Andi Maddusila Andi Idjo

Andi Maddusila Andi Idjo (9 Juli 1950 – 10 Juni 2018),[1] biasa di panggil Patta Nyonri adalah seorang anak pertama dari keturan Raja Gowa ke 36 (Andi Idjo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin) yang pernah mencalonkan diri sebagai bupati kabupaten gowa periode 2015-2020, dengan tagline "#wattunnaMi".[2]

Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II
Sultan Gowa ke - 37
PendahuluAndi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang
Kelahiran9 Juli 1950 (umur 74)
Makassar, Sulawesi Selatan
Kematian10 Juni 2018
Rumah Sakit Bahagia, Makassar, Sulawesi Selatan
PasanganNurmawati
KeturunanAndi Ivan A. Idjo
Andi Mirasari A. Idjo
Andi Ichsan A. Idjo
Andi Maulina A. Idjo
KebangsaanIndonesia
PekerjaanPensiunan Pegawai negeri
Partai politikPartai Demokrat
Situs webandimaddusila.com

Kiprah

sunting

Andi Maddusila dinobatkan sebagai Raja Gowa oleh Sekretaris Jenderal Forum Keraton se Nusantara, Gunarso G. Kusumodiningrat pada Senin, 17 Januari 2011 sekitar pukul 15.00 Wita bertempat di Perumahan Megasari Jalan Jipang Raya, Makassar. Acara ini disaksikan sekitar 300 orang dan dihadiri keturunan raja-raja dari berbagai daerah. Di antaranya Bate Salapang Takalar, Tallo, serta Bate Salapang Gowa seperti Tombolo, Lakiung, Parang-parang, dan Akangje'ne. Maddusila resmi sebagai Raja Gowa ke-37 dengan gelar Andi Maddusila Patta Nyonri Karaeng Katangka bergelar Sultan Alauddin II .[3]

Andi Maddusila adalah salah satu tokoh yang melantik dirinya sebagai raja di luar wilayah Kerajaan Gowa. Sebagai putra dari Raja Gowa sebelumnya, Andi Idjo Karaeng Lalolang, Andi Idjo merasa memiliki hak sebagai raja selanjutnya, meskipun ayahnya yang merupakan Bupati Pertama Kabupaten Gowa, sudah mendeklarasikan diri sebagai Raja Gowa terakhir.[4]

Andi Maddusila selain dikenal sebagai raja yang penuh kontroversi termasuk lokasi pelantikan yang tidak dilakukan di kerajaan melainkan di hotel horison juga dikenal sering mengaduk suasana politik di daerahnya.[5] Ia bahkan dikenal di Sulawesi Selatan sebagai tokoh yang penuh dengan kegagalan di poitik. Setidaknya selama adanya Pilkada langsung, Andi Maddusila selalu menjadi kontestas dan belum pernah sekalipun menang.

Tak hanya berkompetisi di momen Pilkada, Andi Maddusila juga termasuk tokoh yang selalu gagal di Pemilihan Legislatif (Pileg). Terhitung Andi Maddusila sudah lima kali kalah di pertarungan menjadi bupati dan dua kali gagal di Pileg.[6] Kekalahan Andi Maddusila bahkan selalu berujung bentrok. Entah Maddusila yang tidak terima ataupun pendukungnya. Selalu ada konflik besar dari kekalahannya.[7]

Kewafatan

sunting

Pada hari minggu, tanggal 10 Juni 2018, Raja Gowa ke-37 ini, atau I Maddusila Daeng Manyonri Karaeng Katangka Sultan Alauddin II dikabarkan wafat pada pukul 17.00 Wita di Rumah Sakit Bahagia Makassar.[1]

Referensi

sunting
  1. ^ a b "Raja Gowa Ke-37 Andi Maddusila Idjo Tutup Usia". Berita Terkini Hari Ini. 2018-06-10. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-07-25. Diakses tanggal 2018-07-25. 
  2. ^ Nurmin, Waode (22 Maret 2015). "Maddusila Kumpulkan Lima Partai Maju di Pilkada Gowa". Tribunnews.com. Tribun Timur. Diakses tanggal 6 April 2015. 
  3. ^ SAHRUL (17 Januari 2011). "Pelantikan Maddusila Sebagai Raja Gowa Dihadang Massa". Tempo.co. tempo.co. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-04-11. Diakses tanggal 6 April 2015. 
  4. ^ "LAD dan Isu Sesat | Kabupaten Gowa". humas.gowakab.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-08-23. 
  5. ^ "Dewan Adat: Dilantik di Hotel, Raja Gowa tidak Sah | Republika Online". Republika Online. Diakses tanggal 2017-08-23. 
  6. ^ Arfah, Muh. Hasim. "Arqam Azikin: Maddusila Sudah Raja, Lima Kali Ingin Jadi Bupati Gowa". Tribunnews.com. Diakses tanggal 2017-08-23. 
  7. ^ Mappesona,Supriatin. Billiocta, Ya'cob, ed. "Cerita pendukung keturunan raja Gowa tak terima kalah dan mengamuk". Merdeka.com. Diakses tanggal 2017-08-23.