Sabang, Bulagi Utara, Banggai Kepulauan
Sabang adalah sebuah kelurahan di kecamatan Bulagi Utara, kabupaten Banggai Kepulauan, provinsi Sulawesi Tengah. Sabang adalah salah satu dari tiga kelurahan yang ada di kabupaten Banggai Kepulauan termasuk kelurahan Salakan, kecamatan Tinangkung dan kelurahan Bulagi I, kecamatan Bulagi.
Sabang | |||||
---|---|---|---|---|---|
Negara | Indonesia | ||||
Provinsi | Sulawesi Tengah | ||||
Kabupaten | Banggai Kepulauan | ||||
Kecamatan | Bulagi Utara | ||||
Kode Kemendagri | 72.07.17.1009 | ||||
Kode BPS | 7201062008 | ||||
Luas | 62 km² | ||||
|
Secara geografis Sabang berbatasan langsung dengan Selat Peling di utara, desa Koyobunga di timur, desa ombuli di barat, desa Alul, kecamatan Bulagi di selatan.
Asal Usul Nama
Menurut cerita kuno bahwa dahulu ada seorang penjahat jagoan yang namanya tidak diketahui. Penjahat dalam bahasa Banggai "Tolang" artinya sesorang yang banyak berbuat kejahatan dan pada umumnya suka membunuh sesama manusia dan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Tolang semakin merajalela dan membuat keonaran di kampung-kampunng. Hal ini membuat seluruh orang kampung menjadi risau terutama Kepala Kampung. Kepala Kampung pun memikirkan hal itu. Maka di dapatlah suatu cara untuk dapat mengalahkan dan memusnahkan Tolang tersebut. Melalui seorang Kepala Jaga maka dikumpulkan beberapa jagoan yang handal. Jagoan-jagoan itu disebut Talenga. Seusai mengumpulkan para Talenga Kepala Jaga tidak langsung menyuruh untuk menyerang di tunggulah hari yang tepat.
Beberapa hari kemudian munculah Tolang tersebut dan membuat keonaran di kampung. Dengan segerah Kepala Jaga menyuruh untuk menyerang. Dikejarlah Talenga itu hingga akhirnya tertangkap dan memusnahkannya dengan memotong dengan parang.
Tapi anehnya hanya beberapa hari dibunuh Tolang tersebut hidup kembali dan muncul di tengah-tengah orang-orang kampung dan mulai mengadakan kekacauan kembali. Dengan rasa heran Kepala Jaga memrintahkan untuk diselidiki apa sebenarnya Tolang tersebut demikian. Akhirnya di ketahui bahwa ia mempunyai banyak ilmu-ilmu gaib.
Itulah sebabnya walaupun ia sudah dibunuh tetapi bilah badannya tetap masih satu (tidak dipisah-pisahkan) maka pasti ia bisa hidup kembali. Setelah diketahui demikian maka diadakan pembunuhan yang kesekian kalinya. Ketika Tolang tersebut muncul dikejarlah sampai akhirnya tertangkap kembali. Dimusnahkanlah Tolang itu dan dipenggal-penggal tubuhnya. Kepalanya dan badannya di belah dua dan kemudian di tanam pada tempat yang berbeda dan berjauhan.
Pemimpin
Kepsebutala Kampung/Kepala Desa
- Siako Mosooli (1921-1926)
- Mulia (1927-1928)
- Eliezer Petty Bias (1929-1949)
- Estefanus Lokano (1950-1958)
- Yan Minunggil (1959-1975)
- Zet Siako (1976-1977)
- Nethanel Mosooli (1978-1998)
Lurah
- Jhon Frans Anasim (1998-2002)
- Joko Prihantoro, S.STP (2002 - April 2008)
- Yair Puiya (Mei 2007 - April 2008) - pelaksana tugas
- Yair Puiya (Mei 2008 - April 2009)
- Muhammad Rusdi Mangit, S.IP (Mei 2009 - 2011) - pelaksana tugas
- Alpius Ginda, S.Sos (2011-2012) - pelaksana tugas
- Jefrien Molunggui, S.Sos (2012-2015) - pelaksana tugas
- Jefrien Molunggui, S.Sos (2015-...)