Rinitis alergi

Penyakit pada manusia

Rinitis alergi, yang juga dikenal sebagai hay fever, adalah tipe inflamasi pada hidung yang terjadi ketika sistem imun bereaksi lebih terhadap alergen di udara.[6] Tanda dan gejala meliputi hidung tersumbat; bersin;mata kemerahan, gatal, dan berair; dan bengkak di sekitar mata.[3] Cairan dari hidung biasanya bening.[2] Gejala sering dimulai dalam beberapa menit setelah terpapar alergen dan dapat memengaruhi pola tidur, kemampuan bekerja, dan kemampuan berkonsentrasi di sekolah.[2] Gejala yang disebabkan terutama serbuk sari berkembang selama waktu tertentu dalam setahun.[1] Banyak orang dengan rinitis alergi juga mengalami asma, konjungtivitis alergi, atau dermatitis atopik.[2]

Rinitis alergi
Serbuk sari dari berbagai tumbuhan, diperbesar 500 kali dan lebar sekitar 0.4 mm
Informasi umum
Nama lainHay fever, pollinosis
SpesialisasiAlergi dan imunologi
PenyebabFaktor genetik dan lingkungan[1]
Faktor risikoAsma, konjungtivitis alergi, dermatitis atopik[2]
Aspek klinis
Gejala dan tandaHidung tersumbat, bersin; mata kemerahan, gatal, dan berair; pembengkakan di sekitar mata[3]
Awal muncul20 hingga 40 tahun[2]
DiagnosisBerdasarkan gejala, tes alergi kulit, tes darah untuk antibodi spesifik[4]
Kondisi serupaPilek[1]
Tata laksana
PencegahanPaparan terhadap hewan[1]
PengobatanNasal steroid; antihistamin seperti diphenhydramine, cromolyn sodium; leukotriene receptor antagonists seperti montelukast; imunoterapi alergi[5][6]
Prevalensi~20% (negara Barat)[2][7]

Rinitis alergi dipicu terutama oleh alergen lingkungan seperti serbuk sari, rambut hewan, debu, atau jamur.[1] Genetik turunan dan paparan lingkungan berkontribusi pada perkembangan alergi.[1] Tumbuh besar di wilayah pedesaan dan memiliki banyak saudara menurunkan risiko.[2] Mekanisme pokok melibatkan antibodi IgE yang melekat pada alergen dan menyebabkan pelepasan zat-zat inflamasi seperti histamin dari mastosit.[2] Diagnosis biasanya berdasarkan riwayat medis yang dipadukan dengan tes alergi kulit atau tes darah untuk antibodi IgE spesifik alergen.[4] Namun, tes tersebut kadang memberi hasil positif palsu.[4] Gejala alergi menyerupai penderita pilek; namun, gejala tersebut sering kali berlangsung lebih dari dua pekan dan tanpa demam.[2]

Paparan pada binatang di awal dapat mengurangi risiko alergi di kemudian hari.[1] Sejumlah pengobatan dapat memperbaiki gejala misalnya steroid nasal, antihistamin seperti diphenhydramine, cromolyn sodium, dan leukotriene receptor antagonist seperti montelukast.[5] Namun, pengobatan memberi efek samping bagi kebanyakan orang.[2] Memaparkan pasien pada alergen yang lebih besar dan lebih banyak, yang dikenal sebagai imunoterapi alergen, sering kali efektif.[6] Alergen dapat diberikan sebagai injeksi bawah kulit atau sebagai tabel yang digunakan di bawah lidah.[6] Penanganan biasanya berlangsung selama tiga hingga lima tahun, setelah itu manfaatnya dapat berlangsung lama.[6]

Rinitis alergi adalah jenis alergi yang terjadi pada banyak orang. Di negara-negara Barat, sekitar 10–30% warga terjangkit pada tahun tertentu.[7] Penyakit ini kebanyakan terjadi antara umur 20-an dan 40-an.[2][7] Deskripsi akurat yang pertama datang dari tabib abad ke-10 Muhammad bin Zakariya ar-Razi.[8] Serbuk sari diidentifikasikan sebagai penyebab penyakit pada tahun 1859 oleh Charles Blackley.[9] Pada tahun 1906, mekanisme penyakit dikemukakan oleh Clemens von Pirquet.[10] Hubungan penyakit dengan jerami kira-kira muncul karena teori awal (dan tidak tepat) bahwa gejala penyakit mungkin dipicu oleh bau jerami segar.[11][12]

