Rainilaiarivony (30 Januari 1828 – 17 Juli 1896) adalah Perdana Menteri Madagaskar yang menjabat dari tahun 1864 hingga 1895 setelah menggantikan kakaknya, Rainivoninahitriniony, yang menduduki jabatan tersebut selama tiga belas tahun. Jenjang kariernya mirip dengan ayahnya, Rainiharo, tokoh militer terkenal yang menjadi Perdana Menteri pada masa pemerintahan Ratu Ranavalona I.

Simbol artikel pilihan
Artikel ini telah dinilai sebagai artikel pilihan pada 20 Desember 2012 (Pembicaraan artikel)
Rainilaiarivony
Perdana Menteri Madagaskar
Masa jabatan
1864–1895
Informasi pribadi
Lahir30 Januari 1828
Ilafy, Madagaskar
Meninggal17 Juli 1896(1896-07-17) (umur 68)
Aljir, Aljazair Prancis
Suami/istri
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Meskipun Rainilaiarivony dikucilkan dari keluarganya pada masa kecilnya, sebagai seorang pria muda, ia memperoleh jabatan dengan kekuasaan yang cukup tinggi dan mendapatkan kepercayaan dari istana. Ia mengabdi kepada istana bersama dengan ayah dan kakaknya. Pada saat masih berumur 24 tahun, Rainilaiarivony ikut memimpin ekspedisi militer yang penting bersama dengan Rainivoninahitriniony. Setelah kematian Ratu Ranavalona I pada tahun 1861, ia diangkat menjadi Panglima Tertinggi. Ia kemudian memimpin upaya untuk mempertahankan kewenangan keluarga kerajaan di daerah-daerah terpencil dan berperan sebagai penasihat untuk kakaknya yang telah menjadi Perdana Menteri semenjak tahun 1852. Ia juga merupakan salah satu tokoh yang bertanggung jawab atas perubahan dari sistem monarki absolut menjadi monarki konstitusional yang membagi kekuasaan antara ratu dengan Perdana Menteri. Pada tahun 1864, Rainilaiarivony dan Ratu Rasoherina bekerja sama untuk menggulingkan Rainivoninahitriniony dengan dalih penyalahgunaan jabatan. Rainilaiarivony kemudian menggantikannya sebagai Perdana Menteri dan berkuasa selama 31 tahun, sehingga ia merupakan Perdana Menteri dengan masa jabatan terpanjang. Selama masa jabatannya ini, ia pernah menikahi tiga ratu secara berturut-turut, yaitu Rasoherina, Ranavalona II, dan Ranavalona III.

Sebagai Perdana Menteri, Rainilaiarivony secara aktif berusaha memodernkan pemerintahan negara untuk memperkuat dan melindungi Madagaskar dari ambisi kolonial Britania dan Prancis. Angkatan darat dirombak dan diprofesionalkan, wajib belajar dicanangkan, undang-undang yang didasarkan pada hukum Inggris diberlakukan, dan tiga pengadilan didirikan di Antananarivo. Dalam menerapkan kebijakan, Rainilaiarivony mencoba untuk tidak menyinggung norma-norma tradisional, tetapi pada saat yang sama ia juga membatasi praktik-praktik tradisional secara bertahap, seperti perbudakan, poligami, dan perceraian sepihak yang dilakukan suami terhadap istri. Pada masa kekuasaan Ranavalona II, ia juga mengkristenkan kerajaannya. Berkat kemampuan diplomatik dan militernya, ia berhasil mempertahankan Madagaskar pada permulaan Perang Prancis-Hova, tetapi pada akhirnya pasukan Prancis berhasil mencapai kota Antananarivo dan memaksa Madagaskar menyerah pada September 1895. Meskipun Prancis menghormati Rainilaiarivony, mereka memutuskan untuk mengasingkannya ke Aljazair Prancis, dan ia menjemput ajal di tempat tersebut dalam waktu kurang dari setahun pada Agustus 1896.

Awal kehidupan

Rainilaiarivony lahir dari sebuah keluarga negarawan pada tanggal 30 Januari 1828 di sebuah desa suku Merina di Ilafy, salah satu dari dua belas bukit suci Imerina. Ayahnya bernama Rainiharo, seorang perwira militer berpangkat tinggi dan penasihat politik konservatif yang sangat berpengaruh terhadap Ratu Ranavalona I, sementara ibunya adalah Rabodomiarana, anak Ramamonjy.[1] Lima tahun kemudian, Rainiharo diangkat menjadi Perdana Menteri, jabatan yang ia emban dari tahun 1833 sampai kematiannya pada tahun 1852. Selama masa jabatannya, Rainiharo dipilih oleh ratu untuk menjadi suaminya, tetapi ia tetap mempertahankan Rabodomiarana sebagai istrinya sesuai dengan adat istiadat setempat yang mengizinkan poligami. Sementara itu, kakek Rainilaiarivony dari pihak ayah, Andriatsilavo, juga pernah menjadi penasihat istimewa untuk Raja Andrianampoinimerina (1787-1810).[2] Rainilaiarivony sendiri merupakan keturunan dari klan keluarga Andafiavaratra dari Ilafy yang merupakan salah satu dari dua keluarga Hova paling berkuasa di Kerajaan Imerina pada abad ke-19 (keluarga yang lainnya adalah klan Andrefandrova dari Ambohimanga). Sebagian besar jabatan politik yang tidak diberikan kepada golongan Andriana dipegang oleh anggota kedua keluarga ini.[3]

Menurut sejarah lisan, Rainilaiarivony lahir pada hari yang dianggap tidak memiliki peruntungan baik untuk melahirkan. Adat di Madagaskar mengharuskan anak-anak yang lahir pada hari tersebut melewati cobaan berat, seperti dibiarkan terlalu lama di bawah cuaca alam terbuka, karena terdapat keyakinan bahwa kesialan dari hari kelahiran tersebut akan mengakibatkan masa hidup yang pendek dan terkutuk tidak hanya bagi si anak, tapi juga bagi keluarganya. Ayah Rainilaiarivony tidak membiarkan anaknya mati begitu saja, dan konon mengikuti saran dari seorang ombiasy (semacam astrolog) untuk mengamputasi sendi dari dua jari pada tangan kiri bayinya untuk menghilangkan pertanda buruk. Namun, bayi itu tetap diletakkan di luar rumah untuk menghindari kemungkinan hal-hal buruk akan menimpa keluarga jika anak tersebut tetap berada di bawah atap rumah mereka. Rainilaiarivony kemudian dipungut dan diadopsi oleh kerabatnya karena mereka merasa kasihan. Sementara itu, kakak Rainilaiarivony yang bernama Rainivoninahitriniony menikmati hak istimewa dari statusnya sebagai anak sulung dan juga sebagai anak yang terbebas dari takdir buruk. Rainiharo mempersiapkan anak sulungnya untuk mengikuti jejaknya sebagai Panglima Tertinggi dan Perdana Menteri, sementara Rainilaiarivony dibiarkan menjalani hidupnya dan harus berjuang dengan kemampuannya sendiri.[2]

