Gultom

salah satu marga Batak Toba
Revisi sejak 23 Januari 2023 20.38 oleh Henri Aja (bicara | kontrib) (Membatalkan 3 suntingan by 114.122.7.9 (bicara): -> rv penghapusan sebagian besar artikel tanpa penjelasan (🕵️‍♂️))

Gultom (Surat Batak Toba: ᯎᯞᯮ᯲ᯖᯔᯬ᯲) adalah salah satu marga Batak Toba yang berasal dari Samosir.

Asal

Gultom adalah anak pertama dari Si Raja Sonang. Anak yang lain adalah Samosir, Pakpahan, Sitinjak. Daerah awal penyebaran marga Gultom adalah di Tujuan Laut, Samosir.

Gultom memiliki empat orang anak yaitu Huta Toruan (Tujuan Laut), Huta Pea, Huta Bagot, dan Huta Balian. Awalnya, keturunan Gultom bermukim di Tujuan Laut. Kemudian, beberapa membuka lahan di Sitamiang.

Pada suatu saat, keturunan Huta Pea yang bernama Si Palang Namora menyeberang menuju daerah Sibisa dan menetap di sana. Daerah Sibisa adalah daerah yang diduduki oleh marga Sirait. Di daerah ini, Si Palang Namora menikah dengan boru Sirait dan memiliki beberapa orang anak, yaitu Tumonggopulo, Namoralontung, Namorasende, dan Raja Urang Pardosi. Keadaan ekonomi keluarga Si Palang Namora ini berkembang dengan baik dan menjadi jauh lebih baik dibandingkan dengan perekonomian anak lelaki dari keluarga Sirait. Hal ini menimbulkan ketakutan pada keluarga Sirait, sehingga mereka berusaha agar Si Palang Namora meninggalkan kampung mereka. Pada akhirnya Si Palang Namora meninggalkan daerah Sibisa dan kembali ke Samosir. Akan tetapi salah seorang anak tidak ikut bersama mereka, yaitu Raja Urang Pardosi. Pada saat itu Raja Urung Pardosi sedang menimba ilmu sihir (hadatuon) di daerah Hatinggian.

Si Palang Namora bersama keluarganya menetap di Samosir. Ketiga anak yang ikut bersamanya pada akhirnya menyebar ke beberapa daerah di sekitar Tujuan Laut, yaitu Sitamiang, Huta Hotang, Janji Matogu, Siriaon, dan Gonting. Anak No. 1 dan 2, yaitu Tumonggopulo dan Namoralontung menyebar ke Gonting. Sedangkan anak no. 3 (Namorasende) menduduki daerah Huta Hotang. Selanjutnya penyebaran keturunan Gultom Huta Pea adalah ke daerah Janji Matogu dan Siriaon. Penyebaran ke daerah ini dimulai dari keturunan Ompu Saruambosi (Raja Na Iringgit), yaitu keturunan Gultom Huta Pea generasi ke 10 dari anak ketiga si Palang Namora. Ceritanya, Raja Na Iringgit memiliki empat orang permaisuri, yaitu:

  1. Br. Parhusip
  2. Br. Samosir
  3. Br. Parhusip
  4. Br. Manurung

Permaisuri yang pertama, yaitu Br. Parhusip tidak memiliki anak laki-laki. Permasuri yang kedua, yaitu Br. Samosir, menurunkan tiga orang anak laki-laki, yang kemudian bermukim di Siriaon. Sedangkan permaisuri yang ketiga, yaitu Br. Parhusip menurunkan lima orang anak laki-laki, yang kemudian bermukim di Janji Matogu. Permaisuri yang keempat, yaitu Br. Manurung, menurunkan empat orang anak laki-laki, yang kemudian bermukim di Sitamiang. Masing-masing anak menjadi cikal bakal penyebaran Gultom di daerah tersebut.

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Toruan di daerah Siregar

Gultom Huta Toruan yang bermukim di daerah Sitamiang pada akhirnya banyak yang menetap dan bertambah banyak di daerah Siregar. Adapula yang menyebar ke daerah lain, misalnya Pangaribuan. Adapun keturunan Gultom Huta Toruan adalah:

  1. Op. Parpodang
  2. Op. Martabun
  3. Op. Sonar

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Pea di Pangaribuan

Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa Raja Urang Pardosi tidak ikut pulang ke Samosir bersama keluarganya, karena saat itu ia sedang menimba ilmu hadatuon di daerah Hatinggian.

