Perguruan Pencak Silat Gubug Remaja: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Xavier Chrid (bicara | kontrib)
kTidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 17:
 
=== Sejarah Berdirinya Tabib Ketimuran Gubug ===
[[Berkas:R.M Koeshartojo.jpg|jmpl|Foto Raden Mas Koeshartojo]]
Berdirinya Perguruan Pencak Silat Gubug Remaja (PPSGR) atau disingkat Gubug Remaja diawali dengan kisah pengabdian Eyang R.M Koeshartojo dan adiknya Eyang R.M Agoeng dalam melindungi rakyat Ngawi yang pada saat itu masih dalam masa pendudukan Kolonial Belanda. Eyang R.M Koeshartojo dan R.M Agoeng merupakan putra dari R.M Koesiar, seorang yang dikenal pada saat itu sebagai seorang yang memiliki keilmuan dan kedigdayaan tingkat tinggi. R.M Koesiar yang memiliki 5 orang anak, membekali mereka dengan keilmuan kanuragan dan beladiri untuk menjaga keselamatan diri mereka. Diantara kelima anaknya, R.M Koeshartojo dan R.M Agoeng adalah yang paling menonjol menguasai keilmuan yang diajarkan sang ayah. Atas dasar itu, R.M Koesiar memberikan petunjuk kepada kedua anaknya tersebut untuk berkeliling nusantara dan melakukan semedi diberbagai tempat.<ref name=":0">{{Cite web|last=Rifai|first=July|date=07 April 2012|title=Sejarah Singkat Perguruan Pencak Silat "Gubug Remaja"|url=https://ppsgrbulu.blogspot.com/2012/04/sejarah-singkat-ppsgr.html?m=1|website=PPSGR Bojonegoro Wilat Bulu|access-date=19 Januari 2024}}</ref>
 
Baris 26 ⟶ 27:
Pasca kemerdekaan, nama Tabib Ketimuran Gubug termasyhur dikalangan rakyat Ngawi, dan banyak yang mulai mengikuti perguruan ini untuk belajar kanuragan dan beladiri. Hal ini membuat R.M Koeshartojo dan R.M Agoeng memiliki banyak siswa untuk membangun pasukan yang siap berjuang kapan saja. Hingga pada 1948 terjadi [[Pemberontakan PKI 1948|pemberontakan PKI di Madiun]], yang juga berimbas pada Kabupaten Ngawi sebagai tempat perjuangan Tabib Ketimuran Gubug. Pemberontakan PKI pada 1948 berusaha membumihanguskan rakyat dan menahan para pejabat di Kabupaten Ngawi. Melihat hal tersebut, R.M Koeshartojo dan R.M Agoeng merasa geram dan dengan segera melakukan perlawanan untuk membebaskan para tawanan yang ditahan oleh PKI. R.M Koeshartojo dibantu adiknya, R.M Agoeng dan pasukan Tabib Ketimuran Gubug menggempur lokasi PKI di Ngawi dan membebaskan para tawanan.
 
R.M Agoeng yang memiliki kemampuan kanuragan dan ilmu beladiri tingkat tinggi kemudian dengan ilmunya membuat tertidur seluruh pasukan PKI, kemudian menjebol dan meruntuhkan tembok serta pembatas baja untuk membebaskan tawanan yang ditahan oleh PKI. Dalam keadaan musuh tertidur, R.M Agoeng bisa saja menghabisi pasukan musuh, namun hal tersebut tidak dilakukannya karena jiwa pendekar dalam dirinya tidak mengizinkan dirinyamengizinkannya untuk menyerang musuh yang tak berdaya. Kemudian para tawanan yang dibebaskan dibawa ke padepokan pusat Tabib Ketimuran Gubug yang terletak di Desa Ketanggi, Kabupaten Ngawi. Setelah pasukan musuh mengetahui bahwa para tawanan hilang dibawa kabur, terjadi perang antara pasukan PKI dan pasukan Tabib Ketimuran Gubug yang dipimpin oleh R.M Koeshartojo. Namun hal ini tentunya dimenangkan oleh R.M Koeshartojo denga kemampuan kanuragan dan beladiri tingkat tingginya.
 
Tidak kalah akal, pasukan PKI kemudian memanfaatkan tawanan yang tersisa untuk dibawa dan dibunuh hadapan R.M Koeshartojo, tujuannya supaya R.M Koeshartojo menyerah. Melihat hal itu, R.M Koeshartojo tidak bisa membiarkan tawanan yang sekaligus para muridnya untuk dibunuh dihadapannya, sebagai gantinya, dia bersedia merelakan dirinya untuk dibunuh demi menjaga keselamatan para tawanan. Namun untuk membunuh seorang pendekar dan petapa sekelas R.M Koeshartojo bukanlah hal mudah, pasalnya dia merupakan seorang yang kebal terhadap senjata tajam maupun senjata berpeluru dan peledak. Dengan disaksikan masyarakat pada saat itu, pasukan musuh berusaha membacok, menembak, dan memberikan peledak kepada R.M Koeshartojo, namun semuanya sia-sia, R.M Koeshartojo tidak terluka bahkan tidak berpindah dari tempat dia berdiri. Pada akhirnya demi menjaga keselamatan para tawanan agar tidak dibunuh pasukan PKI, R.M Koeshartojo memberitahukan rahasia kepada pihak musuh tentang bagaimana cara membunuh dirinya, yakni dengan keris milik dirinya yang harus ditusukkan ke pangkal lidahnya oleh seorang wanita. Kemudian setelah mengetahui hal tersebut, pasukan musuh melakukan hal yang diberitahukan dan pada akhirnya pemimpin Tabib Ketimuran Gubug, R.M Koeshartojo wafat pada 5 Oktober 1948.