Lanskap kultur Provinsi Bali: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Kenrick95Bot (bicara | kontrib)
k Bot: Penggantian teks otomatis (- hektar + hektare)
penambahan gambar
Baris 10:
| Session = ke-36
| Link = http://whc.unesco.org/en/list/1194
|caption=Sawah Terasering di Jatiluwih}}
}}
'''Lanskap kultur Provinsi Bali''' merupakan sebuah [[lanskap]] yang berada di [[Provinsi Bali]], yang terdiri dari [[pedesaan]] dan [[sawah|sawah bertingkat]] [[Jatiluwih, Penebel, Tabanan|Jatiluwih]] dengan sistem [[subak]], [[pura]], dan [[candi]] yang berada di sana. Lanskap kultur Provinsi Bali adalah entitas yang unik yang terlaksana dari [[Filsafat]] [[Bali]] yang unik, [[Tri Hita Karana]]. Pada dasarnya, filosofi ini menegaskan bahwa [[Bahagia|kebahagiaan]], [[Makmur|kemakmuran]], dan [[Damai|kedamaian]] hanya dapat tercapai jika [[Tuhan]], [[Manusia]], dan [[Alam]] hidup dalam [[Harmoni]]. Aturan filosofi ini merupakan contoh hubungan [[harmonis]] luar biasa antara [[supranatural]] (Tuhan), [[manusia]], dan [[alam]]. Beberapa [[Pura]] yang menjadi ciri khas [[pemandangan]] dan [[upacara]] yang dilakukan di sana merupakan wujud keinginan [[suku Bali|masyarakat Bali]] untuk mencari hubungan yang harmonis dengan Tuhan. Sosio-organisasi keagamaan yang bertanggung jawab menjaga [[lanskap]], termasuk [[organisasi]] irigasi [[Subak]], adalah wahana untuk menjaga hubungan yang baik di antara umat manusia. Sementara itu, bagaimana membangun Bali, seperti memilih lokasi kuil dan desainnya, membangun fasilitas irigasi, dan membuat teras-teras sawah, menunjukkan komitmen untuk menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan.
 
Pada Tahun [[2012]], lanskap kultur Provinsi Bali ditetapkan menjadi salah satu [[Situs Warisan Dunia UNESCO]]. Lokasinya mencakup Pura Ulun Danau Batur dan Danau Batur, Danau Buyan dan Tamblingan, daerah aliran sungai (DAS) Pakerisan, kawasan Catur Angga Batukaru dan situs Pura Taman Ayun dengan luasan total mencapai 20,974.70 hektare.
 
== Deskripsi ==
Baris 20:
Kombinasi antara iklim [[tropis]], [[hujan]] dan tanah [[volkano|vulkanis]] subur membuat Bali tempat yang ideal untuk [[budidaya]] [[tanaman]]; termasuk tumbuhnya [[padi]], [[kelapa]], [[cengkeh]] dan [[kopi]]. Kegiatan [[pertanian]] ini mempunyai pengaruh yang besar pada lanskap Bali, terutama dalam penciptaan sawah berundak-undak. Selama seribu tahun terakhir, masyarakat Bali melakukan modifikasi demi menyesuaikan lahan pertanian dengan kondisi pulau mereka, dengan membuat terasering di [[lereng]] [[bukit]] dan menggali kanal untuk mengairi lahan, sehingga memungkinkan mereka untuk menanam [[padi]].
 
Sistem [[irigasi]] yang rumit telah dibuat untuk memanfaatkan air semaksimal mungkin. Dalam wujud rasa syukur terhadap air, yang memungkinkan kegiatan pertanian, masyarakat Bali membuat persembahan di mata air. Sistem irigasi ini juga memungkinkan koordinasi yang dikenal sebagai "[[subak]]". [[Organisasi]] tersebut adalah sebuah organisasi [[demokratis]] di mana para petani ladang yang diberi makan oleh sumber air yang sama, bertemu secara teratur untuk mengkoordinasikan penanaman, untuk mengontrol [[distribusi]] air irigasi dan untuk merencanakan pembangunan dan pemeliharaan kanal dan bendungan, serta mengatur upacara persembahan dan perayaan di Pura Subak.
 
== Perbandingan ==
Baris 27:
 
Di luar [[Indonesia]], Teras Sawah [[Cordillera]] di [[Luzon]], [[Filipina]], dapat dibandingkan dengan sawah teras dari [[Subak]] Jatiluwih di Tabanan dan pula dinyatakan sebagai [[Situs Warisan Dunia]] pada tahun 1995. Selain itu, [[Teras Sawah Banaue]] di Filipina juga dapat disamakan dengan yang ada di Jatiluwih. Sistem irigasi Banaue didukung oleh organisasi tradisional, teknik pertanian, ritual dan sistem kepercayaan. Namun, ritual dan sistem kepercayaan serta organisasi di balik sistem tersebut adalah sangat berbeda. Ritual Ifugao dan sistem [[agama Hindu|kepercayaan Hindu]] tidak memiliki persamaan sama sekali, sementara ritual di Bali dan sistem kepercayaannya telah sangat dipengaruhi oleh Hinduisme. Hal ini dapat dilihat dalam terjadinya candi kecil di teras sawah Jatiluwih yang didedikasikan untuk [[Dewi Sri|Sri]], [[dewi]] [[padi]]. Selanjutnya, struktur sistem irigasi Jatiluwih (subak) memiliki akar dari [[Tri Hita Karana]], esensi dari kosmologi [[Bali]]. Oleh karena itu, sawah Jatiluwih merupakan fenomena unik yang sangat berbeda dengan yang lain dibandingkan Ifugao atau sistem teras padi di dunia.
 
== Galeri ==
<gallery widths="175" heights="175">
Berkas:Pura taman ayun.jpg|Pura Taman Ayun
File:1 bali jatiluwih rice terrace panorama.jpg|Terasering Jatiluwih
Berkas:Pura Tirta Empul, Ubud, Bali, Indonesia.JPG|Pura Tirta Empul
Berkas:Danau Buyan, Bedugul, Bali (492096078).jpg|Danau Buyan
Berkas:PuraUD BaturEntrance.JPG|Pura Ulun Danu Batur
File:Bali – Rice terrace (2688149256).jpg|Terasering Tegallalang
</gallery>
 
== Lihat pula ==
Baris 39 ⟶ 49:
* {{id}} [http://www.indonesiabox.com/uk/s/pemandangan-ubud/ Pemandangan Ubud]
* {{id}} [http://www.metrotvnews.com/read/news/2012/05/20/91796/Subak-Diakui-sebagai-Warisan-Budaya-Dunia Subak diakui sebagai Situs Warisan Dunia]
* {{Id}} [http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/09/plakat-unesco-pengakuan-subak-sebagai-warisan-dunia-2012 Pengakuan Subak Sebagai Warisan Dunia]
* {{en}} [http://whc.unesco.org/en/list/1194/ Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy]