Gaozu dari Tang

Kaisar pendiri Dinasti Tang
Revisi sejak 11 Februari 2008 09.24 oleh Borgxbot (bicara | kontrib) (Robot: Cosmetic changes)

Kaisar Tang Gaozu (Hanzi: 唐高祖, 566-26 Juni 635) atau yang nama aslinya Li Yuan (李渊) adalah pendiri dan kaisar pertama Dinasti Tang yang memerintah sejak 618 hingga 626. Ia tadinya adalah seorang gubernur yang mengepalai wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Shanxi. Ketika Dinasti Sui dilanda huru-hara yang berujung pada terpecahnya Tiongkok menjadi negara-negara bagian yang dikuasai para pemimpin pemberontak dan mantan pejabat Sui, Li Yuan juga melakukan hal yang sama, atas saran putra keduanya, Li Shimin, ia memberontak dan mengangkat cucu Kaisar Yang dari Sui, Yang You sebagai kaisar boneka dengan gelar Kaisar Gong dan ia sendiri sebagai walinya. Sebagian besar masa pemerintahannya dipakai untuk menaklukan pesaing-pesaingnya dalam usaha mempersatukan negara. Ia meneruskan kebijakan Kaisar Wen dari Sui, sang pendiri Dinasti Sui dan membatalkan kebijakan represif Kaisar Yang. Ia terkenal akan kemurahhatiannya pada sesama sehingga menarik banyak orang-orang berbakat bekerja padanya. Ia membagi-bagikan tanah secara adil pada orang-orang yang membantunya dan menurunkan pajak sehingga mengurangi beban hidup rakyat yang sudah lelah akibat perang berlarut-larut pasca keruntuhan Sui. Sayangnya kesuksesannya dalam karir politik tidak dibarengi dengan kesuksesan dalam rumah tangganya. Ia tidak mampu mencegah perselisihan antara putra-putranya dan cenderung bertindak berat sebelah dibawah pengaruh selir-selirnya. Konflik dalam keluarga ini berujung pertumpahan darah dalam Kudeta di Gerbang Xuanwu dimana Li Shimin membunuh kakaknya, putra mahkota Li Jiancheng dan adiknya, Li Yuanji yang mendukung sang putra mahkota. Ia akhirnya menuruti tuntuan Li Shimin untuk mengangkatnya sebagai putra mahkota dan turun tahta sebulan setelah kudeta itu, ia menghabiskan sisa hidupnya sebagai mantan kaisar (太上皇,taishanghuang) hingga wafatnya tahun 635.

Kaisar Tang Gaozu (Li Yuan)

Kehidupan awal

Li Yuan dilahirkan di Chang'an (sekarang Xi'an, Shaanxi), ia adalah generasi ketujuh dari salah seorang raja pada Zaman Enam Belas Negara, yaitu Li Gao, pendiri Kerajaan Liang Barat. Ketelah runtuhnya kerajaan itu, cucu Li Gao, Li Chong’er menjadi pejabat di Kerajaan Wei Utara, namun beberapa generasi setelahnya keturunannya hanya menjadi pejabat militer rendahan. Kakek Li, Li Hu adalah jenderal Kerajaan Wei Barat yang bekerja dibawah komando Yuwen Tai, seorang jenderal yang sangat berpengaruh pada masanya. Li Hu mendapat gelar Adipati Longxi dan marga suku Xianbei (salah satu suku minoritas di Tiongkok utara) yaitu Daye. Li Hu wafat sebelum putra Yuwen Tai mendirikan Kerajaan Zhou Utara dan menjadi Kaisar Xiaomin dari Zhou Utara, namun sang kaisar secara anumerta menganugerahinya gelar Adipati Tang. Putranya, ayah Li Yuan, bernama Li Bing, ia mewarisi gelar itu dan melayani Kerajaan Zhou Utara sampai Yang Jian meruntuhkan kerajaan itu dan mempersatukan negara dibawah Dinasti Sui tahun 581. Li Yuan sendiri masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Yang Jian yang telah naik tahta sebagai Kaisar Wen karena Permasuri Dugu Qieluo, istri Kaisar Wen adalah bibinya. Li menikah dengan Nyonya Dou, putri dari Dou Yi, seorang bangsawan dari Zhou Utara.

