Satin

Revisi sejak 12 Juli 2022 04.19 oleh Symphonium264 (bicara | kontrib) (Suntingan Aljuni Hirossie (bicara) dibatalkan ke versi terakhir oleh Symphonium264)

Satin adalah jenis kain satin sutera yang lembut yang ditenun dengan dengan menggunakan teknik serat filamen sehingga memiliki ciri khas permukaan yang mengkilap dan klinyir-klinyir. Bagian dalam atau belakang permukaan satin sebaliknya tidak licin dan tidak mengkilap.

Satin mulai dikenal di daratan Eropa pada awal abad ke-20, setelah lebih dahulu mengenal kain sutera yang berasal dari Cina. Walaupun satin dan sutera memiliki beberapa ciri khas yang mirip, keduanya menggunakan bahan serat yang berbeda. Satin ditenun dengan serat buatan seperti polyster, sedangkan sutera menggunakan serat alami yaitu ulat sutera. Alhasil, meskipun keduanya terasa lembut di kulit, satin memiliki permukaan yang lebih klinyir-klinyir, sementara sutera lebih halus dan ringan.

Satin digemari terutama karena membuat si pemakai terlihat glamor, sensual dan lebih maskulin. Ada pepatah yang mengatakan bagi pria yang ingin menonjolkan sisi sensualitas dan kejantanan diri tanpa perlu memperlihatkan aurat tubuh, kenakanlah pakaian dari satin. Atau ingin sekadar menggoda, kenakanlah pakaian dari satin. Kilauan cahaya yang dipantulkan oleh pakaian satin menarik perhatian dan meningkatkan gairah dari lawan jenis. Satin yang mengkilap dipercaya akan membawa pikiran ke "alam fantasi" dibanding bahan dari kain biasa.

Dewasa ini, semakin banyak pria menggunakan satin sebagai bahan jas atau kemeja pria karena terasa lebih nyaman di tubuh, enak dilihat dan diraba (kainnya), baik untuk ke kantor bekerja seharian penuh maupun untuk acara formal dan non-formal lainnya. Kemeja satin cocok dipadu-padankan dengan celana bahan ataupun kulit. Sebelumnya, satin telah banyak digunakan sebagai bahan untuk pakaian pesta dan pakaian tidur (piyama atau kimono/robe).

Harga kain satin dewasa ini juga semakin terjangkau, membuatnya semakin banyak diminati.

Pranala luar