Pada usianya yang keenam, Rainilaiarivony mulai belajar selama dua tahun di salah satu sekolah yang baru dibuka oleh London Missionary Society (LMS) untuk anak-anak dari kelas bangsawan di istana kerajaan di Antananarivo. Ranavalona I menutup sekolah-sekolah misionaris pada tahun 1836, tetapi Rainilaiarivony terus belajar secara privat dengan seorang mahasiswa misionaris yang lebih tua. Ketika Rainilaiarivony mencapai usia sebelas atau dua belas tahun, kerabat yang telah membesarkannya memutuskan dia sudah cukup umur untuk hidup sendiri. Pertama-tama Rainilaiarivony menyambung hidup dengan membeli dan menjual kembali beberapa batang sabun. Ia secara bertahap mengembangkan usahanya dan mulai merambah ke bisnis penjualan ulang kain yang lebih menguntungkan. Rainilaiarivony muda terkenal ulet dan rajin, dan ia berjuang melawan kesialan yang telah dikaitkan dengan dirinya. Ia akhirnya diterima bekerja di istana; pada saat ia berumur empat belas tahun, ia diundang untuk bertemu dengan Ratu Ranavalona I. Ratu sangat terkesan dengannya dan memberinya gelar "Petugas Istana" dengan pangkat "Kehormatan Keenam". Pada saat ia berusia enam belas tahun, pangkatnya naik menjadi "Kehormatan Ketujuh", dan lalu ia dua kali naik pangkat menjadi "Kehormatan Kedelapan" dan "Kesembilan" saat ia berumur sembilan belas tahun; kenaikan pangkat secepat ini belum pernah terjadi sebelumnya.[4]

Rainilaiarivony muda ditugaskan oleh seorang pedagang Britania sebagai kurir untuk urusan bisnis rahasia. Pedagang itu terkesan dengan ketepatan waktu dan integritas pemuda itu, dan sering memujinya sebagai anak laki-laki yang "membuat kesepakatan dengan adil" (deals fair). Dengan penambahan sebutan kehormatan "ra" dalam bahasa Malagasi, "deals fair" berubah menjadi "Radilifera", dan pujian itu lalu menjadi sebuah julukan yang dipakai oleh Rainilaiarivony sendiri dan diwariskan kepada salah satu anak laki-laki dan juga salah satu cucu laki-lakinya. Kedatangan seorang dokter dari Mauritius pada tahun 1848 memberikan kesempatan kepada Rainilaiarivony untuk belajar kedokteran selama tiga tahun. Dengan ilmu yang diperoleh, ia menjadi sangat diperlukan di istana, dan ia memberikan perawatan medis modern kepada sang ratu dan anggota bangsawan lainnya. Keberhasilan menyembuhkan sang ratu dari penyakit yang parah membuat pangkatnya naik menjadi "Kehormatan Sepuluh" pada April 1851. Pangkat ini membuatnya pantas memegang jabatan yang lebih besar tanggung jawabnya dalam lingkaran orang-orang yang paling dekat dengan penguasa kerajaan.[5] Rainiharo memanfaatkan hal ini untuk mendorong persahabatan antara anak-anaknya dengan Radama II, anak semata wayang dan calon penerus sang ratu yang lebih muda satu tahun dari Rainilaiarivony.[6]

Pernikahan dan keluarga

Sekitar tahun 1848, Rainilaiarivony (yang berusia sekitar 20 atau 21 tahun dan telah menggunakan nama Radilifera) mengesahkan pernikahannya dengan Rasoanalina, yang merupakan sepupunya dari pihak ayah. Tanggal pasti dari pernikahannya tidak tercatat. Dari pernikahan ini, ia dikaruniai enam belas anak. Selain itu, ada seorang anak laki-laki berusia satu tahun yang telah dikandung Rasoanalina dari pria lain sebelum menikah. Anak itu bernama Ratsimatahodriaka (Radriaka), yang kemudian diadopsi oleh Rainilaiarivony. Saat masih muda, Ratsimatahodriaka dipersiapkan oleh ayah angkatnya untuk menjadi penerusnya, tapi ia jatuh dari balkon ketika sedang mabuk dan menjemput ajalnya pada awal usia 20 tahunan.[7]

Sebagian besar anak-anak Rainilaiarivony gagal mencapai potensi terbaiknya. Salah satu anak laki-lakinya, Rafozehana, mati muda akibat delirium tremens, sementara nasib dua anak laki-lakinya yang lain, yaitu Ratsimandresy dan Ralaiarivony, berakhir akibat kekerasan saat mereka masih muda.[7] Randravalahy (yang kemudian juga diberi nama Radilifera oleh Rainilaiarivony) dikirim ke Prancis untuk menuntut ilmu, tetapi kemudian pulang tanpa mendapatkan gelar, dan akhirnya menjadi orang yang biasa-biasa saja di kalangan elit Imerina. Ramangalahy mempelajari ilmu kedokteran dan tampaknya akan mewujudkan cita-citanya sebagai dokter, tetapi meninggal karena sakit pada saat masih berusia dua puluh tahunan. Ada pula tiga anak Rainilaiarivony yang malah berbuat kejahatan: Rajoelina melanggar undang-undang negara dengan menjual emas selundupan ke sebuah perusahaan Inggris, Penoelina (yang pernah belajar di Britania sebelum akhirnya pulang akibat masalah kesehatan) dan teman-temannya melakukan penyerangan seksual dan pencurian, dan Ramariavelo (Mariavelo) membentuk sekelompok bandit yang merampok rumah-rumah rakyat jelata. Salah satu putri Rainilaiarivony meninggal pada usia dua puluh tahunan setelah mencoba menggugurkan kandungannya. Anak-anaknya yang lain menikah dan menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja.[8]

Karier militer

 
Rainilaiarivony yang sedang mengenakan kain lamba tradisional di atas seragam militernya, duduk sembari mengawasi pasukannya di Rova (sekitar tahun 1865)