Selama masa pemerintahan Kaisar Wen, Li Yuan menjabat sebagai gubernur sebanyak tiga kali masa jabatan. Pada awal pemerintahan Kaisar Yang (putra Kaisar Wen) ia menjadi gubernur pos militer karena Kaisar Yang mengubah provinsi menjadi pos-pos militer. Belakangan ia diberi jabatan sebagai menteri junior dalam kabinet Kaisar Yang. Tahun 613. ketika kaisar sedang melakukan kampanye militer kedua melawan Kerajaan Goguryeo, Korea, Li diberi tanggung jawab untuk mengurus urusan logistik. Memanfaatkan absennya kaisar yang sedang memimpin serangan ke Liaodong, Jenderal Yang Xuan'gan melakukan pemberontakan di dekat ibukota timur Luoyang. Kaisar Yang menugasi Li Yuan untuk menjaga bagian barat Terusan Tong, namun pada akhirnya pemberontakan Yang tidak pernah mencapai wilayah itu. Kesempatan itu dimanfaatkan olehnya untuk merekrut orang-orang berbakat. Pada akhir tahun itu, ketika kaisar memanggilnya, Li tidak memenuhi panggilan itu dengan alasan sakit. Kaisar Yang tidak mempercayai alasan itu dan mulai menaruh curiga padanya, maka ia bertanya pada Selir Wang, yang adalah sepupu Li, “Apakah ia akan mati ?” Untuk mengurangi kecurigaan kaisar, Li melewati hari-harinya dengan minum-minum hingga mabuk dan menerima sogokan yang diberikan padanya, dengan demikian Kaisar Yang berpikir bahwa ia bukanlah seorang yang ambisius dan patut diawasi. Tahun 615, kaisar menugasinya untuk menumpas pemberontakan petani di Hedong (sekarang Yuncheng, Shanxi), namun ia dipanggil pulang tahun 616 dan akhir tahun itu kaisar memberinya tanggung jawab menjaga kota Taiyuan, Shanxi, yang mempunyai nilai strategis.

Pemberontakan melawan Kaisar Yang

Kaisar Yang tidak puas atas kinerja Li dan Wang Rengong, gubernur pos militer Mayi (sekarang Shuozhou, Shanxi) karena ketidakmampuan keduanya mengatasi gangguan di perbatasan oleh suku Tujue Timur (suku Turki) dan pemberontakan petani yang semakin merajarela, terutama setelah kekalahan dari Liu Wuzhou, Dingyang Khan, seorang pemberontak petani yang didukung oleh Tujue Timur, Liu berhasil membunuh Wang dan mencaplok istana kekaisaran kedua di dekat Taiyuan. Mendengar sebuah isu ramalan yang mengatakan bahwa kelak akan ada seorang kaisar bermarga Li, Kaisar Yang membunuh seorang pejabatnya yang bernama Li Hun beserta seluruh keluarganya. Hal ini mulai membuat Li Yuan takut dan mulai berjaga-jaga terhadap kemungkinan terburuk yang berisiko menimpanya.

Pada saat yang sama, putra keduanya, Li Shimin yang juga sedang bersamanya di Taiyuan, diam-diam berencana untuk memberontak tanpa sepengetahuan ayahnya, ia menjalin hubungan dengan Pei Ji, kepala pengurus istana kekaisaran kedua, dan Liu Wenjing, pejabat kabupaten Jinyang. Li Shimin membujuk Pei untuk mengatur sedemikian rupa agar ayahnya terlibat affair dengan dayang-dayang di istana kedua sehingga Li Yuan tidak punya pilihan lain selain memberontak. Li lalu mulai mengumpulkan pasukan dari wilayahnya dengan alasan untuk dipakai mempertahankan diri dari serbuan Tujue, namun dua orang deputinya, Wang Wei dan Gao Junya mulai mencurigai aktivitasnya. Li pun mengambil tindakan antisipasi sebelum keduanya menyerangnya, ia memanfaatkan sebuah serbuan Tujue sebagai dasar untuk menuduh Wang dan Gao telah bersekongkol dengan kepala suku Tujue, Shibi Khan (Ashina Duojishi) dan menjatuhkan hukuman mati pada mereka sambil mempersiapkan pernyataan resmi tentang pemberontakannya. Kemudian ia mengirim pesan rahasia untuk memanggil putra-putranya di Hedong yaitu Li Jiancheng, Li Yuanji (keduanya dari almarhum Nyonya Dou) dan Li Zhiyun (putranya dari Selir Wan) diperintahkan tinggal di Hedong untuk mengawasi kediaman mereka, ia juga memanggil putrinya (yang kemudian menjadi Putri Pingyang) dan suaminya Chai Shao di ibukota Chang’an. Li Jiancheng dan Li Zhiyun bertemu dengan Chai di perjalanan lalu mereka bersama menuju Taiyuan, sementara putri Li yang saat itu merasa kesulitan untuk ikut suaminya, memilih untuk bersembunyi.

