Keluarga Berencana

gerakan pembatasan kelahiran agar keluarga sehat & sejahtera
Revisi sejak 23 Maret 2024 09.38 oleh Raflinoer32 (bicara | kontrib) (Parafrasa)

Keluarga berencana (disingkat KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran. Dalam arti lain, gerakan ini dapat didefinisikan sebagai perencanaan jumlah keluarga dengan pembatasan yang bisa dilakukan seperti menggunakan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran meliputi kondom, spiral, IUD, dan sebagainya. Selain itu, gerakan KB juga dapat dapat dimaknai sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran masyarakat melalui upaya pendewasaan usia perkawinan, pengendalian kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, serta peningkatan kesejahteraan keluarga dalam rangka melembagakan dan membudidayakan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera.[1]

Logo keluarga berencana

Program Keluarga Berencana adalah bagian yang terpadu (integral) dalam program pembangunan nasional. Program ini memiliki tujuan untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi, spiritual dan sosial budaya penduduk Indonesia agar dapat mencapai keseimbangan yang baik dengan kemampuan produksi nasional. Di samping itu, KB juga termasuk ke dalam program pemerintah yang dibuat untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dengan jumlah penduduk. Oleh sebab itu, program ini diharapkan dapat menerima Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS) yang berorientasi pada pertumbuhan yang seimbang. Perlu digarisbawahi bahwasanya Gerakan Keluarga Berencana Nasional Indonesia telah dianggap masyarakat dunia sebagai program yang berhasil menurunkan angka kelahiran yang bermakna.[1]

Sejarah

Di Indonesia, program Keluarga Berencana (KB) diprakarsai oleh para ahli kandungan pada tahun 1950-an. Program ini diusung untuk mencegah angka kematian ibu dan bayi yang tinggi pada masa itu. Lalu, pada tahun 1957, terbentuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang menjadi organisasi sosial yang bergerak dalam bidang KB. Namun, kegiatannya mendapat berbagai hambatan, terutama dengan adanya KUHP nomor 283 yang melarang adanya penyebarluasan gagasan tentang keluarga berencana.[2]

Kemudian, pada tahun 1967, PKBI diakui secara resmi sebagai badan hukum oleh Departemen Kehakiman. Dalam Kongres Nasional I PKBI di Jakarta, terdapat keputusan yang menerangkan bahwa dalam upayanya untuk mendukung program KB, PKBI akan melakukan kerjasama dengan pemerintah. Pada tahun yang sama, presiden Soeharto meresmikan Deklarasi Kependudukan Dunia yang membahas tentang kesadaran mengenai urgensi merencanakan jumlah anak dan menjarangkan kelahiran sebagai bagian dari hak asasi manusia.[2]

Lebih lanjut, setelah dilakukan pertemuan dengan para menteri dan tokoh masyarakat yang terlibat dalam upaya KB, pada tanggal 17 Oktober 1968 pemerintah membentuk Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) dengan status sebagai Lembaga Semi Pemerintah. Lalu, pada tahun 1970, pemerintah membentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang diketuai oleh dr. Suwardjo Suryaningrat. Pada tahun 1972, lembaga tersebut resmi menjadi Lembaga Pemerintah Non-departemen yang memiliki kedudukan langsung di bawah Presiden.[2]

Masa Orde Baru

Program KB berjaya pada era Orde Baru karena mendapat dukungan langsung dari presiden Soeharto. Semua elemen pemerintah berkomitmen untuk melaksanakan program keluarga berencana. Selain itu, program ini juga mendapat dukungan dana dari pemerintah dalam negeri dan luar negeri salah satunya Bank Dunia. Pada masa itu, program KB berhasil dipromosikan kepada berbagai masyarakat di berbagai pelosok Indonesia.[2]

