Angkringan

penjual jajanan di pinggir jalan

Angkringan (aksara Jawa: ꦲꦁꦏꦿꦁ, Angkring) merupakan bangunan panggung dari kayu atau bambu dikebudayaan Jawa tanpa ada pintu atau jendela yang difungsikan sebagai tempat berkumpul, bahasa lainnya ialah Cangkruk). Angkringan ini tidak berbeda dengan Cangkruk, Saung di Sunda, Khobung di Madura, Dhurung di Bawean.[1][2]

Sebuah Musala dengan nama Angkringan di Ponorogo yang dibangun pada tahun 1905

Di Ponorogo, Angkringan berbentuk panggung merupakan tempat sarana spiritual para Jawara Warok untuk menerima ilmu, kemudian berkembang menjadi surau kecil atau Musala seperti di Pondok Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari pada abad 17 dan di Plalangan dengan nama Musala Angkringan didirkan pada tahun 1905.[3]

Berjalannya waktu, Angkringan yang juga difungsikan sebagai Pos Ronda menjadi titik kumpul warga untuk mengamankan desa sehingga menarik para pedagang Pikulan yang menyediakan makanan dan minuman disekitar Angkringan, sehingga pedagang kuliner ini identik dengan Angkringan.[4]

Sehingga berjalnnya waktu, para pedangan Pikulan kuliner ini mengganti menjadi gerobak rombong dan dikenal dengan Angkringan secara lebih luas dengan menyediakan kulineran makanan gorengan ataupun bakaran dan minuman hangat.

Galeri

sunting
 
Sebuah angrkingan dengan gerobak dan bangku panjang.

Pranala luar

sunting
  1. ^ "Mengenal Dhurung Bawean, Tempat Warga Gresik Berkumpul hingga Menyimpan Padi yang Dilengkapi Alat Penghalau Tikus". merdeka.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-02-03. 
  2. ^ Hasan, Nor (2012-03-18). "KOBUNG (Bangunan Tradisional Pewaris Nilai Masyarakat Madura Tempo Dulu)". Karsa: 71–80. doi:10.19105/karsa.v13i1.134. ISSN 2442-3289. 
  3. ^ Kompasiana.com (2022-01-06). "Menguak Spirit Langgar Tertua di Tegalsari Ponorogo". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-02-03. 
  4. ^ "Melihat Indonesia Melalui Pos Ronda". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. 2019-07-13. Diakses tanggal 2025-02-03.