Seri Rambai

Revisi sejak 7 Mei 2019 14.16 oleh HaEr48 (bicara | kontrib) (rapikan awal)

5°25′16″N 100°20′37″E / 5.421022°N 100.343677°E / 5.421022; 100.343677

Meriam Seri Rambai di Benteng Cornwallis, George Town, Penang, Malaysia.

Seri Rambai adalah sebuah meriam Belanda abad ke-17 yang kini berada di Benteng Cornwallis di George Town, sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO dan ibukota negara bagian Penang, Malaysia. Meriam tersebut merupakan meriam perunggu terbesar di Malaysia, diperbincangkan dalam berbagai legenda dan ramalan maupun sebagai simbol kesuburan.

Meriam tersebut muncul di Selat Malaka awal 1600an, saat Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) mempersembahkannya kepada Sultan Johor demi mendapatkan konsesi dagang. Pada tahun 1613, Kesultanan Aceh menyerang dan menghancurkan Johor, menawan Sultannya dan membawa Seri Rambai ke Aceh. Menjelang akhir abad kedelapan belas, meriam tersebut dikirim oleh Aceh ke Selangor dan ditempatkan di sebelah salah satu benteng atas bukti kota tersebut. Pada 1971, Pemerintah kolonial Britania (Inggris) menyerang Selangor sebagai balasan atas serangan bajak laut. Britania membakar kota tersebut, menghancurkan bentengnya dan merampas Seri Rambai. Meriam tersebut aslinya disimpan di Esplanade di George Town; pada 1950an, meriam tersebut dipindahkan ke pelataran Benteng Cornwallis.

Latar belakang

Asia Tenggara diwarnai dengan kisah-kisah sejarah meriam: ada yang dikatakan memiliki kekuatan supranatural; ada yang dihormati karena memiliki arti spiritual dan budaya; ada yang dikenal hadir dalam momen-momen penting sejarah.[1] Kronik Istana Kaca dari Burma mencatat sebuah kisah tentang Perang Burma-Siam (1765–1767) yang mengilustrasikan sifat-sifat supranatural meriam tertentu. Setelah upaya mengulang serangan-serangan Burma di ibukota Siam mengalami kegagalan, Raja Siam memerintahkan agar "roh penjaga" kota tersenbut, sebuah meriam besar bernama Dwarawadi, digunakan untuk mengambat pergerakan miusuh. Sebuah upacara diadakan untuk memasang dan mengarahkan meriam tersebut, namun mesiunya gagal meledak. Khawatir karena telah diabaikan sang roh penjaga, para petinggi kerajaan memohon agar sang raja menyerah saja.[2][a]

Di Jakarta adalah, Meriam Si Jagur, sebuah meriam Portugis yang dipamerkan di sebelah Museum Fatahillah, adalah sebuah simbol kesuburan.[4] Penulis Aldous Huxley pada tahun 1926 menyebut meriam tersebut sebagai "Dewa Bersujud" yang dibelai, diduduki dan dimintai doa oleh wanita yang ingin memiliki anak.[5] Ada pula meriam Phaya Tani yang berada di dekat halaman gedung Kementerian Pertahanan Thailand di Bangkok. Meriam ini direbut dari Kesultanan Pattani pada 1785,[6] dan merupakan sebuah simbol identitas budaya di Pattani. Rasa kehilangan akibat dirampasnya meriam ini masih terasa di Pattani sampai sekarang: saat Bangkok menolak untuk mengembalikan meriam tersebut dan malah mengirim sebuah replika pada tahun 2013, para pengebom yang diduga pemberontah menghancurkan replika tersebut sembilan hari kemudian.[7]

Seri Rambai

 
Sebuah gambar dekoratif di depan trunionnya yang menampilkan tiga pasang singa. Setiap pasang dipisah dengan bunga-bungaan.