Tanda dan gejala

 
Ilustrasi yang menggambarkan inflamasi yang berkaitan dengan rinitis alergi

Gejala khas dari rinitis alergi adalah: rhinorrhea (kelebihan cairan hidung), gatal, bersin menetap, dan hidung tersumbat.[13] Tanda-tanda fisik yang khas meliputi pembengkakan konjungtiva dan eritema, pembengkakan kelopak mata, stasis vena kelopak mata bawah (lingkaran di bawah mata dikenal sebagai "allergic shiners"), pembengkakan turbinat hidung, dan efusi telinga tengah.[14]

Tanda-tanda perilaku dapat pula muncul; untuk meredakan iritasi atau aliran lendir, penderita dapat mengusap hidung dengan telapak tangan dalam gerakan ke atas: tindakan yang disebut sebagai "nasal salute" atau "allergic salute." Hal ini dapat berakibat kerutan sepanjang hidung (atau di atas tiap lubang jika hanya satu sisi hidung yang diusap), umumnya disebut sebagai "transverse nasal crease", dan dapat berakibat deformitas fisik permanen jika diulang terus-menerus.[15]

Penderita juga dapat mengalami reaktivitas silang.[16] Misalnya, seseorang yang alergi serbuk sari birch dapat pula mengalami reaksi alergi terhadap kulit apel atau kentang.[17] Tanda jelas dari kasus ini adalah tenggorokan yang gatal setelah memakan apel atau bersin ketika mengupas kentang atau apel. Ini terjadi karena kemiripan protein pada serbuk sari dan makanan.[18] Terdapat banyak zat yang reaksi silang. Hay fever bukanlah demam yang sebenarnya, yang berarti tidak menyebabkan suhu tubuh dasar melampaui 37,5–38,3 °C (99,5–100,9 °F).

Penyebab

Rinitis alergi dipicu oleh serbuk sari dari tumbuhan musiman tertentu yang umumnya dikenal sebagai "hay fever," karena paling sering terjadi selama musim jerami. Namun, rinitis alergi mungkin terjadi sepanjang tahun. Serbuk sari yang menyebabkan hay fever bervariasi antara individu dan wilayah; umumnya, serbuk sari yang sangat kecil dan sulit terlihat dari tumbuhan anemofili (penyerbukan melalui udara) adalah penyebab utama. Serbuk sari tumbuhan entomofili (penyerbukan melalui serangga) terlalu besar untuk menular lewat udara dan tidak memberikan risiko. Contoh tumbuhan yang umumnya menyebabkan hay fever adalah:

  • Pohon: seperti pinus (Pinus), birch (Betula), alnus (Alnus), aras (Cedrus), hazel (Corylus), hornbeam (Carpinus), horse chestnut (Aesculus), dedalu (Salix), poplar (Populus), platanus (Platanus), tilia (Tilia), dan zaitun (Olea). Di belahan utara, birch dianggap sebagai serbuk sari pohon alergenik paling umum, dengan sekitar 15–20% masyarakat dengan hay fever sensitif terhadap serbuk birch. Antigen utama pada serbuk tersebut adalah protein yang disebut Bet V I. Serbuk sari zaitun adalah yang paling sering di wilayah Mediterania. Hay fever di Jepang umumnya disebabkan oleh serbuk sari pohon sugi (Cryptomeria japonica) dan hinoki (Chamaecyparis obtusa).
    • Pohon "ramah alergi" termasuk: ash (fraxinus), maple merah, poplar kuning, dogwood, magnolia, cherry berbunga ganda, fir, spruce, dan prem berbunga.[19]
  • Rumput (Famili Poaceae): terutama ryegrass (Lolium sp.) dan timothy (Phleum pratense). Sekitar 90% penderita dengan hay fever alergi serbuk sari rumput.
  • Gulma: ragweed (Ambrosia), plantain (Plantago), nettle/parietaria (Urticaceae), mugwort (Artemisia Vulgaris), Fat hen (Chenopodium), dan sorrel/dock (Rumex)

