Dīgha Nikāya: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Mudita citta (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Faredoka (bicara | kontrib)
k ubah kategori
 
(27 revisi perantara oleh 17 pengguna tidak ditampilkan)
Baris 1:
{{rapikan}}
'''Digha Nikaya''' adalah ''nikaya'' (koleksi) pertama dari [[Sutta Pitaka]], bagian pertama [[Tripitaka]]. Koleksi ini terdiri dari 34 ''sutta'' yang panjang dan terbagi menjadi 3 ''vagga'' (Silakkhandhagga, Mahavagga, Patikavagga).
{{PaliCanon|sutta}}
{{Buddhisme-stub Theravada}}
{{Buddhisme}}
'''Dīgha Nikāya''' (dīghanikāya; "Kumpulan Diskusi-diskusi Panjang") merupakan teks [[Buddhisme|Buddhis]], kumpulan bagian pertama dari lima [[nikaya|nikāya]] dalam kelompok [[Sutta Pitaka]], yang merupakan kitab pertama dari "tiga keranjang", [[Tipitaka|Tipiṭaka]] [[bahasa Pāli]] dari aliran [[Theravada|Theravāda]]. Beberapa [[sutta]] yang sering kali dipakai sebagai rujukan adalah [[Mahaparinibbana Sutta]] [DN 16], yang menjelaskan saat-saat terakhir dan kematian Buddha; [[Sigalovada Sutta]] [DN 31], di mana Buddha menjelaskan tata-cara dan pelaksanaan kepada orang awan ; dan [[Samaññaphala Sut
ta]] [DN 2], [[Brahmajala Sutta]] [DN 1] yang menjelaskan dan membandingan sudut pandang Buddha dengan petapa lain di India mengenai alam dan waktu (masa lalu, masa kini dan masa mendatang); dan [[Potthapada Sutta|Potthapada]] [DN 9] yang menjelaskan manfaat dan pelaksanaan meditasi [[samatha]].
 
== Bagian ==
Beberapa di antara Sutta-sutta yang terkenal adalah:
Dīgha Nikāya terdiri dari 34 kumpulan diskusi-diskusi yang dibagi menjadi tiga kelompok:
*
* Silakkhandha-vagga — Bagian mengenai Moralitas (sutta 1-13); dinamai dari risalah moral bhikkhu-bhikkhu yang tertulis dalam setiap setiap sutta-suttanya (dalam teori; dalam kenyataannya tidak tertulis lengkap); sebagian besar menuju kepada [[jhana]] (pencapaian utama dalam meditasi [[samatha]]), pengembangan kemampuan batiniah dan menjadi seorang [[arahat]]
#[[Bramajala Sutta]]
* Maha-vagga — Pembagian Agung (sutta 14-23)
: "Jala para Brahma" Sang Buddha bersabda bahwa Beliau mendapat penghormatan bukan semata-mata karena kesusilaan, melainkan karena kebijaksanaan yang mendalam yang beliau temukan dan nyatakan. Ia memberikan sebuah daftar berisi 62 bentuk spekulasi mengenai dunia dan pribadi dari guru-guru lain.
* Patika-vagga — Pembagian Patika (sutta 24-34)
* Samannaphala Sutta: "Pahala yang dimiliki oleh tiap pertapa". Kepada Ajatasattu yang berkunjung pada Sang Buddha, Beliau menerangkan keuntungan menjadi seorang Bhikkhu, dari tingkat terendah sampai tingkat Arahat.
 
