintas generasi yang berperan di [[Kabupaten Aceh Barat|Aceh Barat]], [[Kabupaten Gayo Lues|Gayo Lues]], [[Kabupaten Nagan Raya|Nagan Raya]], [[Kabupaten Aceh Barat Daya|Aceh Barat Daya]], [[Kabupaten Aceh Selatan|Aceh Selatan]], dan bagian Aceh lainnya. Ia adalah seorang [[mursyid]] utama [[Tarekat Syattariyah|Tarekat Syattariah]] di Seunagan yang masih berkembang hingga kini. Salah satu peninggalannya yang sampai saat ini dinikmati masyarakat Nagan Raya yaitu saluran irigasi untuk sawah petani diberi nama "Lhung Abu" sepanjang 25 kilometer.<ref>{{Cite news|url=https://aceh.antaranews.com/berita/27487/kiprah-abu-habib-muda-seunangan-merebut-kemerdekaan|title=Kiprah Abu Habib Muda Seunangan Merebut Kemerdekaan|last=Wahid|first=Salahuddin|work=[[Lembaga Kantor Berita Nasional Antara|ANTARA News]]|language=id-ID|access-date=2018-09-21|date=2015-11-10|archive-date=2023-04-10|archive-url=https://web.archive.org/web/20230410055310/https://aceh.antaranews.com/berita/27487/kiprah-abu-habib-muda-seunangan-merebut-kemerdekaan|dead-url=no}}</ref>
 
== Kelahiran dan Nasabnya ==
Tidak ada yang mengetahui secara pasti mengenai kapan SayyidAbu Habib Muda Seunagan lahir. Walaupun ada beberapa penulis yang memperkirakan beliau lahir pada tahun 1860 tapi penjelasan mengenai alasan pemilihan tahun tersebut tidak pernah disebutkan. Bahkan keluarga juga tidak mengetahui tahun pasti kelahirannya. Lokasi kelahirannya adalah di Desa Krueng Kulu, Kemukiman Blang Ara, Kecamatan Seunagan Timur. Nama lengkap dan nasab keturunannya adalah Sayyid Muhammad Muhyiddin (Sayyid Muda Seunagan) bin [[SayyidSayid Muhammad Yasin]] bin Qutbul Wujud Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir bin bin Sayyid Athaf bin Sayyid Abdussalam bin Sayyid Ali Al-Qadiri Al-Kailani Al-Jailani Al-Hasani. Nasab beliau tersambung ke [[Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani|Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani]] bin Musa bin Abdullah Al-Jili bin Yahya Az-Zahid bin Muhammad Al-Madani bin Al-Amir Dawud Al-Makki bin Musa Ats-Tsani bin Abdullah Abul Makarim bin [[Musa Al-Jun]] bin Abdullah Al-Mahdi bin [[Hasan Al-Mutsanna]] bin [[Hasan As-Sibthi bin Ali]] - [[Fatimah Az-Zahra]] binti Sayidina Mustafa [[Muhammad]] SAW.<ref name=":1" />
 
Masyarakat di [[Kabupaten Nagan Raya|Nagan Raya]] meyakini ketika SayyidAbu Habib Muda Seunagan meninggal, ia berumur seratus tahun. Jika perkiraan ini benar maka berarti beliau lahir sekitar tahun 1870-an atau tiga tahun sebelum Belanda memulai agresinya ke Aceh. Salah satu penulis Belanda, Zentgraaff, mengatakan pada tahun 1917 meletus perang antara pasukan Belanda dengan pejuang di Aceh Barat yang dipimpin oleh Teungku Puteh yang tak lain adalah Habib Muda Seunagan.<ref name=":1">{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/953413631|title=Abu Sayyid Muda Seunagan, republiken dari Aceh : hidup, ajaran, dan perjuangan|last=1979-|first=Shadiqin, Sehat Ihsan,|last2=Ardiansyah,|last3=Fakhrurradzie,|first3=Gade,|isbn=9786021632505|edition=Cetakan pertama|location=Banda Aceh|oclc=953413631}}</ref>
 