Begitu ketiganya tiba di Taiyuan, Li Yuan pun mendeklarasikan pemberontakannya dengan mengangkat cucu Kaisar Yang, Yang You, Pangeran Dai, sebagai kaisar dan menjadikan Kaisar Yang sebagai mantan kaisar (Taishanghuang). Ia menghubungi Ashina Duojishi, menawarkan hadiah dan sebagai balasannya ia menerima bantuan logistik dari Tujue Timur. Ia mengangkat Li Shimin dan Li Jiancheng sebagai komandan pasukannya dan Li Yuanji diserahi tanggung jawab menjaga Taiyuan. Bersama kedua putranya, Li Yuan memimpin pasukannya ke selatan. Mendengar pemberontakannya, para pejabat Sui di Hedong menahan putranya yang masih di Hedong, Li Zhiyun dan mengirimnya ke Chang’an untuk dihukum mati.

Li Yuan menulis surat pada seorang pemimpin pemberontak lainnya bernama Li Mi, Adipati Wei yang berkuasa di sekitar Luoyang, dalam suratnya ia ingin melihat apakah Li Mi berniat untuk bekerjasama dengannya. Namun Li Mi, yang terlalu percaya pada kekuatannya sendiri, menyuruh sekretarisnya, Zu Junyan membalas surat Li Yuan, ia menulis, “Walaupun saya dan anda, kakak, bukan satu keluarga, namun kita sama-sama bermarga Li. Saya sadar bahwa saya tidak punya cukup kekuatan, namun karena rasa cinta dari rakyat, saya telah diangkat sebagai pemimpin dan saya harap anda juga akan mendukung dan membantu saya. Mari kita menangkap Ziying di Xianyang dan membunuh Raja Zhou Xin dari Shang di Muye, bukankah hal seperti itu adalah prestasi besar?”

(Ziying adalah kaisar terakhir Dinasti Qin yang menyerah di Xianyang, Raja Zhou Xin adalah raja terakhir Dinasti Shang yang terkenal sebagai seorang tiran).

Li Yuan walau tersinggung dengan surat balasan itu, membalasnya dengan rendah hati karena tidak ingin menciptakan musuh baru, apalagi Li Mi adalah pemimpin pemberontak yang cukup berpengaruh pada saat itu. Ia menulis, “Walaupun saya hanya orang biasa dan bodoh, namun berkat kemurahan hati para leluhurku, saya masih beroleh kesempatan untuk menjadi pembawa pesan kekaisaran ketika meninggalkan ibukota dan kepala pengawal di ibukota. Bila negara ini jatuh dan saya tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya, bahkan orang bijak yang paling pengertian pun akan mengutukku. Karenanya lah saya menghimpun pasukan atas nama kebenaran dan melakukan berdamai dengan suku-suku barbar di utara (misalnya Tujue) demi ketenangan negara dan melindungi Sui. Bagaimanapun, manusia di dunia ini membutuhkan seorang pemimpin dan siapa lagi yang pantas untuk itu selain anda? Saya sudah terlalu tua, sudah lima puluh tahun lebih, namun saya sudah senang dengan mendukungmu, adikku.Saya berharap suatu hari nanti dapat memanjat sisik naga dan berpegang pada sayap phoenix, dan saya harap andalah, adikku, yang akan menggenapi ramalan itu, yang akan menaklukkan dunia ini. Anda adalah pemimpin marga Li dan saya berharap anda akan senang dan menerima saya serta memberikan kembali wilayah Tang pada saya, hal itu sudah cukup bagi saya. Saya tidak memiliki niat lebih jauh seperti membunuh Zhou Xin di Muye ataupun menangkap Ziying di Xianyang. Selain itu juga wilayah Fen dan Jin memerlukan kedamaian sekarang ini sehingga saya belum punya waktu untuk mengatur pertemuan di Mengjin (sekarang Zhengzhou, Henan, dimana Raja Wu dari Zhou di masa lampau berkumpul dengan para pendukungnya sebelum menyerang sang tiran, Raja Zhou Xin).

