Ranavalona I (lahir dengan nama Rabodoandrianampoinimerina (Ramavo) sekitar tahun 1778 – meninggal 16 Agustus 1861), juga dikenal dengan nama Ranavalo-Manjaka I, adalah penguasa Kerajaan Madagaskar dari tahun 1828 hingga 1861. Ia menjadi ratu setelah kematian suami mudanya, Radama I. Ranavalona menerapkan kebijakan isolasionisme dan swasembada, mengurangi hubungan ekonomi dan politik dengan negara-negara Eropa, memukul mundur serangan Prancis di kota pesisir Foulpointe, dan mengambil langkah-langkah keras untuk membasmi pergerakan Kristen di Madagaskar yang sebelumnya diprakarsai oleh anggota London Missionary Society pada masa pemerintahan Radama I. Ia sangat sering memanfaatkan praktik tradisional fanompoana (kerja paksa sebagai pembayaran pajak) untuk menyelesaikan proyek-proyek pekerjaan umum dan mewamilkan pasukan hingga jumlahnya mencapai 20.000 hingga 30.000 orang. Pasukan ini lalu ia kerahkan untuk menundukkan wilayah-wilayah terpencil di Madagaskar dan memperluas kerajaan. Akibat peperangan, wabah penyakit, kerja paksa dengan kondisi yang buruk, dan sistem peradilan yang kejam, tingkat kematian di kalangan prajurit dan rakyat jelata pada masa kekuasaannya selama 33 tahun sangatlah tinggi.

Ranavalona I
Ratu Madagaskar
Berkuasa11 Agustus 1828 – 16 Agustus 1861
Penobatan12 Agustus 1829
PendahuluRadama I
PenerusRadama II
Kelahiran1778
Ambatomanoina
Kematian16 Agustus 1861 (usia 82/83)
Manjakamiadana, Rova Antananarivo
Pemakaman1861/1893 (dimakamkan kembali)
Ambohimanga/Makam Para Ratu, Rova Antananarivo (dimakamkan kembali)
Pasangan
KeturunanRadama II
AyahAndriantsalamanjaka (Andrianavalontsalama)
IbuRabodonandriantompo

Meskipun sangat terhalang oleh kebijakan-kebijakan Ranavalona, kepentingan politik Britania dan Prancis di Madagaskar tetap tidak sirna. Perpecahan antara kelompok tradisionalis dengan kelompok pro-Eropa di istana ratu menjadi kesempatan yang dimanfaatkan oleh orang-orang Eropa agar anaknya, Rakoto, bisa segera naik takhta. Sang pangeran muda tidak setuju dengan berbagai kebijakan ibunya, dan ia menerima usulan Prancis untuk memanfaatkan sumber daya alam di pulau Madagaskar, sebagaimana dinyatakan dalam Piagam Lambert yang ia susun bersama dengan perwakilan Prancis pada tahun 1855. Namun, rencana ini tidak pernah terwujud, dan Rakoto baru dapat naik takhta dengan nama "Radama II" setelah kematian Ranavalona pada tahun 1861.

Akibat kebijakan-kebijakannya, Ranavalona menuai kecaman dari orang-orang Eropa yang sezaman dengannya, dan ia digambarkan sebagai seorang tiran atau bahkan sebagai orang gila. Citra negatif ini masih terus berlanjut di dalam literatur-literatur sejarah Barat hingga pertengahan dasawarsa 1970-an. Hasil kajian akademik baru-baru ini telah menelurkan pandangan bahwa Ranavalona mencoba memperluas wilayah kerajaannya sembari mempertahankan kedaulatannya dari rongrongan bangsa Eropa.

Kehidupan awal

Putri Ramavo dilahirkan pada tahun 1778 di kediaman kerajaan di Ambatomanoina,[1] sekitar 16 km di sebelah timur Antananarivo,[2] dari pasangan Pangeran Andriantsalamanjaka dan Putri Rabodonandriantompo.[3] Saat Ramavo masih kecil, ayahnya memperingatkan Raja Andrianampoinimerina (1787–1810) mengenai rencana pembunuhan yang didalangi oleh Andrianjafy, paman sang raja yang sebelumnya telah diturunkan dari takhta oleh Andrianampoinimerina. Sebagai balasan karena telah menyelamatkan nyawanya, Andrianampoinimerina mempertunangkan Ramavo dengan putranya, Pangeran Radama, yang telah diangkat oleh raja sebagai calon pewarisnya. Ia kemudian mengumandangkan bahwa anak yang lahir dari hubungan tersebut akan berada di urutan pertama dalam daftar calon penerus setelah Radama.[4]

Meskipun pangkatnya di antara para istri di istana kerajaan terbilang tinggi, Ramavo bukanlah istri yang diinginkan oleh Radama dan ia juga tidak mengaruniakannya dengan keturunan. Setelah kematian Andrianampoinimerina pada 1810, Radama menggantikan ayahnya sebagai raja dan mengikuti adat kerajaan dengan menghukum mati sejumlah kerabat Ramavo yang dianggap dapat menjadi ancaman, dan tindakan ini mungkin telah merusak hubungan di antara mereka.[4] Ramavo merasa tidak puas dengan perkawinannya yang tanpa cinta, sehingga ia dan wanita-wanita istana lainnya menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk bergaul dan meminum rum dengan David Griffiths dan para misionaris lainnya di rumah Griffiths. Berkat kunjungan-kunjungan tersebut, Ramavo bersahabat dengan Griffiths, dan hubungan ini terus terjalin selama tiga dasawarsa.[5]

Naik takhta

Saat Radama menjemput ajal tanpa meninggalkan keturunan pada 27 Juli 1828, menurut adat istiadat setempat, pewaris sahnya adalah Rakotobe, putra sulung dari kakak perempuan tertua Radama.[6] Sebagai seorang pria muda yang cerdas dan ramah, Rakotobe menjadi murid pertama yang menuntut ilmu di sekolah pertama yang didirikan oleh London Missionary Society di Antananarivo di kompleks istana kerajaan. Radama meninggal saat ditemani dengan dua abdi kepercayaannya yang mendukung Rakotobe sebagai pewaris. Mereka enggan melaporkan kabar kematian Radama selama beberapa hari, karena mereka takut menghadapi tindakan balasan karena telah mengutuk salah satu saingan raja.[4][7] Pada masa itu, salah satu abdi lainnya, yakni seorang perwira militer berpangkat tinggi yang bernama Andriamamba, telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan ia bekerjasama dengan para perwira lainnya – Andriamihaja, Rainijohary dan Ravalontsalama – untuk mendukung klaim Ramavo sebagai pewaris.[8]