Rinitis alergi dapat pula disebabkan oleh alergi Balsam Peru, yang tersedia dalam kewangian yang beragam dan produk lainnya.[20][21][22]

Diagnosis

 
Patch test (tes tempel)

Tes alergi dapat memperlihatkan alergen spesifik yang sensitif terhadap setiap individu. Tes kulit adalah metode tes alergi yang paling umum. Tes ini dapat meliputi patch test (tes tempel) untuk menentukan zat tertentu yang menyebabkan rinitis, atau tes intradermal, tes garukan, atau tes lainnya. Alergen yang dicurigai jarang dilarutkan dan diteteskan ke dalam kelopak mata bawah untuk keperluan tes alergi. Tes ini hanya boleh dilakukan oleh dokter karena berbahaya jika dilakukan tidak sesuai prosedur. Pada beberapa individu yang tidak dapat melakukan tes kulit (seperti yang dijelaskan dokter), tes darah RAST dapat berguna dalam menentukan sensitivitas alergen spesifik. Eosinofilia perifer dapat terlihat dalam hitung leukosit diferensial.

Tes alergi dapat memperlihatkan alergi yang sebenarnya tidak menyebabkan gejala atau melewatkan alergi yang benar-benar menyebabkan gejala. Tes alergi intradermal lebih sensitif dari skin prick test tetapi lebih sering positif pada penderita yang tidak memiliki gejala terhadap alergen tersebut.[23]

Bahkan jika penderita memiliki hasil negatif pada skin-prick test, tes intradermal, dan tes darah untuk alergi, dia masih dapat menderita rinitis alergi, dari alergi lokal di hidung. Hal ini disebut rinitis alergi lokal.[24] Tes khusus diperlukan untuk mendiagnosis rinitis alergi lokal.[25]

Klasifikasi

Rinitis alergi dapat bersifat musiman atau menetap. Rinitis alergi musiman terjadi khususnya selama musim penyerbukan. Penyakit ini biasanya tidak berkembang hingga di atas umur 6 tahun. Rinitis alergi menetap terjadi sepanjang tahun. Jenis rinitis alergi ini umumnya terlihat pada anak berusia lebih muda.[26]

Rinitis alergi dapat pula diklasifikasikan sebagai ringan berselang, sedang-berat berselang, ringan menetap, dan sedang-berat menetap. Rinitis alergi intermittent terjadi apabila gejala dialami <4 hari per minggu atau <4 minggu berturut-turut. Rinitis alergi persisten terjadi apabila gejala dialami >4 hari/minggu dan >4 minggu berturut-turut. Gejalanya dianggap ringan dengan pola tidur normal, tanpa gangguan pada aktivitas harian, tanpa gangguan di tempat kerja atau sekolah, dan jika gejalanya tidak mengganggu. Gejala berat mengakibatkan gangguan tidur, gangguan pada aktivitas harian, dan gangguan di tempat kerja atau sekolah.[27]

Rinitis alergi lokal

Rinitis alergi lokal adalah suatu reaksi alergi pada hidung terhadap alergen, tanpa alergi sistemis. Skin-prick test dan tes darah untuk alergi memberi hasil negatif, tetapi terdapat antibodi IgE yang diproduksi di hidung yang bereaksi terhadap alergen tertentu. Tes kulit intradermal dapat pula memberi hasil negatif.[25]

Gejala rinitis alergi lokal sama dengan gejala rinitis alergi, termasuk gejala pada mata. Seperti halnya rinitis alergi, penderita dapat mengalami rinitis alergi lokal musiman atau menetap. Gejala rinitis alergi lokal dapat bersifat ringan, sedang, atau berat. Rinitis alergi lokal berkaitan dengan konjungtivitis dan asma.[25]

Pada suatu studi, sekitar 25% penderita dengan rinitis mengalami rinitis alergi lokal.[28] Pada beberapa studi, lebih dari 40% penderita yang telah didiagnosis rinitis non-alergi ternyata mengalami rinitis alergi lokal.[24] Steroid nasal sprays dan antihistamin oral dianggap efektif untuk rinitis alergi lokal.[25]

Pencegahan

Salah satu cara untuk mencegah rinitis alergi adalah mengenakan respirator atau masker ketika berada di dekat lokasi alergen potensial.