Li Mi sangat terkesan dengan surat Li Yuan ini, ia berpikir bahwa Li Yuan tulus mendukungnya sehingga sejak itu keduanya sering bertukar pesan. Li Mi pun tidak menentang kampanye militer Li Yuan menyerang Chang’an. Ketika Li Yuan dan pasukannya tiba di dekat Hedong, mereka terhalang cuaca buruk dan mulai kehabisan makanan, tersiar sebuah isu yang mengatakan bahwa Tujue Timur dan Liu Wuzhou akan menyerang Taiyuan. Awalnya, Li Yuan berencana untuk menarik mundur pasukan, namun atas desakan dari Li Jiancheng dan Li Shimin, ia terus maju. Setelah mengalahkan pasukan Sui di Huoyi (sekarang wilayah Yuncheng), ia memutuskan untuk meninggalkan sebuah kontingen kecil untuk menjaga Hedong sementara ia dan yang lainnya terus maju menyeberangi Sungai Kuning menuju ke Guanzhong (wilayah sekitar Chang’an). Begitu tiba di sana ia memasuki Chang’an sambil memerintahkan Li Jiancheng mencaplok wilayah sekitar Terusan Tong untuk mencegah pasukan Sui di Luoyang mengirim bala bantuan ke Chang’an dan Li Shimin diperintahkan mencaplok wilayah utara Sungai Wei. Di tempat lain putrinya yang telah keluar dari persembunyian juga turut mendukung pemberontakan ayahnya, ia berhasil menghimpun sejumlah pasukan dan mencaplok beberapa kota. Ia lalu bergabung dengan kakaknya, Li Shimin dan suaminya, Chai Shao. Tak lama kemudian Li Yuan telah mengkonsolidasi pasukannya dan mengepung kota Chang’an. Musim dingin 617, ia berhasil menduduki kota itu dan disanalah ia mengukuhkan Yang You sebagai kaisar dengan gelar Kaisar Gong, ia juga mengankat dirinya sebagai wali atas Yang You dengan gelar perdana menteri agung serta mendapat gelar kebangsawanan Pangeran Tang. Namun sebagian besar wilayah Sui tidak mengakui Yang You sebagai kaisar dan mereka masih menganggap Kaisar Yang adalah penguasa yang sah. Li Yuan lalu mengirim keponakannya, Li Xiaogong, ke selatan untuk membujuk beberapa kota untuk menyerah. Li Xiaogong melakukan tugasnya dengan baik, beberapa kota yang sekarang dikenal sebagai wilayah selatan Shaanxi, Sichuan, dan Chongqing menyatakan menyerah pada Tang.

Berdirinya Dinasti Tang, langkah awal penyatuan negara

Musim semi 618, Kaisar Yang terbunuh di Jiangdu (sekarang Yangzhou, Jiangsu) dalam sebuah kudeta militer yang dipimpin jenderalnya sendiri, Yuwen Huaji. Ketika kabar ini tersiar ke Chang’an, Li Yuan mengambil alih tahta dari Kaisar Gong dan mendeklarasikan berdirinya Dinasti Tang dengan dirinya sebagai kaisar pertama bergelar Kaisar Tang Gaozu, rezimnya dinamakan Wude (武德). Ia memulihkan kebijakan-kebijakan pada masa Kaisar Wen dan membatalkan kebijakan Kaisar Yang yang menindas rakyat. Ia menggelari mantan Kaisar Gong sebagai Adipati Xi dan mengangkat putra sulungnya, Li Jiancheng sebagai putra mahkota, Li Shimin mendapat gelar Pangeran Qin dan Li Yuanji sebagai Pangeran Qi. Di lain pihak, para pejabat Sui mengangkat seorang cucu lain dari Kaisar Yang, yaitu Yang Tong, Pangeran Yue, sebagai kaisar berikutnya serta tidak mengakui pemerintahan yang baru didirikan Li Yuan di Chang’an.

Setelah naik tahta, tantangan pertama bagi Li datang dari Xue Ju, seorang pemimpin pemberontak yang mengangkat dirinya sebagai Pangeran Qin. Pada musim gugur 618, Xue mencuri kesempatan ketika Li Shimin terbaring sakit dengan mengalahkan pasukannya dan pasukan Liu Wenjing di Dataran Qianshui (sekarang Xianyang, Shanxi) kemudian mereka mengarah ke Chang’an. Tindakan Li adalah berusaha menjalin persekutuan dengan Li Gui, Pangeran Liang, yang wilayahnya bertetangga antara wilayahnya dan wilayah Xue. Ia menulis surat pada Li Gui dan menyebutnya sebagai saudara sepupu. Li Gui pun untuk sementara menyatakan tunduk pada Tang. Namun sebelum menyerbu Chang’an, Xue Ju meninggal karena sakit, ia digantikan oleh putranya, Xue Rengao, seorang jenderal yang mampu namun tidak disukai oleh para bawahanya karena kejam. Tak lama kemudian, Xue dikalahkan oleh Li Shimin di Gaozhi (sekarang di wilayah Xianyang) dan dihukum mati.

Sementara itu, Li Mi yang telah dikalahkan oleh jenderal Sui bernama Wang Shichong melarikan diri ke wilayah Tang dan menyerah pada Kaisar Gaozu. Turut pula bersamanya seorang jenderal bernama Xu Shiji. Kaisar Gaozu sangat terkesan pada Xu akan kesetiaan pada tuannya sehingga menganugerahkan gelar Li padanya. Li Mi mendapat gelar sebagai Adipati Xing dan jabatan menteri urusan perjamuan yang dianggapnya tidak pantas bagi dirinya. Sekitar awal tahun 619, Li Mi meminta ijin pada Kaisar Gaozu untuk pergi ke timur dengan alasan untuk membujuk beberapa mantan bawahannya untuk menyerah pada Tang. Namun begitu meninggalkan Chang’an, ia malah menyusun rencana untuk membangun pemerintahannya sendiri. Akhirnya ia diserang dan dibunuh oleh seorang jenderal Tang, Sheng Yanshi. Pada musim semi tahun itu juga, Wang Shichong mengambil alih tahta dari Yang Tang dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Zheng.