Seri Rambai adalah sebuah meriam Belanda yang ditempatkan di pelataran Benteng Cornwallis di George Town, ibukota Penang dan sebuah Situs Warisan Dunia UNESCO.[8] Dua artikel tentang meriam tersebut diterbitkan di Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society. Artikel pertama adalah sebuah penjelasan singkat dari sejarah meriam tersebut di Selat Malaka; artikel kedua adalah sebuah kajian mendetail yang diriset oleh Carl Alexander Gibson-Hill, seorang mantan direktur Museum Nasional Singapura dan presiden Perhimpunan Fotografi di kota-negara tersebut.[9] Surat-surat kabar juga membahas meriam tersebut; pada 2013, Sunday Times memulai sebuah fitur tentang Penang dengan komentar "Meriam-meriam tak selalu memiliki nama, namun Seri Rambai, di tembok Benteng Fort Cornwallis, merupakan yang dikhususkan".[8]

Seri Rambai memiliki berat 28 pound, panjang 127.5 inch (3.25 m) dengan kaliber 6.1 inch; (15 cm); barelnya berukuran 118.75 inch; (3.02 m). Meriam tersebut dipasang pada 1603 dan merupakan meriam perunggu terbesar di Malaysia. Di bagian depan, lumba-lumba menjadi bagian deokratif yang menampilkan tiga pasangan singa heraldik dengan ekor melingkar yang panjang. Setiap pasang menghadap sebuah vas yang berisi bunga. Antar pegangan dan segel Perusahaan Hindia Belanda adalah sebuah inskripsi Jawi, dilapisi dengan perak, merayakan perebutan meriam tersebut pada 1613. Cincin dasar dihias dengan tanda tangan pembuat meriam tersebut dan tanggal pembuatannya.[10][b][c]

Sejarah

Insiden Santa Catarina

Belanda merebut kontrol perdagangan rempah-rempah Asia Tenggara dengan dua strategi utama: pertama, menyerang langsung aset-aset Iberia di kawasan tersebut, yang meliputi kekuatan Portugal di Malaka dan perkapalan Spanyol di antara Manila dan Acapulco; kedua, memalsukan aliansi dengan para penguasa lokal dan menawarkan perlindungan dengan balasan hak perdagangan.[17] Sebuah aliansi penting dikonsolidasikan pada 1603 saat kapal-kapal Perusahaan Hindia Belanda bergabung dengan pasukan Kesultanan Johor untuk merebut Santa Catarina, sebuah kapal Portugis yang melewati Selat Singapura.[18] Kargo dari kapal tersebut kemudian dijual ke Eropa untuk sekitar 3.5 juta florin, setara dengan setengah bayaran Perusahaan Hindia Belanda dua kali lipat dari bayaran British East India Company.[19] Setelah kejadian tersebut, mungkin pada 1605, para pejabat Belanda memberikan Seri Rambai ke Sultan Johor.[20][d]

Kesultanan Aceh

Salah satu pesaing utama Johor pada masa itu adalah Kesultanan Aceh, sebuah entropot kosmopolitan dan pusat pembelajaran agama dan ideologi. Kebangkitan Aceh dimulai pada awal 1500an: pada dekade-dekade berikutnya, kesultanan tersebut meluaskan wilayahnya di Sumatra dan diberi bantuan militer dari Suleiman I dalam rangka menangkis Portugis dari Malaka.[21] Pada 1613, Aceh meluncurkan serangan ke Johor, menghancurkan ibukotanya dan menjadikan sultan, keluarganya dan para rekannya sebagai tahanan. Seri Rambai direbut saat serangan tersebut: sebuah inskripsi Jawi tentang meriam tersebut mencatat soal peristiwa tersebut dan para perwira Aceh yang terlibat.[22][e]