 
Ratu Ranavalona I bersama dengan putra dari pewarisnya, Pangeran Rakoto

Para perwira tersebut menyembunyikan Ramavo dan salah satu temannya di sebuah tempat yang aman, lalu mereka menggalang dukungan dari kelompok-kelompok penting, termasuk para hakim dan penjaga sampy (sesembahan kerajaan). Para perwira tersebut kemudian berhasil membuat militer berpihak kepada Ramavo,[4][7] sehingga pada tanggal 11 Agustus 1828, Ramavo menyatakan dirinya sebagai penerus Radama dengan dalih bahwa Radama sendirilah yang menginginkan hal tersebut. Seusai pengumuman tersebut, tidak ada perlawanan yang timbul. Ramavo naik takhta dengan nama Ranavalona, kemudian ia mengikuti adat istiadat kerajaan dengan secara sistematis menangkap dan menghukum mati para pesaing politiknya, termasuk Rakotobe, anggota keluarga Rakotobe, dan anggota keluarga Radama lainnya, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Radama kepada keluarga Ranavalona sendiri.[4] Upacara pemahkotaan Ranavalona digelar pada tanggal 12 Juni 1829.[9]

Maka Ranavalona menjadi penguasa perempuan pertama di Kerajaan Imerina semenjak kerajaan tersebut didirikan pada tahun 1540. Ia menggapai tampuk kekuasaan di tengah budaya yang lebih mengutamakan laki-laki daripada perempuan di dalam dunia perpolitikan. Dalam budaya tradisional Imerina, para penguasa secara khusus dianugerahi dengan kekuasaan untuk memperbaharui norma dan adat istiadat yang telah ada. Para penguasa sering kali melakukannya dengan menciptakan jenis kekerabatan yang baru. Namun, perempuan sering kali dikaitkan dengan rumah tangga, sebuah satuan kekerabatan yang kaku bila dibandingkan dengan peran dan wewenang raja dalam mengubah adat dan kebiasaan, sehingga perempuan dianggap tidak layak untuk memerintah.[10] Meskipun penguasa perempuan pernah menjadi hal yang lumrah di antara orang-orang Vazimba (yang disebut dalam sejarah lisan sebagai penduduk asli Madagaskar), tradisi tersebut berakhir di dataran tinggi bagian tengah pada masa pemerintahan Andriamanelo (1540–1575), pendiri Kerajaan Imerina dan penerus ibunya yang berasal dari golongan Vazimba, Ratu Rafohy (1530–1540).[11]

Masa kekuasaan

 
Ranavalona melakukan perjalanan dengan menaiki sebuah filanzana (tandu), yang diiringi oleh putranya Rakoto (sedang menunggangi kuda) dan sekelompok budak dan prajurit

Tiga puluh tiga tahun masa pemerintahan Ranavalona dikenal akan upayanya untuk memperkuat kekuasaan Kerajaan Imerina atas wilayah-wilayah yang telah ditundukkan, serta usahanya untuk mempertahankan kedaulatan Madagaskar. Kebijakan-kebijakan tersebut diberlakukan di tengah meningkatnya rongrongan bangsa Eropa di Madagaskar serta persaingan antara Prancis dan Inggris untuk mendominasi Madagaskar. Pada awal masa pemerintahannya, ratu mengambil langkah secara bertahap untuk menjauhkan Madagaskar dari pengaruh Eropa. Mula-mula dengan mengakhiri perjanjian persahabatan dengan Inggris, kemudian dengan membatasi kegiatan-kegiatan misionaris London Missionary Society. Pada tahun 1835, ia melarang praktik agama Kristen di kalangan penduduk Madagaskar, dan dalam waktu setahun hampir semua orang asing meninggalkan kerajaannya.[12]

Ia mengakhiri sebagian besar hubungan dagang dengan negara-negara lain dan sebagai gantinya ia menggalakkan kebijakan berdikari, yang dimungkinkan oleh tradisi fanompoana, yakni kerja paksa sebagai pengganti pembayaran pajak dalam bentuk uang atau barang. Ranavalona melanjutkan perang untuk memperluas wilayah kerajaannya seperti yang sebelumnya dilancarkan oleh pendahulunya, Radama I, dan ia mengganjar hukuman keras kepada mereka yang berani menentang kehendaknya. Akibat banyaknya orang yang tewas selama kampanye militer yang dilancarkan selama bertahun-tahun, ditambah dengan tingkat kematian yang tinggi di kalangan pekerja fanompoana dan tradisi peradilan yang kejam pada masa kekuasaannya, populasi Madagaskar diperkirakan menurun dari sekitar 5 juta menjadi 2,5 juta antara tahun 1833 hingga 1839. Jumlah penduduk di Imerina juga berkurang dari 750.000 menjadi 130.000.[13] Akibatnya, Ranavalona dipandang buruk dalam catatan-catatan sejarah.[14]

Pemerintahan

 
Ranavalona memerintahkan pembangunan struktur terbesar di kompleks Rova Antananarivo, yakni sebuah istana kayu (kanan atas) yang disebut Manjakamiadana. Istana ini kemudian dilapisi oleh batu pada masa Ranavalona II.

