Bojong, Cilimus, Kuningan
artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Bojong adalah desa di kecamatan Cilimus, Kuningan, Jawa Barat, Indonesia.
Bojong | |||||
---|---|---|---|---|---|
Negara | Indonesia | ||||
Provinsi | Jawa Barat | ||||
Kabupaten | Kuningan | ||||
Kecamatan | Cilimus | ||||
Kode Kemendagri | 32.08.13.2010 | ||||
Luas | - | ||||
Jumlah penduduk | -5201 | ||||
Kepadatan | -100/km2 | ||||
|
Desa ini terbagi atas 5 DUSUN, 10 RW, 30 RT yaitu:
- Dusun Manis
- Dusun Pahing
- Dusun Pon
- Dusun Kliwon
- Dusun Wage
Sejarah Singkat Desa Bojong
Sejarah Bojong sebelum 1900an memang sangat sulit dilacak. Dokumentasi serta arsip mengenai hal ini masih belum sempat saya cari. Kebanyakan para kasepuhan yang pernah saya “paksa” untuk memutar ingatan, tidak memiliki dokumentasi dalam bentuk arsip, foto atau tulisan. Walhasil, hanya ada tuturan oral. Entoch, itu sangat bermanfaat untuk merunut cerita dengan menggabungkannya dengan buku atau tulisan yang serba sedikit.
Walaupun demikian, perlu apresiasi terhadap upaya pemerintah desa yang telah berusaha menuliskan sejarah itu. Dan ada beberapa kisah yang agak make sense. Dari sejarah yang ditulis itu misalnya dikisahkan bahwa hingga tahun 1718, tidak ada jalan yang menghubungkan Cirebon-Kuningan. Yang ada hanyalah jalan yang ada di sekitar pertigaan Caracas sekarang. Tersebutlah seorang bernama Surabakti yang tinggal di daerah timur wilayah tersebut.
Surabakti hendak mencari isteri untuk pendamping hidup. Ia berjalan ke daerah selatan. Di tengah jalan, ia bertemu dengan dua orang bernama yang berasal dari sebuah kampung bernama Lingga. Kemungkinan, menurut arsip pemerintahan desa, Lingga yang dimaksud adalah Solokan Lingga yang lokasinya saat ini berada di belakang Masjid Baiturrahmah Dusun Pon.
Surabakti mengajak dua wanita itu berjalan ke utara menyusuri kali kecil tetapi dalam. Tempat itu yang kemudian sekarang disebut Solokan Dalem. Surabakti hendak mengajak mereka ke tempat ia tinggal. Akhirnya, Surabakti menikah dengan salah satu dari wanita tersebut hingga kemudian dianugerahi seorang anak perempuan.
Surabakti kemudian tinggal di pedukuhan, kampung halamannya itu dan menjadi kepala dukuh. Dalam sejarah Cirebon yang disebut Dukuh atau Pedukuhan itu adalah Bojong (bukan Desa Bojong). Anak Surabakti ini memiliki kesenangan memakan sirih yang dicampur kapur, pinang dan gambir. Sebagai pembersihnya menggunakan tembakau/sisig. Karena di kampung itu tidak ada pinang, maka putri Surabakti itu berjalan Selatan. Ia kemudian melihat pohon Pinang (Jebug), maka ia bergegas menuju tempat pohon pinang dengan maksud akan mengambil buahnya. Tempat yang banyak ditumbuhi pohon pinang atau jebug itu diberi nama Kampung Gibug.
Pulang dari jebug, si anak ada yang mengajak singgah di Blok Cikeler, Buyut Sudimampir. Atas kejadian itu, lama lama kelamaan terjadi hubungan cinta antara gadis dengan anak laki-laki yang mengajak mampir tadi dan akhirnya terjadi pernikahan dan terus bermukim di Blok Gibug dan kemudian dianugerahi seorang anak laki-laki. Menantu Surabakti atau Sudimampir ini kemudian menjadi kepala Kampung Gibug. Pemerintahan di Gibug kemudian dilanjutkan oleh anak Surabakti.
Ada kewajiban dari masing-masing pemerintahan desa untuk menyerahkan upeti ke Kesultanan Cirebon. Saat menyetor upeti, kakek pimpinan Gibug yang bernama Surabakti diperintahkan untuk memindahkan jalan di Gibug (Bojong) ke sebelah Timur. Jalan itu yang sekarang merupakan jalan provinsi antara simpang Caracas sampai simpang Linggajati.
Jadi jika merujuk pada cerita ini, maka jalan utama Gibug pada awalnya adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai jalan burung itu. Salah seorang sesepuh, KH. Mas’ud (Allah yarhamhu) kerap mendongeng tentang Arya Kamuning yang kerap melewati jalan burung itu sembari menaiki kuda. Jadi cerita ini mungkin agak sedikit mendekati kebenaran historis. Hanya soal waktunya saja yang sulit dipastikan. Singkat cerita, ada penyatuan dua wilayah atas usulan Surabakti. Lalu diberilah nama Bojong. Sehingga besar kemungkinan saat itu Surabakti tinggal di daerah Bojong (antara Dusun Pon, Wage, Kliwon) sementara cucu Surabakti tinggal di Gibug (Dusun Pahing dan Manis). Lalu, diberilah nama Bojong.