Pada tahun 1970 hingga tahun 1980, penyelenggaraan program KB Nasional dikenal dengan nama “Management for the People”. Pada masa ini, pemerintah lebih banyak melakukan inisiatif dan partisipasi masyarakat menjadi sangat rendah. Hal ini disebabkan karena program tersebut memiliki orientasi target sehingga menjadi kurang demokratis dengan kehadiran Polisi dan TNI pada pelaksanaan kegiatan seperti KB massal. Seiring dengan berjalannya waktu, implementasi program yang memiliki sifat “top-down approach” ini berubah kembali menjadi Gerakan Keluarga Berencana pada tahun 1980-an. Pola kebijakan ini berubah menjadi “Management with the People”. Unsur pemaksaan dikurangi serta masyarakat dibebaskan untuk memilih jenis kontrasepsi yang hendak digunakan.[2]

Program KB pada era Orde Baru ini berhasil mencapai target nasional. Keberhasilan program ini juga diakui oleh dunia internasional dengan peraihan penghargaan dari United Nation (UN) Population Award oleh UNFPA pada tahun 1989.[2]

Tujuan

Pelaksanaan program KB memiliki tujuan sebagai berikut.

  1. Membentuk keluarga kecil sejahtera, sesuai dengan kondisi ekonomi keluarga tersebut
  2. Mencanangkan keluarga kecil dengan hanya dua anak
  3. Mencegah terjadinya pernikahan di usia dini
  4. Menekan angka kematian ibu dan bayi akibat hamil di usia yang terlalu muda atau terlalu tua
  5. Menekan jumlah penduduk serta menyeimbangkan jumlah kebutuhan dengan jumlah penduduk di Indonesia.[3]

Manfaat

Program KB memiliki beberapa manfaat untuk keluarga yaitu sebagai berikut.

1. Menjaga kesehatan ibu dan bayi

Program kehamilan yang direncanakan dengan matang akan memberikan dampak baik bagi kesehatan ibu dan bayi. Selain itu, program KB juga memberikan pengarahan mengenai langkah-langkah untuk menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik sebelum maupun setelah melahirkan.[3]

2. Mendorong kecukupan ASI dan pola asuh yang baik bagi anak

Dengan program KB, pasangan dapat merencanakan waktu kehamilan dengan tepat. Hal ini erat kaitannya dengan kecukupan ASI dan pola asuh anak. Idealnya, jarak anak pertama dan kedua adalah 3–5 tahun. Dengan jarak waktu ini, anak pertama bisa mendapatkan manfaat ASI dengan maksimal hingga usianya 2 tahun. Tak hanya itu, anak juga jadi bisa mendapatkan perhatian penuh dari orang tuanya sehingga bisa berdampak positif untuk tumbuh kembangnya.[3]

3. Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan

Pasangan yang tidak menjalankan program KB berisiko mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Misalnya, perempuan di atas 35 tahun dan belum menopause yang melakukan hubungan intim tanpa alat kontrasepsi bisa saja hamil. Namun, kehamilan ini berisiko tinggi dan bisa berdampak fatal pada ibu dan bayi. Begitu juga dengan kehamilan yang terlalu dini setelah melahirkan. Misalnya, seorang wanita bisa saja melahirkan ketika anak pertama masih berusia di bawah 1 tahun. Pada kondisi ini, ibu bisa saja belum pulih sepenuhnya setelah melahirkan anak sebelumnya. Hal ini tentu berdampak pada kesehatan fisik maupun mentalnya.[3]

4. Mencegah penyakit menular seksual

Meski dilakukan antara suami-istri, hubungan seksual tidak terlepas dari risiko terjadinya penyakit menular seksual seperti sifilis, gonore, hingga HIV/AIDS. Namun, hal ini bisa dicegah dengan penggunaan alat kontrasepsi, seperti kondom.[3]

5. Menurunkan angka kematian ibu dan bayi

Manfaat program keluarga berencana lainnya adalah untuk menurunkan risiko kematian ibu dan bayi. Kasus ini masih sering dijumpai di masyarakat, terutama pada kehamilan berisiko tinggi, misalnya pada wanita berusia lebih dari 35 tahun, wanita yang menderita penyakit kronis tertentu, dan wanita yang baru saja melahirkan.[3]