Insiden Selangor

Tak ada catatan sejarah tentang meriam tersebut antara 1613 dan 1795, saat Aceh mengirim Seri Rambai ke Sultan Ibrahim dari Selangor sebagai balasan atas jasa-jasa saudaranya dalam sebuah kampanye militer.[24] Insiden Selangor dimulai pada Juni 1871 saat para pembajak merebut sebuah kapal jung Penang, menewaskan tiga puluh empat penumpang dan krunya, dan membawa kapal tersebut ke Selangor. Pemerintah kolonial Inggris menanggapinya: sebuah kapal uang dan kapal perang Royal Navy dikerahkan ke Selangor dengan perintah untuk menangkap para pembajak dan mengambalikan kapal jung yang dirampas.[25] Setelah serangkaian ketegangan dan kedatangan pasukan pendukung dan artileri, kota tersebut dibakar, benteng-benteng dihancurkan dan Seri Rambai dibawa ke Penang.[26] Rasa kehilangan meriam tersebut sangat terasa di Selangor; nubuat lokal menyatakan bahwa hanya saat meriam tersebut dipulangkan, kota tersebut akan meraih kembali ketonjolan lamanya.[27]

Penang

Menurut legenda, Seri Rambai tak benar-benar dibawa ke Penang namun terbawa arus air ke pantai George Town dan hengkang selama hampir satu dekade. Cerita tersebut mengisahkan soal bagaimana meriam tersebut kemudian diraih oleh seorang bangsawan Selangor yang mengikatkan tali panjang ke meriam tersebut dan memerintahkan agar meriam tersebut diapungkan ke pesisir.[28] Sampai 1950an, meriam tersebut dipamerkan di Esplanade di jantung George Town, berdekatan dengan Benteng Cornwallis.[29][f] Meriam tersebut dikenal dengan nama Melayunya, Seri Rambai, dan reputasinya sebagai simbol fertilitas.[28] Meriam tersebut direbut pada masa pendudukan Jepang pada Perang Dunia II, namun dikembalikan ke Esplanade setelah pertikaian-pertikaian padam.[13] Pada 1953, sebuah artikel dalam Straits Times membahas rencana untuk menemukan meriam lama untuk simpanan di Benteng Cornwallis, menyatakan bahwa meriam tersebut saat itu adalah yang paling dekat dengan Esplanade, dengan jarak 200 yard.[31] Pada 1970, Seri Rambai ditempatkan di pelataran Benteng Cornwallis, dengan menghilangkan roda untuk pembawaannya.[32]

"Meriam Mengapung" Butterworth

Di dekat terminal feri di Butterworth, sebuah meriam tua menurut tradisi Tionghoa lokal sempat meyakini merupakan pasangan perempuan dari Seri Rambai. Cerita tersebut mengisahkan soal bagaimana mariam tersebut meninggalkan "pasangan"nya dan mengapung di sepanjang selat dari Penang ke Butterworth. Sebuah tradisi Melayu menyebut sejarah yang berbeda dari meriam Butterworth, namun meyakini bahwa Seri Rambai adalah salah satu pasangannya.[33] Kemungkinan Seri Rambai memiliki sebuah kembaran atau "kerabat" bukannya tanpa sebab. Seorang peneliti yang mengkaji Si Jagur di Jakarta menemukan sebuah meriam serupa di Museum Militer Lisbon dan menyatakan bahwa keduanya dibawa oleh Manuel Tavares Bocarro, seorang pemimpin Portugis di Makau.[34] Sebuah cerita menyatakan bahwa Phaya Tani di Pattani memiliki sebuah kembaran, Seri Negara. Keduanya direbut saat penaklukan kesultanan tersebut oleh Siam dan diperintahkan untuk dibawa ke Bangkok. Satu versi dari cerita tersebut mengisahkan bagaimana Seri Negara dibawa ke Teluk Pattani saat diangkut memakai kapal; klaim lainnya menyatakan bahwa meriam tersebut hilang di laut saat kapal Siam tenggelam.[35]