Tumbuh besar di wilayah pedesaan dan memiliki banyak saudara yang lebih tua dapat menurunkan risiko.[2]

Penanganan

Tujuan penanganan rinitis adalah untuk mencegah atau mengurangi gejala yang disebabkan oleh peradangan jaringan yang terdampak. Cara yang efektif termasuk menghindari alergen.[13] Kortikosteroid intranasal adalah penanganan medis yang dianjurkan untuk gejala menetap, dengan pilihan lainnya jika tidak efektif.[13] Terapi lini kedua meliputi antihistamin, dekongestan, cromolyn, leukotriene receptor antagonists, dan irigasi hidung.[13] Antihistamin melalui mulut cocok untuk penggunaan seperlunya dengan gejala ringan berselang.[13] Pembungkus bebas tungau, penyaring udara, dan bekal makanan tertentu untuk anak tidak terbukti mendukung efektivitas.[13]

Antihistamin

Antihistamin dapat dikonsumsi melalui mulut dan hidung untuk mengontrol gejala seperti bersin, rhinorrhea, gatal, dan konjungtivitis.

Sebaiknya obat antihistamin oral dikonsumsi sebelum terpapar, terutama untuk rinitis alergi musiman. Dalam kasus antihistamin nasal seperti azelastine antihistamine nasal spray, gejala yang reda selama 15 menit memungkinkan pemberian dosis yang lebih mendesak. Tidak cukup bukti kemanjuran antihistamin karena terapi tambahan dengan steroid nasal dalam penanganan rinitis alergi berselang atau menetap pada anak, sehingga efek samping dan biaya tambahan harus dipertimbangkan.[29]

Antihistamin oftalmik (seperti azelastine dalam bentuk tetes mata dan ketotifen) digunakan untuk konjungtivitis, sementara bentuk intranasal digunakan terutama untuk bersin, rhinorrhea, dan nasal pruritus.[30]

Obat antihistamin dapat memberikan efek samping yang tidak diinginkan, yang paling utama adalah kantuk dalam kasus tablet antihistamin oral. Obat antihistamin generasi pertama seperti diphenhydramine menyebabkan kantuk, sedangkan antihistamin generasi kedua dan ketiga seperti cetirizine dan loratadine memberi efek lebih sedikit.[30]

Pseudoefedrina juga diindikasikan untuk rinitis vasomotor. Obat ini digunakan hanya jika hidung tersumbat dan dapat digunakan bersama antihistamine. Di Amerika Serikat, dekongestan oral yang mengandung pseudoefedrina harus dibeli di apotek dalam rangka mencegah pembuatan methamphetamine.[30]


Steroid

Kortikosteroid intranasal digunakan untuk mengontrol gejala yang berkaitan dengan bersin, rhinorrhea, gatal, dan hidung tersumbat. Semprotan hidung steroid bersifat efektif dan aman, dan dapat efektif tanpa antihistamin oral. Perlu beberapa hari untuk bereaksi dan harus dikonsumsi terus-menerus selama beberapa minggu, karena efek terapinya terus berkembang.

Pada tahun 2013, suatu studi membandingkan kemanjuran mometasone furoate nasal spray terhadap tablet oral betamethasone untuk pengobatan penderita dengan rinitis alergi musiman dan menyimpulkan bahwa keduanya memiliki efek yang sebenarnya setara terhadap gejala hidung pada penderita.[31]

Steroid sistemik seperti tablet prednisone dan triamcinolone acetonide intramuskular atau injeksi glukokortikoid (seperti betamethasone) efektif mengurangi peradangan hidung, [butuh rujukan] tetapi penggunaannya dibatasi pada durasi efek yang singkat dan efek samping pengobatan steroid berkepanjangan.[32]

Pengobatan lain

Pengobatan lain yang dapat digunakan sebagai lini kedua meliputi: dekongestan, cromolyn, leukotriene receptor antagonists, dan terapi nonfarmakologi seperti irigasi hidung.[13]

Dekongestan topikal dapat pula berguna dalam mengurangi gejala seperti hidung tersumbat, tetapi sebaiknya tidak digunakan dalam waktu lama karena berhenti setelah penggunaan panjang dapat mengakibatkan sumbatan hidung berulang yang disebut rhinitis medicamentosa.