Setelah mangkatnya Perdana Menteri Rainiharo pada Februari 1852, Ratu Ranavalona I kehilangan pasangan, penasihat, sekaligus Panglima Tertingginya. Sepuluh hari sesudahnya, ia langsung menaikkan pangkat Rainilaiarivony menjadi "Kehormatan Keduabelas" sebagai persiapan agar ia suatu hari dapat mengemban tanggung jawab militer dan politik yang lebih besar.[5] Tak lama setelahnya, sang ratu mengungkapkan rasa ketertarikannya kepada Rainilaiarivony dan mengusulkan agar ia mengambil peran ayahnya sebagai suami sekaligus Perdana Menteri. Rainilaiarivony menolak akibat perbedaan usia mereka yang begitu besar. Selain itu, ia merasa tidak pantas jika ia berhubungan intim dengan mantan kekasih ayahnya. Ranavalona terus memendam perasaannya, tetapi ia tidak marah meskipun Rainilaiarivony tidak membalas perasaannya.[9] Sang ratu lalu memilih seorang pejabat tinggi lainnya sebagai pasangannya, yaitu Rainijohary. Rainijohary kemudian dianugerahi jabatan Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi bersama-sama dengan Rainivoninahitriniony.[10] Setahun kemudian, sang ratu memberikan jabatan militer kepada Rainilaiarivony yang masih berusia 24 tahun,[5] dan juga mengangkatnya sebagai Sekretaris Kerajaan, penjaga Cap Kerajaan, dan pengawas Bendahara Kerajaan.[9]

Beberapa tahun sebelum kematiannya, mantan Perdana Menteri Rainiharo telah melancarkan kampanye militer untuk menaklukkan suku-suku di selatan. Akibat perlawanan yang sengit, konflik ini diakhiri dengan perjanjian perdamaian antara pasukan Merina dan suku Bara di dataran tinggi selatan. Mereka kemudian memperoleh status semiotonom, dan sebagai gantinya mereka menjadi pembatas dengan suku Sakalava di barat serta suku Tanala, Antemoro, Antefasy, dan kelompok etnis lainnya di tenggara. Setelah mendengar kabar mengenai kematian Rainiharo, suku-suku di tenggara memberontak melawan militer Merina yang ditempatkan di pos-pos di dalam wilayah mereka. Ratu Ranavalona menanggapinya dengan mengirimkan Rainivoninahitriniony dan Rainilaiarivony dalam ekspedisi militer pertama mereka untuk membebaskan pasukan Merina yang terkepung dan memadamkan pemberontakan.[11]

Dua bersaudara ini memimpin sepuluh ribu tentara yang bersenjatakan senapan dan seribu pasukan lainnya yang membawa pedang. Mereka diiringi oleh 80.000 kuli, juru masak, pelayan, dan petugas pendukung lainnya. Lebih dari 10.000 orang tewas dibunuh oleh tentara Merina selama kampanye militer ini, dan perempuan dan anak yang ditangkap akan dijual sebagai budak di Imerina, sesuai dengan hukum adat yang berlaku di Madagaskar. Rainilaiarivony mengambil 80 budak, sementara kakaknya mengambil lebih dari 160 budak. Namun, kampanye militer ini tidak terlalu berhasil mendamaikan kawasan tersebut, dan kekuasaan Merina di wilayah-wilayah luar masih lemah pada abad ke-19.[12]

Upaya kudeta pertama

Saat anak semata wayang sang ratu mencapai usia dewasa, ia menjadi semakin kecewa dengan tingginya angka kematian yang disebabkan oleh kampanye militer dan metode peradilan tradisional ibunya. Ia juga merasa kesal karena ibunya menolak pengaruh dari bangsa Eropa. Sang pangeran muda pun menjalin hubungan dengan segelintir orang Eropa yang diizinkan oleh Ranavalona untuk mendatangi istananya, yaitu Jean Laborde dan Joseph-François Lambert. Radama kemudian menyetujui "Piagam Lambert" dengan Joseph-François Lambert. Piagam ini akan berlaku setelah Radama naik takhta, dan memberikan kepada Lambert tanah yang luas dan hak eksklusif untuk membangun jalan, menggali mineral, menebang kayu, dan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya di Madagaskar. Pada Mei 1857, ketika Rainilaiarivony berusia 29 tahun, Lambert mengajak Pangeran Radama, Rainivoninahitriniony, Rainilaiarivony, dan sejumlah perwira lainnya untuk bersekongkol menggulingkan Ranavalona.[12]

Sebelum terjadinya kudeta, Rainivoninahitriniony sudah memperingatkan Lambert bahwa ia tidak bisa menjamin dukungan dari militer dan bahwa rencana tersebut harus dibatalkan. Salah satu perwira yang ikut bersekongkol merasa bahwa dua bersaudara ini telah mengkhianati mereka dan berusaha untuk membebaskan diri mereka dari segala tuduhan dengan memberitahukan rencana persekongkolan kepada sang ratu. Sang ratu menanggapinya dengan mengusir semua orang asing dari Madagaskar dan memaksa semua perwira Merina yang diduga terlibat untuk menjalani percobaan tangena: mereka dipaksa menelan racun untuk menentukan apakah mereka bersalah atau tidak. Rainilaiarivony dan saudaranya tidak diganjar percobaan ini dan tetap dipercaya oleh sang ratu hingga akhir hayatnya, sebagaimana sang ratu juga masih memercayai Radama.[12]

Upaya kudeta kedua

Pada musim panas tahun 1861, ketika Rainilaiarivony berusia 33 tahun, Ratu Ranavalona sudah uzur dan juga sakit-sakitan, sehingga muncul dugaan mengenai siapa yang akan menjadi pewarisnya. Ranavalona telah berulang kali menegaskan bahwa Radama II akan menggantikannya, tetapi Radama memiliki pandangan yang progresif dan pro-Eropa, sehingga faksi konservatif di istana kecewa dengan keputusan ini. Mereka bersatu di bawah keponakan sang ratu sekaligus anak angkatnya, Ramboasalama. Sang ratu pernah menyatakan Ramboasalama sebagai pewaris beberapa tahun sebelumnya, dan Ramboasalama hingga saat itu masih belum meninggalkan ambisinya untuk merebut kembali hak yang sempat diberikan kepadanya.[13]

Menurut hukum adat, orang yang mengklaim sebagai penerus takhta akan dibunuh setelah penguasa yang baru dinamai secara resmi. Radama menentang praktik ini dan meminta kepada Rainivoninahitriniony dan Rainilaiarivony untuk membantu memastikan agar proses peralihan kekuasaan berlangsung mulus pada hari kematian sang ratu tanpa adanya pertumpahan darah. Rainilaiarivony berhasil mempertahankan wewenangnya atas para penjaga istana yang cemas menunggu perintah dari salah satu faksi untuk membantai yang lain. Ketika pelayan sang ratu diam-diam memberitahukan bahwa sang ratu akan segera mangkat, Rainilaiarivony memanggil Radama dan Rainivoninahitriniony dari istana Perdana Menteri ke kompleks kerajaan Rova dan memerintahkan agar sang pangeran dinobatkan di hadapan para tentara yang berkumpul tepat saat sang ratu diumumkan meninggal. Ramboasalama segera diantar ke istana dan diwajibkan untuk bersumpah setia kepada Raja Radama di hadapan umum.[14]

