Wiracarita Gilgamesh ("Epik Gilgamesh"; "Epos Gilgamesh") adalah sebuah puisi epik dari Mesopotamia kuno, yang dianggap sebagai karya sastra signifikan terawal dan teks keagamaan tertua kedua yang selamat setelah Teks Piramida. Sejarah sastrawi mengenai Gilgamesh dimulai dengan 5 puisi berbahasa Sumeria yang ditulis sekitar tahun 2100 SM.[1] Masing-masing cerita independen pada kelima puisi tersebut kemudian digunakan sebagai bahan sumber pada epik gabungan dalam bahasa Akkadia. Versi pertama yang selamat dari gabungan epik ini, dikenal sebagai versi "Babilonia Lama" berasal dari abad ke-18 SM, diberi judul atas frasa pembukanya yaitu Shūtur eli sharrī ("Melampaui Semua Raja"). Hanya sebagaian kecil dari tablet-tablet versi ini yang selamat dan berhasil ditemukan. Versi berikutnya yaitu versi Standar Babilonia dikompilasi oleh Sîn-lēqi-unninni di sekitar abad ke-13 SM sampai ke-10 SM dengan frasa awal Sha naqba īmuru ("Dia yang melihat ke dalam jurang", atau dalam istilah modern: "Dia yang melihat yang tidak diketahui"). Sekitar dua pertiga dari versi dua belas tablet yang lebih panjang ini telah berhasil dipulihkan. Beberapa salinan terbaik ditemukan di reruntuhan perpustakaan raja Asiria abad ke-7 SM, Ashurbanipal.

Bulan Sabit Subur
seri mitos
Gambar pohon palma
Gambar pohon palma
Mesopotamia
Mitos Levantin
Mitos Arabia
Agama Yazidik
Mitologi Mesopotamia
Topik

Dewa-dewa

Para pahlawan

Monster

Yang terkait

Paruh pertama dari kisahnya membahas Gilgamesh yang merupakan raja dari Uruk; dan Enkidu, seorang pria liar yang diciptakan oleh para Dewa untuk menghentikan penindasan yang dilakukan Gilgamesh terhadap rakyat Uruk. Setelah Enkidu menjadi lebih beradab seusai inisiasi seksual dengan Shamhat, seorang pelacur suci, Enkidu pun melakukan perjalanan ke Uruk, untuk menghentikan Gilgamesh dari praktik yang dianggap Enkidu tidak beradab, yaitu menyetubuhi perempuan-perempuan yang baru saja menikah, mendahului suami-suami mereka. Enkidu pun menghadapi Gilgamesh, namun Enkidu kalah. Terkesan akan kemampuan Enkidu, Gilgamesh pun berteman dengannya, dan bersama mereka kemudian melakukan perjalanan enam hari ke hutan Aras yang legendaris, di mana mereka kemudian menaklukkan Sang Penjaga, Humbaba si Mengerikan, dan menebang pohon Aras suci.[2]

Dewi Ishtar jatuh cinta kepada Gilgamesh dan menginginkannya agar menjadi suaminya, namun Gilgamesh menolak. Dewi Ishtar yang marah mengirim Banteng Surgawi untuk menghukum Gilgamesh. Akan tetapi Gilgamesh berhasil membunuh banteng tersebut dengan bantuan Enkidu. Tidak senang akan hal tersebut Para Dewa memutuskan untuk memberikan hukuman mati kepada Enkidu.[3]

Di paruh kedua dari wiracarita ini, kesedihan atas kematian Enkidu membuat Gilgamesh melakukan pejalanan panjang dan berbahaya untuk menemukan rahasia kehidupan abadi.[4] Ia pun berhasil menemui leluhurnya, Utnapishtim yang memiliki kehidupan abadi. Gilgamesh diberi tahu olehnya bahwa kehidupan abadinya didapatkan setelah dirinya menyelamatkan kehidupan di bumi dari banjir bandang yang didatangkan oleh Dewa Enlil dengan membangun kapal raksasa atas pedoman Dewa Ea. Utnapishtim menasihati Gilgamesh untuk meninggalkan pencariannya akan keabadian, namun memberinya sebuah ujian melawan tidur jika Gilgamesh tetap ingin memperolehnya. Gilgamesh gagal melewati ujian tersebut. Utnapishtim lalu memberitahunya tentang tanaman yang dapat membuatnya muda kembali. Gilgamesh memperoleh tanaman itu dari dasar laut di Dilmun (kerap dianggap sebagai Bahrain saat ini) tetapi seekor ular mencurinya. Gilgamesh pun kembali ke rumahnya di kota Uruk,[5] setelah meninggalkan harapannya akan keabadian ataupun menjadi muda kembali.

Sejarah

sunting
 
Lempengan tentang air bah mengenai wiracarita Gilgamesh dalam bahasa Akkadia

Pemerintahan Gilgamesh yang dianggap historis diyakini berlangsung sekitar tahun 2700 SM-2500 SM, 200-400 tahun sebelum kisah-kisah tertulis tertua yang dikenal. Penemuan artifak yang berkaitan dengan Agga dan Enmebaragesi dari Kish, dua raja lainnya yang disebut dalam cerita-cerita ini, telah memberikan kredibilitas kepada keberadaan historis Gilgamesh (Dalley 1989: 40-41).[6]

Sejarah wiracarita ini sering kali dibagi ke dalam tiga periode: lama, menengah, dan kemudian. Sementara ada banyak versi dari cerita ini selama rentangan hampir 2000 tahun, hanya periode old dan kemudian yang telah memberikan cukup banyak temuan yang cukup signifikan yang memungkinkan penerjemahan yang koheren. Oleh karena itu, versi Babilonia lama, dan apa yang kini dirujuk sebagai edisi standar adalah teks-teks yang paling sering dimanfaatkan. Meskipun demikian, edisi standarnya telah menjadi dasar bagi terjemahan-terjemahan modern, dan versi lama hanya melengkapi versi standar apabila celah dalam lempengan tulisan pakunya besar.

