Abdullah Said: Perbedaan antara revisi
Konten dihapus Konten ditambahkan
menambahkan infobox dan referensi |
Tidak ada ringkasan suntingan |
||
(19 revisi perantara oleh 8 pengguna tidak ditampilkan) | |||
Baris 2:
| name = Ust Abdullah Said
| image = Ust H Abdullah Said.jpg
| birth_date =
|
| death_date = {{death date and age|1998|03|04|1945|08|17}}
|
|
| nationality = {{INA}}
| known_for = Pendiri [[Hidayatullah]]
| successor = K.H. Abdurrahman Muhammad
| spouse = Syarifah Aida Chered (Khirid)
| children = {{unbulleted list|Saidah|Ulfiatussu'adah|Hizbullah|Nasrullah|Fathun Qorib|Maftuhah|Muntaziruzzaman|}}
| mother = Aisyah
| father =
| awards = Anugerah Kalpataru dari Pemerintah tahun 1984 sebagai tokoh yang berjasa di bidang penghijauan dan pelestarian lingkungan hidup
}}
'''Abdullah Said''' ({{lahirmati|Lamatti Rilau, Sinjai|17|08|1945|Jakarta|04|03|1998}}) adalah pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan yang kemudian menjadi organisasi massa Islam nasional bernama [[Hidayatullah (organisasi)|Hidayatullah]].<ref>{{Citation|title=Biografi Ust Abdullah Said Pendiri Hidayatullah #1|url=https://www.youtube.com/watch?v=KIqFUKc5J84|accessdate=2021-10-08|language=id-ID}}</ref>
== Riwayat Hidup ==
Sejak masih dalam kandungan Abdullah Said sudah jadi perbincangan keluarga dan masyarakat di kampungnya, sebab usia kandungan ibunya sudah mencapai dua tahun namun belum lahir juga. Bahkan ada pandangan miring bahwa yang dikandung itu bukan manusia tetapi buaya atau entah apa.
Untuk pendidikan dasar, selain bimbingan langsung dari ayahnya,
Setelah di Makassar, Muhsin kecil diterima di kelas IV di Sekolah Dasar No. 30 di kota itu. Di Sekolah ini Muhsin kecil selalu menjadi bintang kelas karena menguasai seluruh mata pelajaran, termasuk pelajaran menggambar. Bahkan Muhsin kecil pernah mengangkat nama sekolahnya ketika menjadi yang terbaik dalam pertandingan menggambar antar sekolah dasar se-Kota Makassar.
Baris 24 ⟶ 30:
Lagi-lagi di PGAN 6 Tahun Muhsin kahar selalu menjadi bintang kelas, pandai berpidato dan berpengetahuan luas. Sejak masuk PGAN sampai kelas IV dia selalu ditunjuk sebagai ketua kelas, dalam setiap rapat dia selalu dipercayakan untuk memimpin.
Lulus sekolah lanjutan PGAN 6 Tahun dengan nilai tertinggi, Muhsin Kahar ditugskan untuk melanjutkan pendidikannya ke [[Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar|IAIN Alauddin]], Makassar. Namun hanya setahun dia mengikuti kuliah lalu berhenti. Dia telah membaca semua materi kuliah yang diberikan dosen. Hingga akhirnya dia menarik kesimpulan bahwa kalau duduk beberapa tahun di bangku kuliah, cukup menyita banyak waktu dan energi, sementara hasilnya sangat tidak seimbang dengan yang telah dikorbankan.
Kalau hanya untuk mendapatkan titel [[sarjana]], bukan itu yang diperlukan. Namun yang dia butuhkan adalah bagaimana bisa mengaplikasikan ilmunya secara menyeluruh kapanpun dan di manapun dia berada.