Sesuai dengan tradisi para pendahulunya di Kerajaan Merina,[15] ratu memerintah di kompleks kerajaan Rova di Antananarivo. Dari tahun 1839 hingga 1842, Jean Laborde membangun kediaman baru untuk sang ratu yang disebut Manjakamiadana, yang menjadi bangunan terbesar di kawasan Rova. Kediaman tersebut seluruhnya terbuat dari kayu dan menampilkan sebagian besar ciri-ciri rumah tradisional andriana (kelas arsitokratik) di Merina, yang meliputi tiang pusat (andry) untuk menopang atap. Pada saat yang sama, bangunan ini juga memiliki unsur-unsur khas Eropa, karena bangunan tersebut terdiri dari tiga lantai yang dikelilingi oleh beranda kayu dan dilengkapi dengan jendela yang menonjol pada atap. Istana tersebut pada akhirnya dilapisi dengan bahan batu pada tahun 1867 oleh James Cameron dari London Missionary Society pada masa pemerintahan Ranavalona II. Istana kayu asli dari zaman Ranavalona I dan struktur-struktur lainnya di kawasan Rova hancur akibat kebakaran pada tahun 1995, dan yang tersisa hanyalah kerangka batu yang menandai tempat berdirinya bekas istana Ranavalona.[16]

Dalam beberapa hal, pemerintahan Ranavalona melanjutkan pendekatan-pendekatan yang diambil oleh Radama I. Kedua penguasa tersebut mendorong penyerapan teknologi dan pengetahuan baru dari luar negeri, mendukung industrialisasi ekonomi, dan mengambil tindakan untuk memprofesionalkan militer. Keduanya melancarkan kebijakan yang saling bertentangan sehubungan dengan orang asing: mereka membina hubungan yang erat dengan orang asing dan memanfaatkan keahlian mereka, tetapi pada saat yang sama juga menerapkan pembatasan terhadap kegiatan-kegiatan mereka agar tidak terjadi perubahan yang mengakibatkan destablisasi terhadap kebudayaan dan sistem politik yang sudah ada. Selain itu, mereka berdua telah memberikan sumbangsih terhadap pengembangan birokrasi, yang memungkinkan istana Merina memerintah provinsi-provinsi terpencil di sebuah pulau yang lebih besar daripada daratan utama Prancis.[10]

Ranavalona mempertahankan tradisi pemerintahan dengan dukungan dari para penasihat yang sebagian besar berasal dari golongan ningrat. Menteri-menteri terkuat di pemerintahan ratu juga menjadi pasangannya. Kepala penasihat pertamanya adalah seorang perwira tentara muda dari Namehana yang bernama Andriamihaja, yang menjabat sebagai Menteri Pertama dari tahun 1829 hingga 1830. Mayor Jenderal Andriamihaja kemungkinan besar adalah ayah dari putra ratu satu-satunya, Pangeran Rakoto (kelak menjadi Raja Radama II),[17] yang lahir sebelas bulan setelah kematian ayah resminya, Raja Radama I.[18] Pada tahun-tahun awal masa pemerintahan Ranavalona, Andriamihaja menjadi pemimpin faksi progresif dalam pemerintahan, yang mendukung hubungan dengan bangsa Eropa. Sementara itu, faksi konservatif dipimpin oleh kakak beradik Rainimaharo dan Rainiharo. Faksi konservatif berupaya mengurangi pengaruh faksi progresif Andriamahaja terhadap sang ratu, dan pada September 1830, mereka berhasil meyakinkan sang ratu yang sedang mabuk untuk menandatangani surat yang mengganjar kematian kepada Andriamahaja atas dakwaan sihir dan pengkhianatan. Ia langsung ditangkap di rumahnya dan dibunuh.[19][20]

Setelah kematian Andriamihaja, pengaruh faksi progresif meredup dan digantikan oleh para penasihat konservatif di pemerintahan. Mereka menjadi semakin dekat dengan ratu, hingga akhirnya ratu menikahi Rainiharo (juga disebut Ravoninahitriniarivo) pada tahun 1833. Rainiharo sendiri sebelumnya berhasil memasuki istana berkat ayahnya, Andriantsilavonandriana, seorang hova (rakyat jelata) yang mendapatkan keistimewaan sebagai penasihat Raja Andrianampoinimerina.[17] Marsekal Lapangan Rainiharo menjabat sebagai Menteri Pertama dari tahun 1830 hingga 1832, kemudian menjadi Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi dari tahun 1832 hingga 1852. Setelah kematian Rainiharo, ratu menikahi seorang tokoh konservatif lainnya, Marsekal Lapangan Andrianisa (juga disebut Rainijohary), yang tetap menjadi suami Ranavalona sampai akhir hayat sang ratu pada tahun 1861. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri dari tahun 1852 hingga 1862 sebelum akhirnya diasingkan ke kota kerajaan Ambohimanga karena ia telah bersekongkol melawan Raja Radama II.[8]

Secara tradisional, para penguasa Merina menyampaikan pengumuman kabary di depan umum untuk memberitahukan kebijakan negara dan menguatkan hubungan antara penguasa dan masyarakat. Ranavalona kurang memiliki pengalaman berbicara di muka umum, sehingga ia memberikan arahan dan pemberitahuan kepada bawahan-bawahannya melalui sebuah surat yang ditulis oleh juru tulisnya (yang dididik oleh misionaris) setelah ia mendiktekan apa yang ingin disampaikan. Walaupun begitu, ia kadang-kadang masih menyampaikan kabary dan juga memenuhi peranan tradisional seorang penguasa Merina sebagai pemberi hasina (pemberkatan leluhur) dengan melakukan ritual-ritual tradisional, termasuk fandroana (ritual pembaharuan pada tahun baru), pemberian persembahan kepada sesembahan kerajaan, dan juga pengorbanan vodiondry dan daging sapi jaka dalam acara-acara adat. Ranavalona memperbaharui ritual-ritual tradisional tersebut dengan meningkatkan kerumitan dan simbolismenya.[10]

Perluasan kerajaan

 
Perluasan wilayah Merina pada kekuasaan Ranavalona I, 1828–1840

Ratu Ranavalona meneruskan serangan-serangan militer yang diprakarsai oleh Radama I untuk menundukkan kerajaan-kerajaan tetangga. Kebijakan-kebijakan tersebut sangat berdampak buruk terhadap ekonomi dan pertumbuhan penduduk pasa masa pemerintahannya. Fanompoana tidak hanya terbatas pada kerja paksa, tetapi juga berupa wajib militer, sehingga sang ratu dapat mendirikan sebuah pasukan yang jumlahnya berkisar antara 20.000 hingga 30.000.[21] Pasukan ini berkali-kali dikirim ke wilayah-wilayah tetangga dengan mengemban tugas mengganjar hukuman keras terhadap masyarakat yang berani menentang dominasi Merina. Penghukuman mati secara massal menjadi hal yang lazim, dan mereka yang diampuni nyawanya biasanya dibawa kembali ke Imerina sebagai budak (andevo) dan harta benda mereka dirampas untuk meningkatkan kekayaan istana. Sekitar satu juta budak memasuki wilayah Imerina dari kawasan pesisir dari tahun 1820 hingga 1853, yang mencakup sepertiga jumlah penduduk di dataran tinggi tengah dan dua per tiga penduduk Antananarivo.[22]

