Bawazier: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Borgxbot (bicara | kontrib)
k Robot: Cosmetic changes
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 1:
'''Bawazier''' (Bawazeer, Bawazir) atau Banu Al Wazir adalah [[marga]] dan bangsawan Timur Tengah dari keturunan [[Bani Hasyim]]. Wazir dalam [[bahasa Arab]] bermakna [[menteri]]. Permulaan nama Ba-Wazir adalah ketika keturunan Ali Al Wazir yang menjabat menteri dalam dua kalifah Abasiah yaitu al-Mustarshid dan al-Muqtafi hijrah dari [[Irak]] ke [[Hadramaut]]. Beliau juga dikenal sebagai Menteri Agung dengan nama Abul Qasim Ali Sharafuddien, dan bernasab langsung dengan '''Sayyidina [[Abbas bin Abdul-Muththalib|Abbas]] '''(Paman [[Nabi Muhammad]] Rasulullah SAW) bin [[Abdul-Muththalib]] bin Hasyim bin [[Abd al-Manaf]] .
 
== Nasab lengkap ==
Baris 11:
[[Sayyid]], [[Syekh]], [[Syarif]], Sultan, Emir
 
== Syeikh Sayyid Muhammad Bin Salim bin Abdullah bin Ya’qub bin Yusuf bin Ali Al Wazir bin Thirad Al-Abbasi Az – Zainabi Hasyimi Wali (penguasa) daerah Urf==
== Bawazier di seluruh dunia ==
 
Al Allamah Abdullah bin Ya’qub pada saat berada di daerah Syiroz menikahi wanita terpandang dari salah seorang anak pamannya dari kalangan bani Abasiyah dan dikaruniai seorang putra bernama Salim bin Abdullah yang ditakdirkan dilahirkan di daerah Syiroz (pinggiran) daerah Baghdad. Ia menghabiskan masa mudanya dan sebagian hidupnya tidak di daerah Iraq dan tidak pula di daerah Persia tetapi di daerah Hadromaut tanah air kaum ‘Ad dan negara Hamir serta Kandah.
 
Salim bin Abdullah menyelesaikan pendidikannya di daerah Syihr di bawah arahan orang tuannya, atas saran ayahnya Salim berpindah dari satu negeri pegunungan ke negeri pegunungan yang lain untuk mengajarkan ilmu dan melakukan rekonsilisasi damai diantara kabilah yang bertikai. Hal ini mendorong Salim untuk berinteraksi dengan penduduk suku tersebut sehingga ia menikah dengan seorang putri kepala Kabilah di daerah ‘Urf yang bernama Jamilah binti Ahmad bin Ali kepala Kabilah Musailiyin, dan dikaruniai seorang putra bernama Muhammad bin Salim yang merupakan leluhur keluarga Bawazir yang terkenal sekarang dengan nama wali (penguasa) ‘Urf, karena ia hidup dan meninggal di daerah ‘Urf.
 
Muhammad (penguasa / wali) merupakan salah satunya ahli waris di Hadromaut dari keluarga Al Wazir (Menteri) yang hijrah dari Iraq dan merupakan Bani Abasyiah pertama yang dilahirkan pertama di Hadromaut. Dua saudara kakeknya yaitu Yusuf dan Umar telah meninggal dan tidak mempunyai keturunan. Kakeknya Abdullah telah meninggal di daerah Syihr dan mempunyai seorang anak yaitu Salim dan dimakamkan di daerah Juwaib sebelah barat Huroh oleh karena itu Muhammad bin Salim merupakan leluhur bagi keluarga Bawazir. Beliau merupakan salah satu pemuka Ulama Tasawuf pada abad ke 7 hijriah. Diantara sahabat Beliau adalah Al-Faqih Muhammad bin Ali Ba’lawi dan Syeih Said bin Isa Al-‘Amudi. Dengan keduanya beliau mempunyai hubungan yang sangat erat. Sayyid Muhammad bin Salim meninggalkan tiga orang anak yaitu Abu Bakar, Said dan Umar. Umar adalah ayah dari Syaikh Abdurohim bin Umar pendiri kota Ghil Bawazir.
 
Hasil penelitian salah satu tulisan tangan kuno milik salah seorang Syaikh di Huroh, Bahwa diantara guru, syaikh Muhammad bin Salim (Penguasa / Wali ‘Urf) adalah Al-Allamah Al-Imam Muhammad bin Ali pengarang kitab Mirbath, Syaikh Ahmad Al-Hudhudi, Syaikh Ahmad al-Bathini, Al-Allamah Al-Faqih Muhammad bin Ismail Al-Hadromiyi di daerah Zabidi, yang semuanya merupakan ulama-ulama Yaman selain itu beliau juga belajar kepada Ayahnya Salim dan kakeknya Abdullah bin Ya’qub.
 
Adapun orang-orang yang belajar kepada Syaikh Sayyid Muhammad bin Salim sangat banyak, diantaranya: Al-Faqih Al Mukadam Muhammad bin Ali Ba’lawi, Syaikh Ali bin Salam Al-Hadromiyi, Imam Al-Faqih Al-Allamah Muhammad bin Ahmad bin Yahya bin Abil Hubb Al - Tarimi, Syaikh Sa’id bin Ali Adz – Dzafari, . Syaikh Sufyan Al-Yamani, Syaikh Ahmad bin Al-Ja’adi Syaikh Sa’id bin Isa Al-Amudi, Syaikh Sa’id bin Umur Balhaf, Syaikh Abdullah bin Muhammad Ba’ibadi dan yang lainnya.
 
{{sect-stub}}