Versi Sumeria tertua dari wiracarita ini berasal dari masa Dinasti ketiga Ur (2150 SM-2000 SM) (Dalley 1989: 41-42). Versi Akkadia paling awal berasal dari awal milenium kedua (Dalley 1989: 45). Versi Akkadia "standar", disusun oleh Sin-liqe-unninni pada masa antara 1300 SM dan 1000 SM. Versi-versi Akkadia standard dan yang lebih awal dibedakan berdasarkan kata-kata pembukaannya. Versi yang lebih tua dimulai dengan kata-kata "Mengalahkan semua raja lainnya", sementara pembukaan versi standarnya incipit adalah "Ia yang melihat kedalaman" (ša nagbu amāru). Kata bahasa Akkadia nagbu, "kedalaman", kemungkinan harus diterjemahkan di sini sebagai "misteri yang tidak dikenal". Namun, Andrew George percaya bahwa kata ini merujuk kepada pengetahuan khusus yang dibawa kembali Gilgamesh dari perjumpaannya dengan Uta-napishti: di sana ia memperoleh pengetahuan tentang ranah Ea, yang ranah kosmiknya dianggap sebagai mata air hikmat (George 1999: L [hlm. 50 dari bagian pengantar]). Pada umumnya, para penafsir merasa bahwa Gilgamesh diberikan pengetahuan tentang bagaimana menyembah para dewata, tentang mengapa kematian ditetapkan untuk manusia, tentang apa yang menjadikan seseorang raja yang baik, dan tentang hakikat sejati tentang bagaimana menjalani hidup yang baik.

Lempengan ke-11 mengandung mitos air bah yang kebanyakan disalin dari Wiracarita Atrahasis. Lihat Mitos air bah Gilgamesh.

Lempengan ke-12 kadang-kadang diperluas untuk ditambahkan hingga sisa wiracaritanya untuk mewakili lanjutan dari ke-11 lempengan aslinya, dan kebanyakan ditambahkan di kemudian hari. Lempengan ini biasanya tidak disertakan hingga belakangan ini. Bagian ini mengandung inkonsistensi cerita yang mengejutkan: memperkenalkan Enkidu yang masih hidup, dan mengandung apa yang tampaknya tidak banyak berkiatan dengan wiracarita 11 lempengan yang tersusun dengan baik hingga selesai. Bahkan dapat dikatakan bahwa wiracarita ini disusun di sekitar struktur lingkaran; di sini barisi-baris permulaan wiracaritanya dikutip pada akhir lempengan ke-11 untuk memberikan kepadanya sifat melingkar (sirkularitas) dan sekaligus finalitasnya. Lempengan 12 sesungguhnya sebuah salinan yang mirip dari cerita yang sebelumnya, di mana Gilgamesh mengutus Enkidu untuk mencari sejumlah benda miliknya dari Dunia Bawah, namun Enkidu meninggal dunia dan kembali dalam bentuk roh untuk mengisahkan sifat Dunia Bawah kepada Gilgamesh – sebuah kejadian yang tampaknya terlalu berlebihan, mengingat mimpi Enkidu tentang dunia bawah dalam Lempengan ke-7.[7]

Wiracarita Gilgamesh banyak dikenal sekarang. Terjemahan modern pertama dari wiracarita ini dikerjakan pada 1870-an oleh George Smith.[1] Lebih banyak terjemahan mutakhir termasuk sebuah yang dikerjakan dengan bantuan novelis Amerika John Gardner, dan John Maier, yang diterbitkan pada 1984. Pada 2001, Benjamin Foster menerbitkan sebuah bacaan penolong dalam Norton Critial Edition Series yang mengisi banyak kekosongan dari edisi standar dengan bahan sebelumnya. Edisi standar yang paling berwibawa adalah karya kritis tersunting dua jilid oleh Andrew George yang terjemahannya juga muncul dalam seri Penguin Classics pada 2003. Karya ini mewakili pembahasan yang paling lengkap atas bahan edisi standar. Ia membahas dg panjang lebar keadaan arkeologis bahannya, memberikan eksegesis lempengan demi lempengan dan memberikan terjemahan dwi-bahasa dua sisi.

Isi dari tablet-tablet versi Babilonia Standar

sunting

Ringkasan ini berdasarkan terjemahan Andrew George.[8]

Tablet pertama

sunting

Ceritanya memperkenalkan Gilgamesh, raja Uruk. Gilgamesh, dua pertiga dewa dan sepertiga manusia, menindas rakyatnya, yang berseru kepada para dewa untuk meminta bantuan. Bagi para wanita muda Uruk, penindasan ini mengambil bentuk droit du seigneur, atau "hak tuan", untuk tidur dengan pengantin wanita pada malam pernikahan mereka. Bagi para pria muda (tablet ini rusak pada titik ini) diduga bahwa Gilgamesh menguras tenaga mereka melalui permainan-permainan, uji kekuatan, atau mungkin kerja paksa pada proyek-proyek pembangunan. Para dewa menanggapi permohonan rakyat dengan menciptakan seorang yang setara dengan Gilgamesh yang akan mampu menghentikan penindasannya. Orang tersebut adalah seorang pria yang primitif bernama Enkidu, yang tubuhnya ditutupi rambut dan hidup di alam liar bersama hewan-hewan. Dia ditemukan oleh seorang pemburu hewan, yang mata pencahariannya hancur karena Enkidu mencabut perangkap yang telah disiapkannya. Si pemburu hewan memberi tahu dewa matahari, Shamash tentang pria itu, dan kemudian direncanakan agar Enkidu dirayu oleh Shamhat, seorang perempuan penghibur di kuil, langkah pertama agar dirinya dijinakkan. Setelah enam hari dan tujuh malam (atau dua minggu, menurut penelitian yang lebih baru[9]) bercinta dan mengajari Enkidu tentang nilai-nilai peradaban, dia membawa Enkidu ke perkemahan penggembala untuk belajar bagaimana menjadi orang yang beradab. Sementara itu, Gilgamesh telah bermimpi tentang kedatangan seorang teman baru yang sangat disayanginya dan meminta ibunya, Ninsun, untuk membantu menafsirkan mimpi-mimpi ini.

Tablet kedua

sunting

Shamhat membawa Enkidu ke perkemahan para penggembala, di mana ia diperkenalkan dengan makanan manusia dan menjadi petugas jaga malam. Mengetahui dari orang asing yang lewat tentang perlakuan Gilgamesh terhadap para mempelai baru, Enkidu geram dan melakukan perjalanan ke Uruk untuk mengintervensi hal tersebut. Ketika Gilgamesh mencoba untuk memasuki ruang pernikahan, Enkidu menghalangi jalannya, dan mereka pun berkelahi. Setelah pertempuran sengit, Enkidu mengakui kekuatan superior Gilgamesh dan mereka pun berteman. Gilgamesh mengusulkan perjalanan ke Hutan Aras untuk membunuh Humbaba, sosok separuh dewa yang mengerikan, untuk mendapatkan ketenaran dan kemasyhuran. Meskipun ada peringatan dari Enkidu dan dewan tetua, Gilgamesh tidak bergeming.