Menurut sejarawan Madagaskar Gwyn Campbell, jumlah orang-orang bukan Merina yang gugur dalam konflik selama kampanye militer yang dilancarkan oleh Ranavalona dan Radama dari 1816 sampai 1853 berjumlah sekitar 60.000 orang. Selain itu, penduduk yang tidak tewas dalam pertempuran banyak yang menjemput ajal akibat kelaparan yang dipicu oleh kebijakan bumi hangus.[13] Tingkat kematian di kalangan prajurit Merina yang terlibat dalam kampanye militer juga tinggi, dan diperkirakan berjumlah sekitar 160.000 dalam selang waktu 1820–1853. Sebanyak 25–50% prajurit ratu yang ditempatkan di kawasan dataran rendah meninggal setiap tahunnya akibat penyakit seperti malaria. Meskipun malaria merupakan penyakit yang tersebar di wilayah pesisir Madagaskar, penyakit tersebut jarang muncul di wilayah dataran tinggi di sekitaran Antananarivo, sehingga para prajurit Merina tidak memiliki kekebalan alami terhadap penyakit tersebut.[13] Rata-rata terdapat 4.500 prajurit yang tewas per tahun, selama sebagian besar masa pemerintahan Ranavalona, sehingga jumlah penduduk di Imerina pun merosot.[13]

Percobaan tangena

 
Gambaran percobaan tangena karya seniman dari abad ke-19

Salah satu tindakan utama yang diambil oleh Ranavalona untuk menjaga ketertiban di negaranya adalah dengan menggunakan praktik peradilan tradisional yang disebut tangena. Orang yang diadili dipaksa menelan racun yang diperoleh dari kacang tangena (Cerbera manghas), dan hasilnya akan menunjukkan apakah mereka bersalah atau tidak. Jika seorang bangsawan atau orang merdeka harus menjalani percobaan tersebut, racun biasanya hanya akan diberikan kepada mereka setelah anjing dan ayam jago yang terlebih dahulu diberikan racun sudah mati, sementara para budak (andevo) harus langsung menelan racunnya tanpa melalui perantara terlebih dahulu.[13] Racun tersebut diberikan kepada terdakwa bersamaan dengan tiga potong kulit ayam: jika ketiga potongan kulit tersebut dimuntahkan, maka ia dinyatakan tidak bersalah, tetapi kematian dan kegagalan memuntahkan ketiga potongan kulit tersebut dinyatakan sebagai bukti bahwa ia bersalah.[23] Menurut seorang sejarawan Madagaskar dari abad ke-19 yang bernama Rambana, percobaan tangena merupakan sistem peradilan ilahi yang diimani oleh rakyat, sampai-sampai vonis bersalah untuk orang yang tak bersalah dianggap sebagai misteri ilahi yang adil, tetapi tidak dapat dipahami.[13]

Penduduk Madagaskar dapat saling melayangkan tuduhan, termasuk tuduhan pencurian, Kristen, dan khususnya sihir, dan percobaan tangena sering kali diwajibkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Diperkirakan 20-50% orang yang menjalani percobaan tersebut meninggal. Pada dasawarsa 1820-an, percobaan tangena menewaskan sekitar 1.000 orang setiap tahunnya. Jumlahnya meningkat menjadi sekitar 3.000 orang per tahun antara tahun 1828 hingga 1861. Pada tahun 1838, sekitar 100.000 orang di Imerina tewas akibat percobaan tangena, atau sekitar 20% dari populasi. Walaupun praktik ini akhirnya dihapuskan pada tahun 1863, percobaan ini masih dilakukan secara diam-diam di Imerina dan juga secara terbuka di wilayah-wilayah lain di Madagaskar.[13]

Penindasan Kekristenan

 
Katedral Andohalo dibangun di atas tebing di Antananarivo. Sebelum katedral tersebut dibangun, martir-martir Kristen Madagaskar dihukum mati di tempat ini pada masa kekuasaan Ranavalona

Setelah kunjungan Radama I ke sekolah resmi pertama di Madagaskar yang didirikan di Toamasina pada tahun 1818 oleh para anggota London Missionary Society (LMS), raja mengundang para misionaris Kristen ke ibu kota agar mereka dapat membagi pengetahuan mereka. Pada permulaan Desember 1820,[24] para misionaris LMS mendirikan bengkel-bengkel di Antananarivo untuk mengajarkan cara membuat bata, teknik tukang kayu Eropa, dan keterampilan-keterampilan lainnya. Mereka juga membangun jaringan sekolah yang mengajarkan cara berhitung, berbahasa Inggris, serta membaca dengan menggunakan bagian-bagian Alkitab dalam bahasa Malagasi.[25] Walaupun jumlah murid di sekolah tersebut ramai, LMS sering kali tidak berhasil mengkristenkan mereka. Menjelang akhir masa kekuasaan Radama, sang raja menganggap segelintir orang Madagaskar yang masuk Kristen sebagai orang-orang yang kurang hormat terhadap wewenang raja. Ia melarang pembaptisan orang Madagaskar dan mereka juga tidak diperbolehkan ikut misa.[26]

