Tritunggal: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Marcus Arius (bicara | kontrib)
Fixed typo
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan aplikasi seluler Suntingan aplikasi iOS
Marcus Arius (bicara | kontrib)
Fixed typo
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan aplikasi seluler Suntingan aplikasi iOS
Baris 28:
[[Berkas:Dogmatic sarcophagus.JPG|jmpl|Penggambaran paling awal yang diketahui mengenai Tritunggal, [[Sarkofagus Dogmatis]], 350 M.<ref name="dimming-paul"/> [[Museum Vatikan]]]]
 
Para [[Bapa Gereja]] [[Periode Ante-Nicea|Pra-Nicea]] menegaskan keilahian Kristus dan berbicara mengenai "Bapa, Putra, dan Roh Kudus", meskipun bahasa mereka tidak sama dengan yang digunakan doktrin tradisional ini sebagaimana diformalkan pada abad ke-4. Kalangan yang menganut paham Trinitas memandang hal itu sebagai elemen-elemen dari doktrin terkodifikasi.<ref name="dogmatiki"/> [[Ignatius dari Antiokhia]] memberikan dukungan awal bagi paham Trinitas sekitar tahun 110,<ref name="eusebius"/> mendesak umat untuk taat kepada "Kristus, dan kepada Bapa, dan kepada Roh".<ref name="ignatius"/> [[Yustinus Martir|Iustinus Martyr]] (100 – {{circa}} 165) juga menulis, "dalam nama AllahTuhan, Bapa dan Tuhan alam semesta, dan Juruselamat kita Yesus Kristus, dan Roh Kudus".<ref name="first-apology"/> Bapa Gereja pertama yang tercatat menggunakan kata "Trinitas" adalah [[Teofilus dari Antiokhia]] yang menulis pada akhir abad ke-2. Ia mendefinisikan Trinitas sebagai AllahTuhan, Firman-Nya (''Logos''), dan Kebijaksanaan-Nya (''Sofia'')<ref name="theophilus2"/> dalam konteks diskusi mengenai tiga hari pertama penciptaan. Pembelaan pertama atas paham Trinitas terjadi pada awal abad ke-3 oleh salah seorang Bapa Gereja awal yang bernama [[Tertulianus]]. Ia secara eksplisit mendefinisikan Trinitas sebagai Bapa, Putra, dan Roh Kudus serta membela teologi Trinitaris dalam upayanya melawan paham "Praxean".<ref name="tertullian"/> St. YustinusIustinus dan [[Klemens dari Aleksandria]] menggunakan Trinitas dalam berbagai [[doksologi]] mereka, dan juga [[Basil dari Kaisarea|St. Basilius]] dalam penerangan cahaya sore hari.<ref>Mulhern, Philip F. (1967) "Trinity, Holy, Devotion", in New Catholic encyclopedia. Prepared by an editorial staff at the Catholic University of America. New York:McGraw-Hill, 14. 306</ref>
 
Formulasi awal lainnya, dan sudah lebih filosofis, mengenai Trinitas (tanpa menggunakan istilah tersebut) dikaitkan dengan seorang pengajar [[Gnostisisme|Gnostik]] bernama [[Valentinius]] (hidup {{circa}} 100 – {{circa}} 160) yang, menurut teolog abad ke-4 bernama [[Marcellus dari Ancyra]], adalah "orang pertama yang merenungkan gagasan tentang tiga entitas subsisten ([[hipostasis (filsafat dan agama)|hipostasis]]), dalam sebuah karya yang ia beri judul ''Tentang Ketiga Kodrat''". Eksegesis mazhab Valentinian yang sangat alegoris cenderung menafsirkan bagian-bagian kitab suci yang relevan sebagai penegasan suatu Keilahian yang, dengan cara tertentu, adalah rangkap tiga. [[Injil Filipus]] Valentinian, yang bertarikh sekitar masa Tertulianus, mendukung [[rumusan Trinitaris]]. Bagaimanapun, terlepas dari kemungkinan pengaruhnya pada doktrin yang kemudian terbentuk sepenuhnya, mazhab Valentinus ditolak dan dipandang [[ajaran sesat|sesat]] oleh kalangan Kristen ortodoks.
Baris 34:
Kendati terdapat banyak perdebatan mengenai apakah keyakinan dari [[Keduabelas Rasul|Para Rasul]] sekadar diartikulasikan dan dijelaskan dalam Pengakuan Iman Trinitaris,<ref name="JBing" /> atau terkorup dan digantikan dengan keyakinan baru,<ref name="americana"/><ref name="dictionnnaire"/> para akademisi mengakui bahwa Pengakuan Iman itu sendiri dibuat sebagai tanggapan atas perbedaan pendapat mengenai kodrat Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Butuh waktu beberapa abad untuk menyelesaikan kontroversi tersebut.
 