Sementara, Li Gui, walau telah menyatakan tunduk pada Tang ia menolak gelar Pangeran Liang yang dianugerahkan padanya dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Tang. Kaisar Gaozu pun memutuskan hubungan dengannya. Musim panas 619, seorang bawahannya bernama An Xinggui, yang juga mantan pejabat Tang, berontak terhadapnya dan menangkapnya. An menyerahkan Li Gui pada Gaozu dan menyatakan tunduk pada Tang. Gaozu menjatuhkan hukuman mati pada Li dan mencaplok seluruh wilayah kekuasaannya. Dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang pemimpin pemberontak yang berkuasa di selatan Anhui bernama Du Fuwei menyerah pada Tang. Gaozu menganugerahi Du gelar Pangeran Wu. Luo Yi, mantan jenderal Sui yang menguasai wilayah Beijing juga menyerah dan dianugerahi gelar Pangeran Yan. Kedua orang itu juga memperoleh hak istimewa memakai marga kekaisaran, marga Li.

Gaozu juga masih harus menghadapi ancaman dari Liu Wuzhou, musuh lamanya dari utara. Liu memimpin pasukannya ke selatan untuk melawannya. Kaisar Gaozu mengirim Pei Ji untuk menghadapi Liu, namun Liu berhasil mengalahkannya dan mengepung kota Taiyuan. Li Yuanji yang menjaga kota itu kabur ke Chang’an, seluruh wilayah yang sekarang meliputi Provinsi Shanxi jatuh ke tangan Liu. Kaisar Gaozu kali ini mengirim Li Shimin untuk menghadapi Liu. Pada musim panas 620, Li berhasil mengalahkan Liu dan memaksanya melarikan diri ke wilayah Tujue Timur. Wilayah Liu pun direbut pemerintah Tang. Namun di tempat lain, Dou Jiande, seorang pemimpin pemberontak yang bergelar Pangeran Xia menyerang kota-kota milik Tang di Hebei, Henan, dan wilayah utara Sungai Kuning. Dou berhasil menduduki wilayah-wilayah itu serta menawan Li Shentong, Pangeran Huai’an (sepupu kaisar), Putri Tong’an (saudari kaisar), dan Li Gai (ayah Li Shiji). Karena ayahnya menjadi sandera, Li Shiji pun terpaksa menyerah pada Dou. Tak lama kemudian, Li Shiji berkomplot dengan Li Shanghu, seorang jenderal Tang yang juga dipaksa menyerah untuk menyergap Dou. Namun rencana ini gagal, Li Shanghu terbunuh dan Li Shiji melarikan diri kembali ke wilayah Tang.

Tahun 620, Li Fuwei berhasil mencaplok wilayah-wilayah di selatan Sungai Yangtze. Ia mengalahkan Li Zitong, Kaisar Wu. Li Zitong, yang dalam kekalahannya masih sempat meraih kemenangan dari Shen Faxing, Pangeran Liang, mantan pejabat Sui yang berkuasa di Zhejiang.

Setelah kemenangan atas Liu Wuzhou, Li Shimin mengarahkan sasaran berikutnya pada Wang Shichong, Kaisar Zheng. Musim panas 620, ia mulai menyerang wilayah kekuasaan Wang. Setelah menaklukan satu-persatu kotanya, pasukan Tang mencapai ibukota Zheng, Luoyang dan mengepungnya pada musim gugur 620. Wang meminta bantuan dari Dou yang setuju mengirim bala bantuan dengan pertimbangan bila Wang berhasil dikalahkan Tang, ia akan menjadi sasaran berikutnya. Awalnya, Kaisar Gaozu merasa khawatir putranya diserang dari dua arah oleh Duo dan Wang sehingga memerintahkannya mundur. Namun Li Shimin bersikeras melanjutkan pengepungan di Luoyang sehingga ia mengijinkannya tetap mengepung kota itu. Untuk mencegah Wang bergabung dengan Dou, Li Shimin memerintahkan adiknya, Li Yuanji untuk tetap melanjutkan pengepungan Luoyang sementara ia menuju ke Terusan Hulao di sebelah timur kota itu untuk menghadapi pasukan Dou yang datang dari sana. Musim panas 621, kedua pasukan berhadapan dalam Pertempuran Hulao, dalam pertempuran itu Li Shimin berhasil mengalahkan Dou dan menangkapnya. Dengan kalahnya Dou, Wang pun terpaksa menyerah. Wilayah keduanya jatuh ke tangan pemerintah Tang. Tak lama setelah Kaisar Gaozu menjatuhkan hukuman mati terhadap Dou, Liu Heita, salah seorang mantan bawahan Dou, memberontak terhadap Tang. Liu merebut kembali bekas wilayah kekuasaan Dou. Xu Yuanlang, seorang pemimpin pemberontak yang sebelumnya menyerah pada Tang juga turut memberontak bersama Liu, ia menduduki wilayah Shandong.

