Perang saudara Kerajaan Muna: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
HsfBot (bicara | kontrib)
k Bot: Perubahan kosmetika
Akibat peperangan: eaja jadi raja
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
 
(26 revisi perantara oleh 5 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1:
{{Infobox Military Conflict
|conflict=Perang Saudarasaudara Kerajaan Muna
|image=[[Berkas:Ilustrasi Armada Labolontio.jpg|300px250px]]
|caption=Ilustrasi Perang Saudarasaudara Kerajaan Muna.
|place=[[Pulau Muna]]
|date= 17xx1700-an – 1816
|casus=KesalapahamanKesalahpahaman Rajaraja Muna La Ode Sumaeli dengan Wa Ode Kadingke mengenai adat perkawinan
|result=Kemenangan Wa Ode Kadingke dan Kematian La Ode Sumaeli
|combatant1= [[BerkasFile:Bendera Kerajaan Muna.jpgpng|22px]] [[Kerajaan Muna]] (Wa Ode Kadingke) {{br}} [[Berkas:Longa-longa Bendera Kesultanan Buton.jpg|22px]] [[Kesultanan Buton]] {{br}}Kesultanan Kerajaan Tiworo
|combatant2= [[Berkas:Bendera Kerajaan Muna.jpgpng|22px]] [[Kerajaan Muna]] (La Ode Sumaeli)
|commander1=Wa Ode Kadingke{{br}} Daeng Marewa {{br}} Sultan Buton La Kopuru ([[Kesultanan Buton|Sultan Buton]])
|commander2= Raja Muna La Ode Sumaeli
|strength1= Tidak Diketahuidiketahui
|strength2= Tidak Diketahuidiketahui
|casualties1= Tidak Diketahuidiketahui
|casualties2= Tidak Diketahuidiketahui
|}}
 
'''Perang Saudarasaudara Kerajaan Muna''' merupakanadalah [[perang saudara]] yang terjadi pada akhir tahun 1700-an, yang melibatkan [[Kerajaan Muna]] dan Kerajaankerajaan-kerajaan di sekitarnya. Perang ini disebabkan oleh adanya kesalapahamankesalahpahaman antara cucu Rajaraja Muna Omputo Sangia yang bernama Wa Ode Kadingke dengan Rajaraja Muna La Ode Sumaeli yang saat itu berkuasa, mengenai aturan adat perkawinan. Perang ini berakhir dengan kemenangan Wa Ode Kadingke, dan dihukum matinya Raja Muna La Ode Sumaeli.
 
== Latar Belakangbelakang ==
Wa Ode Kadingke adalah anak dari Kapitalau Lasehao La Ode Zainal Abidin dan cucu dari Rajaraja Muna La Ode Husaini (Omputo Sangia). Wa Ode Kadingke menikah dengan seorang bangsawan bugis[[Suku Bugis|Bugis]] bernama Daeng Marewa. Pernikahan mereka ditentang keras oleh Rajaraja Muna La Ode Sumaeli yang berkuasa saat itu. Penentangan ini diakibatkan oleh kesalapahamankesalahpahaman antara Raja Muna La Ode Sumaeli dengan Wa Ode Kadingke mengenai adat perkawinan Muna dipada masa itu. Raja Muna La Ode Sumaeli menganggap bahwa pernikahan tersebut bertentangan dengan adat dan [[syariat islamIslam]]. Akan tetapi Wa Ode Kadingke yang tidak lain adalah cucu Rajaraja Muna Omputo Sangia, tidak menerima hal itu dan mengatakan kepada Raja La Ode Sumaili bahwa perkawinan dalam Islam yang dilihat hanyalah pada sisi ketakwaannya dalam arti seiman dalam Islam dan perkawinan tersebut tetap dilanjutkan sebab Wa Ode Kadingke juga mendapat restu sekaligus dukungan dari Sultan Buton. Raja Muna La Ode Sumaeli terus menentang perkawinan tersebut, sehingga Wa Ode Kadingke pun menyatakan perang terhadap La Ode Sumaeli.<ref name=":0">La Kimi Batoa (1991), ''Sejarah Muna'', CV Astri Raha.</ref>
 
== Jalannya Peperanganpeperangan ==
Wa Ode Kadingke beserta suaminya Daeng Marewa akhirnya menyatakan perang kepada Raja Muna La Ode Sumaeli. Wa Ode Kadingke meminta bantuan kepada [[Kesultanan Buton]] dan KesultananKerajaan Tiworo untuk memerangi Rajaraja Muna saat itu. Wa Ode Kadingke yang mendapatkan bantuan dari Kesultanan Buton, Kesultanan Tiworo, dan sebagian rakyat Kerajaan Muna berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Muna yang saat itu dipimpin oleh Raja Muna La Ode Sumaeli.<ref name=":0"/>
 