 
Fragmen Tablet II dari Epos Gilgamesh, Museum Sulaymaniyah, Irak

Tablet ketiga

sunting

Para tetua memberikan nasihat kepada Gilgamesh terkait perjalanannya. Gilgamesh mengunjungi ibunya, dewi Ninsun, yang mencari bantuan dan perlindungan dari dewa matahari, Shamash, untuk petualangan mereka. Ninsun mengadopsi Enkidu sebagai putranya, dan Gilgamesh menitipkan instruksi-instruksi untuk pemerintahan Uruk selama ketidakhadirannya.

Tablet keempat

sunting
 
Mimpi kedua Gilgamesh dalam perjalanan ke Hutan Aras. Tablet Epos Gilgamesh dari Hattusa, Turki. Abad ke-13 SM. Museum Neues, Jerman

Gilgamesh dan Enkidu melakukan perjalanan ke Hutan Aras. Setiap beberapa hari mereka berkemah di sebuah gunung, dan melakukan ritual mimpi. Gilgamesh mendapatkan lima mimpi menakutkan tentang gunung-gunung yang berjatuhan, badai petir, banteng-banteng liar, dan seekor burung petir yang menghembuskan api. Meskipun ada kemiripan antara tokoh-tokoh mimpinya dan deskripsi sebelumnya tentang Humbaba, Enkidu menafsirkan mimpi-mimpi ini sebagai pertanda baik, dan menyangkal bahwa gambar-gambar menakutkan itu mewakili si penjaga hutan. Ketika mereka mendekati gunung aras, mereka mendengar Humbaba berteriak-teriak, sehingga mereka harus saling menyemangati untuk tidak takut.

Tablet kelima

sunting

Kedua pahlawan tersebut memasuki hutan pohon aras. Humbaba, penjaga Hutan Cedar, memaki dan mengancam mereka. Ia menuduh Enkidu berkhianat, dan bersumpah untuk mencincang Gilgamesh dan memberi makan dagingnya kepada burung-burung. Gilgamesh takut, tetapi dengan beberapa kata penyemangat dari Enkidu, pertempuran pun dimulai. Gunung-gunung berguncang dengan gejolak dan langit berubah menjadi hitam. Dewa Shamash mengirimkan 13 angin untuk mengikat Humbaba, dan dia pun berhasil tertangkap. Humbaba memohon untuk hidupnya, dan Gilgamesh mengasihaninya. Dia menawarkan untuk menjadikan Gilgamesh raja hutan, menebang pohon-pohon untuknya, dan menjadi budaknya. Namun, Enkidu berpendapat bahwa Gilgamesh harus membunuh Humbaba untuk membangun reputasinya selamanya. Humbaba melaknat mereka berdua dan Gilgamesh membunuhnya dengan hantaman di leher, serta membunuh ketujuh putranya.[9] Kedua pahlawan ini menebang banyak pohon aras, termasuk pohon raksasa yang Enkidu rencanakan untuk dibuat menjadi gerbang untuk kuil Enlil. Mereka membangun rakit dan kembali ke rumah di sepanjang sungai Efrat dengan pohon raksasa dan (mungkin) kepala Humbaba.

 
Tablet V dari Epos Gilgamesh
 
Sisi terbalik dari tablet V yang baru ditemukan dari Epos Gilgamesh. Tablet ini berasal dari periode Babilonia kuno, 2003-1595 SM, dan saat ini disimpan di Museum Sulaymaniyah, Irak.

Tablet keenam

sunting

Gilgamesh menolak rayuan dewi Ishtar karena perlakuan buruknya terhadap kekasih-kekasihnya sebelumnya seperti Dumuzi. Ishtar meminta ayahnya, Anu untuk mengirim Banteng Surgawi untuk membalaskan dendamnya. Ketika Anu menolak keluhannya, Ishtar mengancam akan membangkitkan orang mati yang akan "melebihi jumlah yang hidup" dan "melahap mereka". Anu menyatakan bahwa jika dia memberinya Banteng Surga, Uruk akan menghadapi 7 tahun kelaparan. Ishtar pun memberinya persediaan selama 7 tahun sebagai ganti banteng itu. Ishtar membawa Banteng Surga ke Uruk, dan itu menyebabkan kehancuran yang meluas. Banteng itu menurunkan permukaan sungai Efrat, mengeringkan rawa-rawa, serta membuka lubang-lubang besar yang menelan 300 orang. Tanpa bantuan dari dewa, Enkidu dan Gilgamesh menyerang dan membunuhnya, dan mempersembahkan jantungnya kepada Shamash. Ketika Ishtar berteriak, Enkidu melemparkan salah satu bagian belakang banteng ke arahnya. Kota Uruk merayakannya, tetapi Enkidu bermimpi buruk tentang kejatuhannya di masa depan.

Tablet ketujuh

sunting

Dalam mimpi Enkidu, para dewa memutuskan bahwa salah satu dari kedua pahlawan itu harus mati karena mereka telah membunuh Humbaba dan Gugalanna. Terlepas dari protes Shamash, sang dewa matahari, Enkidu pun ditetapkan untuk mati. Enkidu mengutuk pintu besar yang telah dibuatnya untuk kuil Enlil. Dia juga mengutuk si pemburu hewan dan Shamhat, si wanita penghibur karena mengeluarkannya dari alam liar. Shamash, sang dewa matahari mengingatkan Enkidu tentang bagaimana Shamhat memberinya makan dan pakaian, dan memperkenalkannya kepada Gilgamesh. Shamash memberitahu Enkidu bahwa Gilgamesh akan memberikan penghormatan besar kepadanya pada saat pemakamannya, dan akan mengembara ke alam liar dengan diliputi kesedihan oleh kematiannya. Enkidu menyesali kutukannya dan berbalik memberkati Shamhat, si wanita penghibur. Namun, dalam mimpi kedua, dia melihat dirinya ditawan di Dunia Bawah oleh Malaikat Maut yang menakutkan. Dunia Bawah adalah "rumah debu" dan kegelapan yang penghuninya mengonsumsi tanah liat, dan berpakaian bulu burung, diawasi oleh makhluk-makhluk yang menakutkan. Selama 12 hari, kondisi Enkidu memburuk. Akhirnya, setelah meratapi bahwa dia tidak bisa menemui kematian yang heroik dalam pertempuran, dia pun meninggal. Dalam sebuah baris yang terkenal dari epik ini, Gilgamesh memeluk tubuh Enkidu dan menyangkal bahwa dia telah mati sampai seekor belatung jatuh dari hidung jenazah Enkidu.

