Ayat-Ayat Setan

Revisi sejak 30 Desember 2024 09.30 oleh RizzleValikaze (bicara | kontrib)
(beda) ← Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya → (beda)

Insiden ayat-ayat setan, atau dikenal juga dalam literatur Islam sebagai Qissat al-Gharaniq (Kisah Burung-Burung Bangau), adalah nama sebuah kejadian di masa kenabian Muhammad. Dalam insiden ini, Muhammad disebutkan pernah secara keliru mengira perkataan dari setan sebagai wahyu dari Tuhan (Allah).[1] Penggunaan pertama ungkapan "ayat-ayat setan" dalam bahasa Inggris dikaitkan dengan orientalis Sir William Muir pada tahun 1858.[2]

Riwayat mengenai peristiwa ini dapat ditemukan dalam beberapa sumber, seperti Sirah nabawiyah yang ditulis oleh al-Wāqidī, Ibnu Sa'ad (juru tulis dari Waqidi) dan Ibnu Ishaq, demikian pula pada tafsir oleh at-Thabarī. Para pemuka agama mencatat kisah tersebut selama dua abad pertama hijriyah. Namun, penolakan keras terhadap historisitas insiden Ayat-Ayat Setan telah diajukan sejak abad kesepuluh masehi.[3] Pada abad ke-13 masehi, sebagian besar ulama Islam mulai menolaknya karena dianggap tidak konsisten dengan prinsip teologis 'iṣmat al-anbiyā (kesempurnaan para nabi) dan prinsip metodologis kritik isnad.[1]

Peristiwa ini diterima sebagai kebenaran oleh beberapa orientalis, dengan menyatakan tidak masuk akal para penulis biografi Muslim awal mengarang cerita yang sangat tidak menyenangkan tentang nabi mereka.[4] Namun, Carl W. Ernst menulis bahwa keberadaan sisipan-sisipan selanjutnya dalam surah-surah Mekkah awal menunjukkan bahwa Al-Qur'an direvisi dalam dialog dengan pembaca pertamanya, yang sering membaca Surah-surah ini dalam ibadah dan mengajukan pertanyaan tentang bagian-bagian yang sulit. Penerapan prinsip ini pada Surah 53 ("An-Najm") mengarah pada kesimpulan bahwa apa yang disebut "Ayat-Ayat Setan" kemungkinan besar tidak pernah ada sebagai bagian dari Al-Qur'an. Ia berpendapat bahwa komposisi sastra dari Bab tempat ayat-ayat tersebut diduga telah dibacakan, sangat berfokus pada penolakan terhadap politeisme yang membuat penyertaan kutipan Ayat-Ayat Setan tidak realistis. Ketidakhadirannya dalam koleksi hadis kanonik (kutubus sittah) mendukung klaimnya.[5] Penulis lain berpendapat bahwa ceritanya mungkin dibuat-buat untuk alasan teologis.[6]

Ikhtisar Kisah

sunting
 
Dewi-dewi Arab pada zaman jahiliah, yaitu Al-Lat, Manat, dan al-Uzza.

Ada beberapa kisah tentang insiden tersebut, yang berbeda dalam konstruksi dan detail narasinya, tetapi kisah-kisah itu dapat dirangkum secara luas untuk menghasilkan suatu kisah dasar.[7] Versi-versi cerita yang berbeda tercatat dalam tafsir-tafsir Al-Qur'an awal dan sirah nabawiyyah, seperti milik Ibnu Ishaq.[8] Kisah ini pada dasarnya menyatakan bahwa ketika Muhammad sedang memimpin salat di dekat Ka'bah, ia membaca Surah An Najmn ayat 19-20:

"Apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (dua berhala) al-Lata dan al-‘Uzza, serta Manat (berhala) ketiga yang lain (sebagai anak-anak perempuan Allah yang kamu sembah)?"