Untuk gejala nokturnal, kortikosteroid intranasal dapat dikombinasikan dengan oxymetazoline, adrenergic alpha-agonist, atau antihistamine nasal spray tanpa risiko rhinitis medicamentosa.[33]

Irigasi salin hidung (sebuah tindakan di mana air garam dimasukkan ke dalam rongga hidung), dapat bermanfaat bagi dewasa dan anak dalam meredakan gejala rinitis alergi dan tidak mungkin berkaitan dengan efek samping.[34]

Imunoterapi alergen

Imunoterapi alergen (juga disebut desensitisasi) merupakan pemberian dosis alergen untuk menyesuaikan tubuh terhadap zat-zat yang umumnya tidak berbahaya (serbuk sari, tungau), sekaligus menginduksi toleransi spesifik jangka panjang.[35] Imunoterapi alergi dapat diberikan secara oral (dalam bentuk tablet sublingual atau obat tetes tetes sublingual), atau melalui injeksi di bawah kulit (subcutaneous).

Pengobatan alternatif

Kemanjuran pengobatan alternatif seperti akupunktur dan homeopati tidak didukung oleh bukti yang tersedia.[36][37] Beberapa bukti menunjukkan bahwa akupunktur efektif untuk rinitis, sedangkan bukti yang lain tidak demikian. Namun, kualitas bukti secara keseluruhan masih kurang.[38]

Epidemiologi

Rinitis alergi adalah jenis alergi yang menjangkit banyak orang. Di negara-negara Barat, antara 10 hingga 30 persen warga terjangkit.[2] Penyakit ini paling umum terjadi pada umur 20-an hingga 40-an.[2]