Pada permulaan masa kekuasaan Ratu Ranavalona, kendali negara terhadap agama Kristen awalnya sempat melonggar. Percetakan yang diimpor oleh para misionaris LMS pada akhir masa pemerintahan Radama baru mulai dioperasikan pada tahun 1828. Percetakan tersebut paling sering digunakan pada tahun-tahun awal masa kekuasaan Ranavalona, sehingga terdapat ribuan himne dan materi-materi lainnya yang tercetak.[27] Terjemahan Perjanjian Baru diselesaikan pada tahun kedua pemerintahan Ranavalona, dan 3.000 salinannya dicetak dan diedarkan antara tahun 1829 hingga 1830.[28] Semenjak awal masa pemerintahannya, Ranavalona melarang peredaran buku di kalangan militer untuk menghindari subversi serta untuk mempertahankan kedisiplinan. Walaupun begitu, ia mengizinkan para misionaris mengelola percetakan dengan bebas dan orang-orang Madagaskar yang bertugas di percetakan tersebut dibebaskan dari segala kewajiban militer. Pada tahun 1835, penerjemahan Perjanjian Lama diselesaikan dan salinan-salinan pertama pun dicetak.[24] Berkat kebebasan ini, LMS dan orang Kristen Madagaskar dapat mencetak materi-materi keagamaan dan memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah negara selama enam tahun pertama masa kekuasaan Ranavalona, sehingga agama Kristen pun mulai menyebar di wilayah ibu kota dan sekitarnya.[24] Pada tahun 1831, Ranavalona mengizinkan orang-orang Madagaskar ikut misa, dan mereka yang belum masuk Kristen juga boleh dibaptis.[29] Dalam waktu setahun, terdapat ratusan orang Madagaskar yang dibaptis.[30] Mereka yang dibaptis berasal dari berbagai golongan, termasuk budak, rakyat jelata, tetua yang dihormati, pejabat istana, dan bahkan penjaga sampy.[31]

Setelah para pemimpin keagamaan, politik, dan sosial masuk Kristen, muncul tanggapan keras dari banyak orang,[31] yang membuat Ranavalona menjadi semakin mengkhawatirkan dampak Kekristenan terhadap politik dan budaya Madagaskar. Ia juga merasa bahwa agama tersebut membuat rakyat Madagaskar berpaling dari nenek moyang dan tradisi mereka.[32] Pada Oktober dan November 1831, sang ratu melarang perkawinan Kristen, pembaptisan, serta misa di gereja bagi para prajurit dan anggota pemerintahan yang belajar di sekolah-sekolah misionaris.[33] Pada bulan Desember, pelarangan ikut misa juga diberlakukan untuk semua orang Madagaskar.[34] Dari tahun 1832 hingga 1834, pembaptisan dan misa di gereja berlanjut secara diam-diam.[35] Pada masa tersebut, beberapa orang Kristen setiap tahunnya didakwa melakukan sihir dan diasingkan atau dipaksa melalui percobaan tangena.[35] Ranavalona juga meminta tiga misionaris keluar dari Madagaskar, dan ia hanya menyisakan orang-orang dengan keterampilan teknis yang dianggap berharga untuk kepentingan Madagaskar.[36] Pada tahun 1835, sang ratu mencoba menutup percetakan tanpa menyasar LMS secara langsung dengan melarang orang-orang Madagaskar bekerja di percetakan tersebut. Namun, para misionaris LMS dapat memanfaatkan ketiadaan dekret-dekret resmi yang melarang kegiatan mereka di percetakan, sehingga mereka masih dapat melakukan percetakan secara independen dan juga mengedarkan materi-materi keagamaan.[24]

Agama Kristen melibatkan penolakan terhadap adat nenek moyang negara, yang telah didirikan oleh penguasa-penguasa monarki sebelumnya yang merupakan nenek moyang [Ranavalona]. Keabsahan kekuasaan sang ratu bergantung kepada hubungannya dengan para pendahulunya, yang telah menganugerahkan kerajaan tersebut kepadanya. Selain itu, Ranavalona menjadi ratu karena ia adalah keturunan para leluhur kerajaan, yang merupakan leluhur semua orang Merina berdasarkan pemahaman mistis. Tindakan menyangkal kekuasaan mistis [sang ratu] bukan hanya merupakan penolakan terhadapnya, tetapi juga terhadap para leluhurnya, contoh sempurna kebaikan dan berkat ... [Ranavalona] adalah penjaga kepercayaan suci ... maka dari itu, Kekristenan adalah pengkhianatan ... menurut Ranavalona, [Kekristenan] adalah "penggantian penghormatan terhadap para leluhurnya, Andrianampoinimerina dan Radama, dengan penghormatan terhadap leluhur orang-orang kulit putih: Yesus Kristus." Ia menganggap penyebaran agama baru ini sebagai tindakan politik, dan tidak diragukan lagi bahwa ia memang benar.

Maurice Bloch, From Blessing to Violence (1986)[37]

Dalam sebuah pidato kabary yang disampaikan pada tanggal 26 Februari 1835, Ratu Ranavalona resmi melarang praktik agama Kristen. Dalam pidato tersebut, ia membedakan rakyatnya (yang sudah tidak lagi boleh memeluk agama Kristen, kecuali jika mereka siap dihukum mati) dengan warga asing yang masih bebas memeluk agama yang mereka imani. Selain itu, ia mengakui bahwa sumbangsih intelektual dan teknologi dari para misionaris Eropa telah memajukan negaranya, dan ia mengajak mereka untuk meneruskan kegiatan tersebut asalkan mereka mau menghentikan upaya Kristenisasi Madagaskar:[38]

"Untuk orang-orang asing Inggris atau Prancis: aku berterima kasih atas kebaikan yang kalian telah lakukan di negeriku dan kerajaanku, dan di sini kalian telah menyebarkan kebijaksanaan dan pengetahuan Eropa. Tidak perlu khawatir — aku tak akan mengubah adat dan ritus para leluhur kami. Walaupun begitu, siapapun yang melanggar hukum kerajaanku akan dihukum mati — siapapun itu. Aku menyambut semua kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik untuk negara ini. Upaya untuk menggantikan adat dan ritus leluhurku hanya akan membuang waktu dan tenaga. Terkait dengan praktik keagamaan — pembaptisan atau perkumpulan — rakyatku yang tinggal di negeri ini dilarang ikut serta baik pada hari Minggu ataupun pada hari biasa. Terkait dengan kalian, wahai orang asing, kalian dapat bertindak sesuai dengan kebiasaan dan adat kalian sendiri. Walaupun begitu, jika kalian memiliki keterampilan tangan dan keterampilan-keterampilan lainnya yang dapat menguntungkan rakyat kami, gunakanlah keterampilan itu demi kebaikan. Itulah perintahku yang aku sampaikan kepada kalian."