Pada tahun 621 juga, Li Xiaogong berhasil mengalahkan Xiao Xi, Kaisar Liang, yang menguasai wilayah Hubei, Hunan, dan Guangxi. Di tempat lain, Li Zitong dikalahkan dan terpaksa menyerah pada Fu Gongshi, seorang letnan bawahan Li Fuwei. Wilayah Tang pun bertambah luas lagi dengan dianeksasinya wilayah kedua orang itu.

Kaisar Gaozu walaupun tidak seperti Liu Bang (Kaisar Han Gaozu) yang membunuhi para pejabat yang berjasa membantunya setelah naik tahta, namun sejarah mencatat ada beberapa pejabat berjasa yang turut mendirikan dinasti dijatuhi hukuman mati atas dasar pelanggaran hukum atau tuduhan lain yang kekurangan bukti kuat, seperti misalnya:

  • Liu Wenjing, tahun 619, atas tuduhan terlibat praktek sihir yang dilarang semasa Dinasti Tang.
  • Dugu Huai’en, sepupu kaisar, tahun 620, atas tuduhan makar.
  • Li Zhongwen, Adipati Zhenxiang, tahun 620, atas tuduhan persekongkolan dengan Tujue Timur.
  • Liu Shirang, Adipati Yingyang, tahun 623, atas tuduhan persekongkolan dengan Tujue Timur.

Konflik keluarga dan Insiden Xuanwu

Musim semi 621, Li Shimin mengalahkan Liu Heita dan memaksanya kabur ke wilayah Tujue. Namun tak lama kemudian, Liu kembali beserta bala bantuan dari Tujue dan membunuh keponakan Gaozu, Li Daoxuan, Pangeran Huaiyang dalam pertempuran. Liu merebut kembali wilayah Xia walaupun saat itu sekutunya, Xu Yuanlang telah dikalahkan oleh Li Shimin dan Li Yuanji. Sementara itu perselisihan antara Li Shimin dengan kakaknya, Li Jiancheng semakin meruncing. Li Jiancheng walaupun banyak berkontribusi bagi berdirinya Dinasti Tang, namun prestasinya kalah jauh dari adiknya yang telah mengalahkan banyak pesaing Dinasti Tang seperti Xue Rengao, Liu Wuzhou, Dou Jiande dan Wang Shichong. Dalam konflik ini, Li Yuanji mendukung kakak tertuanya, Li Jiancheng. Ia sering memuji-muji Li Jiancheng di depan ayah mereka dan menjelek-jelekan Li Shimin. Keduanya juga memiliki hubungan dekat dengan beberapa selir muda ayahnya sehingga para selir itu membantu membicarakan kebaikan-kebaikan sang putra mahkota di depan kaisar. Perkataan mereka membuat Kaisar Gaozu membatalkan niatnya untuk mengalihkan status putra mahkota pada Li Shimin yang dianggapnya lebih pantas.

Hingga musim dingin 622, Liu Heita masih menjadi ancaman besar bagi pemerintah Tang. Bawahan-bawahan Li Jiancheng seperti Wang Gui dan Wei Zheng menyarankannya agar mengambil kesempatan ini untuk menaikan reputasinya. Maka Li Jiancheng pun menawarkan jasa pada ayahnya untuk menumpas pemberontakan Liu. Maka Kaisar Gaozu pun memberi tugas itu padanya dan Li Yuanji juga ditugasi untuk mendampinginya. Sekitar awal tahun 623, gerak laju pasukan Liu terhambat ketika mereka menyerang Weizhou (sekarang Handan, Hebei) kekuasaan Tang. Kedua pangeran itu berhadapan dengan Liu di Guantao (juga di wilayah Handan) dan mengalahkannya. Liu melarikan diri ke utara ke wilayah Tujue, namun dalam pelarian ia dikhianati oleh bawahannya, Zhuge Dewei. Zhuge menangkap dan menyerahkannya pada Li Jiancheng untuk dihukum mati. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Xu Yuanlang juga telah terbunuh dalam pelariannya oleh anak buahnya sendiri. Lin Shihong, Kaisar Chu, pemimpin pemberontak yang berkuasa di Jiangxi dan Guangdong juga telah wafat dan pengikutnya tercerai-berai. Tiongkok hampir seluruhnya dipersatukan kembali, rezim separatis yang masih tersisa tinggal Liang Shidu, Kaisar Liang, yang berkuasa di Shaanxi dan wilayah barat Mongolia Dalam. Tahun itu juga, ketika Li Fuwei sedang berada di Chang’an, bawahannya, Fu Gongshi, memberontak dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Song, namun pemberontakan ini segera ditumpas pada tahun berikutnya oleh Li Xiaogong.