6. Membentuk keluarga yang berkualitas

Semua yang direncanakan dengan baik juga bisa berbuah baik. Dalam hal ini, merencanakan kehamilan dan jumlah anak bukan cuma masalah waktu, tetapi juga soal ekonomi, pendidikan anak, dan pola asuh.[3]

Prosedur KB

Program keluarga berencana memiliki beberapa metode seperti penggunaan pil kontrasepsi oral, implan, suntik, spiral, kondom, dan sebagainya. Masing-masing metode tersebut memiliki prosedur dan efektivitas yang berbeda dalam mengendalikan kehamilan atau mencegah kehamilan yang tidak kamu inginkan. Berikut ini penjelasan lebih lanjut mengenai prosedur KB.[4]

1. Kontrasepsi alami

Metode ini bisa kamu lakukan dengan menghitung masa subur wanita secara manual melalui perhitungan siklus menstruasi. Cara ini dapat kamu lakukan dengan memeriksa suhu tubuh, perubahan pada cairan vagina, serta menghitung menggunakan kalender kesuburan.[4]

2. Pil KB

Pil KB merupakan salah satu kontrasepsi yang banyak orang gunakan. Alat kontrasepsi ini mengandung hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi mencegah terjadinya ovulasi. Terdapat dua jenis pil KB, yaitu pil KB kombinasi dan pil yang hanya mengandung progesteron.[4]

3. Kondom pria

Alat kontrasepsi ini bisa pria gunakan pada alat kelaminnya untuk mencegah sperma masuk ke dalam vagina saat sedang berhubungan intim.Selain mencegah kehamilan, penggunaan kondom pria bermanfaat untuk mencegah penularan penyakit infeksi menular seksual (IMS). Namun, alat kontrasepsi ini hanya bersifat sekali pakai.[4]

4. Suntik

Terdapat dua jenis KB suntik, suntik yang memiliki jangka waktu tiga bulan dan suntik yang hanya bisa bertahan selama satu bulan. Metode ini lebih efektif daripada mengonsumsi pil KB. Namun, suntik KB berpotensi menimbulkan efek samping ketimbang jenis lainnya. Meski begitu, kamu bisa Mengetahui 7 Efek Samping Melakukan Suntik KB dan Cara Mengatasinya.[4]

5. Implan

Alat kontrasepsi jenis ini memiliki bentuk dan seukuran batang korek api dan kamu masukkan ke bagian bawah kulit, biasanya pada lengan bagian atas. KB implan atau susuk KB akan mengeluarkan hormon progestin secara perlahan dan dapat mencegah kehamilan hingga tiga tahun. Namun KB ini memiliki efek samping, yaitu menstruasi tidak teratur, pembengkakan dan memar pada area kulit yang kamu pasang, dan tidak efektif mencegah penularan IMS. Selain itu, kamu juga bisa baca artikel ini untuk informasi lebih lengkap: Memutuskan Pasang KB Implan? Kenali Dulu Plus dan Minusnya.[4]

6. IUD

IUD (intrauterine device) memiliki bentuk seperti huruf T. Jenis keluarga berencana ini bisa kamu pasang pada rahim untuk menghalangi sperma dari proses pembuahan. IUD umumnya memiliki dua bentuk utama, yaitu IUD yang terbuat dari tembaga, misalnya ParaGard, yang memiliki ketahanan hingga 10 tahun. Jenis lainnya yaitu IUD yang memiliki kandungan hormon, seperti Mirena yang harus kamu perbarui setiap lima tahun.[4]

7. Kondom wanita

Wanita juga bisa menggunakan kondom khusus, yaitu berupa plastik yang mereka pasang untuk menyelubungi vagina. Di bagian ujungnya terdapat cincin plastik yang berperan untuk menyesuaikan posisi alat kelamin pria saat berhubungan intim.[4]