=== Penghargaan Kalpataru ===
Di awal perintisan Pesantren Hidayatullah yang berada di atas lahan wakaf itu berdiri masjid,
Tak heran bila pada tahun 1984, Presiden Soeharto menganugerahkan [[Kalpataru (penghargaan)|Kalpataru]] kepada Ust. Abdullah Said karena beliau dinilai mampu mengubah kawasan kritis di Gunung Tembak menjadi lingkungan pesantren yang hijau dan asri.<ref>{{Cite web|title=Profil Pendiri Hidayatullah KH Abdullah Said, Peraih Kalpataru Era Soeharto|url=http://www.nasional.news/2020/05/profil-pendiri-hidayatullah-kh-abdullah-peraih-anugerah-kalpataru-era-soeharto.html|language=id|access-date=2021-10-08|archive-date=2021-04-18|archive-url=https://web.archive.org/web/20210418205908/https://www.nasional.news/2020/05/profil-pendiri-hidayatullah-kh-abdullah-peraih-anugerah-kalpataru-era-soeharto.html|dead-url=yes}}</ref>
Ada yang menarik dalam rangkaian penganugerahan Kalpataru itu. Ketika Menteri Negara KLH [[Emil Salim]] menyelenggarakan jamuan buka puasa guna menghormati para penerima anugerah Kalpataru, salah seorang dari penerima anugerah itu tampil memberikan sambutan.<ref name=":0" />
Dari suaranya yang berat dan tenang, orang faham laki laki ini adalah seorang orator yang pandai berpidato. Dia adalah Abdullah Said.
Baris 39 ⟶ 45:
"Saya terharu pada malam hari ini," katanya pelan. "Ada seorang sahabat saya yang sudah 20 tahun kami berpisah... ternyata pada malam ini baru saya jumpai dia". Hadirin sesaat bertanya tanya siapa gerangan yang ia maksud.
"Itulah dia Bapak [[Tanri Abeng]]...," katanya seraya menunjuk Presiden Direktur Bir Bintang yang hadir pula malam itu.
Tapi bagaimana pula pemimpin pesantren ini bisa bersahabat dengan Presdir Bir Bintang?
"Kami pernah sama sama aktif di PII ketika di Ujung Pandang dulu," kata Said kepada majalah Panjimas seperti diulas dengan judul Sang Ustadz Pemenang Kalpataru pada majalah Panji Masyarakat, Edisi 21 Juni 1984.<ref name=":0">{{Cite news|last=Amrullah|first=Afif|date=21 Juni 1984|title=Sang Ustadz Pemenang Kalpataru|work=Panji Masyarakat|issue=435|page=42-43}}</ref>
Saat itu, di Pelajar Islam Indonesia (PII) Abdullah Said di bidang dakwah sementara Tanri Abeng menjadi bendahara. Namun ketika mulai merantau ke Kalimantan, Tanri Abeng pun ke Amerika untuk belajar.
Baris 49 ⟶ 55:
Dan memang, setelah beberapa tahun nasih telah membawa hidup mereka masing masing. Seorang menjadi direktur pondok pesantren dan seorang lagi direktur Bir Bintang.
Pada kesempatan penganugerahan tersebut, Abdullah Said juga sempat diterima oleh Wakil Presiden (Wapres) ke-4 Umar Wirahadikusumah di Istana Wapres.<ref name=":0" />
== Pemikiran ==
Pemikiran Abdullah Said<ref>{{Cite web|last=Suwarno|first=Ahmad|date=2013|title=Pemikiran Abdullah Said Tentang Sistem Pengkaderan Dan Dakwah Hidayatullah Serta Aplikasinya Di Pondok Pesantren Hidayatullah Semarang|url=http://eprints.ums.ac.id/27545/1/HALAMAN_DEPAN.pdf|website=Universitas Muhammadiyah Malang|access-date=6 Oktober 2021}}</ref> dapat ditelusuri dari karya tulis, ceramah, dan berbagai aktivitas dia. Namun, jika melihat pada catatan-catatan dia, memang tidak dijumpai tulisan yang secara khusus membahas pandangan atau pemikiran dia, ini dapat dimaklumi sebab dia memang manusia kerja, “Man of Action” seperti yang dikatakan Amien Rais (Mantan ketua MPR-RI, mantan ketua Umum Muhammadiyah), ketika dimintai komentarnya terhadap pribadi Abdullah Said.