— Ranavalomanjaka, Kabary, 26 Februari 1835[38]

Akibat dari kebijakan anti-Kristen yang dilancarkan oleh Ranavalona, sebagian besar misionaris LMS meninggalkan negara tersebut.[39] James Cameron dan misionaris-misionaris penting lainnya memilih untuk pergi daripada tetap berada di pulau tersebut tanpa izin untuk menyebarkan agama. Dua misionaris terakhir yang tersisa memilih untuk melanjutkan pengajaran keterampilan-keterampilan praktis dengan harapan agar suatu hari pembatasan dapat dikurangi. Namun, setahun kemudian, setelah mendapatkan informasi secara tak langsung bahwa pemerintah menginginkan kepergian mereka, mereka menghentikan misi LMS dan meninggalkan Madagaskar.[12]

Sesuai dengan isi dekret 26 Februari, orang-orang yang tertangkap basah menyimpan Alkitab, mengikuti misa, atau masih tetap menyatakan diri sebagai seorang Kristen akan didenda, dipenjara, dibelenggu, dikenakan percobaan tangena, atau dihukum mati.[40][41] Catatan sejarah mengenai penghukuman mati dan penyiksaan orang Kristen dikabarkan oleh para misionaris, dan para informan di pulau tersebut berupaya menyoroti tindakan yang mereka anggap sebagai tindakan "biadab" dari sang ratu.[14] Contohnya, mereka mengabarkan penghukuman mati lima belas pemimpin Kristen di muka umum di dekat istana Ratu; mereka digantung di ketinggian 150 kaki di atas jurang penuh batu, dan tali yang menggantung mereka akhirnya dipotong setelah mereka menolak untuk menyangkal agama Kristen.[41] Katedral Andohalo kelak dibangun di tempat tersebut untuk mengenang martir-martir di tempat tersebut.[42] Jumlah warga Madagaskar yang tewas akibat kepercayaan mereka sulit untuk ditentukan. Misionaris Inggris untuk Madagaskar W.E. Cummins (1878) memperkirakan jumlah orang yang dihukum mati berkisar antara enam puluh hingga delapan puluh. Terdapat jauh lebih banyak orang yang diganjar percobaan tangena, dijadikan buruh kasar, atau disita tanah dan harta benda mereka, dan banyak dari antara mereka yang tewas. Penindasan umat Kristen mencapai puncaknya pada tahun 1840, 1849, dan 1857; tahun 1849 dianggap sebagai tahun terburuk oleh Cummins, karena terdapat 1.900 orang yang didenda, dijebloskan ke penjara, atau diganjar hukuman lain akibat iman Kristen mereka, dan terdapat 18 orang di antara mereka yang dihukum mati.[41]

Perlindungan kedaulatan

 
Ranavalona mengirim utusan-utusan ke Britania Raya dari tahun 1836 hingga 1837

Pada masa pemerintahan Ranavalona, Inggris dan Prancis saling bersaing untuk memperoleh kekuasaan di Madagaskar.[39] Prancis sudah mengendalikan beberapa pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Madagaskar, dan mereka ingin menguasai seluruh pulau Madagaskar, tetapi Inggris menentangnya karena mereka ingin memastikan bahwa kapal-kapal mereka dapat lewat dengan aman dalam perjalanan menuju India. Untuk membatasi pengaruh kekuatan-kekuatan asing, Ranavalona menerapkan kebijakan berdikari.[43]

Tak lama setelah naik takhta, Ranavalona membatalkan perjanjian Inggris-Merina yang sebelumnya telah disepakati pada masa kekuasaan Radama, dan ia juga menolak melanjutkan penerimaan pembayaran tahunan dari Inggris yang sebelumnya diberikan untuk menjamin kesetiaan Merina terhadap perjanjian tersebut. Salah satu ketentuan yang paling penting dari perjanjian tersebut adalah komitmen Merina untuk tidak ikut serta dalam perdagangan budak internasional, yang dulunya adalah sumber pendapatan utama bagi kerajaan Imerina, Betsimisaraka, Sakalava, dan kerajaan-kerajaan lain di Madagaskar. Salah satu dampak dari pembatalan perjanjian persahabatan Inggris-Merina adalah berakhirnya pengiriman senjata dari Inggris, sehingga sang ratu rentan diserang oleh negara asing sekaligus oleh para pemberontak.[44] Kerentanan ini menjadi semakin jelas pada tahun 1829 ketika armada yang terdiri dari enam kapal Prancis melancarkan serangan mendadak terhadap benteng Foulpointe dan kota Ivondro yang terletak tidak jauh dari benteng tersebut di pantai timur Madagaskar.[44] Pasukan ratu berhasil menghalau serangan Prancis di pelabuhan berikutnya, sehingga kapal-kapal tersebut terpaksa pergi ke Île Sainte-Marie, dan di situ mereka berunding dengan utusan yang dikirim dari Antananarivo oleh Ranavalona. Akibat perundingan yang berlarut-larut, pasukan Prancis terserang penyakit malaria yang menjangkiti kawasan pesisir, dan akhirnya kapal-kapal tersebut terpaksa mundur dari wilayah Ranavalona.[45]

Ratu mendengar kabar bahwa Jean Laborde yang berasal dari Prancis, yang pernah karam di Madagaskar pada tahun 1832, tahu cara membuat meriam, bedil, dan bubuk mesiu. Ranavalona menyediakan tenaga kerja dan bahan-bahan yang diperlukan untuk mendirikan sebuah pabrik yang dapat memenuhi kebutuhan pasukannya, sehingga Ranavalona tidak lagi bergantung kepada Eropa untuk memperoleh persenjataan modern.[44]

Persekongkolan asing

 
Putra dan pewaris Ranavalona, Pangeran Rakoto (kemudian dikenal dengan nama Raja Radama II)

