Jarasanda

Penguasa Magadha dalam epos Mahabharata
(Dialihkan dari Jarasandha)

Dalam wiracarita Mahabharata, Jarasanda (Dewanagari: जरासन्ध; ,IASTJarāsandha, जरासन्ध) adalah putra dari Raja Wrehadrata, penguasa Kerajaan Magadha. Ia merupakan teman Sisupala, raja di Kerajaan Chedi. Setelah mewarisi takhta, ia bermusuhan dengan Kresna dari Mathura dan menggempur kota tersebut berkali-kali, hingga akhirnya Kresna mendirikan kerajaan baru bernama Dwaraka. Dikisahkan bahwa Jarasanda pandai dalam bergulat. Dalam suatu pertandingan gulat, ia dibunuh oleh Bima atas siasat dari Kresna. Riwayat Jarasanda terutama dikisahkan dalam kitab Mahabharata jilid kedua, yaitu Sabhaparwa. Selain itu, ia juga diceritakan dalam Hariwangsa dan sejumlah Purana.

Jarasanda
जरासंध
Lukisan India yang menggambarkan adegan Bima bergulat dengan Jarasanda (bawah), sementara Arjuna dan Kresna menyaksikan dari kejauhan.
Lukisan India yang menggambarkan adegan Bima bergulat dengan Jarasanda (bawah), sementara Arjuna dan Kresna menyaksikan dari kejauhan.
Tokoh Mahabharata
NamaJarasanda
Ejaan Dewanagariजरासंध
Ejaan IASTJarasandha
Kitab referensiMahabharata, Hariwangsa, Bayupurana
AsalKerajaan Magadha
Kastakesatria
AyahWrehadrata (Brihadrata)
SaudaraSasireka (saudari)
AnakSahadewa

Arti nama

sunting

Dalam bahasa Sanskerta, kata Jarāsandha (जरासन्ध) secara harfiah berarti "disatukan oleh Jara".[1][2] Nama ini terkait dengan legenda mengenai asal usul Jarasanda. Menurut kitab Sabhaparwa, Jarasanda lahir dengan tubuh yang terpisah, tetapi kemudian disatukan oleh seorang raksasi yang bernama Jara.[3]

Kelahiran

sunting

Dalam kitab kedua Mahabharata yang berjudul Sabhaparwa, bagian Rajasuyarambhaparwa diceritakan bahwa Jarasanda merupakan keturunan Raja Wrehadrata dari Kerajaan Magadha. Sebelumnya, sang raja tidak memiliki keturunan, meskipun sudah memiliki dua permaisuri, yang merupakan putri kembar dari kerajaan Kashi. Akhirnya sang raja memutuskan untuk meninggalkan kerajaannya dan hidup di hutan sebagai petapa. Di hutan, ia melayani seorang resi yang bernama Candakosika. Sang resi merasa kasihan kepada raja yang tidak memiliki keturunan. Akhirnya, sang resi memberikan satu buah ajaib untuk dimakan oleh permaisuri sang raja. Karena sang resi tidak tahu bahwa Brihadata memiliki dua permaisuri, maka ia hanya memberikan satu buah saja.[4]

Ketika pulang ke istananya, Wrehadrata memotong buah ajaib pemberian resi Candakosika lalu membaginya kepada dua permaisurinya. Beberapa bulan kemudian, kedua permaisuri Wrehadrata melahirkan anak, tetapi badannya hanya separuh saja serta tidak ada tanda-tanda kehidupan. Karena takut, Wrehadrata memutuskan untuk membuang bayi tersebut ke tengah hutan. Seorang raksasi bernama Jara memungut bayi tersebut dan menyatukan tubuhnya. Saat disatukan, bayi tersebut hidup dan menangis keras. Sang raksasi yang merasa kasihan, menyerahkan bayi tersebut kepada raja dan menjelaskan apa yang telah terjadi. Wrehadrata menamai bayi tersebut Jarasanda, yang secara harfiah berarti "disatukan oleh Jara". Saat Candakosika tiba di istana Wrehadrata, ia melihat si bayi dan meramal bahwa Jarasanda akan memperoleh anugerah istimewa, dan akan terkenal sebagai pemuja Siwa.[4]

Politik

sunting
 
Lukisan Jarasanda mengepung kota Mathura. Lukisan India, abad ke-18, kini disimpan di Museum of Fine Arts, Houston, AS.

Riwayat Jarasanda juga tercatat dalam Purana dan Hariwangsa. Dikisahkan bahwa Jarasanda tumbuh menjadi kesatria yang amat kuat, dan mewarisi takhta ayahnya. Ia senang memperluas wilayah kerajaannya, menaklukkan banyak raja, dan diberi gelar Maharaja Magadha. Sementara kekuatannya terus bertambah, ia merasa cemas memikirkan masa depannya karena tidak memiliki pewaris takhta. Atas nasihat sahabatnya yaitu Banasura, maka Jarasanda mempersembahkan dua putrinya, Asti dan Prapti, untuk dinikahkan kepada Kangsa, seorang pemimpin kaum Yadawa di Mathura. Jarasanda juga meminjamkan pasukan dan penasihatnya kepada Kangsa.