Tablet kedelapan

sunting

Gilgamesh mengungkapkan duka cita untuk Enkidu, di mana ia menyerukan kepada gunung-gunung, hutan-hutan, ladang-ladang, sungai-sungai, binatang-binatang buas, dan seluruh Uruk untuk berduka untuk sahabatnya itu. Mengingat petualangan mereka bersama, Gilgamesh mencabik rambut dan pakaiannya dalam kesedihan. Ia membuatkan sebuah patung untuk pemakaman Enkidu, dan menyediakan kado-kado kuburan dari kekayaannya untuk memastikan Enkidu mendapat sambutan yang baik di dunia orang mati. Sebuah perjamuan besar diadakan di mana hartanya dipersembahkan kepada dewa-dewa di alam baka. Tepat sebelum jeda dalam teks, terdapat sebuah indikasi bahwa sebuah sungai sedang dibendung, yang menandakan pemakamannya terjadi di dasar sungai, seperti dalam puisi Sumeria yang terkait, Kematian dari Gilgamesh.

Tablet kesembilan

sunting

Tablet ke sembilan dibuka dengan Gilgamesh yang mengembara di alam liar dengan mengenakan kulit binatang, sedang berduka untuk Enkidu. Setelah sekarang menjadi takut akan kematiannya sendiri, dia memutuskan untuk mencari Utnapishtim ("Yang Jauh"), untuk mempelajari rahasia kehidupan abadi. Di antara beberapa orang yang selamat dari Banjir Besar, Utnapishtim dan istrinya adalah satu-satunya manusia yang telah diberikan keabadian oleh para dewa. Gilgamesh menyeberangi sebuah gunung di malam hari dan bertemu dengan singa-singa. Sebelum tidur, ia berdoa memohon perlindungan kepada dewa bulan, Sin. Kemudian, terbangun dari mimpi yang menggembirakan, ia membunuh singa-singa itu dan menggunakan kulit mereka untuk dijadikan pakaian. Setelah perjalanan panjang dan berbahaya, Gilgamesh tiba di puncak kembar Gunung Mashu di ujung bumi. Dia menemukan sebuah terowongan, yang belum pernah dimasuki manusia, dijaga oleh dua monster kalajengking, yang tampaknya adalah pasangan suami istri. Sang suami mencoba menghalangi Gilgamesh untuk melewatinya, tetapi sang istri turun tangan, mengungkapkan simpati kepada Gilgamesh, dan mengizinkannya lewat. Dia melewati kolong pegunungan di sepanjang Jalan Matahari. Dalam kegelapan total, ia mengikuti jalan itu selama 12 "jam ganda", dan berhasil menyelesaikan perjalanan sebelum Matahari menyusulnya. Dia tiba di Taman para dewa, sebuah surga yang penuh dengan pohon-pohon yang bertabur permata.

Tablet kesepuluh

sunting

Gilgamesh bertemu dengan Siduri, seorang wanita pembuat bir, yang awalnya mengira bahwa Gilgamesh adalah seorang pembunuh atau pencuri karena penampilannya yang acak-acakan. Gilgamesh menceritakan tujuan perjalanan kepada Siduri. Setelah mendengarnya, Siduri pun berusaha mencegah Gilgamesh dari pencariannya, namun Gilgamesh tidak goyah, dan akhirnya Siduri pun mengarahkannya ke Urshanabi si tukang perahu, yang akan membantunya menyeberangi lautan menuju Utnapishtim. Gilgamesh, karena kemarahan spontan, menghancurkan jimat batu yang dimiliki Urshanabi. Gilgamesh menceritakan kisahnya, tetapi ketika dia meminta bantuan Urshanabi, Urshanabi memberitahu Gilgamesh bahwa Gilgamesh baru saja menghancurkan benda-benda yang dapat membantu mereka menyeberangi Perairan Kematian, yang mematikan jika disentuh. Urshanabi menginstruksikan Gilgamesh untuk menebang 120 pohon dan membuatnya menjadi tongkat pengayuh. Ketika mereka mencapai pulau tempat Utnapishtim tinggal, Gilgamesh menceritakan kisahnya, dan meminta bantuannya. Utnapishtim menegurnya, menyatakan bahwa melawan nasib manusia adalah sia-sia dan mengurangi kebahagiaan hidup.

Tablet kesebelas

sunting
 
George Smith menerjemahkan dan membaca "Kisah Banjir Babilonia" dari Tablet XI

Gilgamesh mengamati bahwa Utnapishtim kelihatannya tidak berbeda dengan dirinya sendiri, dan bertanya kepadanya bagaimana dia memperoleh keabadiannya. Utnapishtim menjelaskan bahwa para dewa memutuskan untuk mengirimkan banjir besar. Untuk menyelamatkan Utnapishtim, dewa Enki menyuruhnya untuk membuat perahu. Dia memberinya dimensi yang tepat, dan perahu itu disegel dengan lapisan aspal dan bitumen. Seluruh keluarganya naik ke atas kapal bersama dengan para pengrajinnya dan "semua binatang ternak". Badai dahsyat kemudian muncul yang menyebabkan dewa-dewa yang ketakutan kembali ke langit. Ishtar meratapi kehancuran umat manusia secara besar-besaran, dan dewa-dewa lain menangis di sampingnya. Badai berlangsung selama enam hari enam malam, setelah itu "semua manusia berubah menjadi tanah liat". Utnapishtim menangis ketika melihat kehancuran. Perahunya bersandar di sebuah gunung, dan dia melepaskan seekor burung merpati, burung layang-layang, dan seekor burung gagak. Ketika burung gagak gagal kembali, dia membuka bahtera dan membebaskan penghuninya. Utnapishtim mempersembahkan kurban kepada para dewa, yang kemudian mencium aroma harumnya dan berkumpul di sekelilingnya. Ishtar bersumpah bahwa seperti halnya dia tidak akan pernah melupakan kalung cemerlang yang menggantung di lehernya, dia juga akan selalu mengingat saat ini. Ketika Enlil tiba, dirinya marah karena ada manusia yang selamat. Ishtar pun mengutuk Enlil karena telah memicu terjadinya banjir. Enki juga ikut mengutuk Enlil karena mengirimkan hukuman yang tidak proporsional. Enlil pun sadar akan kesalahannya dan kemudian memberkati Utnapishtim dan istrinya karena telah berperan besar menyelamatkan kehidupan di bumi, dan menghadiahi mereka dengan kehidupan kekal. Kisah ini sebagian besar cocok dengan kisah banjir yang mengakhiri Epos Atra-Hasis.[10][11]

