Pulau Bawean

pulau di Kabupaten Gresik

Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, sekitar 80 Mil atau 120 kilometer sebelah utara Gresik. Secara administratif, pulau ini termasuk dalam Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Belanda (VOC) masuk pertama kali ke Pulau ini pada tahun 1789.[1] Sebelum tahun 1974 Pulau Bawean masuk dalam wilayah Kabupaten Surabaya sebelum di bentuknya Kabupaten Gresik namun sejak tahun 1974 pulau Bawean di masukkan kedalam wilayah Kabupaten Gresik karena memang letaknya lebih dekat dengan Kabupaten Gresik [2][3][4][5].

Bawean
Geografi
LokasiAsia Tenggara
Koordinat5°46′S 112°40′E / 5.767°S 112.667°E / -5.767; 112.667
KepulauanKepulauan Sunda Besar
Pemerintahan
NegaraIndonesia
Kependudukan
Penduduk70.000 jiwa
Peta

Bawean memiliki 2 kecamatan yaitu Sangkapura dan Tambak. Jumlah penduduknya sekitar 70.000 [6] jiwa yang merupakan pembauran beberapa suku yang berasal dari pulau Jawa, Madura, Kalimantan[7] ,Sulawesi dan Sumatera termasuk budaya dan bahasanya. Penduduk Bawean kebanyakan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan atau petani selain juga menjadi TKI di Malaysia dan Singapura. Etnis mayoritas penduduk Bawean adalah Suku Bawean, diikuti oleh Suku Jawa, Madura dan suku-suku lain misalnya Bugis, Mandar,Mandailing dan Palembang.

Bahasa pertuturan mereka adalah bahasa Bawean. Bukannya bahasa Madura seperti yg dimaklumkan sebelum ini. Di Malaysia dan Singapura, penyebutan suku ini berubah menjadi Boyan. Mereka menyebut diri mereka orang Boyan,[8] maksudnya orang Bawean.[9] Tokoh yang berasal dari Pulau Bawean yaitu Pahlawan Nasional Harun Thohir[10][11], Yahya Zaini dan beberapa lagi yang mempunyai tempat dalam pergulatan Nasional, bahkan internasional seperti Noh Alam Shah, Mahali Jasuli.

Etimologi

 
Lokasi
Berkas:Noko keren.JPG
Pulau Noko Bawean
Berkas:Noko2.JPG
Pantai Noko Bawean

Kata Bawean berasal dari bahasa Sanskerta, yang berarti ada sinar matahari. Menurut legenda, sekitar tahun 1350[12], sekelompok pelaut dari Kerajaan Majapahit terjebak badai di Laut Jawa dan akhirnya terdampar di Pulau Bawean pada saat matahari terbit. Kitab Negarakertagama menyebutkan bahwa pulau ini bernama Buwun[13][14] , Awal abad ke-16 agama Islam masuk ke Bawean yang dibawa oleh Maulana Umar Mas'ud. Makamnya hingga kini merupakan tujuan peziarah lokal maupun dari luar Bawean.Makam Umar Mas'ud berada di wilayah Sangkapura yang terletak di pantai selatan pulau tersebut. Sedang di pantai utara, tepatnya di desa Diponggo ada kuburan seorang ulama wanita penyebar Islam di daerah itu, namanya Waliyah Zainab, terletak di atas dataran tinggi.

Pulau Putri

Bawean sering disebut juga Pulau Putri karena banyak laki-laki muda yang merantau ke pulau Jawa atau ke luar negeri. Orang Bawean yang merantau ke Malaysia dan Singapura membentuk perkampungan di sana. Di negeri jiran masyarakat Bawean dikenal dengan istilah orang Boyan. Banyak juga para perantau ini yang berhasil dan menjadi orang terkenal di Indonesia, Malaysia maupun Singapura.