<ref>{{Cite journal|last=Ma’sa|first=Lukman|date=2018|title=Pemikiran Dan Gerakan Dakwah Abdullah Said|url=http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1504612&val=17973&title=PEMIKIRAN%20DAN%20GERAKAN%20DAWAH%20ABDULLAH%20SAID|journal=Jurnal Dakwah STID Mohammad Natsir|volume=Vol.1|issue=No.1|pages=17|access-date=2021-10-08|archive-date=2021-10-08|archive-url=https://web.archive.org/web/20211008165557/http://download.garuda.ristekdikti.go.id/article.php?article=1504612&val=17973&title=PEMIKIRAN%20DAN%20GERAKAN%20DAWAH%20ABDULLAH%20SAID|dead-url=yes}}</ref>
=== Bidang Da'wah ===
Baris 77 ⟶ 83:
Mengenai manhaj dan metode da’wah ini Abdullah Said mengatakan bahwa: “Karena ketidak jelasan manhaj, kadang-kadang da’wah Islam tidak lebih sekadar hura-hura”
Dengan menapak tilas perjalanan Rasulullah, Abdullah Said berusaha keras memetik hikmah dari kondisi yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu hingga turunnya 5 surat pertama sebagai bahan pembinaan. Menurut pendapatnya, Allah SWT yang merekayasa kondisi Nabi Muhammad demikian itu tentu punya target. Setelah melalui pengkajian yang intens Abdullah Said akhirnya merumuskan suatu metode pembinaan berdasarkan tertib turunnya lima surat pertama, yang kemudian dikenal dengan Manhaj Sistematika Nuzulul Wahyu. Yang selanjutnya metode ini dijadikan sebagai manhaj da’wah Hidayatullah. Abdullah said sangat mengusung dan menekankan nilai-nilai al qur'an dan Assunnah dalam setiap aktifitas dakwahnya
=== Pendidikan ===
Baris 103 ⟶ 109:
Kendati Hidayatullah tidak berorientasi kepada politik, tetapi Ustadz Adullah Said tidak mau ketinggalan mengikuti perkembangan politik. Namun dalam pandangan dia, jika suatu saat tiba-tiba pemerintah (yang saat itu berada dibawah kekuasaan partai Golkar) mengubah undang-undang keormasan dan memberikan kesempatan untuk menambah jumlah partai politik, maka Hidayatullah lah yang paling siap berpartisipasi dengan mengandalkan cabang-cabang yang ada diseluruh Indonesia yang siap menyala jika Gunung tembak sebagai generator telah dihidupkan.
__INDEKS__▼
__PRANALABAGIANBARU__▼
[[Kategori:Alumni Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar]]
[[Kategori:Alumni Universitas Islam Negeri Alauddin]]
[[Kategori:Tokoh dari Balikpapan]]▼
[[Kategori:Tokoh dari Sinjai]]▼
[[Kategori:Tokoh Islam Indonesia]]▼
Dia menginginkan para pemuda masuk barisan partai oposisi karena jika ditangkap masih bisa bertahan hidup dipenjara, sedangkan kaum tua disuruh masuk golkar agar mendapat jaminan. Dia menginginkan Hidayatullah menguasai kursi pada tiga partai saat itu (Golkar, PPP, dan PDI), sehingga keputusan yang dikeluarkan didominasi oleh Hidayatullah. Abdullah Said meninggal dunia di Jakarta pada 4 Maret 1998 setelah beberapa waktu menjalani pengobatan atas penyakit yang dideritanya.
=== Mendirikan Hidayatullah ===
Ustadz Abdullah Said mendirikan Hidayatullah pada dekade 1980 an.
== Wafat ==
Beliau wafat Pada Tanggal 4 Maret 1998 Dan Dimakamkan Di Balikpapan Tersebut.
== Referensi ==
<references />
{{Navbox Anregurutta}}
[[Kategori:Tokoh PII]]
▲[[Kategori:Tokoh Islam Indonesia]]
▲[[Kategori:Tokoh dari Balikpapan]]
▲[[Kategori:Tokoh dari Sinjai]]
▲__INDEKS__
▲__PRANALABAGIANBARU__
|