* Ambattha Sutta: Percakapan antara Sang Buddha dengan Ambattha mengenai kasta, yang sebagian memuat cerita tentang raja Okkaka, leluhur Sang Buddha.
Beberapa di antara Sutta-sutta yang terkenal adalah:
* Kutadanta Sutta: Percakapan dengan Brahmana Kutadanta tentang ketidaksetujuan terhadap penyembelihan binatang untuk sajian.
#* [[Bramajala Sutta]]
* Mahali Sutta: Percakapan dengan Mahali mengenai penglihatan gaib. Yang lebih tinggi dari pada ini adalah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna.
: "Jala para Brahma" Sang Buddha bersabda bahwa BeliauDia mendapat penghormatan bukan semata-mata karena kesusilaan, melainkan karena kebijaksanaan yang mendalam yang beliaudia temukan dan nyatakan. Ia memberikan sebuah daftar berisi 62 bentuk spekulasi mengenai dunia dan pribadi dari guru-guru lain.
* Kassapasihanada Sutta: Percakapan dengan seorang pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya menyiksa diri.
* [[Samannaphala Sutta]]: "Pahala yang dimiliki oleh tiap pertapa". Kepada Ajatasattu yang berkunjung pada Sang Buddha, BeliauDia menerangkan keuntungan menjadi seorang Bhikkhu, dari tingkat terendah sampai tingkat Arahat.
* Tevijja Sutta: tentang ketidakbenaran pelajaran ketiga Veda untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa Brahma.
* [[Ambattha Sutta]]: Percakapan antara Sang Buddha dengan Ambattha mengenai kasta, yang sebagian memuat cerita tentang raja Okkaka, leluhur Sang Buddha.
* Mahapadana Sutta: Penjelasan Sang Buddha mengenai 6 orang Buddha yang sebelumnya dan beliau sendiri, mengenai masa-masa mereka muncul, kasta, susunan keluarga, jangka kehidupan, pohon bodhi, siswa-siswa utama, jumlah pertemuan, pengikut, ayah, ibu dan kota dengan sebuah khotbah kedua mengenai Vipassi dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat permulaan memberi pelajaran.
* [[Sonadanda Sutta]]Kualitas Brahma sejati
* Mahanidana Sutta: mengenai rantai sebab musabab yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa.
* [[Kutadanta Sutta]]: Percakapan dengan Brahmana Kutadanta tentang ketidaksetujuan terhadap penyembelihan binatang untuk sajian.
* Mahaparinibbana Sutta: cerita tentang hati-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha, serta pembagian relik-relik.
* [[Mahali Sutta]]: Percakapan dengan Mahali mengenai penglihatan gaib. Yang lebih tinggi dari padadaripada ini adalah latihan menuju kepada pengetahuan sempurna.
* Sakkapanha Sutta: Dewa Sakka mengunjungi Sang Buddha, menanyakan 10 persoalan dan mempelajari kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan berakhir dengan kemusnahan.
* [[Kassapasihanada Sutta]]: Percakapan dengan seorang pertapa telanjang Kassapa tentang tidak bermanfaatnya menyiksa diri.
* Maha Satipatthana Sutta: Khotbah mengenai 4 macam meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma) disertai penjelasan mengenai 4 Kesunyataan.
* [[Tevijja Sutta]]: tentang ketidakbenaran pelajaran ketiga Veda untuk menjadi anggota kelompok dewa-dewa Brahma.
* Payasi Sutta: Kumarakassapa menyadarkan Payasi dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya atau akibat dari perbuatan. Setelah Payasi mangkat, Bhikkhu Gavampati menemuinya di surga dan melihat keadaannya.
* [[Mahapadana Sutta]]: Penjelasan Sang Buddha mengenai 6 orang Buddha yang sebelumnya dan beliaudia sendiri, mengenai masa-masa mereka muncul, kasta, susunan keluarga, jangka kehidupan, pohon bodhi, siswa-siswa utama, jumlah pertemuan, pengikut, ayah, ibu dan kota dengan sebuah khotbah kedua mengenai Vipassi dari saat meninggalkan surga Tusita hingga saat permulaan memberi pelajaran.