Sejarah

Deskripsi akurat yang pertama datang dari tabib abad ke-10 yang bernama Muhammad bin Zakariya ar-Razi.[8] Serbuk sari diidentifikasi sebagai penyebab penyakit pada tahun 1859 oleh Charles Blackley.[9] Pada tahun 1906 mekanisme penyakit dikemukakan oleh Clemens von Pirquet.[10] Hubungan penyakit dengan jerami kira-kira muncul karena teori awal (dan tidak tepat) bahwa gejala penyakit mungkin dipicu oleh bau jerami segar.[11][12]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g "Cause of Environmental Allergies". NIAID (dalam bahasa Inggris). 22 April 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juni 2015. Diakses tanggal 17 Juni 2015. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n Wheatley, LM; Togias, A (29 Januari 2015). "Clinical practice. Allergic rhinitis". The New England Journal of Medicine (dalam bahasa Inggris). 372 (5): 456–63. doi:10.1056/NEJMcp1412282. PMC 4324099 . PMID 25629743. 
  3. ^ a b "Environmental Allergies: Symptoms". NIAID (dalam bahasa Inggris). 22 April 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 18 Juni 2015. Diakses tanggal 19 Juni 2015. 
  4. ^ a b c "Environmental Allergies: Diagnosis". NIAID (dalam bahasa Inggris). 12 May 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juni 2015. Diakses tanggal 19 Juni 2015. 
  5. ^ a b "Environmental Allergies: Treatments". NIAID (dalam bahasa Inggris). 22 April 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juni 2015. Diakses tanggal 17 Juni 2015. 
  6. ^ a b c d e "Immunotherapy for Environmental Allergies". NIAID (dalam bahasa Inggris). 12 May 2015. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juni 2015. Diakses tanggal 19 Juni 2015. 
  7. ^ a b c Dykewicz MS, Hamilos DL (Februari 2010). "Rhinitis and sinusitis". The Journal of Allergy and Clinical Immunology (dalam bahasa Inggris). 125 (2 Suppl 2): S103–15. doi:10.1016/j.jaci.2009.12.989. PMID 20176255. 
  8. ^ a b Colgan, Richard (2009). Advice to the young physician on the art of medicine (dalam bahasa Inggris). New York: Springer. hlm. 31. ISBN 9781441910349. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 September 2017. 
  9. ^ a b Justin Parkinson (1 July 2014). "John Bostock: The man who 'discovered' hay fever" (dalam bahasa Inggris). BBC News Magazine. Diarsipkan dari versi asli tanggal 31 Juli 2015. Diakses tanggal 19 Juni 2015. 
  10. ^ a b Fireman, Philip (2002). Pediatric otolaryngology vol 2 (dalam bahasa Inggris) (edisi ke-4). Philadelphia, Pa.: W. B. Saunders. hlm. 1065. ISBN 9789997619846. 
  11. ^ a b "Dr. Marshall Hall on Diseases of the Respiratory System; III. Hay Asthma". The Lancet (dalam bahasa Inggris): 245. 19 Mei 1838. doi:10.1016/S0140-6736(02)95895-2. With respect to what is termed the exciting cause of the disease, since the attention of the public has been turned to the subject an idea has very generally prevailed, that it is produced by the effluvium from new hay, and it has hence obtained the popular name of hay fever. [...] the effluvium from hay has no connection with the disease. 
  12. ^ a b History of Allergy (dalam bahasa Inggris). Karger Medical and Scientific Publishers. 2014. hlm. 62. ISBN 9783318021950. Diarsipkan dari versi asli tanggal 10 Juni 2016. 
  13. ^ a b c d e f g "Treatment of Allergic Rhinitis". Am Fam Physician (dalam bahasa Inggris). 92 (11): 985–992. 1 Desember 2015. Diakses tanggal 21 April 2018. 
  14. ^ Valet RS, Fahrenholz JM (2009). "Allergic rhinitis: update on diagnosis". Consultant (dalam bahasa Inggris). 49: 610–3. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Januari 2010. 
  15. ^ Pray, W. Steven (2005). Nonprescription Product Therapeutics (dalam bahasa Inggris). Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 221. ISBN 0781734983. 
  16. ^ "[Food allergy in children with pollinosis in the Western sea coast region]". Pol Merkur Lekarski (dalam bahasa Inggris). 5 (30): 338–40. 1998. PMID 10101519. 
  17. ^ "[Relationship between pollen allergy and oral allergy syndrome]". Nippon Jibiinkoka Gakkai Kaiho (dalam bahasa Inggris). 108 (10): 971–9. 2005. doi:10.3950/jibiinkoka.108.971. PMID 16285612. 
  18. ^ Malandain H (2003). "[Allergies associated with both food and pollen]". Allerg Immunol (Paris) (dalam bahasa Inggris). 35 (7): 253–6. PMID 14626714. 
  19. ^ "Allergy Friendly Trees" (dalam bahasa Inggris). Forestry.about.com. 5 Maret 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 April 2014. Diakses tanggal 25 April 2014. 
