Hanyokrokusumo dari Mataram

Mas Rangsang atau Sultan Agung adalah Raja Mataram (Islam) (kesultanan Mataram) yang ketiga. Beliau memerintah dari dari tahun 1613 sampai tahun 1645. Gelarnya Sultan Agung (H)anyokrokusumo tapi lebih terkenal dengan sebutan Sultan Agung. Dari syarif Makkah ia mendapatkan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulanan Matarami.[1]

Berkas:Sultan Agung.jpg
Sultan Agung

Ia adalah cucu dari Panembahan Senopati yang merupakan pendiri kerajaan Mataram (Islam). Putra sulung dari Prabu (H)anyokrowati (Mas Jolang) raja Mataram yang kedua. Beliau berkedudukan di Karta, sebelah timur laut Plered. Adapun Plered sendiri terletak di 5 kilometer sebelah barat daya Kotagede, kraton ayahanda Mas Rangsang. (Banyak yang mengira Karta sama dengan Kartasura, padahal tidak. Baca M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern).

Semasa pemerintahannya berhasil memperluas wilayah Mataram sampai hampir mencakup seluruh pulau Jawa. Kecuali Kesultanan Banten dan Batavia. Akhirnya bergesekan dengan kekuasaan VOC di Batavia (sekarang Jakarta).Serta perselisihan dengan Sultan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa yang memuncak pada masa pemberontakan Trunojoyo terhadap raja penggantinya dimana sultan Ageng memberikan bantuan berupa 40 pucuk meriam.

Sultan Agung beberapa kali melancarkan peperangan antara Mataram dengan VOC. Tercatat dua kali Sultan Agung mengadakan serangan ke VOC di Batavia, yaitu pada tahun 1628 dan 1629. Bahkan serangan kedua dipersiapkan dengan baik di antaranya dengan kekuatan Dipati Ukur dan pemenuhan logistik dengan dibukanya areal persawahan di sekitar Karawang, Cirebon, dan daerah pantai utara Jawa serta pengerahan armada angkatan lautnya. Namun dua kali serangan Sultan Agung menemui kegagalan. Selain melakukan serangan ke Batavia, beliau melakukan perluasan daerah di antaranya menaklukan Kadipaten Path'i (Pati) dan melakukan diplomasi persahabatan dan persekutuan dengan Panembahan Ratu dari Kesultanan Cirebon.

Beberapa kalangan sejarahwan mengatakan pada masa ini, Sultan Agung melakukan politik represif terhadap kadipaten-kadipaten di wilayah pesisir Jawa bahkan dikenal anti perniagaan. Terlebih-lebih dilakukan oleh sultan-sultan berikutnya yang menyebabkan hilangnya daerah pesisir utara Jawa yang diserahkan kepada VOC akibat perjanjian dengan VOC dalam rangka menumpas pemberontakan Trunojoyo.

Dalam berbagai catatan sejarah ada beberapa tindakan Sultan Agung yang jarang dicatat, misalnya ketika mengepung Surabaya yang diperkuat dengan benteng, pasukan mataram membendung sungai Brantas dan meracuni sisa air yang masih mengalir dengan kolang-kaling, hal ini mengakibatkan penduduk surabaya dalam bebarapa waktu hanya tinggal separuhnya karena keracunan sehingga Pangeran Surabaya menyerah pada pasukan Mataram. Tindakan yang di luar batas yang lain adalah ketika Sultan Agung memerintahkan untuk membunuh seluruh pasukan Mataram pimpinan Tumenggung Wiraguna yang baru kembali dari kekalahan partempuran di Batavia termasuk sang Tumenggung sendiri (Baca Denys Lombard, "Nusa Jawa Silang Budaya")

Pada masa Sultan Agung, budaya yang dikembangkan di Jawa menurut para sejarawan Indonesia kontemporer adalah budaya pedalaman jawa yang berciri kejawen, feodal dan berbau mistik. Ini berbeda dengan kebudayaan pada masa-masa sebelumnya yang berciri perniagaan dengan kesultanan dan daerah yang tumbuh di pesisir utara Jawa, terutama dilihat dari letak ibukotanya yang berada di pedalaman Jawa dan berorientasi kepada laut selatan yang bersifat mistis dengan kepercayaan pada Nyi Roro Kidul, penguasa gaib di laut selatan pulau Jawa yang konon memiliki perjanjian menikah dengan Raja-raja Mataram semenjak masa Panembahan Senapati sebagai bagian dari persekutuan mistis. Para sejarawan dan budayawan Sunda menyatakan sejak Sultan Agung menguasai daerah-daerah Priangan di Jawa Barat (kecuali daerah Kesultanan Banten), bahasa Sunda memiliki tingkatan yang sama dengan bahasa Jawa khususnya di Wilayah Mataraman yakni dikenal istilah bahasa sunda halus dan bahasa sangat halus yang sebelumnya tidak dikenal.

Sultan Agung juga memadukan budaya Islam dengan kebudayaan Jawa bahkan kebudayaan Jawa pra Islam. Di antaranya adalah menetapkan Penanggalan Jawa hasil perpaduan antara Kalender Saka dengan Penanggalan Islam (Penanggalan Hijriah) yang dikenal sekarang dikalangan masyarakat Jawa. Selain itu, Sultan Agung juga dikenal mendalami karya-karya Sastra Jawa dan seni wayang, di antaranya dengan menulis Sastra Gending dan Wayang Krucil.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, secara umum dikenal sebagai masa puncak kejayaan Kesultanan Mataram.

Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

Rujukan

  1. ^ Ensiklopedia Tematik Dunia Islam Asia Tenggara. PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. 2002. hlm. 54. 
Didahului oleh
Adipati Martoputro
Raja Mataram Islam
(Kesultanan Mataram)
Dilanjutkan:
Amangkurat I