Prancis ingin mempercepat kenaikan takhta Rakoto karena mereka hendak memanfaatkan Piagam Lambert, sebuah perjanjian yang disepakati pada tahun 1855 antara perwakilan Prancis Joseph-François Lambert dengan Rakoto yang baru akan mulai berlaku setelah sang pangeran naik takhta. Piagam tersebut menjamin hak Lambert dan rekan-rekan usahanya dalam mengeksploitasi berbagai jenis sumber daya alam di Madagaskar. Menurut sebuah catatan Inggris, Lambert bersekongkol dengan Jean Laborde dan para pemimpin setempat dalam meyakinkan Rakoto untuk menandatangani sebuah dokumen yang ditulis dalam bahasa Prancis (catatan: sang pangeran tidak fasih berbahasa Prancis), dan Lambert hanya menerjemahkannya secara lisan seolah hanya berisi tentang tindakan-tindakan berlebihan sang ratu terhadap bawahan-bawahannya. Radama merasa bersimpati dengan rakyat jelata dan ingin mengurangi beban mereka, tetapi pada saat yang sama juga mencurigai maksud terselubung dari surat tersebut. Pada akhirnya ia menandatangani surat tersebut di bawah tekanan Prancis, walaupun sebenarnya ia merasa enggan. Ia tidak diberitahu bahwa di dalam surat tersebut terkandung permohonan campur tangan Prancis yang dapat berujung pada penjajahan Prancis di Madagaskar. Namun, Prancis tak bermaksud mengambil tindakan semacam itu tanpa adanya kesepakatan dari Inggris, yang memiliki pengaruh yang besar di Madagaskar. Sementara itu, Radama (yang telah bersumpah di atas Alkitab untuk tidak membocorkan perihal surat tersebut kepada orang lain) merasa khawatir sampai-sampai ia menghubungi seorang diplomat Inggris, sehingga terbongkarlah latar belakang dari penandatanganan surat tersebut. Inggris menolak bekerja sama dengan Prancis, alhasil serangan Prancis pun terhindarkan.[46] Namun, menurut Lambert, sang pangeran sebenarnya memang ingin mengakhiri rezim Ranavalona, dan perasaannya yang sesungguhnya terkait dengan peristiwa ini telah disalahartikan akibat propaganda Inggris.[47]

Setelah gagal mendapatkan dukungan dari salah satu negara Eropa untuk menjadikan Rakoto sebagai raja, Lambert memutuskan untuk melancarkan kudeta. Ia mendatangi istana Ranavalona pada Mei 1857 bersama dengan seorang penjelajah dunia asal Austria, Ida Pfeiffer, walaupun Ida sebenarnya tidak tahu menahu soal rencana tersebut. Ida mencatat pengalamannya selama peristiwa ini dalam salah satu bukunya. Menurut Ida, Radama dan Lambert berencana menggulingkan ratu pada 20 Juni, saat para menteri dan prajurit yang setia kepada Radama akan memasuki Rova dan menyatakan kesetiaan mereka kepada sang pangeran. Ida mengatakan bahwa penyebab kegagalan kudeta tersebut konon karena Rainilaiarivony (yang menjabat sebagai Panglima Tertinggi pada saat itu), tidak dapat memastikan kehadiran pasukan yang setia kepada Radama di lapangan istana.[48] Namun, menurut catatan Inggris, Radama sendiri diduga telah melaporkan persekongkolan tersebut kepada sang ratu, sehingga "kerja samanya" mungkin hanyalah suatu tipu daya untuk menjebak pihak-pihak yang bersekongkol.[46] Setelah rencana tersebut dibongkar, orang-orang Eropa tidak boleh keluar dari rumah mereka di lapangan istana dan juga dilarang menerima tamu, hingga akhirnya keluar perintah pengusiran pada akhir bulan Juli.[48]

Pewarisan dan kematian

Walaupun sang ratu telah menetapkan putranya, Rakoto, sebagai penerusnya, Rainimaharo dan faksi konservatif sudah tahu bahwa Rakoto cenderung progresif, sehingga mereka mencoba mengambil tindakan agar keponakan sang ratu, Ramboasalama, yang akan naik takhta.[49] Kakak beradik progresif Rainivoninahitriniony dan Rainilaiarivony (keduanya menjabat sebagai perdana menteri dan kepala angkatan bersenjata pada saat menjelang kematian sang ratu), mendukung Rakoto dan lebih dapat memengaruhi orang-orang untuk memihak kepada Rakoto. Mereka bahkan mendapatkan dukungan dari militer. Ketika Ranavalona terbaring di tempat tidurnya dan hampir mendekati ajal, Rakoto berjaga-jaga dengan menempatkan ratusan tentara di sekeliling tempat tinggalnya di Rova Antananarivo dan juga dengan mengirim salah satu anggota keluarga Ramboasalama untuk membawa Ramboasalama ke Rova untuk bersumpah setia kepada Rakoto di depan umum.[50]

Pada 16 Agustus 1861, Ranavalona meninggal dunia di istana Manjakamiadana di Rova Antananarivo.[50] Dua belas ribu zebu disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga untuk menghormati mendiang sang ratu, dan masa berkabung resmi berlangsung selama sembilan bulan. Jenazahnya dibaringkan di dalam sebuah peti yang terbuat dari perak di sebuah makam di kota kerajaan Ambohimanga. Selama upacara pemakamannya, sebuah percikan secara tak sengaja menyalakan mesiu yang akan digunakan untuk upacara, sehingga memicu ledakan dan kebakaran yang menewaskan sejumlah hadirin dan menghancurkan tiga kediaman kerajaan di bagian Nanjakana yang menjadi tempat digelarnya upacara tersebut.[51] Pada tahun 1897, aparat kolonial Prancis memindahkan jenazah ratu dan para penguasa Merina lainnya ke pemakaman di Rova Antananarivo dalam upaya menghilangkan kesucian kota Ambohimanga. Tulang-tulangnya ditempatkan di dalam makam Ratu Rasoherina.[52] Rakoto kemudian menggantikannya sebagai penguasa Madagaskar dengan nama "Radama II".[53]

Peninggalan sejarah

Kebijakan tradisionalis Ranavalona langsung dibatalkan oleh putranya, Raja Radama II. Setelah Radama II masuk Kristen, wabah "kerasukan roh" merebak di berbagai wilayah di Imerina, sehingga banyak yang mengaitkan peristiwa ini dengan roh Ranavalona I yang sedang mengamuk.[54]

