Benteng Van der Capellen: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
→‎Sejarah: Tambah ref.
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
OrophinBot (bicara | kontrib)
 
(21 revisi perantara oleh 10 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1:
{{Infobox military installation
{{noref}}
| name = Fort Van Der Capellen
[[Berkas:Benteng Van Der Capellen 2017.jpg|jmpl|Benteng van der Capellen di tahun 2017]]
| ensign = File:Fort Van Den Capellen.jpg
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Fort van der Capellen Sumatra`s Westkust TMnr 60003554.jpg|jmpl|Fort van der Capellen di sekitar tahun 1895]]
| ensign_size = 300px
'''Benteng Van der Capellen''' adalah [[benteng]] peninggalan [[Belanda]] yang berdiri di [[Batusangkar]], [[Sumatera Barat]], [[Indonesia]]. Fort Van der Capellen juga nama lama Batusangkar. diambil dari nama seorang jenderal belanda yaitu [[Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen]]
| ensign_captions = Pintu
| native_name = Benteng Van Der Capellen
| partof = <!-- for elements within a larger site -->
| location = Jalan [[Sutoyo Siswomiharjo|Soetoyo]], [[Baringin, Lima Kaum, Tanah Datar|Baringin]], [[Lima Kaum, Tanah Datar|Lima Kaum]], [[Batusangkar|Kota Batusangkar]], [[Tanah Datar]], [[Sumatera Barat]]
| nearest_town = [[Batusangkar|Kota Batusangkar]]
| country = [[Indonesia]]
[[| image = Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Fort van der Capellen Sumatra`s Westkust TMnr 60003554.jpg|jmpl|Fort van der Capellen di sekitar tahun 1895]]
| alt =
| caption =Fort van der Capellen di sekitar tahun 1895
| image2 =
| alt2 =
| caption2 =
| type = [[Benteng]]
| coordinates = <!-- {{Coord}} -->
| gridref =
| image_map =
| image_mapsize =
| image_map_alt =
| image_map_caption =
| pushpin_map =
| pushpin_mapsize =
| pushpin_map_alt =
| pushpin_map_caption =
| pushpin_relief =
| pushpin_image =
| pushpin_label =
| pushpin_label_position =
| pushpin_mark =
| pushpin_marksize =
| ownership = [[Tanah Datar|Pemerintah daerah Kabupaten Tanah datar]]
| operator =
| controlledby = Disparbud Tanah Datar
| open_to_public = [[2008]] - Skrg <!-- for out of use sites/sites with museums etc -->
| site_other_label = <!-- for renaming "Other facilities" in infobox -->
| site_other = <!-- for other sorts of facilities – radar types etc -->
| site_area = m² <!-- area of site m2, km2 square mile etc -->
| code = <!--facility/installation code, applies to US -->
| built = {{Start date|[[1822]] - [[1826]]}}
| used = Dahulu : Sebagai Benteng Belanda.
Sekarang : Destinasi Wisata Sejarah Tanah Datar.
| builder = [[Belanda]]
| materials =
| height = m² <!-- height of tallest part, not above sea level -->
| length = m² <!-- for border fences or other DMZs -->
| fate = <!--changed from demolished parameter-->
| condition = Utuh dan Sudah Di Renovasi
| battles = [[Perang Paderi]]
| events = [[Perang Paderi]]
| current_commander = <!-- current commander -->
| past_commanders = <!-- past notable commander(s) -->
| garrison = <!-- such as the 25th Bombardment Group -->
| occupants = <!-- squadrons only -->
| designations =
| website =
| footnotes = <!-- catchall in case it's needed to preserve something in infobox that doesn't work in new code -->
}}
 
'''Benteng Van der Capellen''' adalah [[benteng]] peninggalan [[Belanda]] yang berdiri di [[Batusangkar]], [[Sumatera Barat]], [[Indonesia]]. Fort Van der Capellen juga nama lama Batusangkar. diambil dari nama seorang jenderal belanda yaitu [[Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen]].
 
== Sejarah ==
Baris 9 ⟶ 67:
Waktu itu masyarakat [[Minangkabau]] telah banyak melakukan praktik budaya sehari-hari yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, misalnya [[sabung ayam]], [[Perjudian|berjudi]], minum minuman keras dan sebagainnya. Namun gerakan pemurnian ajaran agama Islam ini tidak berjalan mulus dan memperoleh tantangan dari Kaum Adat. Dalam kondisi demikian, pertentangan antara Kaum Adat dan Kaum Agama semakin meruncing dan konflik terbuka antara keduanya tidak dapat dihindarkan lagi.
 
Konflik terbuka berupa peperangan fisik antara Kaum Adat dan Kaum Agama membuat Kaum Adat meminta bantuan Belanda yang pada waktu itu sudah berkedudukan di [[Kota Padang|Padang]].<ref>{{sfnCite book|title=Naskah Tuanku Imam Bonjol|last=Caniago|first=Naali Sutan|publisher=Pusat Pengkajian Islam dan Minangkabau|year=2004|isbn=9789793797052|location=Padang|pages=}}</ref> Pasukan Belanda dibawah pimpinan Kolonel Raff masuk ke [[Kabupaten Tanah Datar|Tanah Datar]] untuk melakukan penyerangan kepada rakyat.
 