Rainilaiarivony diberikan tanggung jawab untuk mengawasi proses pengadilan para pendukung Ramboasalama. Mereka terbukti melakukan subversi dan lalu dijatuhi hukuman pengasingan dan hukuman-hukuman lainnya. Ramboasalama dikirim untuk tinggal bersama istrinya Ramatoa Rasoaray (saudara perempuan Rainilaiarivony) di desa dataran tinggi Ambohimirimo yang terpencil, dan Ramboasalama kemudian tutup usia di tempat tersebut pada April 1862. Rainijohary, mantan Perdana Menteri dan suami Ranavalona, dibebastugaskan dari jabatannya dan diasingkan, sehingga yang menjadi Perdana Menteri satu-satunya adalah Rainivoninahitriniony. Pada saat yang sama, Rainilaiarivony diangkat oleh Radama menjadi Panglima Tertinggi Militer.[15]

Pembentukan monarki terbatas

Rainilaiarivony—'Ayah dari Dia yang Memiliki Bunga'— memang adalah seorang pencipta ratu; ia memilih, mengangkat, dan menikahi tiga ratu terakhir, dimulai dari Rasoherina.

Arthur Stratton, The Great Red Island (1964)[16]

Sebagai Panglima Tertinggi, Rainilaiarivony menjaga jarak dari panggung politik sepanjang masa pemerintahan Radama II, dan ia memilih untuk fokus pada tanggung jawab militer yang ia emban.[17] Sementara itu, perselisihan antara Perdana Menteri Rainivoninahitriniony dan Raja Radama terus memanas, karena sang raja muda ingin mewujudkan reformasi-reformasi radikal yang tidak disukai oleh kelompok tradisional. Perselisihan ini mencapai puncaknya pada tanggal 7 Mei 1863, ketika Radama bersikeras melegalkan pertarungan satu lawan satu, meskipun para penasihat raja sudah memberikan peringatan bahwa kebijakan tersebut akan mengakibatkan anarki. Perdana Menteri lalu memulai penangkapan menamaso, yaitu penasihat-penasihat Radama, sementara Rainilaiarivony mengikuti petunjuk kakaknya untuk menjaga perdamaian di ibu kota. Namun, keadaan langsung memburuk, dan Raja Radama II dinyatakan meninggal pada pagi hari tanggal 12 Mei, setelah ia tewas dicekik atas perintah Perdana Menteri.[18]

Walaupun tidak terlibat dalam kudeta, Rainilaiarivony memberikan pengarahan kepada kakaknya dan anggota istana lainnya. Ia lalu mengusulkan agar para penguasa monarki ke depannya tidak lagi berkuasa secara absolut, tetapi memerintah dengan persetujuan dari para bangsawan. Kemudian para bangsawan sepakat untuk menjadikan istri mendiang Radama, Rasoherina, sebagai ratu. Di bawah sistem monarki baru yang dicetuskan oleh Rainilaiarivony, sang ratu memerlukan persetujuan dari para bangsawan untuk menjatuhkan hukuman mati atau menetapkan undang-undang baru, dan juga tidak diperbolehkan membubarkan militer. Perjanjian pembagian kekuasaan antara penguasa monarki dengan bangsawan ini diresmikan oleh oleh perkawinan politik antara Ratu dan Perdana Menteri.[18]

Peristiwa pencekikan Radama bukanlah sekadar kudeta. Sistem baru yang dipaksakan terhadap Rasoherina dan penguasa-penguasa monarki setelahnya mencerminkan pergeseran kekuasaan dari kelompok Andriana ke kelompok Hova; sebelumnya, kelompok Andriana mengesahkan kekuasaan mereka melalui keyakinan tradisional bahwa garis keturunan kerajaan dikaruniai oleh hasina, yaitu wewenang suci yang dianugerahkan oleh ray aman-dreny (nenek moyang). Maka dari itu, struktur politik baru di Imerina melambangkan penggerusan nilai-nilai sosial tradisional di kalangan elit Merina, yang sudah terpengaruh oleh pemikiran politik Eropa dan memeluk sejumlah asas pemerintahan Barat. Peristiwa ini juga telah melebarkan jurang antara kelompok elit yang cenderung progresif dan pro-Eropa (termasuk Rainilaiarivony dan saudaranya) dengan mayoritas penduduk di Madagaskar yang masih sangat mementingkan nilai-nilai tradisional seperti hasina; jurang ini akan terus melebar dalam kurun waktu beberapa dasawarsa berikutnya akibat upaya Rainilaiarivony untuk mengubah kondisi politik dan sosial di seluruh Madagaskar.[19]

Masa jabatan sebagai Perdana Menteri

 
Rainilaiarivony memerintahkan pembangunan Istana Andafiavaratra di dekat Istana Ratu di Antananarivo pada tahun 1873.

Masa jabatan Rainivoninahitriniony sebagai Perdana Menteri tidak berlangsung lama. Ia berperilaku secara kasar dan tidak pantas terhadap Rasoherina, dan ia juga dibenci oleh banyak orang akibat keterlibatannya dalam penjatuhan Raja Radama, sehingga para bangsawan pun mulai berbalik melawannya. Sebagai Panglima Tertinggi, Rainilaiarivony berusaha menasihati saudaranya sekaligus mengawasi upaya-upaya diplomatik dan militer untuk mendamaikan kembali suku Sakalava dan suku-suku lainnya yang menganggap kudeta sebagai indikasi melemahnya kendali Merina. Namun, Perdana Menteri tidak berterima kasih dengan segala upaya ini dan malah berulangkali mencerca para pejabat berpangkat tinggi dan mengancam Rainilaiarivony dengan menggunakan pedang.[20]

Dua sepupu Rainilaiarivony mendesaknya untuk menggantikan kakaknya agar keluarga mereka tidak lagi harus menanggung malu akibat tindak tanduk Rainivoninahitriniony. Setelah mempertimbangkan usulan tersebut, Rainilaiarivony mendekati Rasoherina dengan usulan tersebut. Sang ratu langsung setuju dan membantu Rainilaiarivony dengan menggalang dukungan dari para bangsawan di istana. Belum sampai setahun setelah kudeta yang terakhir, Rasoherina menjatuhkan dan menceraikan Rainivoninahitriniony pada tanggal 14 Juli 1864, dan Rainivoninahitriniony sendiri diasingkan pada tahun berikutnya. Setelah Rainivoninahitriniony dijatuhkan, Rainilaiarivony diangkat sebagai Perdana Menteri.[20] Rainilaiarivony kemudian menikahi Rasoherina dan menurunkan status istrinya yang sebelumnya, Rasoanalina, menjadi istri kedua. Rainilaiarivony mengaku kepada seorang teman lama sebelum ia meninggal bahwa ia sangat mencintai istri pertama dan keduanya, tetapi tidak pernah merasakan hal yang sama untuk ratu-ratu berikutnya berikutnya yang ia nikahi.[21] Tak satupun dari pasangan kerajaan ini memberikan anak kepadanya.[22]