Di tengah keberhasilan menaklukan para pesaingnya, konflik antara putra-putra Gaozu, Li Jiancheng dan Li Shimin semakin tajam. Tahun 624, Li Jiancheng mengambil sejumlah pasukan dari Jenderal Li Yi, Pangeran Yan, untuk memperkuat pasukan pengawal pribadinya, sebuah tindakan yang melawan peraturan yang dibuat ayahnya. Ketika hal ini diketahui Gaozu, ia memarahi Li Jiancheng dan mengasingkan kepala pengawalnya, Keda Zhi. Namun belakangan Li Jiancheng meminta Yang Wen’gan, komandan Qingzhou (sekarang Qingyang, Gansu) untuk merekrut tentara, kemungkinan untuk berjaga-jaga dari Li Shimin. Dua orang perwira, Erzhu Huan dan Qiao Gongshan melaporkan hal ini pada Gaozu, mereka mengatakan bahwa putra mahkota mengajak Yang memberontak sehingga mereka dapat merebut tahta bersama. Dengan marah, Gaozu memanggil Li Jiancheng ke Istana Renzhi (di Tongchuan, Shaanxi). Li Jiancheng tidak menuruti perintah itu, namun belakangan ia melapor ke Istana Renzhi untuk meminta maaf dan Gaozu menjatuhkan hukuman tahanan padanya. Ketika Yang mendengar kabar ini, ia memberontak. Gaozu memerintahkan Li Shimin menumpas pemberontakan itu dengan janji akan diangkat sebagai putra mahkota bila ia berhasil dan status Li Jiancheng akan diturunkan sebagai Pangeran Shu serta akan dikirim ke Sichuan. Namun begitu Li Shimin berangkat, para selir kaisar dan perdana menteri Feng Deyi angkat suara membela sang putra mahkota. Di bawah bujukan selir-selir kesayangannya, hati Gaozu luluh, ia membebaskan Li Jiancheng dan mengijinkannya kembali ke Chang’an serta menjamin statusnya tetap sebagai putra mahkota. Sebagai gantinya, ia menimpakan kesalahan pada para staff Li Jiancheng, Wang Gui dan Wei Ting, juga staff Li Shimin, Du Yan. Merekalah yang dipersalahkan sebagai pemicu konflik diantara putra-putranya sehingga harus diasingkan. Pemberontakan Yang Wen’gan akhirnya berhasil ditumpas dan Yang dibunuh dalam pelarian oleh anak buahnya.

Gaozu juga masih menghadapi masalah lain mengenai gangguan perbatasan oleh suku Tujue. Ia mempertimbangkan untuk membumihanguskan kota Chang’an lalu memindahkan ibukota ke Fancheng (sekarang Xiangfan, Hubei). Rencana ini juga mendapat dukungan dari Li Jiancheng, Li Yuanji, dan Pei Ji. Namun Li Shimin menentang keras rencana ini sehingga Gaozu pun membatalkannya. Sementara itu, Li Shimin mengirim kaki tangannya ke Luoyang untuk membangun kekuatannya disana. Gaozu berencana untuk mengirim Li Shimin untuk ditempatkan di Luoyang menjaga kota itu untuk mencegah konflik lebih jauh setelah sebuah insiden keracunan makanan yang menimpa Li Shimin dalam suatu jamuan di kediaman Li Jiancheng yang dianggap sebagai usaha pembunuhan. Namun Li Jiancheng dan Li Yuanji menentang pemindahan ini karena mereka takut saudaranya itu akan memakai kesempatan untuk membangun kekuatan bagi dirinya sendiri sehingga Gaozu pun akhirnya membatalkan rencana itu.

Hingga tahun 626, situasi makin memanas, Li Shimin makin gelisah karena saudara-saudaranya terus mencari gara-gara, para bawahannya seperti Du Ruhui, Fang Xuanling, dan Zhangsun Wuji mendesaknya agar bertindak secepat mungkin sebelum diserang saudara-saudaranya, di lain pihak Li Jiancheng juga terus dibujuk oleh bawahannya, Wei Zheng untuk menyerang Li Shimin. Li Jiancheng membujuk ayahnya untuk menyingkirkan Du, Fang, Yuchi Jingde, dan Cheng Zhijie dari jajaran staff Li Shimin. Hanya Zhangsun, pejabat penting dan adik ipar Li Shimin yang masih tersisa disampingnya, dan ia terus membujuk Li agar secepatnya bertindak.