Efek samping

Suntik

Setiap metode dari alat kontrasepsi sebenarnya memiliki efek samping, terlebih alat kontrasepsi hormonal seperti KB suntik. Secara umum, berikut efek samping dari menggunakan alat kontrasepsi suntik KB dan cara tepat mengatasinya:

1. Perubahan siklus menstruasi

Suntik KB dapat menyebabkan terjadinya perubahan siklus menstruasi, baik menjadi lebih panjang maupun lebih pendek. Ketika pemakaian pertama, terjadi menstruasi berkepanjangan, flek (spotting), lalu haid akan menjadi jarang atau berhenti sama sekali. Sekitar 40 persen wanita berhenti haid setelah satu tahun pemakaian. Ini adalah efek samping yang tidak berbahaya, sehingga tidak perlu kamu khawatirkan. Sebab, berhentinya menstruasi tidak berarti “darah kotor” menstruasi jadi menumpuk. Ini karena kontrasepsi hormonal menekan penebalan dinding rahim yang biasanya luruh dalam bentuk darah haid, sehingga tidak ada “darah” yang harus diluruhkan.[5]

2. Suntik KB bisa sebabkan berat badan naik

Kenaikan berat badan pada akseptor KB suntik berkisar antara 1-2 kilogram per tahun. Penyebabnya, hormon progesteron pada KB suntik dapat meningkatkan nafsu makan dengan cara memengaruhi pusat pengendali nafsu makan pada hipotalamus.[5]

3. Tidak bisa langsung hamil setelah suntik berhenti

Beda halnya dengan IUD, implan, maupun pil KB, pengguna KB suntik harus sedikit bersabar ketika merencanakan kehamilan kembali. Pasalnya, setelah berhenti memakai alat kontrasepsi ini, kesuburan batu akan kembali sekitar 10 bulan setelahnya, tetapi bisa juga lebih cepat. Kamu tidak dapat memprediksi berapa lama kesuburan akan kembali karena efek KB pada setiap orang berbeda-beda.[5]

4. Penurunan gairah seksual

Salah satu cara kerja hormon progesteron adalah mengentalkan lendir pada vagina. Selain itu, suntikan progestin dapat mengubah makanan sumber karbohidrat menjadi lemak yang sulit bereaksi terhadap air. Artinya, semakin banyak kadar lemak pada tubuh, kadar air justru menjadi lebih sedikit. Hal ini membawa pengaruh pada vagina yang menjadi lebih kering.  Akibatnya, wanita kerap merasa rasa sakit saat berhubungan seksual. Apabila kamu tidak segera melakukan penanganan, efek samping yang paling sering terjadi adalah penurunan gairah seksual. Kamu bisa menyiasati kondisi ini dengan melakukan foreplay yang lebih lama atau memakai pelumas. Jika kamu dan pasangan masih tetap tidak nyaman, coba beberapa posisi seks yang cocok. Menciptakan mood yang baik sebelum berhubungan seks juga bisa menjadi pemantik gairah.[5]

5. Sakit kepala, nyeri payudara, dan perubahan suasana hati

Baik sakit kepala, nyeri payudara, maupun perubahan suasana hati adalah efek samping dari perubahan hormonal setelah masuknya progestin dalam tubuh setelah kamu mendapatkan suntik KB. Pada beberapa wanita, suasana hati cepat berubah dan timbul amarah yang lebih sering dari biasanya. Meski cukup umum, tidak semua wanita yang melakukan KB suntik mengalami efek tersebut. Namun, untuk membantu mengurangi rasa nyerinya, kamu bisa mengonsumsi parasetamol. Apabila efek sampingnya sampai membuat kamu tidak nyaman, segera diskusikan dengan dokter ahli kandungan.[5]

