Napan Group

perusahaan asal Indonesia
Revisi sejak 19 Februari 2021 16.51 oleh Dani1603 (bicara | kontrib) (←Membuat halaman berisi ''''Napan Group''' (awalnya merupakan singkatan dari PT '''Nawa Panduta''', kemudian menjadi PT '''Napan Persada''') merupakan sebuah kelompok bisnis (konglomerat|kon...')
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Napan Group (awalnya merupakan singkatan dari PT Nawa Panduta, kemudian menjadi PT Napan Persada) merupakan sebuah kelompok bisnis (konglomerasi) di Indonesia yang dirintis oleh Henry Pribadi (lahir tahun 1948 di Malang) bersama dua saudaranya, Andry Pribadi dan Wilson Pribadi sejak 1974.[1] Kelompok ini dirintis oleh Henry, awalnya dari bisnis orangtuanya di bidang perdagangan. Ketika itu, pada 1970-an, Henry yang sedang berkuliah di Jerman diminta oleh anggota keluarganya untuk membantu pengembangan bisnis ini. Henry, sebagai anak tertua kemudian pulang dan mulai membantu pengembangan usaha yang awalnya hanya perusahaan kecil menjadi cukup besar.[2] Dalam mengembangkan bisnisnya, awalnya Henry dibantu oleh Grup Salim (dahulu PT Waringin Kentjana), mengingat Henry masih punya hubungan sepupu dengan rekan Sudono Salim di PT Waringin, yaitu Djuhar Sutanto.[3] Di PT Waringin, sejak 1966 Henry bekerja sebagai pembantu administratif dalam beberapa urusan perusahaan yang sedang berkembang ini. Kemudian, Henry juga bekerja di Indocement.[4] Namun, kemudian Henry mampu melepaskan diri dari bayang-bayang Om Liem (karena diberi kebebasan olehnya) dan membangun bisnisnya sendiri.[5] Diversifikasi bisnis Napan mulai terlihat sejak pertengahan 1980-an, dengan memiliki saham di sejumlah perusahaan, baik secara langsung oleh Napan maupun oleh keluarga Pribadi.[6] Dengan ekspansi ini, Henry dan Napan Group-nya menjadi salah satu konglomerasi terpandang pada 1990-an, dengan pendapatan pada 1996 mencapai Rp 1,165 miliar. dan posisi di nomor 39 konglomerasi terbesar di Indonesia pada 1991.[7][8]

Pasca krisis ekonomi 1997-1998, Henry dan Napan Group kemudian terjerat hutang di BPPN sebagai salah satu obligor terbesar (ke-9) dengan tunggakan Rp 2,98 T.[9] Pendapatan Napan pun menurun menjadi hanya Rp 570 miliar. Untuk menyelesaikan masalah ini, Napan melakukan restrukturisasi dengan menjual/melepas sahamnya/kepemilikannya di berbagai perusahaan, seperti petrokimia, penyiaran dan lain-lain. Selain itu, Henry juga berusaha bernegosiasi dengan BPPN sehingga mendapat kesepakatan yang memuaskan.[10]

Beberapa bisnis Henry yang pada saat ini masih ada, yaitu:

Selain itu, dikabarkan bahwa Henry juga mempunyai PT Citrabumi Sacna, yang bergerak di bidang pertambangan batu bara dan kontraktor, serta pernah memperoleh konsesi jalan tol Subang-Dawuan.[11][12] Selain itu, bisnis lain yang dulu pernah ditekuni oleh Napan Group, yaitu:

  1. ^ Company Overview
  2. ^ Sudwikatmono: sebuah perjalanan di antara sahabat
  3. ^ Liem Sioe Liong's Salim Group
  4. ^ Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (4th edition)
  5. ^ Pergulatan 26 manajer Indonesia menuju sukses
  6. ^ Informasi, Masalah 203-208
  7. ^ Indonesia : the uncertainties of the economic take-off , Masalah 4961, Bagian 62
  8. ^ NAPAN GROUP; DEPRESSED, TIES WITH SUDWIKATMONO CRACK.
  9. ^ Eksekutif, Masalah 246-250
  10. ^ Eksekutif, Masalah 246-250
  11. ^ Indonesia's Changing Political Economy
  12. ^ PT . Citrabumi Sacna
  13. ^ Default GANTI NAMA...
  14. ^ Televisi Jakarta di atas Indonesia: Kisah Kegagalan Sistem Televisi Berjaringan di Indonesia
  15. ^ Default Ayo sctv, jangan bubar
  16. ^ Ekonomi Politik Media Penyiaran
  17. ^ Henry Pribadi Jual Semua Saham di SCTV ke Abhimata Mediatama
  18. ^ [ekonomi-nasional Re: [mediacare] SCTV MENGECEWAKAN]
  19. ^ Branta Mulia Berubah Jadi Indo Kordsa
  20. ^ Liem Sioe Liong's Salim Group
  21. ^ Warta ekonomi: mingguan berita ekonomi & bisnis, Volume 16,Masalah 1-8
  22. ^ Eksekutif, Masalah 159-162
  23. ^ Indonesia Mining, Oil and Gas Industry Export-Import, Business Opportunities ...
  24. ^ Tempo, Volume 28,Masalah 17-18
  25. ^ Kredit perbankan di Indonesia
  26. ^ Pertamina Siap Ambil Alih Polyprima Karyareksa
  27. ^ PT. Indorama Petrochemicals (PTIP) Indonesia
  28. ^ Indonesia Beyond Suharto
  29. ^ JSX Watch
  30. ^ NAPAN GROUP; DEPRESSED, TIES WITH SUDWIKATMONO CRACK.
  31. ^ International Financing Review: IFR., Masalah 1131-1134
  32. ^ Informasi, Masalah 203-208
  33. ^ Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketches (4th edition)
  34. ^ Informasi, Masalah 203-208