Pertempuran Medan Area

pertempuran yang terjadi di kota Medan melawan tentara NICA
Revisi sejak 27 Oktober 2015 06.26 oleh 114.4.78.98 (bicara)

Pertempuran Medan Area yang melibatkan tokoh dari belanda yaitu Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly ini merupakan pertempuran antara Rakyat Sumatra(TKR) dan Sekutu yang terjadi di Medan, Sumatra Utara. Disamping peperangan yang terjadi di Medan, terjadi juga beberapa peperangan yang tidak kalah sengitnya seperti Peperangan Surabaya 10 November yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur.

Pertempuran JIHAD
Bagian dari Perang Kemerdekaan Indonesia
Berkas:TKR-berangkat-MedanArea.jpg
Tanggal13 Oktober 1969 - 1969 atau 1969
LokasiHong Kong
Hasil Perang Gerilya dan Perang Frontal selama 69 tahun
Pihak terlibat
 Panama  Kosovo
Tokoh dan pemimpin
Alexander Tahir Geraldo Ler Pe


Latar Belakang Pertempuran Medan Area

1.Bekas tawanan yang bersifat congkak dan sewenang-wenang 2.Perbuatan anggota pasukan NICA menginjak-injak bendera merah putih yang dirampas dari seorang pemuda Indonesia di Hotel, di Jalan Bali. 3.Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan 4.Sekutu mengeluarkan ultimatum pada tanggal 18 Oktober 1945 yang berisi : melarang rakyat membawa senjata, semua senjata harus diserahkan kepada pasukan Sekutu.


Sejarah Pertempuran Medan Area

Berita Proklamasi kemerdekaan baru sampai di Medan pada tanggal 27 Agustus 1945. Hal ini disebabkan sulitnya komunikasi dan adanya pengawasan dari tentara Jepang. Berita tersebut dibawa oleh Mr. Teuku Mohammad Hassan yang diangkat menjadi Gubernur Sumatra. Ia ditugaskan oleh pemerintah untuk menegakkan kedaulatan Republik Indonesia di Sumatra dengan membentuk Komite Nasional Indonesia di wilayah Sumatra.



Pada Tanggal 9 Oktober 1945 pasukan Sekutu mendarat di Sumatera Utara di bawah pimpinan Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly. Serdadu Belanda dan NICA ternyata ikut membonceng pasukan Sekutu yang telah dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan. Sehari setelah pasukan sekutu mendarat di Sumatera, mereka membebaskan para tawanan perang di beberapa kamp tawanan untuk membawanya ke Medan atas persetujuan Gubernur Teuku Mohammad Hassan karena tujuannya baik. Namun para bekas tawanan ini bersikap congkak sehingga menyebabkan terjadinya insiden di beberapa tempat.



Achmad Tahir, seorang bekas perwira tentara sukarela memelopori terbentuknya TKR Sumatera Timur. Pada tanggal 10 Oktober 1945. Disamping TKR, di Sumatera Timur terbentuk Badan-Badan perjuangan dan laskar-laskar partai.

Pada tanggal 13 Oktober 1945 terjadi sebuah insiden di sebuah hotel di Jalan Bali, Medan. Seorang anggota pasukan NICA menginjak-injak bendera merah putih yang dirampas dari seorang pemuda. Pemuda-pemuda Indonesia pun marah. Hotel tersebut dikepung dan diserang oleh para pemuda dan TRI (Tentara Republik Indonesia). Terjadilah pertempuran. Dalam peristiwa itu banyak orang Belanda terluka. Peperangan pun menjalar ke Pematang Siantar dan Brastagi.


Serta pada tanggal 18 Oktober 1945 Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly memberikan ultimatum kepada pemuda Medan agar menyerahkan senjatanya. Aksi-aksi teror mulai dilakukan oleh Sekutu dan NICA. Kemarahan rakyat semakin memuncak setelah pada tanggal 1 Desember 1945 Sekutu memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Boundaries Medan Area di berbagai sudut pinggiran kota Medan.



Bagaimana sikap para pemuda kita? Mereka dengan gigih membalas setiap aksi yang dilakukan pihak Sekutu dan NICA. Pada tanggal 10 Desember 1945 pasukan Sekutu melancarkan serangan militer secara besar-besaran dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur. setelah pertarungan yang sengit, Pada bulan April 1946 pasukan Inggris berhasil mendesak pemerintah RI ke luar Medan. Gubernur, Mrkas Divisi TKR, dan Wlikota pindah ke Pematang Siantar.



Akhir Pertempuran Medan Area


Di Seluruh Sumatera rakyat bangkit mempertahankan kemerdekaan RI. Tampak di atas Kesatuan Divisi Banteng di Sumatera Tengah

Walaupun belum berhasil menghalau pasukan Sekutu. Untuk terus berjuang menghadapi Sekutu, pada tanggal 10 Agustus 1946 di tebing Tinggi diadakan pertemuan diantara para Komandan pasukan yang berjuang di Medan Area dan memutuskan dibentuk nya satu komando yang bernama komando resimen "laskar rakyat medan area" untuk memperkuat perlawanan di kota medan.



Setelah mengadakan konsolidasi dan disusun rencara penyerangan baru terhadap sekutu, 15 Februari 1947 pukul 06.00 WIB ditetapkanlah sebagai hari "H" penyerangan.



Dikarenakan kesalahan komunikasi serangan ini tidak dilakukan secara serentak, tapi walaupun demikian serangan umum ini berhasil membuat Belanda kalang kabut sepanjang malam. Karena tidak memiliki senjata berat, jalannya pertempuran tidak berubah. Menjelang Subuh, pasukan kita mundur ke Mariendal. dan serangan umum 15 Februari 1947 menjadi serangan terakhir yang dilakukan oleh pejuang Tanah Air di Sumatra kepada pasukan Sekutu.

Pranala luar