Kopi arabika: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
iklan
Firdaus Aulia (bicara | kontrib)
k Penambahan
Tag: Dikembalikan VisualEditor Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler Suntingan seluler lanjutan
Baris 17:
|binomial_authority = [[Carl Linnaeus|L.]]
}}
'''Kopi Arabika''' (''Coffea arabica'') diduga pertama kali diklasifikasikan oleh seorang ilmuan [[Swedia]] bernama [[Carl Linnaeus]] (Carl von Linné) pada tahun 1753. Jenis Kopi yang memiliki kandungan [[kafeina]] sebasar 0.8-1.4% ini awalnya berasal dari Brasil dan Etiopia. Arabika atau [[Coffea arabica]] merupakan Spesies kopi pertama yang ditemukan dan dibudidayakan manusia hingga sekarang. Kopi arabika tumbuh di daerah di ketinggian 700–1700 m [[elevasi|dpl]] dengan suhu 16-20 °C, beriklim kering tiga bulan secara berturut-turut. Jenis [[Tanaman kopi|kopi]] arabika sangat rentan terhadap serangan penyakit karat daun ''[[Hemileia vastatrix]]'' (HV), terutama bila ditanam di daerah dengan [[elevasi]] kurang dari 700 m, sehingga dari segi perawatan dan pembudayaan kopi arabika memang butuh perhatian lebih dibanding kopi [[Robusta]] atau jenis kopi lainnya. Kopi arabika saat ini telah menguasai sebagian besar pasar kopi dunia dan harganya jauh lebih tinggi daripada jenis kopi lainnya. Di Indonesia kita dapat menemukan sebagian besar perkebunan kopi arabika di daerah pegunungan [[toraja]], [[Sumatra Utara]], [[Aceh]] khususnya di [[Kabupaten Aceh Tengah]], [[Kabupaten Bener Meriah|Bener Meriah]] dan [[Kabupaten Gayo Lues|Gayo Lues]]. Serta masih terdapat di beberapa daerah di pulau [[Jawa]]. Beberapa varietas kopi arabika memang sedang banyak dikembangkan di Indonesia antara lain kopi arabica jenis ''Abesinia'', arabika jenis ''Pasumah'', ''Marago'', ''Typica'' dan kopi [[arabika]] ''Congensis''.
 
<br />