Setelah pasukan Raja Muna La Ode Sumaeli berhasil dikalahkan, Dewan Sara Muna langsung menjatuhkan hukuman cambuk hingga tewas kepada Raja Muna La Ode Sumaeli, Dewan Sara Muna berpendapat bahwa Raja Muna La Ode Sumaeli telah gagal menanggulangi pemberontakan Wa Ode Kadingke.<ref name=":0"/>
 
== Akibat Peperanganpeperangan ==
Setelah Rajaraja Muna La Ode Sumaeli dihukum mati, Dewan Sara Muna punkemudian memutuskan mengangkat puteraputra Wa Ode Kadingke yaitu La Ode Saete sebagai Rajaraja Muna selanjutnya. La Ode Saete yang saat itu masih anak-anak belum mampu mengendalikan roda pemerintahan, sehinggakemudian dibantu oleh Bhonto Balano (Perdana Menteri) hingga La Ode Saete dewasa.<ref name=":0"/>
 
== Referensi ==
Perang Saudara Kerajaan Muna merupakan perang yang terjadi pada akhir tahun 1700-an, yang melibatkan Kerajaan Muna dan Kerajaan di sekitarnya. Perang ini disebabkan oleh adanya kesalapahaman antara cucu Raja Muna Omputo Sangia yang bernama Wa Ode Kadingke dengan Raja Muna La Ode Sumaeli yang saat itu berkuasa, mengenai aturan adat perkawinan. Perang ini berakhir dengan kemenangan Wa Ode Kadingke, dan dihukum matinya Raja Muna La Ode Sumaeli.
{{Reflist}}
 
== Latar Belakang ==
 
Wa Ode Kadingke adalah anak dari Kapitalau Lasehao La Ode Zainal Abidin dan cucu dari Raja Muna La Ode Husaini(Omputo Sangia). Wa Ode Kadingke menikah dengan seorang bangsawan bugis bernama Daeng Marewa. Pernikahan mereka ditentang keras oleh Raja Muna La Ode Sumaeli yang berkuasa saat itu. Penentangan ini diakibatkan oleh kesalapahaman antara Raja Muna La Ode Sumaeli dengan Wa Ode Kadingke mengenai adat perkawinan Muna di masa itu. Raja Muna La Ode Sumaeli menganggap bahwa pernikahan tersebut bertentangan dengan adat dan syariat islam. Akan tetapi Wa Ode Kadingke yang tidak lain adalah cucu Raja Muna Omputo Sangia, tidak menerima hal itu dan mengatakan kepada Raja La Ode Sumaili bahwa perkawinan dalam Islam yang dilihat hanyalah pada sisi ketakwaannya dalam arti seiman dalam Islam dan perkawinan tersebut tetap dilanjutkan sebab Wa Ode Kadingke juga mendapat restu sekaligus dukungan dari Sultan Buton. Raja Muna La Ode Sumaeli terus menentang perkawinan tersebut, sehingga Wa Ode Kadingke pun menyatakan perang terhadap La Ode Sumaeli.
 
== Jalannya Peperangan ==
 
Wa Ode Kadingke beserta suaminya Daeng Marewa akhirnya menyatakan perang kepada Raja Muna La Ode Sumaeli. Wa Ode Kadingke meminta bantuan kepada Kesultanan Buton dan Kesultanan Tiworo untuk memerangi Raja Muna saat itu. Wa Ode Kadingke yang mendapatkan bantuan dari Kesultanan Buton,Kesultanan Tiworo dan sebagian rakyat Kerajaan Muna berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Muna yang saat itu dipimpin oleh Raja Muna La Ode Sumaeli.
Setelah pasukan Raja Muna La Ode Sumaeli berhasil dikalahkan, Dewan Sara Muna langsung menjatuhkan hukuman cambuk hingga tewas kepada Raja Muna La Ode Sumaeli, Dewan Sara berpendapat bahwa Raja Muna La Ode Sumaeli telah gagal menanggulangi pemberontakan Wa Ode Kadingke
 
== Akibat Peperangan ==
 
 
Setelah Raja Muna La Ode Sumaeli dihukum mati, Dewan Sara Muna pun memutuskan mengangkat putera Wa Ode Kadingke yaitu La Ode Saete sebagai Raja Muna selanjutnya. La Ode Saete yang saat itu masih anak-anak belum mampu mengendalikan roda pemerintahan, sehingga dibantu oleh Bhonto Balano (Perdana Menteri)hingga La Ode Saete dewasa.
 
 
== Rujukan ==
 
* La Kimi Batoa, 1991, Sejarah Muna, CV Astri Raha
 
[[Kategori:Suku Muna]]
[[Kategori:Perang saudara]]