Setelah Kangsa dibunuh oleh keponakannya sendiri yang bernama Kresna, Jarasanda merasa benci kepada Kresna dan berambisi untuk membunuhnya. Melihat kedua dua putrinya telah menjadi janda, Jarasanda bersumpah akan menyerang Mathura dan merebut kota tersebut. Namun usahanya gagal saat Mathura dipimpin Ugrasena, yang didukung oleh Basudewa, penasihat militer Akrura, ditambah kekuatan Kresna dan Baladewa. Kegagalan Jarasanda terjadi berulang-ulang hingga tujuh belas kali.[5][6]

Meskipun usahanya gagal berulang kali, Jarasanda tidak menyerah hingga ia menyerang Mathura untuk yang kedelapan belas kali. Dalam serangannya yang kedelapan belas, ia dibantu oleh Raja Sisupala dari Kerajaan Chedi, dan Kalayawana dari barat. Untuk menanggapi serangan bertubi-tubi tersebut, Kresna memberi saran kepada Raja Ugrasena dan kaum Yadawa untuk mengungsi dan mendirikan kerajaan baru di Dwaraka.[5] Hal itu dilakukan karena alasan strategi peperangan.[6]

Pada suatu hari, Kresna menerima pesan rahasia dari Magadha. Seseorang meminta bantuan Kresna untuk membebaskan para raja yang dipenjara oleh Jarasanda di benteng Giribraja. Karena Kresna tahu bahwa Jarasanda tidak mudah dikalahkan dalam peperangan, maka ia pergi ke Indraprastha untuk meminta bantuan kerabatnya yang bernama Bima dan Arjuna, para pangeran Dinasti Kuru. Mereka pergi menghadap Jarasanda dengan cara menyamar menjadi tiga brahmana. Saat Jarasanda menjamu mereka dan meminta apa yang mereka butuhkan, ketiga brahmana meminta agar Jarasanda bertarung dengan salah seorang di antara mereka. Setelah melakukan pertimbangan, Jarasanda memilih Bima.

Kematian

sunting
 
Bima membelah tubuh Jarasanda menjadi dua bagian, dalam sebuah ilustrasi kitab Bhagawatapurana (ca 1540), kini menjadi koleksi Museum Seni Metropolitan.

Kisah kematian Jarasanda diceritakan dalam kitab Sabhaparwa, bagian Jarasandhabadhaparwa. Dikisahkan bahwa Jarasanda menolak untuk membebaskan para raja yang ditawannya, sehingga ia menerima tantangan duel dan memilih Bima sebagai lawannya. Pertarungan berlangsung sangat lama, sekitar 27 hari. Untuk mengakhiri pertarungan secepatnya, Kresna memberi isyarat kepada Bima. Ia mengambil setangkai ranting pohon, lalu membelahnya menjadi dua dan melemparnya ke arah yang berlawanan. Bima melihat apa yang dilakukan Kresna dan ia mengerti maksud isyarat tersebut. Akhirnya, Bima menarik kaki Jarasanda, menyobek tubuhnya menjadi dua bagian dan melempar potongan tubuh tersebut ke arah yang berlawanan. Akhirnya Jarasanda terbunuh dengan cara demikian.[7]

Setelah kematian Jarasanda, segala raja yang ditawan dapat dibebaskan. Kresna mengangkat putra Jarasanda yang bernama Sahadewa (bukan Sadewa anggota Pandawa) menjadi raja. Sifat anak ini berbeda dengan ayahnya, sehingga Magadha menjadi sekutu Indraprastha. Pada saat perang Kurukshetra, kerajaan Magadha yang dipimpin Sahadewa memihak Pandawa.

Referensi

sunting
  1. ^ "Jarasandha was a very powerful king of Magadha, and the history of his birth and activities is also very interesting - Vaniquotes". vaniquotes.org. Diakses tanggal 2015-12-31. 
  2. ^ "Mahabharat Episode 28: Jarasandha – Born Divided". sadhguru.org. Diakses tanggal 12 May 2020. 
  3. ^ Gokhale, Namita (2013-01-21). The Puffin Mahabharata (dalam bahasa Inggris). Penguin UK. ISBN 978-93-5118-415-7. 
  4. ^ a b Chandrakant, Kamala (1977). Krishna and Jarasandha. India Book House Ltd. hlm. 3–5. ISBN 81-7508-080-9. 
  5. ^ a b Gitananda, Swami. Srimad Bhagavata: The Book of Divine Love (dalam bahasa Inggris). Advaita Ashrama (A publication branch of Ramakrishna Math, Belur Math). ISBN 978-81-7505-837-8. 
  6. ^ a b Chopra, Omesh K. (2020-03-02). History of Ancient India Revisited, A Vedic-Puranic View (dalam bahasa Inggris). BlueRose Publishers. 
  7. ^ Hudson, D. Dennis (2008-09-25). The Body of God: An Emperor's Palace for Krishna in Eighth-Century Kanchipuram (dalam bahasa Inggris). Oxford University Press. ISBN 978-0-19-970902-1. 

Pranala luar

sunting