6. Berkurangnya kepadatan tulang

Studi menyebutkan, penggunaan KB suntik dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya penipisan tulang. Ini adalah gejala awal osteoporosis yang memang lebih rentan terjadi pada wanita. Meski begitu, tidak akan sampai pada risiko patah tulang. Seharusnya, dengan menjaga konsumsi makanan yang mengandung Vitamin D dan kalsium, efek negatif ini bisa berkurang. Untuk meminimalisir beragam efek samping ini, kenali Cara Menentukan Suntik KB yang Paling Tepat.[5]

7. Muncul jerawat

Perubahan hormon yang terjadi akibat KB suntik dapat menyebabkan berbagai masalah pada kulit, seperti munculnya jerawat. Ini karena hormon progesteron dapat menyebabkan sekresi pada kelenjar minyak dan lemak pada wajah secara berlebihan, sehingga berpotensi menimbulkan jerawat. Guna mengurangi kemungkinan masalah kulit ini, jagalah kebersihan wajah dengan rajin mencuci muka sebelum tidur untuk membersihkan sisa make up atau kotoran yang menempel setelah beraktivitas. Kamu juga bisa menggunakan masker alami untuk meredakan  peradangan.[5]

Pil KB

Meskipun efektif dalam mencegah kehamilan, pil KB juga dapat menimbulkan efek samping. Berikut adalah beberapa efek samping pil KB yang sering dikeluhkan:

1. Mual

Pil KB memang menjadi salah satu pilihan paling aman dan efektif untuk mencegah kehamilan. Selain itu, jenis kontrasepsi ini juga mudah dikonsumsi dan mudah didapatkan. Namun, efek samping pil KB berupa mual bisa saja Anda alami. Untuk mengatasi rasa mual, Anda bisa mengonsumsi antasida atau obat antimual yang dijual bebas. Jika mual terasa semakin mengganggu, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter mengenai cara konsumsi pil KB, maupun kemungkinan menggantinya ke metode kontrasepsi lain.[6]

2. Sakit kepala

Efek samping pil KB lainnya adalah sakit kepala. Kondisi ini biasanya hanya terasa beberapa hari sekali dan bisa diatasi dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti paracetamol. Jika tidak kunjung membaik, Anda bisa memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.[6]

3. Nyeri payudara

Konsumsi pil KB mungkin juga akan memberikan Anda efek samping berupa nyeri payudara. Biasanya kondisi ini hanya berlangsung sementara dan akan hilang dalam waktu beberapa bulan. Nyeri payudara biasanya akan semakin terasa ketika mendekati waktu menstruasi. Bila efek samping pil KB ini terasa menganggu, Anda bisa menanyakan saran penanganan yang sesuai pada dokter.[6]

4. Perdarahan di luar masa haid

Pengguna pil KB bisa saja mengalami efek samping berupa perdarahan di luar masa haid. Efek samping ini bisa dicegah dengan mengonsumsi pil KB pada waktu yang sama setiap harinya. Jika Anda sudah mengonsumsinya secara teratur tetapi masih saja mengalami perdarahan di luar masa haid, sebaiknya periksakanlah diri ke dokter.[6]

5. Kenaikan berat badan

Efek samping pil KB yang dari dulu banyak ditakutkan wanita adalah kenaikan berat badan. Efek samping ini memang ada jika pil KB mengandung estrogen dengan kadar yang tinggi sehingga membuat nafsu makan meningkat dan memicu penimbunan cairan di dalam tubuh. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena kebanyakan pil KB yang beredar saat ini mengandung estrogen dalam kadar yang lebih rendah tetapi tetap efektif dan tidak menyebabkan peningkatan berat badan. Apabila Anda tetap mengalami keluhan ini selama mengonsumsi pil KB, coba konsultasikan kepada dokter. Dengan begitu, dokter bisa mencari tau penyebab kenaikan berat badan yang Anda alami dan menyarankan penanganan yang sesuai.[6]