Poin utamanya tampaknya adalah bahwa ketika Enlil memberikan kehidupan kekal, itu adalah hadiah yang unik. Seolah-olah untuk menunjukkan hal ini, Utnapishtim menantang Gilgamesh untuk tetap terjaga selama enam hari tujuh malam. Gilgamesh tertidur, dan Utnapishtim menginstruksikan istrinya untuk memanggang sepotong roti pada setiap hari dia tertidur, sehingga dia tidak dapat menyangkal kegagalannya untuk tetap terbangun. Gilgamesh, yang berusaha menaklukkan kematian, ternyata menaklukkan tidur saja tidak bisa. Setelah menginstruksikan Urshanabi, sang tukang perahu, untuk memandikan Gilgamesh dan memakaikannya jubah kerajaan, Gilgamesh berangkat ke Uruk. Ketika hendak berangkat, istri Utnapishtim meminta suaminya untuk memberikan hadiah perpisahan. Utnapishtim memberitahu Gilgamesh bahwa di dasar laut hiduplah sebuah tanaman berduri yang dapat membuat Gilgamesh muda kembali. Gilgamesh, mengikatkan batu-batu pada kakinya sehingga ia dapat berjalan di dasar laut, dan berhasil mendapatkan tanaman itu. Gilgamesh bermaksud untuk menyelidiki apakah tanaman itu memiliki kemampuan peremajaan yang dihipotesiskan dengan mengujinya terlebih dahulu pada seorang pria tua begitu ia kembali ke Uruk.[12] Ketika Gilgamesh berhenti untuk mandi, tanaman itu dicuri oleh seekor ular, yang melepaskan kulitnya saat ia pergi. Gilgamesh menangis karena kesia-siaan usahanya, karena dia sekarang telah kehilangan semua kesempatan untuk keabadian. Gilgamesh pun kembali ke Uruk, di mana pemandangan tembok-temboknya yang megah mendorongnya untuk menyanjung karya yang abadi ini kepada Urshanabi.

Tablet keduabelas

sunting

Tablet ini terutama merupakan terjemahan bahasa Akkadia dari puisi berbahasa Sumeria yang lebih awal, "Gilgamesh dan Alam Baka" (juga dikenal sebagai "Gilgamesh, Enkidu, dan Alam Baka" dan varian-variannya), kendati telah disinyalir bahwa tablet ini berasal dari versi yang tidak diketahui dari cerita tersebut.[13] Isi dari tablet terakhir ini tidak konsisten dengan tablet-tablet sebelumnya: Enkidu masih hidup, meskipun telah meninggal sebelumnya dalam epik tersebut. Karena hal ini, kurangnya integrasi dengan tablet-tablet lainnya, dan fakta bahwa tablet ini hampir merupakan salinan dari versi yang sudah ada sebelumnya, maka tablet ini disebut sebagai 'pelengkap anorganik' dalam epik tersebut.[14] Atau, ada yang berpendapat bahwa "tujuannya, meskipun ditangani secara buruk, adalah untuk menjelaskan kepada Gilgamesh (dan pembaca) berbagai nasib orang mati di alam baka" dan dalam "upaya yang canggung sebagai sebuah penutup", ini menghubungkan Gilgamesh dalam epik ini dengan Gilgamesh yang merupakan Raja Alam Baka,[15] dan merupakan "sebuah batu terakhir yang dramatis di mana epik dua belas tablet berakhir pada satu tema yang sama, yaitu "melihat" (= memahami, menemukan, dsb), yang dengannya epik ini dimulai."[16]

Gilgamesh mengeluh kepada Enkidu bahwa berbagai harta miliknya (tablet ini tidak jelas persisnya apa - terjemahan yang berbeda termasuk drum dan bola) telah jatuh ke alam baka. Enkidu menawarkan untuk mengambilnya untuknya. Dengan senang hati, Gilgamesh memberi tahu Enkidu apa yang harus dan tidak boleh dilakukannya di dunia bawah jika dia ingin kembali. Enkidu melakukan segala sesuatu yang diperintahkan untuk tidak dilakukannya. Dunia bawah tetap menahannya. Gilgamesh berdoa kepada para dewa untuk mengembalikan temannya. Enlil dan Suen tidak menjawab, akan tetapi Enki dan Shamash memutuskan untuk membantu. Shamash membuat retakan di bumi, dan arwah Enkidu melompat keluar dari retakan itu. Tablet ini diakhiri dengan Gilgamesh yang menanyai Enkidu tentang apa yang telah dilihatnya di dunia bawah/underworld.


Versi-versi Babilonia lama

sunting

Versi-versi dari wiracarita ini, yang disebut dalam beberapa fragmen Melampaui semua raja-raja lain, terdiri dari tablet-tablet dan fragmen-fragmen dari beragam asal-usul dan kondisi konservasi.[17] Sebagian besar masih belum lengkap, dengan beberapa tablet hilang dan terdapat kekosongan besar pada tablet-tablet yang ditemukan. Tablet-tablet dari versi ini dinamai sesuai dengan lokasinya saat ini atau tempat di mana mereka ditemukan.