Perkembangan paling signifikan diartikulasikan selama empat abad pertama oleh para [[Bapa Gereja]]<ref name="JBing"/> sebagai tanggapan terhadap [[Adopsionisme]], [[Sabellianisme]], dan [[Arianisme]]. Adopsionisme merupakan keyakinan bahwa Yesus adalah seorang manusia biasa, terlahir dari Yusuf dan Maria, yang menjadi Kristus dan PutraAnak AllahTuhan saat Yesus dibaptis. Pada tahun 269, [[Sinode Antiokhia]] mengutuk [[Paulus dari Samosata]] karena teologi Adopsionis yang ia kemukakan, dan juga mengutuk istilah ''[[homoousion|homoousios]]'' (ὁμοούσιος, "dari hakikat yang sama") karena ia menggunakannya.<ref name="cathenc-paul"/>
 
Sabellianisme mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus pada esensinya adalah satu dan sama, hanya perbedaan verbal, mendeskripsikan aspek-aspek atau peran-peran berbeda dari suatu hakikat tunggal.<ref name="chadwick"/> Akibat pandangannya ini, Sabellius di[[ekskomunikasi]] di Roma sekitar tahun 220 karena [[ajaran sesat|bidahbidaah]].
 
Pada abad ke-4, [[Arius]], sebagaimana dipahami sesuai tradisi,<ref group="note">Sedikit sekali tulisan-tulisan [[Arius]] yang masih terlestarikan hingga sekarang. Tulisan yang ada saat ini kebanyakan berupa kutipan-kutipan dari para lawannya yang mencerminkan pandangan mereka tentang apa yang ia katakan. Tidak ditemukan satu pun agenda atau kelompok ArianArianis, tetapi lebih kepada beragam kritik seputar rumusan Nicea dari perspektif-perspektif berbeda. (lih. Williams, Rowan. ''Arius'' SPCK (2nd edn, 2001) p.95ff & pp.247ff)</ref> mengajarkan bahwa Bapa telah ada sebelum PutraAnak yang, menurut kodrat, bukan AllahTuhan tetapi lebih kepada seorang makhluk yang dapat berubah yang dianugerahi martabat menjadi "PutraAnak AllahTuhan".<ref name="oxford-arianism"/> Pada tahun 325, [[Konsili Nicea]] mengadopsi [[Kredo Nicea]] yang mendeskripsikan Kristus sebagai "AllahTuhan dari AllahTuhan, Terang dari Terang, AllahTuhan benar dari AllahTuhan benar, diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa".<ref>[http://www.ccel.org/ccel/schaff/creeds1.iv.iii.html Creeds of Christendom]</ref><ref>[http://www.creeds.net/ancient/niceneg.htm Greek texts of 325 and 381]</ref> Kredo (syahadat atau pengakuan iman) tersebut menggunakan istilah ''homoousios'' (dari satu substansi) untuk mendefinisikan hubungan antara Bapa dan PutraAnak. Setelah perdebatan selama lebih dari lima puluh tahun, ''homoousios'' diakui sebagai ciri khas [[ortodoks]]i, dan dikembangkan lebih lanjut menjadi formula "tiga pribadi, satu hakikat".
 
[[Athanasius]] (293–373), yang hadir di konsili tersebut sebagai salah seorang asisten dari Uskup Aleksandria, menyatakan bahwa para uskup terpaksa menggunakan terminologi ini,<ref name="athanasius"/> yang tidak terdapat dalam Kitab Suci, karena frasa biblika yang menjadi preferensi mereka untuk digunakan diklaim oleh kaum [[Arianisme|ArianArianis]] untuk dapat ditafsirkan dalam arti yang dipandang sesat oleh para uskup.<ref name="dedecretis"/> Selain itu, makna dari "''ousia''" dan "''[[Hipostasis (filsafat dan agama)|hipostasis]]''" saling tumpang tindih sehingga "''hipostasis''" bagi beberapa kalangan berarti "''esensi''" dan bagi kalangan lainnya berarti "''pribadi''".
 
Pengakuan Iman dari Konsili Nicea hanya menyinggung sedikit tentang Roh Kudus.<ref name="BEoWR"/> Doktrin keilahian dan kepribadian Roh Kudus dikembangkan oleh Athanasius dalam beberapa dekade terakhir hidupnya.<ref name="oxford-athanasius"/> Ia membela dan memperbaiki formula Nicea.<ref name="BEoWR" /> Pada akhir abad ke-4, di bawah kepemimpinan [[Basilius dari Kaisarea]], [[Gregorius dari Nyssa]], dan [[Gregorius dari Nazianzus]] ([[Bapa-bapa Kapadokia]]), doktrin ini telah secara substansial mendapatkan bentuknya sebagaimana adanya saat ini.<ref name="BEoWR"/>