== Istri dan anak Keturunannya ==
Baris 18 ⟶ 52:
#* Aja Aji Bernun atau sering dipanggil dengan Mak Aji. Ia memiliki tiga orang anak yaitu: H. Teungku Kamaruzzaman Yus, H. Teungku Marsyul Alam, dan Teungku Masyumi.
#* Habib Puteh atau sering dipanggil dengan Abu Padang. Ia memiliki empat orang anak yaitu: Sayyid Jailani, Hj. Wan Ajani, Sayyid Mahdi, dan Sayyid Kamalul Yakin.
#* Cut Wan Zainab atau sering dipanggil dengan Mak Rumoh Rayeuk karena ia tinggal bersama ayahnya. Ia memiliki 11 orang anak yaitu [[Teuku Zulkarnaini]], Cut Kemala Iman, Hj. Cut Meurahwan, Hj. Cut Merdom, Hj. Cut Intan Mala, Ir. Cut Intan Sawadeh, T. Jamalul Alamuddin, T. Mizan Sya'rani, T. Pelita Alam (meninggal ketika masih kecil), T.[[Teuku Raja Keumangan]], dan Cut Syarifah Aja Burhani.
#* Sayed Ataf (meninggal pada usia kanak-kanak) di makamkan di Puloe Ie Rambong Cut.
#* [[Habib Qudrat]] atau Abu Qudrat. Sejak tahun 1995 menjadi pemegang amanah keluarga Habib Muda Seunagan dan sekaligus menjadi mursyid. Ia menikah dengan Syarifah Rasyidah binti Sayyid Muhammad [[Assegaf]], memiliki tujuh orang anak yaitu: Syarifah Jannatun, Hj. Syarifah Nurmala, Sayyid Zainal Abidin, Sayyid Kamaruddin, Syarifah Fauziana, Sayyid Irfan Mihrab, dan Syarifah Meliza.
Baris 55 ⟶ 89:
# Qutbul Wujud Sayyid Abdurrahim
# Syaikhuna Sayyid [[Sayid Muhammad Yasin]]
# '''Abu SayyidHabib Muda Seunagan'''
# Sayyid Quraish
# Sayyid Qudrat (Mursyid saat ini).<ref name=":0" />
Baris 62 ⟶ 96:
 
=== Masa Penjajahan Belanda ===
Pada masa remaja, ia mengikuti orang tuanya untuk mengungsi ke wilayah Tadu Atas tempat mereka tinggal sekaligus mengatur strategi untuk menyerang Belanda. Salah satu pertempuran yang diikuti olehnya adalah pertempuran Tuwi Pomat Tudu Atas. Pertempuran-pertempuran tersebut tentu saja memakan banyak korban jiwa, harta sehingga SayyidAbu Habib Muda Seunagan melakukan perundingan di Mukim Bungong Taloe, Beutong dengan Letnan Schmidt yang menjadi pimpinan pasukan Belanda ketika itu. Perjanjian yang disepakati adalah kaum muslimin dapat melaksanakan ibadah mereka dan pasukan Belanda tidak akan mengganggu penduduk dan melakukan intervensi.<ref name=":1" />
 
=== Masa Penjajahan Jepang ===
Ketika Jepang mendarat di Aceh pada tahun 1942, SayyidAbu Habib Muda Seunagan adalah salah seorang ulama yang tidak mau bekerja sama dengan mereka. Ia bersama dengan [[Abuya Muda Wali]] dan [[Teungku Hasan Krueng Kale]]e memiliki pandangan berbeda dengan kebanyakan ulama PUSA yang bekerja sama dengan Jepang ketika itu. Akibat sikapnya tersebut, ia ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh.
 
