Masjid Saadah

masjid di Indonesia

Masjid Saadah atau Masjid As-Saadah adalah salah satu masjid tertua di Indonesia yang terletak di Nagari Gurun, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Masjid yang mulai dipergunakan pada tahun 1917 ini dibangun pada tahun 1910 dengan arsitektur yang sedikit menyerupai Masjid Rao Rao di Nagari Rao Rao, Sungai Tarab.

Masjid Saadah
Masjid Saadah
PetaKoordinat: 0°26′32.636″S 100°33′28.552″E / 0.44239889°S 100.55793111°E / -0.44239889; 100.55793111
Agama
AfiliasiIslamSunni
Provinsi Sumatera Barat
Lokasi
LokasiTanah Datar
Negara Indonesia
Arsitektur
TipeMasjid
Gaya arsitekturMinangkabau
Peletakan batu pertama1910
Rampung1917
KubahTidak ada

Saat ini, selain digunakan untuk aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama bagi masyarakat sekitar. Masjid ini telah ditetapkan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia sebagai benda cagar budaya bersama beberapa masjid tua lain di Sumatera Barat, seperti Masjid Bingkudu di Canduang Koto Laweh, Masjid Rao Rao, dan Masjid Raya Ganting di Padang.[1]

Sejarah

sunting

Masjid ini dibangun sekitar tahun 1910 dan mulai dipergunakan pada tahun 1917. Sebelum masjid ini dibangun, di tempat yang sama sebelumnya sudah berdiri sebuah masjid yang bangunannya masih terbuat dari kayu. Nama masjid ini, yang dalam bahasa Arab berarti berbahagia, diberikan oleh salah seorang ulama setempat, yakni H. Ramli Bakar. Pada awalnya, pembangunan masjid ini didonaturi oleh tokoh masyarakat setempat, yaitu Ismail Datuk Paduko Intan dan melibatkan seorang Tionghoa asal Padang sebagai arsitek.[2]

Arsitektur

sunting
 
Masjid Rao Rao

Bangunan utama masjid merupakan ruang salat berdenah bujur sangkar. Lantainya masih berupa lantai semen biasa, sedangkan lantai di bagian teras atau serambinya sudah diganti dengan lantai keramik berwarna putih. Di dalam ruangan, terdapat empat tiang utama sebagai penopang atap dengan penyangga yang tidak menggunakan besi, melainkan hanya menggunakan bambu. Menurut masyarakat setempat, jumlah tiang yang sebanyak empat merupakan perlambangan kata dalam adat Minangkabau, yaitu kata melereng, kata mendatar, kata mendaki, dan kata menurun.[2]

Seperti arsitektur masjid khas Minangkabau lainnya, atap masjid ini terdiri beberapa tingkatan yang sedikit cekung, hanya saja di tingkatan atap teratas terdapat ruang berbentuk persegi yang dimahkotai oleh empat atap bergonjong; ruangan yang sama juga terdapat di atap bagian fasad. Menurut masyarakat setempat, atap tersebut bersusun lima sebagai bentuk perlambangan lima suku pada waktu itu, yaitu Koto, Piliang, Bendang, Koto Anyiah, dan Pitopang.[3]

Secara keseluruhan arsitektur pada masjid ini sedikit menyerupai arsitektur Masjid Rao Rao di Nagari Rao Rao, Sungai Tarab. Dalam pidato peringatan 100 tahun Masjid Rao Rao pada tahun 2008, Shodiq Pasadigoe, Bupati Tanah Datar waktu itu menyebutkan bahwa masjid ini memang diminta dibangun serupa dengan Masjid Rao Rao.[4][5]

Rujukan

sunting
Catatan kaki
Daftar pustaka