Tablet Pennsylvania

sunting

Melampaui semua raja-raja lainnya Tablet II, sangat berkorelasi dengan tablet I-II versi Babilonia Standar. Gilgamesh menceritakan kepada ibunya, Ninsun, tentang dua mimpi yang ia alami. Ibunya menjelaskan bahwa mimpi-mimpi itu bermakna bahwa seorang pendamping baru akan segera tiba di Uruk. Sementara itu Enkidu yang liar dan pendeta wanita (di sini disebut Shamkatum) berhubungan seks, dan wanita itupun berhasil menjinakkannya. Mereka pun pergi ke perkemahan para penggembala yang menawarkan roti dan bir kepada mereka. Enkidu membantu para penggembala tersebut dengan menjaga domba-domba mereka. Lalu Enkidu melakukan perjalanan ke Uruk untuk menghadapi Gilgamesh demi menghentikan kekejamannya. Enkidu dan Gilgamesh bertarung tetapi Gilgamesh mengakhiri pertarungan. Enkidu memuji Gilgamesh.

Tablet Yale

sunting

Melampaui semua raja-raja lain Tablet III, sebagian sesuai dengan tablet II-III versi Babilonia Standar. Untuk alasan yang tidak diketahui (tablet ini sebagiannya rusak). Enkidu berada dalam suasana hati yang sedih. Untuk menghiburnya, Gilgamesh menyarankan untuk pergi ke Hutan Pinus untuk menebang pohon-pohon dan membunuh Humbaba (dikenal di sini sebagai Huwawa). Enkidu memprotes, karena ia mengenal Huwawa dan menyadari kekuatannya. Gilgamesh mengajak Enkidu untuk melakukannya dengan beberapa kata penyemangat, tetapi Enkidu tetap merasa ragu. Mereka pun bersiap, dan memanggil para tetua. Para tetua juga memprotes, tetapi setelah Gilgamesh berbicara dengan mereka, mereka setuju untuk membiarkannya pergi. Setelah Gilgamesh meminta perlindungan kepada dewanya (Shamash), dan keduanya mempersenjatai diri, mereka pun pergi dengan restu dan nasihat dari para tetua.

Fragmen Philadelphia

sunting

Kemungkinan versi lain dari isi Tablet Yale, hampir tidak dapat dipulihkan lagi.

Tablet sekolah Nippur

sunting

Dalam perjalanan ke hutan cedar dan Huwawa, Enkidu menafsirkan salah satu mimpi Gilgamesh.

Tablet-tablet Tell Harmal

sunting

Fragmen-fragmen dari dua versi/tablet yang berbeda menceritakan bagaimana Enkidu menafsirkan salah satu mimpi Gilgamesh dalam perjalanan ke Hutan Aras, dan percakapan mereka ketika memasuki hutan.

Tablet Ishchali

sunting

Setelah mengalahkan Huwawa, Gilgamesh menahan diri untuk tidak membunuhnya, dan mendesak Enkidu untuk memburu "tujuh aura" Huwawa. Enkidu meyakinkan Gilgamesh untuk menghabisi musuh mereka. Setelah membunuh Huwawa dan para aura, mereka menebang sebagian hutan dan menemukan tempat tinggal rahasia para dewa. Sisa dari tablet itu rusak.

Aura-aura ini tidak disebut dalam versi Babilonia Standar, tetapi ada di salah satu puisi Sumeria.

Sebagian fragmen di Baghdad

sunting

Sebagian tumpang tindih penebangan pohon dari tablet Ishchali.

Tablet Sippar

sunting

Sebagian tumpang tindih dengan tablet versi Babilonia Standar IX-X. Gilgamesh yang berduka atas kematian Enkidu pergi mengembara untuk mencari keabadian. Gilgamesh berdebat dengan Shamash tentang kesia-siaan pencariannya. Setelah sebuah kekosongan, Gilgamesh berbicara dengan Siduri tentang pencariannya dan perjalanannya untuk bertemu Utnapishtim (di sini disebut Uta-na'ishtim). Siduri berusaha menghalangi Gilgamesh dalam pencariannya akan keabadian, mendesaknya untuk puas dengan kesenangan hidup yang sederhana.[18][19] Setelah satu kekosongan lagi, Gilgamesh menghancurkan "batu-batu" dan berbicara dengan tukang perahu Urshanabi (di sini disebut Sur-sunabu). Setelah diskusi singkat, Sur-sunabu memintanya untuk memahat 300 dayung sehingga mereka dapat menyeberangi air kematian tanpa memerlukan "batu-batu". Sisa dari tablet ini hilang.

Teks pada fragmen Meissner Babilonia Kuno (fragmen tablet Sippar yang lebih besar yang masih ada) telah digunakan untuk merekonstruksi kemungkinan bentuk-bentuk awal dari Epos Gilgamesh, terdapat pendapat bahwa "bentuk cerita yang sebelumnya – lebih awal bahkan dari yang tersimpan pada fragmen Babilonia Kuno – mungkin saja diakhiri dengan Siduri yang mengirim Gilgamesh kembali ke Uruk ..." dan "Utnapistim pada awalnya bukan merupakan bagian dari kisah tersebut."[20]

Puisi-puisi Sumeria

sunting

Terdapat lima cerita Gilgamesh yang selamat dalam bentuk puisi-puisi lama dalam bahasa Sumeria.[21] Kelima cerita ini mungkin tersirkulasi secara independen, bukan dalam bentuk sebuah epos yang terpadu. Beberapa nama dari karakter-karakter utama dalam puisi-puisi ini sedikit berbeda dari nama-nama Akkadia yang kemudian; sebagai contoh, "Bilgamesh" ditulis ketimbang "Gilgamesh", dan ada beberapa perbedaan dalam cerita-cerita yang mendasarinya seperti misalnya fakta bahwa Enkidu adalah pelayan Gilgamesh dalam versi Sumeria:

  1. Cerita Sang penguasa menuju Gunung dari Yang Hidup dan Ho, hurrah! sesuai dengan episode Hutan Aras (versi Babilonia Standar tablet II-V). Gilgamesh dan Enkidu melakukan perjalanan dengan orang-orang lain ke Hutan Cedar. Di sana, terjebak oleh Huwawa, Gilgamesh memperdayainya (dengan bantuan Enkidu dalam salah satu versi) untuk menyerahkan auranya, sehingga kehilangan kekuatannya.
  2. Cerita Pahlawan dalam pertempuran sesuai dengan episode Banteng Surgawi (tablet versi Babilonia Standar VI) dalam versi Akkadia. Nafsu makan Banteng yang rakus menyebabkan kekeringan dan kesengsaraan di negeri itu ketika Gilgamesh berpesta. Lugalbanda meyakinkan Gilgamesh untuk menghadapi binatang buas itu dan melawannya bersama Enkidu.
  3. Cerita Utusan Akka tidak memiliki episode yang sesuai dalam epos ini, tetapi tema-tema tentang apakah Gilgamesh akan menunjukkan belas kasihan kepada para tawanan, dan nasihat dari para tetua kota, juga muncul dalam versi Babilonia Standar dari kisah Humbaba. Dalam syair itu, Uruk menghadapi pengepungan dari pasukan Kish yang dipimpin oleh Raja Akka, yang dikalahkan dan dimaafkan oleh Gilgamesh.[22]
  4. Cerita Pada masa itu, di masa yang jauh itu, atau dikenal sebagai Gilgamesh, Enkidu, dan Alam Baka, merupakan sumber bagi terjemahan Akkadia yang dimasukkan sebagai tablet XII dalam versi Babilonia Standar, yang menceritakan perjalanan Enkidu ke Alam Baka. Ini juga merupakan sumber informasi utama untuk mitos penciptaan Sumeria dan kisah "Inanna dan Pohon Huluppu".[23]
  5. Cerita Banteng liar yang besar sedang berbaring, sebuah puisi tentang kematian, penguburan, dan penahbisan Gilgamesh sebagai seorang setengah dewa yang memerintah dan memberikan keputusan atas orang-orang mati. Setelah memimpikan bagaimana para dewa memutuskan nasibnya setelah kematiannya, Gilgamesh berunding, mempersiapkan pemakamannya dan mempersembahkan hadiah-hadiah kepada para dewa. Setelah meninggal, ia dikuburkan di bawah sungai Efrat, dibawa keluar dari jalurnya dan kemudian dikembalikan ke sana.

Pengaruh dalam literatur wiracarita yang belakangan

sunting

Menurut sarjana Yunani Ioannis Kordatos, ada sejumlah besar bait maupun tema atau episode yang paralel yang menunjukkan pengaruh yang cukup besar dari Wiracarita Gilgamesh terhadap Odyssey, puisi wiracarita Yunani yang disebut sebagai karya Homerus.[24]

Hubungan dengan Alkitab

sunting

Berbagai tema, elemen plot, dan karakter dalam Wiracarita Gilgamesh memiliki hubungan dalam kitab Kejadian, terutama cerita dari Taman Eden dan Air bah (mitologi).

Taman Eden

sunting

Kesejajaran antara kisah-kisah Enkidu/Shamhat dengan Adam/Hawa telah lama diakui oleh para peneliti.[25] Dalam cerita tersebut, seorang pria diciptakan dari tanah oleh dewa, dan hidup di alam bersama binatang. Dia diperkenalkan kepada seorang wanita yang menggoda dia. Dalam cerita itu, pria menerima makanan dari wanita, meliputi ketelanjangannya, dan harus meninggalkan bekas wilayah kekuasaannya, juga tidak dapat kembali. Kehadiran seekor ular yang mencuri tanaman keabadian dari pahlawan kemudian dalam epik ini adalah titik lain dari kesamaan cerita.

Air Bah

sunting

Andrew R. George menyampaikan bahwa Air bah (mitologi) di Kejadian 6-8 cocok dengan yang ada di Gilgamesh begitu erat dengan hanya "beberapa keraguan" bahwa itu berasal dari Mesopotamia.[26] Apa yang sangat terlihat adalah jalan cerita dari banjir di kitab Kejadian mengikuti kisah Air bah (mitologi) Gilgamesh dengan "poin demi poin dan di urutan yang sama", bahkan ketika cerita tersebut memungkinkan alternatif lain.[27]

Pada tahun 2001 komentar Taurat dirilis atas nama Gerakan Konservatif Yudaisme, sarjana rabi Robert Wexler mengatakan: "Asumsi yang paling mungkin kita dapat membuat adalah bahwa kedua catatan Kejadian dan Gilgamesh menarik materi mereka dari tradisi umum tentang banjir yang ada di Mesopotamia. Cerita-cerita ini kemudian bercabang ketika menceritakan kembali."[28]

Hubungan lainnya

sunting

Matthias Henze menyatakan bahwa kegilaan karakter Nebukadnezar dalam Kitab Daniel di Alkitab mengacu pada Wiracarita Gilgamesh. Hanze mengklaim bahwa penulis menggunakan unsur-unsur dari deskripsi Enkidu untuk melukiskan potret sarkastik mengenai raja Babel itu.[29]

Banyak karakter dalam Gilgamesh yang memiliki kesamaan dengan mistisisme Alkitabiah. Misalnya Ninti, dewi kehidupan dari Sumeria, yang diciptakan dari tulang rusuk Enki untuk menyembuhkannya setelah dia makan bunga terlarang. Narasi cerita ini mirip dengan kisah Hawa yang diciptakan dari tulang rusuk Adam dalam Kitab Kejadian.[30] Ester J. Hamori, dalam Echoes of Gilgames dalam Cerita Yakub, juga mengklaim bahwa mitos Yakub dan Esau disejajarkan dengan pertandingan gulat antara Gilgamesh dan Enkidu.[31]