Rainilaiarivony menjadi anggota golongan Hova pertama yang merangkap jabatan sebagai Perdana Menteri sekaligus Panglima Tertinggi.[20] Perubahan sosiopolitik yang telah dipicu oleh peristiwa pencekikan Radama II mencapai puncaknya setelah Rainilaiarivony mengukuhkan kekuasaannya. Rasoherina dan penerus-penerusnya tetap menjadi "pemimpin" secara resmi dan turut serta dalam dewan-dewan politik dan memberikan persetujuan resmi terhadap kebijakan-kebijakan. Perdana Menteri juga mengeluarkan kebijakan dan undang-undang baru atas nama sang ratu.[23] Namun, urusan pemerintahan, keamanan, dan diplomatik pada dasarnya diatur oleh Rainilaiarivony dan para penasihatnya. Dengan wewenang yang begitu besar, sang Perdana Menteri dapat memperkaya diri, baik itu melalui warisan, hadiah, ataupun pembelian, termasuk 57 rumah, perkebunan dan sawah yang luas, hewan ternak, serta ribuan budak.[24] Yang paling menonjol adalah Istana Andafiavaratra, yang dibangun khususnya untuknya di lereng tepat di bawah kompleks kerajaan Rova oleh arsitek asal Britania, William Pool,[25] pada tahun 1873.[26]

Kebijakan dan reformasi

Pada masa kepemimpinan Rainilaiarivony, administrasi dan birokrasi diperkuat. Pada Maret 1876, Rainilaiarivony mendirikan sebuah kabinet dengan delapan kementerian untuk mengatur urusan luar negeri, dalam negeri, pendidikan, perang, hukum, perdagangan dan industri, keuangan, dan perundang-undangan.[27] Utusan-utusan negara ditempatkan di seluruh provinsi di Madagaskar untuk mengelola administrasi, memastikan penerapan hukum, memungut pajak, dan mengirimkan laporan secara berkala ke Antananarivo tentang keadaan setempat.[28] Metode pemungutan pajak tradisional melalui pemerintah setempat diperluas di provinsi-provinsi, sehingga negara memperoleh pemasukan baru, biasanya dalam bentuk barang yang dihasilkan di kawasan setempat seperti tikar, ikan, atau kayu.[23] Rainilaiarivony mencoba mendorong orang-orang Merina untuk menetap di kawasan pesisir, tetapi masyarakat pesisir tidak diajak ikut serta dalam administrasi politik di wilayah yang mereka huni. Sekitar sepertiga wilayah Madagaskar tidak memiliki tanda-tanda kehadiran Merina dan wilayah tersebut secara de facto merdeka dari kerajaan, termasuk sebagian wilayah provinsi Ambongo dan Menabe di barat, dan beberapa daerah di wilayah Bara, Tanala, Antandroy, dan Mahafaly di selatan.[29]

Ratu Rasoherina menjemput ajalnya pada tanggal 1 April 1868,[28] dan digantikan oleh sepupunya, Ranavalona II (dimahkotai pada tanggal 3 September 1868)[30]. Seperti Rasoherina, ia pernah menjadi istri mendiang Radama II. Ranavalona II adalah salah satu murid para misionaris Protestan dan sudah memeluk agama Kristen. Rainilaiarivony sadar bahwa agama Kristen sedang mengalami pertumbuhan yang pesat di Madagaskar, dan ia merasa perlu mengatur penyebaran agama tersebut agar tidak mengakibatkan ketidakstabilan budaya dan politik. Perdana Menteri mendorong ratu yang baru untuk menyebarkan agama Kristen di istana melalui upacara pembaptisan publik di Andohalo pada tanggal 21 Februari 1869, yang juga merupakan hari pernikahan mereka.[28] Dalam upacara ini, jimat kerajaan dimusnahkan dan digantikan oleh Alkitab. Langkah penyebaran agama Kristen di istana dan pendirian kapel Protestan di lahan istana kemudian diikuti dengan ratusan ribu orang Madagaskar yang juga masuk Kristen. Orang-orang ini memeluk agama Kristen untuk menyatakan kesetiaan mereka kepada kerajaan, sehingga status mereka sebagai pemeluk agama Kristen hanya dalam bentuk nama saja, karena masih banyak yang memadukan agama Kristen dengan agama-agama tradisional.[31] Para penulis biografi Rainilaiarivony menyimpulkan bahwa sang Perdana Menteri sendiri juga masuk Kristen sebagai tindakan politik dan tampaknya ia tidak benar-benar mengalami perubahan spiritual hingga akhir hayatnya.[32] Beberapa pejabat lokal berusaha memaksa orang-orang masuk agama Protestan dengan mewajibkan kehadiran di gereja dan menindas umat Katolik, tetapi Rainilaiarivony langsung menghentikan tindakan-tindakan berlebihan semacam itu. Perdana Menteri juga melarang poligami dan konsumsi alkohol, serta menyatakan hari Minggu sebagai hari untuk beristirahat.[28] Akibat keputusannya untuk melarang poligami dan menyebarkan agama Kristen di istana, Rainilaiarivony juga harus mengorbankan kepentingan pribadinya dan terpaksa tidak mengakui istri pertamanya.[30] Sang Perdana Menteri sangat sedih karena harus melakukan hal ini, dan hal ini semakin diperparah akibat memburuknya hubungan antara dirinya dengan Rasoanalina dan anak-anak mereka setelah mereka berpisah.[33]