 
Peta Bawean ( tahun 1780)
Berkas:1620-2.jpg
Gudang Militer VOC di Pelabuhan Sangkapura ( tahun 1851)
Berkas:Dermaga bawean.jpeg
Dermaga Sangkapura, Pulau Bawean (2009)
 
Pelabuhan di Sangkapura, pulau Bawean.
Berkas:Molod bawean.jpg
Suasana Perayaan Maulid di Pulau Bawean
 
Pantai di pulau Noko (tahun 1953)

Dalam legenda pulau putri, pulau bawean tempat berlabuhnya keluarga dari kerajaan Campa yang akan menuju pulau Jawa, mereka berlabuh dikarenakan Putri raja tersebut sakit, dan konon meninggal di bawean, untuk menhormati sang putri pulau tersebut dinamakan pulau putri. Sampai sekarang ini makam beliau masih ada tepatnya berada di desa Kumalasa yang dikenal sebagai makam jujuk Campa.

Flora dan Fauna

Di Bawean terdapat spesies rusa yang hanya ditemukan (endemik) di Bawean, yaitu Axis kuhli. Selain itu di Pulau Bawean juga ditanam manggis, salak, buah merah, dan durian untuk konsumsi lokal. Puluhan spesies ikan laut juga terdapat di pantai pulau ini.

Lain-lain

Mayoritas penduduk Bawean beragama Islam, sedangkan penduduk non-Muslim biasanya adalah para pendatang. Yang khas dari Bawean adalah batu onyx. Sejenis batu marmer. Batu ini dijadikan hiasan dan juga lantai. Selain itu juga ada "buah merah". Ini berbeda dengan buah merah asli papua. Bentuknya bulat seperti apel. Namun ada yang seperti ini di Magetan tapi warnanya agak kuning. Buah Merah di Bawean terbagi dalam 2 jenis, satu warna merah dan yang kedua berwarna kuning, yang berwarna kuning di bawean dikenal dengan jenis Buah Merah Mentega, buah jenis ini (buah merah) juga tumbuh di daerah lain seperti juga di magetan, tp buanya cenderung kecil bila dibandingkan di bawean, dan di daerah lain lebih dikenal dengan nama buah mentega..!!

Bahasa Bawean

Bahasa Bawean ditengarai sebagai kreolisasi bahasa Madura, karena kata-kata dasarnya yang berasal dari bahasa ini, namun bercampur aduk dengan kata-kata Melayu dan Inggris serta bahasa Jawa[15][16] karena banyaknya orang Bawean yang bekerja atau bermigrasi ke Malaysia dan Singapura, Bahasa Bawean memiliki ragam dialek bahasa biasanya setiap kawasan atau kampung mempunyai dialek bahasa sendiri seperti Bahasa Bawean Dialek Daun, Dialek Kumalasa[17] , Dialek Pudakit dan juga Dialek Diponggo. Bahasa ini dituturkan di Pulau Bawean, Gresik, Malaysia, dan Singapura [18]. Di dua tempat terakhir ini Bawean dikenal sebagai Boyanese. Intonasi orang Bawean mudah dikenali di kalangan penutur bahasa Madura. Perbedaan kedua bahasa dapat diibaratkan dengan perbedaan antara bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia[19], yang serupa tapi tak sama meskipun masing-masing dapat memahami maksudnya. Contoh-contoh:

  • eson atau ehon = aku (sengkok/engkok dalam bahasa Madura daratan)
  • kalaaken = ambilkan (kalaagghi dalam bahasa Madura daratan)
  • tak kabessanyo'on/ naddeh nyo'on = terimakasih (salengkong / sakalangkong / kalangkong dalam Bahasa Madura daratan)
  • olo = kepala (sera/cetak dalam bahasa Madura daratan)
  • sakotik = sedikit (sakone dalam bahasa Madura daratan)
  • kathirik = sendiri (kadibhik dalam bahasa Madura daratan)
  • toghellen = kerabat/saudara (tretan/taretan dalam bahasa Madura)
  • beremma = bagaimana (de'remmah dalam bahasa Madura)
  • dissan = sana (dissah dalam bahasa Madura)
  • keyan = juga (kiyah dalam bahasa Madura)