[[Berkas:Fort van der Capellen1826.jpg|jmpl|''Benteng Van der Capellen'' tahun 1826]]
 
Sesampai di Batusangkar, pasukan Belanda dipusatkan di suatu tempat yang paling tinggi di pusat kota, lebih kurang 500 meter dari pusat kota. Pada tempat ketinggian inilah pasukan Belanda kemudian membangun sebuah benteng yang permanen. Bangunan benteng pertahanan yang dibangun pada tahun 1824 ini berupa bangunan yang memiliki ketebalan dinding 75&nbsp;cm dan ± 4 meter dari dinding bangunan dibuat [[parit]] dan tanggul pertahanan yang melingkar mengelilingi bangunan.<ref name=":0">{{sfnCite web|Neoldyurl=https://yhohannesneoldy.wordpress.com/2013/11/23/benteng-van-der-capellen-yang-terlupakan/|title=BENTENG ”VAN DER CAPELLEN” YANG TERLUPAKAN|last=NEOLDY|first=YHOHANNES|date=November 23, 2013|website=|publisher=|access-date=November 29, 2015|archive-date=2015-11-29|archive-url=https://web.archive.org/web/20151129154022/https://yhohannesneoldy.wordpress.com/2013/11/23/benteng-van-der-capellen-yang-terlupakan/|dead-url=unfit}}</ref> Bangunan inilah yang kemudian diberi nama Benteng Van der Capellen, sesuai dengan nama Gubernur Jendral Belanda pada waktu itu yaitu [[Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen]].
 
Dengan adanya benteng pertahanan yang permanen dan strategis, maka secara militer dan politis memudahkan Belanda untuk menguasai wilayah sekitar [[Batusangkar]]. Hal ini menandakan beratnya perjuangan [[Belanda|kolonial Belanda]] di [[Kabupaten Tanah Datar|Tanah Datar]] sehingga harus membuat benteng. Kesempatan demikian akhirnya bukan hanya bertujuan untuk memadamkan gerakan Kaum Agama, tetapi sekaligus untuk menguasai secara politis kawasan Tanah Datar dan sekitarnya. Konflik ini akhirnya berkembang menjadi Operasi Militer Belanda. Kenyataan demikian menyadarkan Kaum adat yang semula mengizinkan Belanda untuk masuk ke Tanah Datar.
 
Keberadaan Belanda di [[Batusangkar]] sampai saat meletusnya [[Perang Dunia II]]. Pada saat Jepang berhasil merebut [[Sumatera Barat]] kemudian [[Belanda]] meniggalkan [[Batusangkar]]. Benteng Van der Capellen kemudian dikuasai oleh [[Badan Keamanan Rakyat]] (BKR) dari tahun 1943-1945. Setelah Indonesia berhasil merebut kemerdekaan dari [[pendudukan Jepang]], Benteng Van der Capellen kemudian dikuasai oleh [[Tentara Keamanan Rakyat]] (TKR) sampai tahun 1947. Pada waktu [[Agresi Militer Belanda II|Agresi Belanda II]], Benteng Van der Capellen kembali dikuasai Belanda selama dua tahun, yaitu tahun 1948-1950.{{sfn|Neoldy|2013}}<ref name=":0" />
 
== Pasca Indonesia Merdeka ==
 
Setelah Belanda meninggalkan Batusangkar, Benteng Van der Capellen kemudian dimanfaatkan oleh PTPG yang merupakan cikal bakal IKIP Padang sekarang [[Universitas Negeri Padang]] untuk proses belajar mengajar yang saat itu diresmikan olah Prof. [[Mohammad Yamin|M. Yamin]], SH. Pemakaian bangunan benteng untuk PTPG berlangsung sampai tahun 1955 dan pada tahun itu juga PTPG dipindahkan ke Bukit Gombak. Benteng Van der Capellen kemudian dijadikan sebagai markas Angkatan Perang Republik Indonesia.<ref name=":0" />
 
Pada saat meletus peristiwa [[PRRI]] tahun 1957, Benteng Van der Capellen dikuasai oleh Batalyon 439 Diponegoro yang kemudian diserahkan kepada [[POLRI]] pada tanggal 25 Mei 1960. Oleh POLRI kemudian ditetapkan sebagai Markas Komando Resort Kepolisian ([[Polres]]) Tanah Datar dan berlanjut hingga tahun 2000. Sejak tahun 2001, Benteng Van der Capellen dikosongkan karena Polres Tanah Datar telah pindah ke bangunan baru yang berada di [[Pagaruyung]].<ref name=":0" />
 
Beberapa perubahan bangunan, antara lain atap yang semula berupa atap genteng diganti dengan atap seng pada tahun 1974. Pada tahun 1984 dilakukan penambahan ruangan untuk serse dan dibangun pula TK Bhayangkari. Parit yang masih ada disebelah kanan dan kiri bangunan benteng ditimbun dan diratakan pada tahun 1986. Selain itu, ruangan sel tahanan yang semula terdiri dari 4 ruangan, dibongkar satu sehingga tinggal menjadi 3 ruangan. Perubahan bangunan terakhir kalinya terjadi pada tahun 1988, yaitu berupa penambahan bangunan kantin dan bangunan untuk gudang.<ref name=":0" />
 
== Restorasi ==
Baris 35 ⟶ 93:
* [[Perang Padri]]
 
== Referensi ==
[[Kategori:Benteng di Indonesia]]
<references />{{coord|-0.454571|100.596093|display=title}}
 
[[Kategori:Benteng di Indonesia|V]]
[[Kategori:Bangunan dan struktur di Sumatera Barat]]
[[Kategori:Perang Padri]]