Catatan

  1. ^ Meriam lain dari periode Ayuthaya Thailand adalah Phra Phirun, yang tercatat dalam Kronik Kerajaan Ayuthaya. Ceritanya mengisahkan soal bagaimana Raja Naraiberusaha untuk mendemonstrasikan pengerahan luang dari teman dekat dan orang kepercayaannya, Constance Phaulkon. Raja memerintahkan para abdinya untuk memastikan berat meriam agar sesuai dengan yang mereka inginkan. Anggota bangsawan tersebut membicarakan permintaan raja dan membuat sebuah set dari skala berat. Niatan tersebut berakhir dengan kegagalan Phaulkon menyelesaikan masalah tersebut dengan menawarkan meriam tersebut dan menandai tanda air pada sisi perahunya. Ia kemudian mengganti meriam tersebut dengan batu dan bata sampai tawaran jatuh pada tingkat yang sama. Berdasarkan berat batu dan bata, ia dapat menhitung berat meriam tersebut. Kurang dari seabad kemudian, Phra Phirun hancur saat perang Burma-Siam.[3]
  2. ^ Seri Rambai terbuat dari perunggu, dengan campuran tembaga dan timbal, namun seperti kebanyakan alat artileri perunggu, ini umum disebut sebagai meriam bras atau tembakan bras.[11] Sebuah meriam yang diletakkan di sebelah tiang bendera di Royal Hospital Chelsea menunjukkan bagaimana terminologi berbeda ini dapat penyamaan: meskipun meriam tersebut dilabeli "Meriam Bras (Siam)", sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society menekankan bahwa meriam tersebut terbuat dari perunggu.[12]
  3. ^ Dr Gibson-Hill menyatakan bahwa tanda tangan pembuat meriamnya adalah IAN BERGERUS.[13] Nama sebenarnya adalah Jan Burgerhuis (juga disebut Burgerhuys), seorang Belanda yang bermukim di Middelburg dan mensuplai meriam ke Kelaksamanaan Zeeland dan membuat lonceng-lonceng untuk gereja-gereja di Skotlandia.[14] Barang lainnya yang diketahui berasal dari orang tersebut meliputi dua meriam perunggu yang disimpan di Benteng Belvoir, Virginia. Mereka diberikan kepada Jepang oleh Perusahaan Hindia Belanda pada akhir abad ke-17 dan direbut oleh pasukan Amerika pada Perang Dunia II. Kedua meriam tersebut dipasang pada 1620an oleh putra Jan, Michael.[15] Meriam lainnya yang dibuat oleh Michael dilelang di Bonhams pada 2007. Katalog menyatakan "himpunan membesarnya dari bagian melingkar di bagian tengah atas, di sebuah vas yang berisi buah antar kuda yang saling berhubungan", sebuah rancangan yang tampak mirip dengan Seri Rambai. Meriam tersebut adalah bagian dari koleksi pribadi dan tak ada tanda-tanda bahwa itu diberikan.[16]
  4. ^ Sebuah catatan sejarah Malaka dari awal abad kedelapan belas yang ditulis oleh François Valentijn menyatakan bahwa seorang komandan Belanda datang ke Hokor menjelang akhir 1605 dan memberikan sultan dengan dua meriam perunggu dan sebuah surat dari Pangeran Maurice dari Nassau. Dr Gibson-Hill menyebutnya "sangat tampak" bahwa Seri Rambai adalah salah satu dari dua meriam tersebut.[20]
  5. ^ Inskripsi Jawi tersebut diterjemahkan menjadi "Pembuangan Sultan. Ditangkap oleh kami, Sri Perkasa Alam Johan Berdaulat, pada masa saat mereka memerintahkan Orang Kaya Seri Maharaja dengan para kaptennya dan Orang Kaya Laksamana dan Orang Kaya Raja Lela Wangsa untuk menyerang Johor, pada tahun 1023 A.H.".[22] Seperti yang Profesor Anthony Reid sebutkan dalam Verandah of Violence: The Background to the Aceh Problem, Sri Perkasa Alam adalah nama resmi dari Iskandar Muda, Sultan Aceh.[23]
  6. ^ Kartu-kartu pos Vintage dan sebuah foto lama dari Seri Rambai pada Esplanade di Penang direproduksi dalam buku Profesor Jin Seng Cheah, Penang: 500 Early Postcards. Dalam plat 132 dan 133, meriam tersebut terlihat bersebelahan dengan garis pantai, menyentuh laut; plat 123 menunjukkan bahwa meriam tersebut berada pada posisi yang sama tak lama setelah PDII.[30]

