Zaenal Arief (lahir 3 Januari 1981) adalah seorang pemain sepak bola Indonesia dan berposisi sebagai penyerang. Saat ini dia bermain untuk Madura United di Liga Super Indonesia. Pada Piala Asia 2007 yang lalu, ia menjadi cadangan striker untuk Tim nasional sepak bola Indonesia. Zaenal Arief adalah kakak dari Yandi Sofyan pemain yang saat ini bermain untuk SAD Indonesia

Zaenal Arief
Informasi pribadi
Nama lengkap Zaenal Arief
Tanggal lahir 3 Januari 1981 (umur 43)
Tempat lahir Garut, Indonesia
Tinggi 177 m (580 ft 8+12 in)
Posisi bermain Striker
Informasi klub
Klub saat ini Manchester United
Nomor 96
Karier senior*
Tahun Tim Tampil (Gol)
1997–1998 Persigar Garut ?? (??)
1998–2000 Persib Bandung ?? (??)
2000–2005 Persita Tangerang 48 (44)
2006–2009 Persib Bandung 52 (18)
2009–2010 Persisam Putra 29 (3)
2010–2011 Persikabo Bogor 18 (10)
2011–2012 PSPS Pekanbaru 29 (9)
2012– Madura United 33 (8)
Tim nasional
2000 Indonesia U-19
2001–2003 Indonesia U-23
2002–2007 Indonesia 23 (14)
* Penampilan dan gol di klub senior hanya dihitung dari liga domestik

Karier Klub

PERSIGAR GARUT

Zaenal memulai karier sebagai sepakbola bersama klub kota kelahirannya, Persigar. Ia memulai debut di tim utama ketika ia masih berusia 16 tahun. Zaenal bertahan di Persigar selama satu musim.

PERSIB BANDUNG

Pada musim 1998, Zaenal pindah ke klub Kota Bandung, Persib Bandung. Selama disini, ia jarang mendapat jatah bermain karena kalah bersaing dengan pemain-pemain senior Persib yang lain. Ia pun hanya bertahan selama dua musim hingga musim 1999.

Persita Tangerang

Pada musim 2000, Ia dikontrak oleh Persita Tangerang. Di klub ini lah ia mulai mendapat jatah bermain, Ia memulai debut sebagai pemain utama di usianya yang menginjak 20 tahun. Pada tahun 2006, ketika berusia 25 tahun, Ia mendapat panggilan untuk bermain dengan Timnas Indonesia. Zaenal, yang kini sudag berlabel Timnas, mulai diminati oleh banyak klub. Ia bertahan di Persita hingga pertengahan musim 2006.

Kembali ke PERSIB

Dengan statusnya sebagai pemain Timnas, Persib berminat untuk menarik nya kembali. Pada pertengahan musim 2006, Zaenal pindah ke Persib. Di musim pertamanya bersama Persib, Ia berhasil menyelamatkan klub kota Bandung ini dari ancaman degradasi setelah lolos di babak play-off. Di musim 2006, Ia menjadi bagian dari tim utama secara rutin.

Di musim berikutnya, musim 2007 ia mulai harus bekerja keras kembali untuk mendapat jatah tempat utama setelah Persib Bandung mengontrak Christian Bekamenga yang secara langsung mendapat garansi di tim utama. Posisi striker kedua di isi oleh Zaenal dan Redouanne Barkaoui secara bergantian. Karena mendapat sanksi dari PSSI setelah melakukan tindakan indisipliner, Ia tidak bisa bermain di paruh kedua musim 2007.

Musim 2008/2009 kembali menjadi musim yang sulit untuk Zaenal. Setelah menjadi starter di dua pertandingan awal Liga Super Indonesia dan mencetak gol di kedua pertandingan, ia kerap berada di bangku cadangan dengan kehadiran Hilton Moreira, Rafael Alves Bastos, dan pemain muda Airlangga Sucipto yang mulai menunjukan kemampuannya. Ia pun sering dibekap cedera. Pada pertengahan musim, ia sempat dikabarkan akan pindah ke Pelita Jaya, namun ia tetap bertahan di Persib.

Persisam Samarinda

Pada awal musim 2009/2010, Ia memutuskan untuk pindah ke Persisam Samarinda. Klub juara Divisi Utama Liga Indonesia Musim 2008/09 yang promosi ke Superliga Indonesia. Ia memilih nomor punggung 9 dan menjadi ujung tombak utama tim ini. Sayang penampilannya di awal musim kurang baik dan sempat dibekap cedera parah. Penampilannya kembali ke level atas saat mencetak gol pertamanya bersama Persisam pada match ke 14 yang mengantarkan Persisam memenangi pertandingan atas Persib Bandung (Klubnya sebelum ke Persisam) di Stadion Segiri Samarinda.

Karier Tim Nasional

Zaenal Arif memulai karier internasional nya ketika ia berusia 25 tahun. Pada tahun 2007, ia termasuk dalam skuat Indonesia di Piala Asia 2007. Namun ia tidak diturunkan sama sekali. Ketika Indonesia sedang mempersiapkan diri melawan Korea Selatan, ia melakukan tindakan indisipliner dengan meninggal kan tempat latihan dan pergi melewati batas waktu yang ditentukan. Ia pun segera dicoret dari Tim Nasional dan mendapat hukuman skorsing dari pertandingan-pertandingan Liga Indonesia selama satu musim. Ia pun akhirnya mendapat grasi dari Ketua Umum PSSI dan bisa bermain kembali. Hingga kini, ia masih menunggu panggilan Timnas yang berikutnya.

Pranala luar