Roda gila: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
→‎Deskripsi: menyunting artikel
→‎Pembangkit roda gila pada sepeda motor: perapian kata dan mengganti beberapa istilah inggris ke bahasa indonesia atau istilah belanda yang juga dipakai
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Baris 38:
Fungsi lain dari roda gila adalah sebagai tempat pemasangan [[kopling]]. Kopling terpasang pada roda gila berikut tempurung yang seputar sisi sekrupnya pada roda gila. Permukaan salah satu roda gila dibubut sangat halus. Jadi disamping sebagai alat untuk meneruskan atau menyalurkan tenaga dari mesin ke poros gardan melalui kopling
 
== FlywheelPembangkit generatorroda gila pada sepeda motor ==
Sistem pengapian ''flywheel magnet'' merupakan sistem pengapian yang paling sederhana dalam menghasilkan percikan bunga api di busi dan telah terkenal penggunaannya dalam pengapian motor-motor kecil sebelum munculnya pengapian elektronik. Sistem pengapian ini mempunyai keuntungan yaitu tidak tergantung pada baterai untuk menghidupkan awal mesin karena sumber tegangan langsung berasal dari ''source coil'' (koilkumparan sumber/pengisi) sendiri.
 
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya (lihat bagian sumber tegangan pada sepeda motor), yang menghasilkan arus listrik adalah alternator atau ''flywheel magneto''. Sistem pengapian magnet terdiri dari rotor yang berisi magnet permanen/tetap, dan stator yang berisi ''ignition coil (koil/spool'' ([[kumparan pengapian]]) dan spoolsepul lampu. Rotor diikatkan ke salah satu ujung ''crankshaft'' ([[poros engkol]]) dan berputar bersama crankshaftporos engkol tersebut serta berfungsi juga sebagai flywheel (roda gila) tambahan.
 
Arus listrik dihasilkan oleh alternator atau ''flywheel magneto'' adalah [[arus listrik bolak-balik]] atau AC (''Alternating Currrent''). Hal ini terjadi karena arah kutub magnet berubah secara terus menerus dari utara ke selatan saat magnet berputar.
* Cara kerja sistem pengapian magnet
* Cara kerja sistem pengapian magnet Prinsip kerja dari sistem pengapian ini adalah seperti “transfer/pemindahan energi” atau “pembangkitan medan magnet”. Source coil pengapian terhubung dengan kumparan primer koil pengapian. Di antara dua komponen (koil) tersebut dipasang platina (''contact breaker/contact point'') yang berfungsi sebagai saklarsakelar dan dipasang secara paralel dengan koil-koil tadi. Pada saat platina dalam keadaan menutup, maka arus yang dihasilkan magnet akan mengalir ke massa/jisim melalui platina, sedangkan pada koil pengapian tidak ada arus yang mengalir. Saat posisi rotor sedemikian rupa sehingga arus yang dihasilkan ''source coil'' sedang maksimum, platina terbuka oleh cam/nok (''cam''). Kejadian ini menyebabkan arus ke massa lewat platina terputus dan arus mengalir ke kumparan primer koil dalam bentuk tegangan induksi sekitar 200V – 300V. Karena perbandingan kumparan sekunder lebih banyak dibanding kumparan primer, maka pada kumparan sekunder terjadi induksi yang lebih besar sekitar 10KV – 20KV yang bisa membuat terjadinya percikan bunga api pada busi untuk membakar campuran bahan bakar dan udara. Induksi ini disebut induksi bersama (''mutual induction''). Untuk menghasilkan tegangan induksi yang besar maka pada saat platina mulai membuka, tidak boleh ada percikan bunga api dan aliran arus pada platina tersebut yang cenderung ingin terus mengalirnya ke massa. Oleh karena itu, pada rangkaian sistem pengapian dipasangkan kondensor/kapasitor untuk mengatasi percikan pada platina saat mulai membuka.
* Pengontrolan saat pengapian (ignition timing) Pengontrolan saat pengapian pada sistem pengapian magnet generasi awal pada umumnya telah di set/stel oleh pabrik pembuatnya. Posisi stator telah ditentukan sedemikian rupa sehingga untuk mengubah/membuat variasi saat penga-piannya tidak dapat dilakukan. Walau demikian pengubahan saat pengapian masih dapat dilakukan dengan jumlah variasi yang kecil yaitu dengan mengubah celah platina. Perubahan saat pengapian yang cukup kecil tadi masih cukup untuk motor kecil dua langkah, sedangkan untuk motor yang lebih besar dan empat langkah dibutuhkan pemajuan (advance) saat pengapian yang lebih besar seiring dengan naiknya putaran mesin. Untuk mengatasinya dipasangkan unit pengatur saat pengapian otomatis atau ATU (automatic timing unit).
* Pengendalian saat pengapian (''ignition timing'')
* Pengontrolan saat pengapian (ignition timing) PengontrolanPengendalian saat pengapian pada sistem pengapian magnet generasi awal pada umumnya telah di setdiatur/stelsetel oleh pabrik pembuatnya. Posisi stator telah ditentukan sedemikian rupa sehingga untuk mengubah/membuat variasi saat penga-piannyapengapiannya tidak dapat dilakukan. Walau demikian pengubahan saat pengapian masih dapat dilakukan dengan jumlah variasi yang kecil yaitu dengan mengubah celah platina. Perubahan saat pengapian yang cukup kecil tadi masih cukup untuk motor kecil dua langkah, sedangkan untuk motor yang lebih besar dan empat langkah dibutuhkan pemajuan (''advance'') saat pengapian yang lebih besar seiring dengan naiknya putaran mesin. Untuk mengatasinya dipasangkan unit pengatur saat pengapian otomatis atau ATU (''automatic timing unit'').
 
ATU terdiri dari sebuah piringan yang di bagian tengahnya terdapat pin (pasak) yang membawa camnok (nok''cam''). CamNok dapat berputar pada pin, tetapi pergerakkannya dikontrol oleh dua buah pegas pemberat.
Pada saat kecepatan idle dan rendah, pegas menahan camnok ke posisi memundurkan (''retarded'') saat pengapian, Sedangkan pada saat kecepatan mesin dinaikkan, pemberat akan terlempar ke arah luar karena gaya gravitasi. saat pengapian. Hal ini akan berakibat camnok berputar dan terjadi pemajuan (''advance''). Semakin naik putaran mesin, maka pemajuan saat pengapian pun semakin bertambah maksimum pemajuan seki-tarsekitar +20 putaran sudut crankshaftporos engkol.
 
== Referensi ==