Pohon Pengetahuan Tentang yang Baik dan yang Jahat
Pohon Pengetahuan Tentang yang Baik dan yang Jahat adalah sebuah pohon yang menurut mitologi Yahudi dan Kristen ditempatkan Allah di tengah Taman Eden. Kisah ini terdapat dalam Kitab Kejadian pasal 2 dan 3. Menurut Kejadian 2:9, Allah melarang Adam (termasuk juga Hawa) memakannya (2:17). Pohon lain yang juga ada di tengah taman itu adalah Pohon Kehidupan. Kejadian 2:16 menyatakan bahwa Allah mengizinkan mereka makan buah-buahan dari semua pohon lainnya yang ada di taman itu.
Kitab Kejadian 2:16 menyatakan bahwa Allah mengizinkan mereka memakan buah dari pohon manapun juga yang ada di taman itu, termasuk buah Pohon Kehidupan. Ketika Hawa, dan kemudian Adam, memakan buah yang terlarang itu dari Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat (3:6), setelah dicobai oleh si ular (3:1–5), mereka menjadi sadar bahwa mereka telanjang (3:7), dan mereka diusir dari taman itu dan terpaksa hidup dengan bertani "dengan peluh di wajah mereka" (Kejadian 3:19-24).
Penafsiran tentang pohon itu sendiri
Dalam Yudaisme
Menurut tradisi Yahudi, perintah Allah untuk tidak memakan buah dari pohon itu dimaksudkan untuk memberikan kebebasan memilih kepada Adam dan Hawa dan mengizinkan mereka untuk mengumpulkan, dan bukan menerima, kesempurnaan mutlak serta hubungan yang intim dengan Allah, suatu tingkat yang lebih tinggi daripada tingkatan mereka saat mereka diciptakan. Menurut tradisi ini, Adam dan Hawa mestinya dapat mencapai kesempurnaan mutlak dan mempertahankan keabadian andaikan mereka berhasil dalam melawan godaan untuk memakn buah dari pohon itu. Setelah gagal dalam tugas ini, mereka dihukum dengan bekerja untuk suatu masa tertentu untuk memperbaiki alam ciptaan yang telah gagal. Tradisi Yahudi memandang si ular, dan kadang-kadang Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat itu sendiri, sebagai representasi dari kuasa jahat.
Yudaisme Reformasi dan Yudaisme Konservatif tidak melihat "kejahatan" selain daripada tindakan jahat dari manusia sendiri. Pelanggaran Hawa satu-satunya adalah bahwa ia tidak menaati perintah Allah. Adam ada bersamanya sepanjang waktu dan sama sekali tidak berusaha menghentikannya. Karena itu, tidaklah tepat bila kita mempersalahkan Hawa semata-mata. Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden dan harus menjalani hidup manusia yang biasa. Dengan kata lain, mereka harus "meninggalkan rumah" dan bertumbuh dan hidup sebagai manusia yang bertanggung jawab. Andaikan mereka tak pernah memakan buah dari pohon larangan itu, mereka tidak akan pernah menemukan kapasitas mereka untuk bertindak dengan kehendak bebas di dunia. Allah tidak menginginkan manusia yang tidak mempunyai pilihan dan hanya melakukan apa yang baik dan benar.
Rabbi David Fohrman dari Yayasan Hoffberger untuk Studi Torah, mengutip tulisan Maimonides, Guide for the Perplexed, menyatakan bahwa "pohon itu tidak memberikan kepada kita kesadaran moral ketika kita tidak mempunyainya. Sebaliknya, ia mentransformasikan kesadaran ini dari satu jenis ke jenis yang lainnya." Setelah memakan buah pohon itu, perasaan yang ada di dalam diri manusia untuk memiliki kesadaran moral ditransformasikan dari konsep salah dan benar menjadi konsep baik dan jahat. Kitab Kejadian menggambarkan pohon itu sebagai pohon yang menarik (3:6), dan konsep kita tentang baik dan jahat, berbeda dengan konsep kita tentang salah dan benar, juga mempunyai ukuran keinginan yang tersirat (implicit measure of desire). [2]
Dalam Agama Kristen
Dalam teologi Kristen, Pohon Pengetahuan tentang Yang Baik dan Yang Jahat terkait dengan doktrin tentang dosa asal. Augustinus dari Hippo percaya bahwa umat manusia mewarisi dosa itu sendiri dan kesalahan atas dosa Adam dan Hawa. Dengan memakan buah pohon itu, Adam dan Hawa berusaha menjadi seperti Allah. Untuk perdebatan tentang doktrin Gereja Barat mengenai dosa asal dan doktrin Gereja Timur tentang dosa nenek moyang, lihat "Ancestral Versus Original Sin: An Overview with Implications for Psychotherapy."[1] Ada sekelompok kecil orang Kristen yang memegang doktrin Pelagius. Pelagianisme adalah doktrin yang percaya bahwa setiap individu menghadapi pilihan yang sama antara dosa dan keselamatan seperti yang dihadapi oleh Adam dan Hawa.
Dalam Agama Islam
Dalam literatur agama Islam pohon ini dikenal dengan sebutan Pohon Khuldi, walaupun dalam Kitab Suci Al-Qur'an sendiri nama pohonnya tidak disebutkan.