Rainilaiarivony sadar bahwa pemodernan diperlukan untuk memperkuat negara demi menghalau serangan dari negara Barat, sehingga ia berusaha keras untuk mewujudkan hal ini. Pada tahun 1877, ia melarang praktik perbudakan terhadap orang-orang Makoa. Rainilaiarivony mengembangkan sistem pendidikan, mencanangkan wajib belajar pada tahun 1881, dan mengangkat inspektur-inspektur sekolah pada tahun berikutnya untuk menjaga mutu pendidikan. Apotek pertama di Madagaskar didirikan oleh misionaris LMS pada tahun 1862, dan rumah sakit pertama diresmikan di Antananarivo tiga tahun kemudian, diikuti dengan peluncuran sistem medis negara yang dijalankan oleh dokter pegawai negeri pada tahun 1875.[34] Pada masa pemerintahannya, Rainilaiarivony juga memberlakukan sejumlah undang-undang yang berusaha menciptakan tatanan sosial yang lebih manusiawi. Jumlah kejahatan yang dapat diganjar hukuman mati dikurangi dari delapan belas menjadi tiga belas, dan ia mengakhiri tradisi hukuman kolektif terhadap keluarga atas kejahatan yang dilakukan oleh salah satu anggota keluarga tersebut.[27] Besaran denda ditetapkan untuk pelanggaran-pelanggaran tertentu, dan satu-satunya hukuman fisik yang boleh diganjar adalah kurungan penjara.[35] Struktur hukum dirombak ulang, sehingga hal-hal yang berada di luar wewenang pengadilan masyarakat tradisional di tingkatan desa fokonolona (yang dijalankan oleh hakim setempat dan kepala desa) akan dirujuk ke tiga pengadilan tinggi yang didirikan di ibu kota pada tahun 1876, meskipun wewenang kehakiman tertinggi tetap berada di tangan Rainilaiarivony. Undang-Undang 305 Hukum juga ditetapkan pada tahun yang sama dan menjadi dasar sistem hukum Madagaskar pada akhir abad ke-19 dan sebagian besar masa kolonial.[27] Selain itu, untuk memperkuat rule of law, Perdana Menteri membentuk polisi pedesaan, memodernkan sistem pengadilan, dan menghapuskan hak-hak istimewa yang terlalu menguntungkan golongan bangsawan.[28]

Semenjak tahun 1872, Rainilaiarivony berupaya memodernkan militer dengan bantuan dari seorang instruktur militer Britania, yang dipekerjakan untuk merekrut, melatih, dan mengurus prajurit Madagaskar.[27] Rainilaiarivony membeli senjata api baru dari dalam dan luar negeri, memperkenalkan kembali kegiatan olahraga secara rutin, dan merombak ulang sistem pangkat.[28] Ia melarang praktik pembelian pangkat dan memberikan pelayanan kesehatan gratis untuk para prajurit pada tahun 1876. Pada tahun berikutnya, Rainilaiarivony memberlakukan wajib militer selama lima tahun kepada 5.000 orang dari setiap enam provinsi di Madagaskar, sehingga jumlah pasukan Madagaskar bertambah besar hingga melebihi 30.000 orang.[36]

Hubungan luar negeri

Pada masa kekuasaannya, Rainilaiarivony terbukti merupakan seorang pemimpin dan diplomat yang cakap dan berkepala dingin.[37] Terkait dengan urusan luar negeri, ia bertindak secara cerdik dan bijaksana, alhasil ia mampu membendung ambisi kolonial Prancis di Madagaskar selama hampir tiga dasawarsa. Rainilaiarivony mendirikan kedutaan besar di Mauritius, Prancis dan Britania Raya, sementara perjanjian persahabatan dan perdagangan disepakati dengan Britania dan Prancis pada tahun 1862; perjanjian dengan Britania kemudian direvisi pada tahun 1865 dan perjanjian dengan Prancis direvisi pada tahun 1868. Setelah kedatangan duta besar Amerika Serikat di Antananarivo, sebuah perjanjian antara Amerika Serikat dengan Madagaskar disepakati pada tahun 1867.[38] Salah satu orang Britania pada masa itu berkomentar bahwa keterampilan komunikasi diplomatik Rainilaiarivony dapat dilihat dari pidato politiknya, dan menurutnya Rainilaiarivony adalah seorang "orator ulung di antara bangsa orator".[39]

Pada tahun-tahun pertama masa jabatan Rainilaiarivony sebagai Perdana Menteri, pengaruh Prancis di Madagaskar meredup. Faktor-faktor penyebabnya adalah kekalahan militer pada tahun 1870 dan keterbatasan dana yang memaksa pemerintah Prancis mengakhiri subsidi kepada misionaris Katolik di Madagaskar pada tahun 1871. Hal ini menguntungkan Britania, dan Rainilaiarivony sendiri lebih ingin bersekutu dengan negara tersebut. Rainilaiarivony kemudian mengizinkan orang asing menyewa tanah di Madagaskar selama 99 tahun, tetapi melarang penjualan tanah tersebut kepada mereka yang bukan warga negara Madagaskar. Keputusan untuk tidak melakukan pembangunan jalan yang menghubungkan kota-kota pesisir ke ibu kota juga diambil sebagai strategi untuk melindungi Antananarivo dari serangan asing.[28]

Walaupun terdapat banyak misionaris, penasihat militer, dan diplomat Britania di Antananarivo pada masa awal pemerintahan Rainilaiarivony, pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 membuat Britania mengalihkan perhatian mereka ke kawasan Mesir untuk mengurangi pengaruh Prancis di sana, sehingga kepentingan mereka di Madagaskar pun dikorbankan. Setelah Jean Laborde menjemput ajal pada tahun 1878, Rainilaiarivony menolak mengizinkan ahli warisnya memperoleh tanah di Madagaskar yang sebelumnya telah diberikan oleh Radama II kepada Laborde berdasarkan ketentuan Piagam Lambert, sehingga Prancis memanfaatkan hal ini sebagai dalih untuk menyerang Madagaskar. Rainilaiarivony mengirim misi diplomatik ke Britania dan Prancis untuk membahas pelepasan klaim atas wilayah Madagaskar, dan ia juga berhasil membuat kesepakatan baru dengan Britania. Perundingan dengan Prancis dilakukan antara November 1881 hingga Agustus 1882, tetapi perundingan tersebut gagal meraih kesepakatan terkait dengan klaim tanah.[40] Akibatnya, Prancis mengobarkan Perang Prancis-Hova Pertama pada tahun 1883 dan menduduki kota-kota pelabuhan pesisir seperti Mahajanga, Antsiranana, Toamasina, dan Vohemar. Ratu Ranavalona II mangkat di tengah berkecamuknya perang pada Juli 1883. Rainilaiarivony memilih keponakan Ranavalona II yang masih berusia 22 tahun, Putri Razafindrahety, sebagai penggantinya dengan nama resmi Ranavalona III. Namun, sempat tersebar kabar burung bahwa Rainilaiarivony mungkin telah memerintahkan agar suami pertama Ranavalona III diracuni supaya ia dapat menikahi sang putri.[41] Ranavalona III sendiri berumur 33 tahun lebih muda daripada suaminya, dan perannya hanya bersifat upacara semata, sementara urusan-urusan penting negara tetap diatur oleh Perdana Menteri.[42] Pada Desember 1885, upaya perundingan yang dilakukan oleh Rainilaiarivony berhasil mengakhiri Perang Prancis-Hova pertama.[28]

