Syafaat
Syafaat (bahasa Arab: شفاعة) dalam Islam adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu bahaya bagi orang lain yang berdosa.
Kata tersebut berasal dari kata syaf‘ (شَّفْعُ) yang bermakna "genap". Maksudnya, orang yang memberi syafaat melengkapi apa saja yang telah dicapai oleh orang lain.[1] Oleh karena itu, syafaat adalah bentuk doa kepada Allah yang dilakukan oleh orang yang dekat dengan-Nya atas nama umat beriman yang mencari pembebasan dari azab.[2][3]
Terdapat pertentangan mengenai siapa yang boleh menjadi perantara dengan Tuhan serta memberi syafaat. Ada yang berpendapat bahwa para pendukung Wahhabisme mengingkari syafaat Muhammad,[3] sementara pihak yang lain bersikeras bahwa mereka hanya menentang permohonan syafaat dari “orang yang telah meninggal dan sejenisnya”.[4] Masalah lainnya adalah apakah menjadikan seorang wali sebagai perantara kepada Allah "dengan permintaan tertentu" adalah halal (diperbolehkan) atau "perbuatan mengada-adakan perkara baru (bidʻah)".[5]Persoalan lainnya adalah apakah permohonan doa syafaat berisiko membuat orang semakin berani melakukan dosa, hal ini harus dianggap sebagai secercah harapan yang membawa orang-orang berdosa kembali ke jalan yang benar setelah mereka berbuat salah terhadap diri mereka sendiri.[6]
Kata syafaat pada Hari Pembalasan muncul 29 kali pada Al-Qur'an, tetapi tak ada satu pun yang secara spesifik menyebutkan Muhammad atau "nabi" sebagai pemberi syafaat. Meskipun demikian, kepercayaan terhadap syafaat Muhammad adalah ajaran yang ada dalam Sunni dan Syiah serta didukung oleh hadis. Syiah juga memperluas gagasan syafaat dengan memasukkan Dua Belas Imam dan “sahabat dekat Tuhan” lainnya (Awliya)
None of the 29 mentions of Shafa'ah on the Day of Judgement in the Quran specifically include Muhammad or "the office of prophethood". Nonetheless belief in the intercession of Muhammad is a doctrine of both Sunnis and Shiites supported by hadith. Shia also extend the idea of mediation to include The Twelve Imams and other "intimate friends of God" (Awliya).[2][6]
Popular belief among Muslims is that "all but the most sinful" Muslims will be saved by Muḥammad's intercession and God's mercy at "the final time".[7]
Lihat pula
Catatan kaki
Referensi
- ^ Tabataba'i, Muhammad Husayn (1983). al-Mīzãn; An Exegesis of the Qur'ãn. Diterjemahkan oleh Sayid Saeed Akhtar Rizvi. Beirut: World Organization for Islamic Services. hlm. 264–293.
- ^ a b Dakake, Maria Massi. Seyyed Hossein Nasr, ed. The Charismatic Community Shi˜ite Identity in Early Islam. Albany: State University of New York Press. hlm. 132–137, 172–173.
- ^ a b Al-Qazwini, Sayyid Moustafa (9 January 2013). "Inquiries About Shi'a Islam". Islam.org. The Islamic Educational Center of Orange County.
- ^ "Do Wahhabis deny Shafa'ah (intercession)". Salafiyya. Diakses tanggal 28 April 2022.
- ^ Heck, Paul L. (2012). "An Early Response to Wahhabism from Morocco: The Politics of Intercession". Studia Islamica. 107 (2): 235–254. doi:10.1163/19585705-12341247 .
- ^ a b Sobhani, Ayatollah Ja'far (2001-09-27). Reza Shah-Kazemi, ed. doctrines of shii islam; A Compendium of Imami Beliefs and Practices. Diterjemahkan oleh Reza Shah-Kazemi. London: I.B.Tauris Publishers. hlm. 132–137. ISBN 978-1-86064-780-2.
- ^ Smith & Haddad, Islamic Understanding, 1981: p.81
Daftar pustaka
- Smith, Jane I.; Haddad, Yvonne Y. (1981). The Islamic Understanding of Death and Resurrection. Albany, N Y: SUNY Press.