Tari Seudati: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
NFarras (bicara | kontrib)
Menolak perubahan teks terakhir (oleh 114.124.233.86) dan mengembalikan revisi 17370111 oleh Padliansyah553
Tag: Pengembalian manual
InternetArchiveBot (bicara | kontrib)
Rescuing 1 sources and tagging 0 as dead.) #IABot (v2.0.8
Baris 6:
Menurut sejarahnya, tarian ini awalnya tumbuh dan berkembang di ''Desa Gigieh, Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie, Aceh'', yang dipimpin oleh ''Syeh Tam''. Tarian ini kemudian mulai berkembang di daerah lain, salah satunya di ''Desa Didoh, Kecamatan mutiara, Kabupaten Pidie'', yang dipimpin oleh ''Syeh Ali Didoh''. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian ini kemudian mulai menyebar ke daerah Aceh lainnya, hingga kini Tari Seudati sudah menyebar ke semua daerah di Aceh.<ref>{{Cite web|url=https://www.liputan6.com/news/read/449993/sepenggal-kisah-tari-seudati|title=Sepenggal Kisah Tari Seudati|last=Liputan6.com|date=2012-11-04|website=liputan6.com|language=id|access-date=2020-01-14}}</ref>
 
Dulunya tarian ini juga digunakan oleh para tokoh agama sebagai media dakwah dalam menyebarkan agama Islam. Namun pada masa penjajahan Belanda tarian ini sempat dilarang. Karena syair yang dibawakan dalam Tari Seudati ini dianggap dapat menumbuhkan semangat bagi para pemuda Aceh untuk bangkit dapat menimbulkan pemberontakan kepada ''Belanda''. Setelah kemerdekaan Indonesia, tarian ini kembali diperbolehkan, bahkan tidak hanya sebagai media dakwah, tapi juga sering ditampilkan sebagai tarian pertunjukan hingga sekarang.<ref>{{Cite web|url=https://www.romadecade.org/tari-seudati/|title=Tari Seudati|date=2018-10-20|website=RomaDecade|language=id-ID|access-date=2020-01-14|archive-date=2020-01-14|archive-url=https://web.archive.org/web/20200114140051/https://www.romadecade.org/tari-seudati/|dead-url=yes}}</ref>
 
== Fungsi & Makna ==