Orang-orang asing yang sezaman dengan Ranavalona sangat mengecam kebijakan-kebijakannya dan memandangnya sebagai seorang tiran atau bahkan seorang wanita gila, dan penggambaran semacam ini tertoreh dalam literatur sejarah Barat sampai dasawarsa 1970-an.[10][55] Meskipun Ranavalona biasanya digambarkan sebagai seorang penguasa yang kejam dan membenci orang asing, berdasarkan analisis sejarah yang lebih terkini, ia dipandang sebagai seorang politikus yang cerdik dan berhasil melindungi kedaulatan politik dan budaya negaranya dari cengkeraman Eropa.[55][56] Di Madagaskar pada masa sekarang, orang-orang yang tinggal di dataran tinggi bagian tengah memiliki berbagai macam pandangan mengenai Ranavalona. Kebanyakan mengecam rezimnya, dan pandangan semacam ini paling umum di kalangan orang Kristen. Namun, ada pula yang mengagumi upayanya untuk mempertahankan tradisi dan kemerdekaan Madagaskar. Terlepas dari pandangan mereka mengenai kebijakan dalam negeri Ranavalona, mereka menganggapnya sebagai tokoh yang luar biasa dalam sejarah Madagaskar dan menyanjung kekuatannya di tengah ancaman dari bangsa Eropa.[55]

Catatan fiksi mengenai Ranavalona dan istananya digambarkan dalam novel Flashman's Lady karya George MacDonald Fraser. Tokoh utamanya, yaitu seorang prajurit dan agen Inggris yang bernama Harry Paget Flashman, menjadi penasihat militer dan kekasih Ranavalona.[57]

Penghargaan

Penghargaan nasional

  •   Sovereign Grand Master of the Order of the Royal Hawk (1828).[58]

Catatan kaki

  1. ^ Campbell (2012), hlm. 713
  2. ^ Campbell (2012), hlm. 1078
  3. ^ Académie malgache (1958), hlm. 375
  4. ^ a b c d e Freeman and Johns (1840), hlm. 7–17
  5. ^ Campbell (2012), hlm. 51
  6. ^ Royal Ark
  7. ^ a b Oliver (1886), hlm. 42–45
  8. ^ a b Rasoamiaramanana, Micheline (1989–1990). "Rainijohary, un homme politique meconnu (1793–1881)". Omaly sy Anio. 29–32: 287–305. 
  9. ^ Ellis (1838), hlm. 421–422
  10. ^ a b c d Berg, Gerald (1995). "Writing Ideology: Ranavalona, the Ancestral Bureaucrat". History in Africa. 22: 73–92. doi:10.2307/3171909. JSTOR 3171909. 
  11. ^ Bloch (1986), hlm. 106
  12. ^ a b Campbell (2012), hlm. 185–186
  13. ^ a b c d e f g Campbell, Gwyn (Oktober 1991). "The state and pre-colonial demographic history: the case of nineteenth century Madagascar". Journal of African History. 23 (3): 415–445. 
  14. ^ a b Lihat Laidler (2005)
  15. ^ L'habitation à Madagascar (1898), hlm. 920–923
  16. ^ Frémigacci (1999), hlm. 427
  17. ^ a b Ade Ajayi (1989), hlm. 423
  18. ^ Oliver (1886), hlm. 45–47
  19. ^ Freeman and Johns (1840), hlm. 17–22
  20. ^ Prout (1863), hlm. 14
  21. ^ Freeman and Johns (1840), hlm. 25
  22. ^ Campbell, Gwyn (2013). "Chapter 4: Unfree labour and the significance of abolition in Madagascar c.1825–97". Dalam Campbell, Gwyn. Abolition and Its Aftermath in the Indian Ocean, Africa and Asia. New York: Routledge. ISBN 978-1-135-77078-5. 
  23. ^ Campbell (2012), hlm. 570
  24. ^ a b c d Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 196, 208–210
  25. ^ Sharp (2002), hlm. 43
  26. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 206
  27. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 208–209
  28. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 196
  29. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 221
  30. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 210
  31. ^ a b Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 222
  32. ^ Larson, Pier (1997). "Capacities and modes of thinking: Intellectual engagements and subaltern hegemony in the early history of Malagasy Christianity". The American Historical Review. 102 (4): 996–1002. doi:10.2307/2170626. JSTOR 2170626. 
  33. ^ Ellis (1870), hlm. 71
  34. ^ Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 222–223
  35. ^ a b Ralibera and De Taffin (1993), hlm. 223
  36. ^ Campbell (2012), hlm. 184–186
  37. ^ Bloch (1986), hlm. 18–19
  38. ^ a b Koschorko (2007), hlm. 199
  39. ^ a b Campbell, Gwyn (1987). "The Adoption of Autarky in Imperial Madagascar, 1820–1835". The Journal of African History. 28 (3): 395–411. doi:10.1017/S0021853700030103. 
  40. ^ Oliver (1886), hlm. 60–63
  41. ^ a b c Cousins, W.E. (1877–1878). "Since 1800 in Madagascar". The Sunday Magazine for Family Reading. London: Daldy, Isbister & Co. 1: 405–410. 
  42. ^ Andrew, Blond, Parkinson and Anderson (2008), hlm. 79
  43. ^ Oliver (1886), hlm. 48
  44. ^ a b c Oliver (1886), hlm. 78
  45. ^ Ellis (1870), hlm. 63
  46. ^ a b Oliver (1886), hlm. 80–85
  47. ^ Pfeiffer (1861), hlm. 225
  48. ^ a b Pfeiffer (1861), hlm. 225–277
  49. ^ Ade Ajayi (1989), hlm. 430
  50. ^ a b Oliver (1886), hlm. 87–88
  51. ^ Ravalitera, Pela (19 Juli 2012). "Nampoina, des cases de ses ancêtres aux Rova". L'Express de Madagascar. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 November 2012. Diakses tanggal 11 November 2012. 
  52. ^ Frémigacci (1999), hlm. 174–180
  53. ^ Oliver (1886), hlm. 89
  54. ^ Cole (2001), hlm. 11
  55. ^ a b c Kamhi, Alison (Mei 2002). "Perceptions of Ranavalona I: A Malagasy Historic Figure as a Thematic Symbol of Malagasy Attitudes Toward History". Stanford Undergraduate Research Journal: 29–32. 
  56. ^ Sharp (2002), hlm. 44
  57. ^ MacDonald Fraser (1977)
  58. ^ Royal Ark

Daftar pustaka

Ranavalona I
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Radama I
Ratu Madagaskar
11 Agustus 1828 – 16 Agustus 1861
Diteruskan oleh:
Radama II