Kepala kampung yang baru ini terus mengabdi ke Kesultanan Cirebon secara rutin. Karena kepala Kampung ini dianggap oleh sultan banyak ilmunya, maka di ganti menjadi kuwu yang bernama Buyut Niti. Setelah Buyut Niti wafat di ganti oleh Kuwu Deleg. Pada saat pemerintahan Kuwu Deleg, dia dibantu oleh Buyut Benggol, Buyut Cakra dan Buyut Suara.
Setelah Kuwu Deleg meninggal dunia, posisinya diganti oleh Kuwu Haji Sidik. Kuwu Haji Sidik mulai menata pemerintahan. Balai Desa yang bentuknya masih sederhana di rombak. Begitu pula bangunan masjid, bahkan di tambah lagi dengan membuat pagar tembok sekeliling alun-alun dan membuat sekolah desa. Gurunya digaji oleh sawah bengkok.
Untuk memajukan agama sengaja memanggil guru agama dari Desa Timbang yang bernama Bapak Kiai Mutawalli dan diberi sawah serta rumah. Letaknya sekarang di sebut Blok Balangko. Konon, saat itu Kuwu Haji Sidik tak hanya memanggil Kyai Mutawalli, tapi juga. Bedanya, Abah Mulhi kemudian dinikahkan dengan putera Kuwu Sidik, Ibu Kapsah dan tidak tinggal di Bojong.
Disini bisa ditambahkan mengenai sedikit cerita tentang KH. Mutawalli yang tidak ada di arsip desa. Penuturan beberapa masyarakat setempat, hingga tahun 1940an wilayah yang memiliki pesantren (di Kecamatan Cilimus) barulah desa Timbang, timur Caracas-Cilimus. Kiai Mutawalli datang ke Gibug lebih kurang tahun 1890an. Usianya masih sangat belia, mungkin di kisaran 20 tahun. Ia seorang yang cakap di bidang ilmu agama. Mutawally kecil tercatat pernah mengenyam pendidikan keagamaan tradisional. Salah satunya di Pondok Pesantren Bendakerep, Cirebon. Tak lama setelah menetap di Balangko, dia menikah dan memiliki beberapa santri. Berbeda halnya dengan KH. Hasan Maolani yang mendirikan pondok pesantren di Lengkong, Garawangi, Mutawally, hanya memberikan pelajaran keagamaan dalam lingkup kecil. Santrinya tak lebih dari 20 orang. Kebanyakan berasal dari Pekalongan Jawa Tengah. Sebagian besar santrinya itu belajar ilmu hikmah atau sejenis tarekat.
Kiai Mutawally maupun putera-puteranya tidak membuka pesantren. Beberapa ulama lokal di sekitar wilayah Bojong, Cilimus dan Caracas yang saat itu dikenal sebagai sesepuh atau ulama diantaranya K. Mutawally (Bojong), H. Sirad (Cilimus), H. Saleh (Cilimus), K. Idris (Cilimus), K. Bakri (Cilimus), K. Hidir (Caracas) dan K. Sobary (Timbang).
Mutawally atau yang kerap disapa Kyai Gibug, di lingkungan Desa Bojong-Cilimus-Caracas memang kharismatik. Pengajian kemisan yang ia gelar selalu dipadati jamaah dari pelbagai desa. Kurang lebih 100-250 jemaah datang di tempat dimana dia mengadakan pengajian. Tahun 1940-an ada dua ulama yang memiliki kharisma, “Kyai Gibug” dan KH. Abu Bakar dari Cilebu, selain beberapa Ulama dan Kyai di Desa Timbang yang memang sudah sedari dulu memiliki pondok pesantren.
Kira-kira demikianlah awal kisah tentang sebuah desa yang sekarang bernama Bojong. Satu bagian dari percikan kisah masyarakat Giboeg sampai awal tahun 1900.
BATAS WILAYAH
Desa ini seolah-olah terpisah dua bagian dengan bentangan sungai Cibacang ditengahnya.
- SELATAN dengan desa Bandorasa wetan dan desa Sangkanurip
- TIMUR dengan desa Panawuan
- UTARA dengan desa Cilimus dan desa Kaliaren
- BARAT dengan desa Linggamekar dan desa Linggarjati
Di bagian selatan ada sungai CIBACANG masarakat menyebutnya Bojong GIBUG, yang terdiri dari 2 dusun MANIS dan PAHING, lalu ada sungai CIBACANG ke utara dan 3 dusun lagi dari selatan membentang apa yang disebut gang / jalan / complex yaitu ;
- Jalan Munjul
- Jalan Cigintung
- Gang Masjid
- Gang Tampian Salam
- Gang Buyut Banis
- Gang Langgar Waqaf
- Complex Pasar Kagok
- Martha stones complex
- Lorong MOHAMMAD SAPTAJI
- Complex Madrasah
- Gang Pasantren
- Complek oleh oleh bu SEPUH
- Pengkolan Panawan
- Jalan SMP