Anak Agung Pandji Tisna: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Baris 22:
Pandji Tisna memeluk agama [[Kristen]] pada masa [[penjajahan Jepang di Indonesia|penjajahan Jepang]]. Suatu hari istrinya, Mekele Seroja, menjemur sehelai bendera [[Belanda]]. Hal ini menimbulkan kecurigaan polisi Jepang yang sedang berpatroli bahwa Pandji Tisna adalah seorang antek Belanda. Ditambah lagi di kamar Pandji Tisna ditemukan sebuah kitab [[Injil]] berbahasa [[bahasa Belanda|Belanda]], yang merupakan pemberian adiknya, Meester Djelantik.
 
Pandji Tisna ditangkap dan ditahan di Singaraja. Namun berkat bantuan Miora, seorang spion beragama Kristen, akhirnya Pandji Tisna diselamatkan. Sejak itu ia berjanji untuk mempelajari [[Alkitab]] dan menjadi seorang Kristen. Pada tahun itu pula datang seorang pendeta Kristen yang bernama A.F. Ambesa ke rumah kediaman Pandji Tisna di pantai Kampung Baru, sekarang bernama pantai Lovina. Setahun kemudian Pandji Tisna dibaptiskan sebagai orang Kristen. Kemudiadn, atas permintaan keluarga besarnya di Puri Sukasada dan keinginan keluarganya yang mencintai Panji Tisna karena bermimpi beliau sangat ingin diaben, akhirnya, Anak agung Panji Tisna diaben secara Hindu.
 
== Karya tulis ==