Kutipan

  1. ^ Andaya 1992, hlm. 48–49; Watson Andaya 2011, hlm. 26–28.
  2. ^ Phraison Salarak 1914–1915, hlm. 47–48.
  3. ^ Sewell 1922, hlm. 22–23.
  4. ^ Samodro 2011, hlm. 193–199; Gibson-Hill 1953, hlm. 161.
  5. ^ Huxley 1926, hlm. 205–207.
  6. ^ Watson Andaya 2013, hlm. 41–45; Sewell 1922, hlm. 15–17.
  7. ^ Watson Andaya 2013, hlm. 41–45; Replica Cannon Bombed Nine Days After its Installation (Isranews Agency) 2013.
  8. ^ a b Far and Malay (The Sunday Times) 2013.
  9. ^ Douglas 1948, hlm. 117–118; Gibson-Hill 1953, hlm. 157–161; Dr Gibson-Hill Found Dead in Bath (The Straits Times) 1963.
  10. ^ Gibson-Hill 1953, hlm. 149, 157–158, 172.
  11. ^ Lefroy 1864, hlm. 5.
  12. ^ Scrivener (1981), hlm. 169; Sweeney (1971), hlm. 52.
  13. ^ a b Gibson-Hill 1953, hlm. 157.
  14. ^ Bouchaud et al. 2014, hlm. 144; Puype & Van Der Hoeven 1996, hlm. 24, 26; Clouston 1947–48, hlm. 175.
  15. ^ Bronze Cannon Conservation: Fort Belvoir (Conservation Solutions).
  16. ^ A Very Fine and Impressive Dutch 24 Pdr. Bronze Cannon (Bonhams).
  17. ^ Borschberg 2002, hlm. 59–60.
  18. ^ Borschberg 2002, hlm. 60–61; Borschberg 2004, hlm. 13–15.
  19. ^ Borschberg 2010, hlm. 68.
  20. ^ a b Gibson-Hill 1953, hlm. 159–160.
  21. ^ Reid 2006, hlm. 39–41, 47–48, 56–57, 59–60.
  22. ^ a b Douglas 1948, hlm. 17–18.
  23. ^ Reid 2006, hlm. 55.
  24. ^ Douglas 1948, hlm. 118.
  25. ^ Affair with Pirates (The Straits Times) 1920.
  26. ^ Affair with Pirates (The Straits Times) 1920; Gibson-Hill 1953, hlm. 160–161.
  27. ^ Watson Andaya 2011, hlm. 28.
  28. ^ a b Douglas 1948, hlm. 118; Gibson-Hill 1953, hlm. 161.
  29. ^ Gibson-Hill 1953, hlm. 157; Bouchaud et al. 2014, hlm. 129.
  30. ^ Cheah 2012, hlm. 84–85.
  31. ^ Wanted: Old Cannon for Fort (The Straits Times) 1953.
  32. ^ Dutch Carriage for Cannon (The Straits Times) 1970.
  33. ^ Coope 1947, hlm. 126–128.
  34. ^ Guedes 2011, hlm. 56–57.
  35. ^ Syukri 1985, hlm. 71; Sewell 1922, hlm. 15–17.

Sumber

Buku / Monografi

Jurnal / Majalah

Surat Kabar / Agensi Berita

Situs web