Perjanjian yang dirumuskan oleh pemerintah Prancis dan Madagaskar tidak secara gamblang mendirikan protektorat Prancis di pulau tersebut, salah satunya karena keterlibatan militer Prancis dalam kampanye militer Tonkin mulai mengubah pandangan rakyat terkait dengan perluasan jajahan Prancis.[28] Kerajaan Madagaskar bersedia membayarkan sepuluh juta franc kepada Prancis untuk menyelesaikan sengketa, dan uang ini sebagian diperoleh dari penggalakan kebijakan fanampoana (kerja paksa sebagai pengganti pungutan pajak dalam bentuk uang) untuk mendulang emas di sungai.[43] Selain itu, Rainilaiarivony juga memutuskan untuk mengambil koin emas dan perak yang bernilai $50.000 dari makam Ranavalona I untuk melunasi biaya pembelian persenjataan pada masa menjelang Perang Prancis-Hova Pertama. Beban biaya yang harus ditanggung oleh Madagaskar mengakibatkan kekosongan cadangan kas negara.[44] Prancis berupaya memanfaatkan keadaan dengan menduduki kota pelabuhan Antsiranana dan mengangkat Le Myre de Vilers sebagai Residen Jenderal Prancis di Antananarivo, dengan menggunakan dalih yang memanfaatkan isi perjanjian yang bersifat multitafsir. Residen Jenderal diberi wewenang oleh pemerintah Prancis untuk mengendalikan perdagangan internasional dan hubungan luar negeri di Madagaskar, meskipun wewenang monarki atas urusan dalam negeri tetap tidak dapat diganggu gugat.[28] Rainilaiarivony menolak mengakui keabsahan penafsiran perjanjian dari sudut pandang Prancis, sehingga ia tetap mengatur hubungan luar negeri dan perdagangan internasional. Ia juga mencoba meminta bantuan dari Amerika Serikat untuk mempertahankan kedaulatan negara, tetapi upaya ini tidak membuahkan hasil. Pada tahun 1894, pemerintah Prancis mencoba menekan Rainilaiarivony untuk menerima status Madagaskar sebagai protektorat Prancis. Namun, Rainilaiarivony malah memutus semua hubungan diplomatik dengan Prancis pada November 1894.[45]

Penjatuhan dan pengasingan

 
Sampul majalah L'Illustration yang menggambarkan Rainilaiarivony pada saat tiba di pelabuhan Aljir (1896)

Prancis menanggapi tindakan pemutusan hubungan diplomatik dengan melancarkan kampanye militer yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Prancis-Hova Kedua.[45] Ekspedisi tersebut berakhir sebelas bulan kemudian pada September 1895, ketika pasukan Prancis berhasil mencapai kota Antananarivo dan membombardir istana kerajaan dengan menggunakan artileri berat sampai-sampai melubangi atap tempat tinggal ratu dan menimbulkan korban jiwa yang besar di kalangan abdi dalem yang sedang berkumpul di halaman istana. Rainilaiarivony mengirimkan seorang juru bahasa untuk membawa bendera putih sebagai tanda menyerah dan juga untuk memohon pengampunan. Empat puluh lima menit kemudian, putra sang Perdana Menteri, Radilifera, juga ikut datang untuk menyerah. Keesokan harinya, Ratu Ranavalona III menandatangani perjanjian yang menerima status protektorat Prancis di Madagaskar. Sang ratu dan abdi-abdinya diizinkan untuk tetap berada di istana dan mengelola negara sesuai dengan perintah Prancis.[46]

Setelah sang ratu menandatangani perjanjian, pemerintah Prancis menggulingkan Rainilaiarivony dari jabatannya sebagai Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi. Prancis dan Ranavalona III memilih seorang Menteri Luar Negeri yang sudah tua yang bernama Rainitsimbazafy sebagai penggantinya. Prancis memerintahkan agar Rainilaiarivony diasingkan ke Aljazair Prancis, tetapi ia masih tinggal di Antananarivo selama beberapa bulan setelah perjanjian dengan Prancis ditandatangani. Mulai dari tanggal 15 Oktober 1895, Rainilaiarivony menjadi tahanan rumah di Amboditsiry dan dijaga oleh pasukan asal Senegal. Kemudian, pada tanggal 6 Februari 1896, Rainilaiarivony yang saat itu berusia 68 tahun menaiki sebuah kapal menuju Aljir dan meninggalkan Madagaskar untuk yang pertama kalinya. Ia ditemani oleh cucunya, Ratelifera, serta seorang penerjemah dan empat pembantu. Pada tanggal 17 Maret 1896, kapal yang ditumpangi oleh sang mantan Perdana Menteri merapat di pelabuhan Aljir. Di kota inilah ia akan menjalani sisa masa hidupnya.[46]

Pemerintah Prancis menempatkan Rainilaiarivony di kawasan Géryville, salah satu bagian kota Aljir yang terbengkalai. Seorang pelayan dan pengawal Prancis bernama Joseph Vasse ditugaskan untuk mengawasinya. Vasse kemudian mendokumentasikan kepribadian dan kegiatan Rainilaiarivony pada masa pengasingannya. Vasse menggambarkan sang mantan Perdana Menteri sebagai orang yang memiliki spontanitas yang besar, keramahan yang tulus, dan keterbukaan hati, tetapi juga dapat mengalami perubahan suasana hati yang cepat, mudah tersinggung, dan memiliki kecenderungan untuk banyak meminta, terutama terkait dengan pakaiannya. Kecerdasan, kebijaksanaan, dan kemampuannya dalam memimpin membuatnya dikagumi oleh orang-orang yang mengenalnya, termasuk Le Myre des Vilers, yang menyebutnya sebagai seorang musuh sekaligus teman. Setelah mendengar kabar tentang kehidupan Rainilaiarivony di Aljir, Le Myre de Vilers secara pribadi melobi pemerintah Prancis untuk menyediakan tempat tinggal yang lebih baik. Kemudian Vasse menemukan rumah baru untuk sang mantan Perdana Menteri di daerah perumahan yang elok bernama Villa des Fleurs di kawasan Mustapha Supérieur yang merupakan kawasan elit. Di situ ia bertetangga dengan kediaman mantan raja Annam Ham Nghi yang juga diasingkan dari tanah airnya.[46]