6. Gairah seks yang menurun

Sering kali penggunaan pil KB juga menyebabkan gairah seks Anda menurun. Hal ini bisa terjadi karena kandungan hormon estrogen dan progestin dalam pil KB membuat hormon testosteron menurun, sehingga gairah seks wanita pun ikut turun. Jika Anda mengalami penurunan gairah seks, cobalah jenis pil KB yang berbeda. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter karena beberapa wanita bisa mendapatkan kembali gairah seksnya setelah beralih ke pil KB yang bekerja seperti hormon androgen.[6]

7. Perubahan suasana hati yang terjadi secara mendadak

Layaknya PMS, perubahan hormon yang terjadi karena pil KB dapat berpengaruh pada suasana hati. Jika mood swing yang dirasakan tidak terlalu parah, Anda bisa mencoba olahraga atau relaksasi untuk meredakannya. Namun, jika perubahan suasana hati mengarah ke depresi atau kecemasan yang berlebihan dan terasa sangat mengganggu, konsultasikanlah kepada dokter. Konsultasi akan memberikan Anda saran untuk mengatasi keluhan ini, termasuk beralih ke metode kontrasepsi nonhormonal, misalnya IUD. Selain efek samping pil KB di atas, mengonsumsi pil KB juga bisa memberikan efek samping yang lebih serius, seperti penggumpalan darah, serta meningkatnya risiko terkena kanker payudara dan kanker serviks. Namun, Anda tidak perlu khawatir karena kemungkinan terjadinya efek samping tersebut sangatlah rendah.[6]

Kelompok Wanita yang Sebaiknya Menghindari Pil KB

Mengonsumsi pil KB terbilang praktis karena bisa dilakukan sendiri di rumah. Namun, Anda tetap harus berkonsultasi dulu ke dokter karena ada beberapa kondisi yang tidak dianjurkan untuk menggunakan pil KB, yaitu:

  1. Menderita serangan migrain yang parah
  2. Berusia lebih dari 35 tahun
  3. Memiliki riwayat tekanan darah tinggi
  4. Menderita diabetes dengan komplikasi atau telah menderita diabetes lebih dari 20 tahun
  5. Memiliki berat badan berlebih (overweight) dengan indeks massa tubuh di atas 35
  6. Merokok atau baru saja berhenti merokok selama 1 tahun
  7. Memiliki riwayat penggumpalan darah atau memiliki anggota keluarga yang mengalami penggumpalan darah pada usia kurang dari 45 tahun
  8. Menderita kanker payudara

Pil KB memang sangat efektif dalam mencegah kehamilan. Namun, karena bisa saja terjadi efek samping pil KB dan untuk memastikan apakah pil KB adalah metode kontrasepsi yang cocok untuk Anda, sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter. Bila memang pil KB tidak sesuai untuk kondisi dan kebutuhan Anda, dokter bisa menyarankan jenis kontrasepsi lain.[6]

Referensi

  1. ^ a b Perpustakaan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023). Keluarga Berencana (PDF). Jakarta: Perpustakaan Kementerian Kesehatan RI. 
  2. ^ a b c d e f Fandy. "Sejarah Program KB di Indonesia". Gramedia. Diakses tanggal 2024-03-23. 
  3. ^ a b c d e f g "Kenali Tujuan dan Manfaat Program Keluarga Berencana". Alodokter. 2020-10-12. Diakses tanggal 2024-03-23. 
  4. ^ a b c d e f g h Halodoc. "KB (Keluarga Berencana) - Tujuan, Manfaat, dan Prosedur". halodoc. Diakses tanggal 2024-03-23. 
  5. ^ a b c d e f g Halodoc, Redaksi. "Ketahui 7 Efek Samping Melakukan Suntik KB dan Cara Mengatasinya". halodoc. Diakses tanggal 2024-03-23. 
  6. ^ a b c d e f g h Halodoc, Redaksi. "7 Efek Samping Memakai Pil KB yang Perlu Dipahami". halodoc. Diakses tanggal 2024-03-23. 

Lihat pula

Pranala luar