Perbandingan dengan bahasa Melayu

Bahasa Bawean juga banyak yang sememangnya sama dengan Bahasa Melayu, contohnya:

  • Dapur (baca: Depor) = Dapur
  • Kanan = Kanan
  • Banyak (baca: bennyak) = Banyak
  • Masuk (baca: masok) = Masuk
  • Suruh (baca: soroh) = Suruh

Perbedaan imbuhan di depan, contohnya:

  • Ngakan = Makan
  • Ngenom = Minum
  • Arangkak / Ngarangkak = Merangkak
  • Tojuk-tojuk =Duduk-duduk
  • Asapoan/ Nyapo = Nyapu
  • Apandir = Bicara -> apandir termasuk bahasa halus, dalam bahasa sehari-hari "Ngocak-ngocak"

Konsonan {{[j]}} biasanya ditukar ke [d͡ʒ], seperti:

  • Bajar (baca: Bejer) = Bayar
  • Lajan (baca: Lacjen) = Layan
  • Sombhajang (baca: Sombhejeng) = Sembahyang

konsonan A dalam bahsa bawean cenderung berganti jadi E, seperti:

  • Bhabang (baca: Bhebeng)= Bawang
  • Jhaba (baca: jhebe) = Jawa
  • Bebe = Bawah

Perbandingan dengan bahasa Jawa

Perkataan yang sama dengan bahasa Jawa:

Bahasa Jawa = Bahasa Bawean

  • Kadung = Kadung (Bahasa Melayu = Terlanjur)
  • Peteng = Peteng (Bahasa Melayu = Gelap)
  • Kauber = Kaobher ( sempat )
  • Larang = Larang ( mahal )
  • Dungaren = Dhingaren
  • Sungkan = Songkan
  • Sinten = Senten

Konsonan [w] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [b], seperti:

Bahasa Jawa ~ Bahasa Bawean

  • Lawang = Labang(baca Labeng) (Bahasa Melayu = Pintu)

Konsonan [j] di pertengahan pula ditukar ke konsonan [d͡ʒ], seperti:

  • Payu = paju (Bahasa Melayu = Laku)

Perbandingan dengan bahasa Banjar

Perkataan yang sama dengan bahasa Banjar:

Bahasa Banjar = Bahasa Bawean

  • Mukena = Mukena (Bahasa Melayu = Telekung Sembahyang)
  • Bibini = Bibini (Bahasa Melayu = Perempuan)

Perbandingan dengan Bahasa Tagalog

Bahasa Bawean = Bahasa Tagalog

  • Apoy = Apoy (Bahasa Melayu = Api)
  • Elong = Elong; penggunaan [e] (Bahasa Melayu = Hidung)
  • Mate = Mamatay (Bahasa Melayu = Mati)

Contoh Bahasa Bawean:

  • Eson terro ka be'na = Saya sayang kamu (di Bawean ada juga yang menyebutnya Ehon)
  • Buk, bede berrus? = Buk, ada sikat? (berrus dari kata brush)
  • Mak, pamelleaken pellem = Mak, belikan mangga ( ada pengaruh Jawa kuno di akhiran -aken).
  • Silling na se bucor la mare e pabender = langit-langit nya yang bocor sudah diperbaiki ( silling bahasa bawean dipengaruhi bahasa melayu (inggris : ceiling ), langit-langit dalam bahasa asli bawean adalah "Sentek" )
  • Araa..mak ghik bede edinnak, ekowa la alajer ka singgapur = Araa..kok masih disini, katanya sudah pergi berlayar ke singapura ( kalimat 'Araa' tidak ada artinya hanya untuk mengungkapkan ke akraban bercampur kaget, kata alajer (Berlayar) untuk menunjukkan orang bawean pergi keluar dari pulau Bawean )

Lihat pula

Referensi

Pranala luar

Templat:Link GA Templat:Link FA