Keindahan tempat tinggal barunya dan sambutan hangat yang diterimanya di Aljazair membuat Rainilaiarivony senang. Ia kemudian memperoleh nama baik di kalangan elit setempat, yang menganggapnya sebagai sosok yang baik, cerdas, murah hati, dan menawan. Gubernur Jenderal Aljazair Prancis secara berkala mengundangnya untuk hadir dalam acara diplomatik dan sosial, dan dalam acara semacam itu Rainilaiarivony menari dengan penuh semangat seperti seorang pria yang jauh lebih muda. Ketika sedang tidak disibukkan oleh kegiatan-kegiatan sosialnya yang bermacam-macam, Rainilaiarivony rajin membaca koran dan menjalin hubungan surat-menyurat dengan kenalannya di Madagaskar. Pada saat pemberontakan menalamba meletus di Madagaskar, ia menulis sebuah surat yang diterbitkan di sebuah surat kabar Madagaskar pada tanggal 5 Juli 1896 yang mengutuk para pemberontak sebagai orang-orang yang tidak tahu diuntung.[47] Acara terakhirnya di Aljir adalah acara kembang api Hari Bastille pada tanggal 14 Juli 1896. Saat ia sedang berjalan untuk bergabung dengan penonton yang lain di pestanya, ia disambut dengan sorak-sorai dan seruan "Vive le Ministre!" ("Hidup Menteri!").[46]

Kematian

 
Prosesi pemakaman Rainilaiarivony (1900)

Panas yang begitu terik selama perayaan Hari Bastille membuat sang Perdana Menteri kelelahan. Pada sore harinya, ia mengalami demam, dan kemudian ia susah tidur dan terganggu oleh mimpi ketika ia melihat mantan ratu Rasoherina berdiri di samping tempat tidurnya dan berkata, "Atas nama saudaramu, Rainivoninahitriniony, bersiaplah." Salah satu hamba Rainilaiarivony melaporkan mimpi ini kepada Vassé dan menjelaskannya sebagai firasat yang menubuatkan kematian Rainilaiarivony. Sang mantan Perdana Menteri tetap terbaring di tempat tidur dan kemudian kondisi kesehatannya terus memburuk. Demamnya semakin parah dan ia juga mengalami sakit kepala. Di tengah penderitaan ini, ia terus ditemani oleh sahabat-sahabat dekatnya dan orang-orang yang ia cintai. Rainilaiarivony meninggal saat tidur pada tanggal 17 Juli 1896.[48]

Jenazah Rainilaiarivony awalnya disemayamkan di sebuah makam batu di Aljir.[49] Pada tahun 1900, sisa-sisa jenazah sang mantan Perdana Menteri digali dan diangkut ke Madagaskar, dan lalu dikebumikan di makam keluarga yang dibangun oleh Jean Laborde di kawasan Isotry di Antananarivo. Gubernur Jenderal Madagaskar Prancis Gallieni dan cucu Rainilaiarivony berpidato di pemakamannya, yang dihadiri oleh orang-orang terhormat dari Prancis dan Madagaskar.[50] Dalam pidatonya, Gallieni mengungkapkan rasa hormatnya kepada sang mantan Perdana Menteri dengan perkataan berikut: "Rainilaiarivony memang layak memimpin kalian. Pada tahun-tahun yang akan datang, apakah akan ada sebuah tugu peringatan yang didirikan untuk mengenangnya? Ini harus menjadi kewajiban bagi orang Madagaskar yang memiliki kebebasan untuk melakukannya. Prancis kini telah mengambil Madagaskar, (...) tetapi Rainilaiarivony telah berjasa melindunginya sebagaimana yang ia telah lakukan."[51] Seusai pemakaman, sebuah plakat peringatan dipasang di makam keluarga Rainilaiarivony, dan di plakat tersebut terukir pernyataan "Rainilairivony, ex Premier Ministre et Commandant en chef de Madagascar, Commandeur de la Légion d'honneur" ("mantan Perdana Menteri dan Panglima Tertinggi Madagaskar, Komandan Legiun Kehormatan").[52]

Catatan kaki

  1. ^ Montgomery-Massingberd 1980, hlm. 166.
  2. ^ a b Chapus & Mondain 1953, hlm. 9.
  3. ^ Nativel 2005, hlm. 136.
  4. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 10–11.
  5. ^ a b c Chapus & Mondain 1953, hlm. 12–13.
  6. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 18.
  7. ^ a b Chapus & Mondain 1953, hlm. 294–297.
  8. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 301–306.
  9. ^ a b Chapus & Mondain 1953, hlm. 16–17.
  10. ^ Brown 1995, hlm. 163.
  11. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 14–16.
  12. ^ a b c Chapus & Mondain 1953, hlm. 22.
  13. ^ Oliver 1886, hlm. 87.
  14. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 24.
  15. ^ Oliver 1886, hlm. 88.
  16. ^ Stratton 1964, hlm. 204.
  17. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 39.
  18. ^ a b Chapus & Mondain 1953, hlm. 42–46.
  19. ^ Raison-Jourde 1983, hlm. 358–359.
  20. ^ a b c Chapus & Mondain 1953, hlm. 48–54.
  21. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 92–93.
  22. ^ Heseltine 1971, hlm. 120.
  23. ^ a b Deschamps 1994, hlm. 414.
  24. ^ Nativel 2005, hlm. 139.
  25. ^ Nativel 2005, hlm. 139–158.
  26. ^ Nativel 2005, hlm. 25.
  27. ^ a b c d Ade Ajayi 1998, hlm. 441.
  28. ^ a b c d e f g h i j Thompson & Adloff 1965, hlm. 9–10.
  29. ^ Oliver, Fage & Sanderson 1985, hlm. 527.
  30. ^ a b Deschamps 1994, hlm. 413.
  31. ^ Daughton 2006, hlm. 172.
  32. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 91-93.
  33. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 308–309.
  34. ^ Ade Ajayi 1998, hlm. 439.
  35. ^ Oliver, Fage & Sanderson 1985, hlm. 522.
  36. ^ Ade Ajayi 1998, hlm. 442.
  37. ^ Ade Ajayi 1998, hlm. 439–446.
  38. ^ Ade Ajayi 1998, hlm. 445.
  39. ^ Oliver 1885, hlm. 234.
  40. ^ Oliver, Fage & Sanderson 1985, hlm. 524.
  41. ^ Ministère de la marine et des colonies 1884, hlm. 117.
  42. ^ Cousins 1895, hlm. 73.
  43. ^ Randrianja & Ellis 2009, hlm. 152.
  44. ^ Campbell 2005, hlm. 298.
  45. ^ a b Thompson & Adloff 1965, hlm. 11.
  46. ^ a b c d Chapus & Mondain 1953, hlm. 377.
  47. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 385–386.
  48. ^ Chapus & Mondain 1953, hlm. 387–389.
  49. ^ Randrianja 2001, hlm. 100–110.
  50. ^ Nativel & Rajaonah 2009, hlm. 126.
  51. ^ Randrianja 2001, hlm. 116.
  52. ^ Nativel & Rajaonah 2009, hlm. 125.

Daftar pustaka