Para tahanan kemudian diperiksa di markas militer Jepang di Mata Ie, Aceh Besar dan oleh para tahanan yang ada, SayyidAbu Habib Muda Seunagan dipercaya untuk menjadi wakil mereka. Ketika pemeriksaan berlangsung, ada pertanyaan dari pemeriksa mengenai siapa yang dijadikan pemimpin oleh SayyidAbu Habib Muda Seunagan dan kemudian dijawab bahwa pimpinannya adalah Tenno Heika atau Kaisar Jepang. Mendengar jawaban tersebut maka pemeriksaan langsung dihentikan dan tahanan yang menjadikan SayyidAbu Habib Muda Seunagan sebagai perwakilan mereka dibebaskan. Pengakuan tersebut dilakukan dengan alasan untuk menyelamatkan para tahanan yang telah menjadikannya perwakilan mereka.<ref name=":1" />
 
=== Pascakemerdekaan ===
Baris 77 ⟶ 111:
Ketika pada tahun 1953 diproklamasikan berdirinya [[Negara Islam Indonesia|Darul Islam]] oleh [[Daud Beureu'eh|Teungku Daud Beureueh]], Sayyid Muda Seunagan bersama dengan [[Abuya Muda Wali]] dan [[Teungku Hasan Krueng Kale]]e mengeluarkan pernyataan tidak setuju dengan gerakan tersebut. Pernyataan tersebut dilandasi pada hukum Islam yang memandang pemberontakan kepada pemerintah yang sah adalah haram. Apalagi [[Daud Beureu'eh|Teungku Daud Beureueh]] pernah menerima keberadaan Indonesia dan pernah bekerja untuk pemerintah Indonesia.
 
Bersama dengan masyarakat Peuleukung dan sekitarnya, SayyidAbu Habib Muda Seunagan kemudian membentuk Organisasi Pagar Desa (OPD) untuk menghadapi pasukan DI/TII yang mengganggu rakyat. Organisasi ini dipimpin oleh Ceh Nanggroe, salah seorang murid SayyidAbu Habib Muda Seunagan.
 
Untuk mengatasi DI/TII, pemerintah mengirimkan tentara untuk menumpas mereka. Masalah baru kemudian muncul karena tentara tidak mengenal pengikut DI/TII sehingga banyak masyarakat menjadi korban. Untuk mengatasi hal tersebut maka SayyidAbu Habib Muda Seunagan mengeluarkan sebuah Kartu Identitas yang menyatakan bahwa nama yang tertera pada kartu tersebut adalah murid SayyidAbu Habib Muda Seunagan dan tidak terlibat dalam DI/TII. Karena jasa-jasanya tersebut maka pada tahun 1958 SayyidAbu Habib Muda Seunagan diundang ke [[Istana Negara]] oleh [[Soekarno|Presiden Sukarno]] serta dibiayai untuk berkunjung ke beberapa tempat seperti Mesjid Demak dan kemudian diberikan sebuah mobil [[Land Rover]] untuk transportasi di Peuleukung.<ref name=":0" />
 
==== Mengatasi Pemberontakan PKI ====
Ketika [[Partai Komunis Indonesia|PKI]] memberontak pada tahun 1965, SayyidAbu Habib Muda Seunagan mengajukan permintaan kepada Kasdam [[Komando Daerah Militer Iskandar Muda|Iskandar Muda]], Kolonel A. Kohar Imam Khormen agar tentara hanya menangkap gembongnya saja karena rakyat sebenarnya banyak yang terjebak, hanya karena menerima bantuan peralatan pertanian sudah dituduh sebagai anggota [[Partai Komunis Indonesia|PKI]].<ref name=":0" />
 
== Wafat ==
'''SayyidAbu Habib Muda Seunagan''' wafat pada 14 Juni 1972 dan dimakamkan di Mesjid Peuleukung yang dibangunnya sendiri. Ia berpesan sebelum wafatnya agar makamnya dibuka sepanjang tahun dan membolehkan siapapun untuk berziarah tanpa memandang agama dan suku bangsa mereka. Karena jasa-jasa SayyidAbu Habib Muda Seunagan maka Pemerintah RI menganugerahi Tanda Kehormatan [[Bintang Jasa|Bintang Jasa Utama]] kepada SayyidAbu Habib Muda Seunagan sebagai seorang pejuang kemerdekaan.<ref name=":0" />
 
== Referensi ==