Musim panas 626, Tujue Timur menyerbu perbatasan. Gaozu tadinya hendak mengirim Li Shimin untuk memimpin pasukan namun atas bujukan Li Jiancheng ia menggantinya menjadi Li Yuanji. Li Yuanji pun diberi komando atas pasukan Li Shimin, hal ini tentu saja membuat Li Shimin semakin tidak tenang karena dengan demikian ia tidak akan mampu mempertahankan diri jika kedua saudaranya menyerangnya. Li Shimin memerintahkan Yuchi Jingde memanggil kembali Du dan Fang ke kediamannya secara rahasia dan kemudian pada suatu malam ia menemui ayahnya untuk melaporkan bahwa Li Jiancheng dan Li Yuanji telah berzinah dengan selir-selir ayahnya. Gaozu pun memerintahkan kedua pangeran itu untuk menghadapnya keesokan paginya, ia mengumpulkan para pejabat seniornya seperti Chen Shuda, Xiao Yu, dan Pei Ji untuk mendiskusikan masalah ini. Begitu Li Jiancheng dan Li Yuanji tiba di Gerbang Xuanwu yang menuju ke istana kekaisaran, mereka disergap oleh Li Shimin dan pasukannya. Li Shimin memanah kakaknya hingga tewas dan Li Yuanji dibunuh oleh Yuchi ketika bertarung dengan Li Shimin. Setelah itu ia memasuki istana dengan pasukan dan senjata lengkap. Di bawah intimidasi, Gaozu pun mengangkat Li Shimin sebagai putra mahkota. Ia juga tidak mampu mencegah Li Shimin membantai putra-putra Li Jiancheng dan Li Yuanji. Dua bulan kemudian ia turun tahta dan menyerahkan mahkota pada Li Shimin.

Sebagai mantan kaisar

Tidak banyak catatan sejarah yang mencatat aktivitas Kaisar Gaozu setelah turun tahta, nampaknya ia pun tidak terlalu mencampuri urusan pemerintahan yang kini telah dipimpin putranya yang telah naik tahta sebagai Kaisar Tang Taizong. Kaisar Taizong membatalkan beberapa kebijakannya, misalnya pada akhir tahun 626, ia menurunkan gelar beberapa pangeran menjadi adipati dan pada tahun 628, ia memulangkan 3000 wanita istana, walau pada tahun-tahun akhir pemerintahannya, Taizong pun mengumpulkan banyak wanita di istana belakangnya.

Tahun 629, Gaozu pindah dari istana utama, Istana Taiji, ke Istana Hongyi (yang kemudian diganti namanya menjadi Istana Da’an)

Tahun 630, ia mendengar berita gembira bahwa Jenderal Li Jing telah berhasil mengalahkan Tujue Timur dan menangkap kepala sukunya, Jiali Khan (Ashina Duobi). Hal ini merupakan titik balik yang luar biasa karena selama masa pemerintahannya ia selalu mengirim upeti pada Tujue. Ia berkata, “Pada masa lampau, Kaisar Han Gaozu pernah terjebak di Baideng (sekarang Datong, Shanxi) oleh pasukan Xiongnu dan ia tidak pernah bisa membalaskan dendamnya. Namun kini, putraku telah berhasil mengalahkan Tujue. Saya telah mempercayakan kekaisaran ini pada orang yang benar, apa lagi yang harus kukhawatirkan ?” Ia lalu memanggil sejumlah pangeran, putri, dan pejabat tinggi kekaisaran untuk merayakan kemenangan ini. Dalam pesta ia memainkan pipa (alat musik tradisional Tiongkok) dan mengajak tamu-tamunya menari.

Karena cuaca di kota Chang’an sangat panas ketika musim panas, ia sering diundang oleh putranya ke Istana Jiucheng (bekas Istana Renshou pada masa Dinasti Sui) di Baoji, Shanxi untuk menghindari cuaca yang menyengat itu. Namun karena Kaisar Wen dari Sui wafat di sana, ia pun tidak mau mengunjungi istana itu. Maka pada tahun 634, Kaisar Taizong pun memulai pembangunan Istana Daming yang diperuntukan sebagai istana musim panas bagi ayahnya. Namun sayangnya, Gaozu tidak pernah berkesempatan menempati istana itu. Ia wafat pada musim semi 635 sebelum pembangunan istana itu rampung.

Didahului oleh:
-
Kaisar Tiongkok
(Dinasti Tang)
618-626
Diteruskan oleh:
Kaisar Tang Taizong