Referensi

sunting
  1. ^ Sin-léqi-unnínni (2007). Ele que o abismo viu (dalam bahasa Portugis). Diterjemahkan oleh Jacyntho Lins Brandão. Autêntica. hlm. 23. ISBN 978-85-513-0283-5. 
  2. ^ Krstovic, Jelena O., ed. (2005). Epic of Gilgamesh Classical and Medieval Literature Criticism. 74. Detroit, MI: Gale. ISBN 978-0-7876-8021-3. OCLC 644697404. 
  3. ^ "The Epic of Gilgamesh Tablet VI Summary & Analysis". SparkNotes (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-07-26. 
  4. ^ The Epic of Gilgamesh | Tales of Earth (dalam bahasa Inggris), diakses tanggal 2020-03-01 
  5. ^ "In The Epic of Gilgamesh, what does Gilgamesh gain from his epic quest? Does it change him?". eNotes (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-03-01. Diakses tanggal 2020-03-01. 
  6. ^ Dalley, Stephanie, Myths from Mesopotamia, Oxford University Press, 1989
  7. ^ MythHome: Gilgamesh the 12th Tablet[pranala nonaktif permanen]
  8. ^ George 2003.
  9. ^ a b Al-Rawi, F. N. H.; George, A. R. (2014). "Back to the Cedar Forest: The Beginning and End of Tablet V of the Standard Babylonian Epic of Gilgameš" (PDF). Journal of Cuneiform Studies. 66: 69–90. doi:10.5615/jcunestud.66.2014.0069. JSTOR 10.5615/jcunestud.66.2014.0069. 
  10. ^ George 2003, hlm. xxx.
  11. ^ Brandão 2015, hlm. 106.
  12. ^ George 2003, hlm. 98. "'There is a plant that looks like a box-thorn, it has prickles like a dogrose, and will prick one who plucks it. But if you can possess this plant, you'll be again as you were in your youth.' ... Said Gilgamesh to him: 'This plant, Ur-shanabi, is the "Plant of Heartbeat", with it a man can regain his vigour. To Uruk-the-Sheepfold I will take it, to an ancient I will feed some and put the plant to the test!'"
  13. ^ Dalley 2000, hlm. 42.
  14. ^ Maier, John R. (1997). Gilgamesh: A reader. Bolchazy-Carducci Publishers. hlm. 136. ISBN 978-0-86516-339-3. 
  15. ^ Kovacs, Maureen (1989). The Epic of Gilgamesh. University of Stanford Press. hlm. 117. ISBN 978-0-8047-1711-3. 
  16. ^ van Driel, G.; Krispijn, Th. J. H.; Stol, M.; Veenhof, K. R., ed. (1982). Zikir Šumim: Assyriological Studies Presented to F.R. Kraus on the Occasion of His Seventieth Birthday. hlm. 131. ISBN 978-90-6258-126-9. 
  17. ^ George 2003, hlm. 101–126.
  18. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Mesopotamia: The Good Life
  19. ^ Brandão 2015, hlm. 119.
  20. ^ Abusch, T. Gilgamesh's Request and Siduri's Denial. Part I: The Meaning of the Dialogue and Its Implications for the History of the Epic. |11.05 MB The Tablet and the Scroll; Near Eastern Studies in Honor of William W. Hallo, 1–14. Retrieved 9 September 2013.
  21. ^ George 2003, hlm. 141–208.
  22. ^ Katz, Dina (1993). Gilgamesh and Akka (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm. 14. ISBN 978-90-72371-67-6. 
  23. ^ Kramer, Samuel Noah (1961). Sumerian Mythology: A Study of Spiritual and Literary Achievement in the Third Millennium B.C.: Revised Edition. Philadelphia, Pennsylvania: University of Pennsylvania Press. hlm. 30–41. ISBN 978-0-8122-1047-7. 
  24. ^ Ioannis Kakridis: "Eisagogi eis to Omiriko Zitima" (Pengantar ke Masalah Homerus) In: Omiros: Odysseia. Disunting dengan terjemahan dan komentar oleh Zisimos Sideris, Daidalos Press, I. Zacharopoulos Athens.
  25. ^ Gmirkin, Russell, "Berossus and Genesis, Manetho and Exodus.., Continuum, 2006, p. 103. See also Blenkinsopp, Joseph, "Treasures old and new.." Eerdmans, 2004, pp. 93–95.
  26. ^ A. R. George (2003). The Babylonian Gilgamesh Epic: Introduction, Critical Edition and Cuneiform Texts. Oxford University Press. hlm. 70–. ISBN 978-0-19-927841-1. Diakses tanggal 8 November 2012. 
  27. ^ Rendsburg, Gary. "The Biblical flood story in the light of the Gilgamesh flood account," in Gilgamesh and the world of Assyria, eds Azize, J & Weeks, N. Peters, 2007, p. 117
  28. ^ Robert Wexler, Ancient Near Eastern Mythology, 2001
  29. ^ Leiden, Brill (1999). The Madness of King Nebuchadnezzar... 
  30. ^ Meagher, Robert Emmet (1995). The meaning of Helen: in search of an ancient icon. United States: Bolchazy-Carducci Pubs (IL). ISBN 978-0-86516-510-6. 
  31. ^ Hamori, Esther J. (Winter 2011). "Echoes of Gilgamesh in the Jacob Story". Journal of Biblical Literature. 130 (4): 625–642. doi:10.2307/23488271. JSTOR 23488271. 

Bibliografi

sunting
  • George, Andrew R., trans. & edit. (1999, cetak ulang dengan koreksi 2003). The Epic of Gilgamesh. Penguin Books. ISBN 0-14-044919-1. 
  • Foster, Benjamin R., trans. & edit. (2001). The Epic of Gilgamesh. New York: W.W. Norton & Company. ISBN 0-393-97516-9. 
  • Kovacs, Maureen Gallery, transl. with intro. (1985,1989). The Epic of Gilgamesh. Stanford University Press: Stanford, California. ISBN 0-8047-1711-7.  Glossary, Appendices, Appendix (Chapter XII=Tablet XII). Terjemahan baris demi baris (Bab I-XI).
  • Jackson, Danny (1997). The Epic of Gilgamesh. Wauconda, IL: Bolchazy-Carducci Publishers. ISBN 0-86516-352-9. 
  • Mitchell, Stephen (2004). Gilgamesh: A New English Version. New York: Free Press. ISBN 0-7432-6164-X. 
  • Sandars, N. K. (2006). The Epic of Gilgamesh (Penguin Epics). ISBN 0-14-102628-6 - cetak ulang terjemahan Penguin Classic (dalam prosa) oleh N. K. Sandars 1960 (ISBN 0-14-044100-X) tanpa pengantar.
  • Parpola, Simo, dengan Mikko Luuko, dan Kalle Fabritius (1997). The Standard Babylonian, Epic of Gilgamesh. The Neo-Assyrian Text Corpus Project. ISBN 951-45-7760-4 (Volume 1) dalam huruf paku Akkadia asli dan transliterasi; komentar dan glosarium dalam bahasa Inggris. 

Lainnya

sunting
  • Damrosch, David (2007) The Buried Book: The Loss and Rediscovery of the Great Epic of Gilgamesh. Henry Holt and Co, ISBN 0-8050-8029-5
  • Jacobsen, Thorkild (1976) The Treasures of Darkness, A History of Mesopotamian Religion, New Haven: Yale University Press, ISBN 0-300-01844-4
  • West, Martin (1997) The East Face of Helicon: West Asiatic Elements in Greek Poetry and Myth, New York: Clarendon Press, ISBN 0-19-815042-3

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting
Air bah