  20. ^ Pamela Brooks (2012). The Daily Telegraph: Complete Guide to Allergies (dalam bahasa Inggris). ISBN 9781472103949. Diakses tanggal 27 April 2014. 
  21. ^ Denver Medical Times: Utah Medical Journal. Nevada Medicine (dalam bahasa Inggris). 1 Januari 2010. Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 September 2017. Diakses tanggal 27 April 2014. 
  22. ^ George Clinton Andrews; Anthony Nicholas Domonkos (1 Juli 1998). Diseases of the Skin: For Practitioners and Students (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 8 September 2017. Diakses tanggal 27 April 2014. 
  23. ^ "Allergy Tests" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 14 Januari 2012. 
  24. ^ a b Rondón, Carmen; Canto, Gabriela; Blanca, Miguel (2010). "Local allergic rhinitis: A new entity, characterization and further studies". Current Opinion in Allergy and Clinical Immunology (dalam bahasa Inggris). 10 (1): 1–7. doi:10.1097/ACI.0b013e328334f5fb. PMID 20010094. 
  25. ^ a b c d Rondón, C; Fernandez, J; Canto, G; Blanca, M (2010). "Local allergic rhinitis: Concept, clinical manifestations, and diagnostic approach" (PDF). Journal of investigational allergology & clinical immunology (dalam bahasa Inggris). 20 (5): 364–71; quiz 2 p following 371. PMID 20945601. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 1 November 2013. 
  26. ^ "Rush University Medical Center" (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Februari 2015. Diakses tanggal 5 Maret 2008. 
  27. ^ "Allergic rhinitis management pocket reference 2008". Allergy (dalam bahasa Inggris). 63 (8): 990–6. Agustus 2008. doi:10.1111/j.1398-9995.2008.01642.x. PMID 18691301. 
  28. ^ "Prevalence and clinical relevance of local allergic rhinitis". Allergy (dalam bahasa Inggris). 67 (10): 1282–8. 2012. doi:10.1111/all.12002. PMID 22913574. 
  29. ^ Nasser, M; Fedorowicz, Z; Aljufairi, H; McKerrow, W (7 Juli 2010). "Antihistamines used in addition to topical nasal steroids for intermittent and persistent allergic rhinitis in children". The Cochrane Database of Systematic Reviews (dalam bahasa Inggris) (7): CD006989. doi:10.1002/14651858.CD006989.pub2. PMID 20614452. 
  30. ^ a b c May, J.R.; Smith, P.H. (2008). "Allergic Rhinitis". Dalam DiPiro, J.T.; Talbert, R.L.; Yee, G.C.; Matzke, G.; Wells, B.; Posey, L.M. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach (edisi ke-7th). New York: McGraw-Hill. hlm. 1565–75. ISBN 007147899X. 
  31. ^ "Efficacy of intranasal steroid spray (mometasone furoate) on treatment of patients with seasonal allergic rhinitis: comparison with oral corticosteroids". Auris Nasus Larynx (dalam bahasa Inggris). 40: 277–81. doi:10.1016/j.anl.2012.09.004. PMID 23127728. 
  32. ^ "A comparison of three injectable corticosteroids for the treatment of patients with seasonal hay fever". J Int Med Res (dalam bahasa Inggris). 8: 63–9. PMID 7358206. 
  33. ^ "Oxymetazoline adds to the effectiveness of fluticasone furoate in the treatment of perennial allergic rhinitis". The Journal of Allergy and Clinical Immunology (dalam bahasa Inggris). 127 (4): 927–34. 2011. doi:10.1016/j.jaci.2011.01.037. PMID 21377716. 
  34. ^ Head, Karen; Snidvongs, Kornkiat; Glew, Simon; Scadding, Glenis; Schilder, Anne GM; Philpott, Carl; Hopkins, Claire (22 Juni 2018), "Saline irrigation for allergic rhinitis", The Cochrane Library (dalam bahasa Inggris), John Wiley & Sons, Ltd, doi:10.1002/14651858.cd012597.pub2, diakses tanggal 28 Juni 2018 
  35. ^ Van Overtvelt L.; et al. (2006). "Immune mechanisms of allergen-specific sublingual immunotherapy". Revue française d’allergologie et d’immunologie clinique (dalam bahasa Inggris). 46: 713–20. 
  36. ^ "ARIA update: I—Systematic review of complementary and alternative medicine for rhinitis and asthma". The Journal of Allergy and Clinical Immunology (dalam bahasa Inggris). 117 (5): 1054–62. 2006. doi:10.1016/j.jaci.2005.12.1308. PMID 16675332. 
  37. ^ Terr A (2004). "Unproven and controversial forms of immunotherapy". Clin Allergy Immunol. (dalam bahasa Inggris). 18 (1): 703–10. PMID 15042943. 
  38. ^ "Efficacy, effectiveness and cost-effectiveness of acupuncture for allergic rhinitis — An overview about previous and ongoing studies". Autonomic Neuroscience (dalam bahasa Inggris). 157 (1–2): 42–5. Juli 2010. doi:10.1016/j.autneu.2010.06.006. PMID 20609633. 

Pranala luar