* Pitika Sutta: cerita mengenai seorang siswa yang mengikuti guru lain, karena Sang Buddha tidak menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal mula banda-benda. Selama percakapan, Sang Buddha menerangkan kedua hal tersebut.
* [[Mahanidana Sutta]]: mengenai rantai sebab musabab yang bergantungan dan teori-teori tentang jiwa.
* Cakkavattisihanada Sutta: cerita tentang raja dunia dengan berbagai tingkat penyelewengan moral dan pemulihannya serta tentang Buddha Metteyya yang akan datang.
* [[Mahaparinibbana Sutta]]: cerita tentang hati-hari terakhir dan kemangkatan Sang Buddha, serta pembagian relik-relik.
* Aganna Sutta: perbincangan mengenai kasta dengan penjelasan mengenai asal mula benda-benda, asal mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya.
* [[Sakkapanha Sutta]]: Dewa Sakka mengunjungi Sang Buddha, menanyakan 10 persoalan dan mempelajari kesunyataan bahwa segala sesuatu yang timbul akan berakhir dengan kemusnahan.
* Sampasadaniya Sutta: percakapan antara Sang Buddha dengan Sariputta yang menyatakan keyakinannya kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Sang Buddha. Sang Buddha berpesan untuk kerap kali mengulangi pelajaran ini kepada para siswa.
* [[Maha Satipatthana Sutta]]: Khotbah mengenai 4 macam meditasi (mengenai badan jasmani, perasaan, pikiran dan Dhamma) disertai penjelasan mengenai 4 Kesunyataan.
* Lakkhana Sutta: Penjelasan mengenai 32 tanda "Orang Besar" (Raja alam semesta atau seorang Buddha), yang dijalin dengan syair berisi 20 bagian; tiap bagian dimulai dengan "Disini dikatakan".
* [[Payasi Sutta]]: Kumarakassapa menyadarkan Payasi dari pandangan keliru bahwa tiada kehidupan selanjutnya atau akibat dari perbuatan. Setelah Payasi mangkat, Bhikkhu Gavampati menemuinya di surga dan melihat keadaannya.
* [[Pitika Sutta]]: cerita mengenai seorang siswa yang mengikuti guru lain, karena Sang Buddha tidak menunjukkan kegaiban maupun menerangkan asal mula banda-benda. Selama percakapan, Sang Buddha menerangkan kedua hal tersebut.
* [[Cakkavattisihanada Sutta]]: cerita tentang raja dunia dengan berbagai tingkat penyelewengan moral dan pemulihannya serta tentang Buddha Metteyya yang akan datang.
* [[Aganna Sutta]]: perbincangan mengenai kasta dengan penjelasan mengenai asal mula benda-benda, asal mula kasta-kasta dan artinya yang sesungguhnya.
* [[Sampasadaniya Sutta]]: percakapan antara Sang Buddha dengan Sariputta yang menyatakan keyakinannya kepada Sang Buddha dan menjelaskan ajaran Sang Buddha. Sang Buddha berpesan untuk kerap kali mengulangi pelajaran ini kepada para siswa.
* [[Lakkhana Sutta]]: Penjelasan mengenai 32 tanda "Orang Besar" (Raja alam semesta atau seorang Buddha), yang dijalin dengan syair berisi 20 bagian; tiap bagian dimulai dengan "Disini dikatakan".
* [[Sigalovada Sutta]]: Sang Buddha menemukan Sigala sedang memuja enam arah. Ia menguraikan kewajiban seorang umat dengan menjelaskan bahwa pemujaan itu adalah menunaikan kewajiban terhadap enam kelompok orang (orang tua, guru, sahabat dan lain-lain).
 
== Pranala Luarluar ==
* [http://dhammacitta.org/dcpedia/Dīgha_Nikāya Dīgha Nikāya komplitkomplet terjemahan Maurice O'Connell Walshe dalam bahasa Indonesia berikut dengan dalam bahasa Pāḷi]
* [http://dhammacitta.org/perpustakaan/digha-nikaya-khotbah-khotbah-panjang-sang-buddha/ Buku elektronik Dīgha Nikāya lengkap ([[PDF]])]
 
{{Buddhisme-topik}}
{{Buddhisme-stub}}
 
[[Kategori:Sutta Pitaka|1]]
[[Kategori:Theravada]]
 
[[Kategori:Kitab Buddhisme Theravada]]
[[cs:Dígha-nikája]]
[[Kategori:Buddhisme]]
[[de:Digha-Nikaya]]
[[en:Digha Nikaya]]
[[es:Digha Nikaya]]
[[fr:Dīgha Nikāya]]
[[new:दीघनिकाय]]
[[no:Dighanikaya]]
[[pl:Digha Nikaya]]
[[pt:Digha Nikaya]]
[[ru:Дигха-никая]]
[[zh:長部 (佛經)]]