Seperti layaknya seorang anak yang baru saja menyelesaikan sekolah, Raja Urang Pardosi hendak pulang ke rumah orangtuanya di Sibisa. Akan tetapi ia mendapati rumah orangtuanya kosong. Akhirnya bersama dua orang teman seperguruannya, yaitu Harianja dan Pakpahan, mereka berjalan terus. Dalam perjalanan itulah mereka menemukan burung Tekukur. Mereka berusaha menangkap burung itu dengan cara menyumpitnya agar burung itu jatuh. Tetapi, burung itu sulit sekali ditangkap sehingga tanpa disadari mereka terus mengikuti burung itu sampai hari gelap. Akhirnya mereka sampai di suatu daerah yang bernama Pangaribuan. Di sana mereka ditampung oleh sebuah keluarga bermarga Pasaribu. Sebagai tuan rumah yang baik, Pasaribu berusaha melayani tamunya dengan baik. Pasaribu meminta sang istri untuk menyediakan makanan bagi para tamu. Akan tetapi si istri menginformasikan bahwa tidak ada lauk-pauk yang dapat disajikan. Pasaribu menjawab, "Huting ima seat". Akhirnya si istri menyembelih huting (kucing), dan mengolahnya menjadi makanan siap saji yang berupa tanggo-tanggo, sementara tamu-tamu mereka beristirahat. Setelah makanan siap disajikan, Pasaribu membangunkan tamu-tamunya, dan mempersilakan mereka makan. Raja Urang Pardosi bertanya kepada teman-temannya, "Apa lauknya?". Yang dijawab oleh teman-temannya, "Tanya saja". Karena mereka telah menimba ilmu hadatuon, mereka memiliki kemampuan untuk melakukan sesuatu yang bagi orang lain mustahil. Akhirnya Raja Urang Pardosi bertanya kepada tanggo-tanggo di meja makan, "Jika engkau ayam, berkokoklah!", namun tidak terjadi sesuatu. Raja Urang Pardosi bertanya kembali, "Jika engkau kambing, mengembiklah", namun tetap tidak terjadi sesuatu. Raja Urang Pardosi dan teman-temannya terus menyebutkan nama-nama hewan, namun tanggo-tanggo itu tetap tidak bersuara, sampai akhirnya salah seorang menyebutkan, "Jika engkau kucing, mengeonglah", akhirnya berloncatanlah kucing dari dalam piring tanggo-tanggo itu. Pasaribu yang melihat kejadian itu menjadi kaget, dan lari pontang-panting ketakutan. Ia mengira ketiga tamunya bukan manusia biasa. Seluruh kampung menjadi geger, dan akhirnya melarikan diri keluar dari daerah itu. Adapun ketiga orang itu, Raja Urang Pardosi, Harianja, dan Pakpahan, akhirnya menetap di daerah itu. Raja Urang Pardosi, yang digelari Datu Tambun, menjadi keturunan Gultom pertama yang menetap di Pangaribuan. Ia memiliki empat orang anak, yaitu:

  1. Namora Sosuharon yang tinggal di desa Parlombuan
  2. Baginda Raja yang tinggal di desa Parsibarungan      
  3. Saribu Raja yang tinggal di desa Batumanumpak     
  4. Pati Sabungan yang tinggal di desa Batunadua
    

Selanjutnya penyebaran meluas ke daerah Sipirok, yang dimulai dari keturunan Saribu Raja. Saribu Raja memiliki dua orang anak yaitu, Namora Soaloon yang tetap tinggal di desa Batumanumpak, dan Babiat Galemun, yang kemudian tinggal di desa Simangambat, Sipirok.

Penyebaran Keturunan Gultom Huta Bagot & Huta Balian

Pada saat keluarga Si Palang Namora kembali ke Samosir, setelah bermukim sekian lama di Sibisa, keturunan Gultom Huta Bagot, menyebar ke beberapa daerah, termasuk ke Sumatera Timur. Namun ada satu daerah yang diakui sebagai "tanah air" keturunan Gultom Huta Bagot, yaitu daerah Joring.

Sedangkan keturunan Gultom Huta Balian, pada umumnya bermukim di daerah Sipollung di Sitamiang.