Kemudian segera setelah ia membaca ayat-ayat tersebut, ia berkata, "Itulah gharaniq (burung bangau) yang terbang tinggi dan sesungguhnya syafaat mereka harus diharapkan" sehingga suku Quraisy sangat gembira ketika Muhammad berbicara begitu positif tentang Tuhan mereka, mereka pun ikut bersujud bersama kaum Muslim setelah Muhammad membaca ayat-ayat tersebut. Setelah itu, Allah menurunkan sebuah ayat yang menegur Muhammad dan juga menurunkan sebuah ayat yang membatalkan "ayat-ayat setan".

Al-Lāt, al-'Uzzā, dan Manāt adalah tiga dewi Arab pra-Islam yang disembah oleh orang Mekkah. Sulit untuk memahami arti kata gharāniq secara tepat, karena kata tersebut merupakan hapax legomenon (hanya digunakan satu kali dalam teks). Para komentator menulis bahwa kata tersebut berarti "burung bangau". Kata Arab tersebut secara umum berarti "burung bangau" – muncul dalam bentuk tunggal sebagai ghirnīq, ghurnūq, ghirnawq, dan ghurnayq, dan kata tersebut memiliki bentuk sepupu dalam kata lain untuk burung, termasuk "gagak, burung gagak", dan "elang".[9] Jika diambil sebagai satu segmen, "gharāniq yang ditinggikan" telah diterjemahkan oleh orientalis William Muir sebagai "wanita yang ditinggikan", sementara akademisi kontemporer Muhammad Manazir Ahsan telah menerjemahkan segmen yang sama sebagai "dewi-dewi yang menjulang tinggi". Jadi, apakah frasa tersebut dimaksudkan untuk mengaitkan sifat ilahi kepada tiga "berhala" tersebut masih menjadi bahan perdebatan.[10] Pada kedua interpretasi tersebut, para peneliti pada umumnya sepakat mengenai makna bagian kedua ayat tersebut, yaitu "yang diharapkan syafaatnya".

Tanggapan Dalam Tafsir Muslim

sunting

Islam Awal

sunting

Sirah Nabawiyyah yang paling awal, yaitu sirah yang ditulis oleh Ibnu Ishaq (761–767) telah hilang Akan tetapi, koleksi tradisinya masih ada terutama dalam dua sumber: Ibnu Hisyam (833) dan al-Tabari (915). Kisah tersebut muncul dalam al-Tabari, yang memasukkan Ibnu Ishaq dalam rantai transmisi, tetapi tidak dalam Ibnu Hisyam, di mana banyak hal yang telah dicatat oleh generasi sebelumnya tentang Nabi, ia berkomentar dengan tegas, adalah palsu, atau tidak relevan, atau tidak pantas.[11] Ibn Sa'ad dan Al-Waqidi, dua penulis sirah nabawiyyah awal Muhammad lainnya menceritakan kisah tersebut.[12]

Shahab Ahmed, penulis buku tentang ayat-ayat setan pada masa awal Islam, mengamati bahwa pada era tafsir awal dan literatur sīrah/maghazi, insiden ayat-ayat setan hampir diterima secara universal oleh komunitas Muslim awal dan menggambarkan konsep kenabian yang melibatkan perjuangan yang berkelanjutan. Kemudian, hal itu ditolak ketika logika era pengumpulan hadis dan ortodoksi berikutnya didasarkan pada dua prinsip epistemologis: prinsip teologis 'ismat al-anbiyā' (kemaksuman para nabi) dan prinsip metodologi hadis dalam memverifikasi laporan, yaitu berdasarkan isnad mereka.[13]:265, 301.

Ibnu Katsir menolak riwayat tersebut dengan mengatakan: "Inti dari riwayat tersebut bersumber dari riwayat yang shahih, sedangkan riwayat Gharaniq terputus dan tidak memiliki mata rantai periwayatan yang shahih."[14] Ini adalah referensi kepada hadis yang diriwayatkan oleh para ulama seperti Al-Bukhari dan Al-Muslim yang menyebutkan tentang bacaan An Najm ayat 19-20 dan sujud kaum muslimin bersama orang-orang kafir atas bacaan ayat-ayat tersebut. Namun, hadisnya tidak menyebutkan tentang campur tangan setan (kisah gharaniq)[15]

Ibnu Hazm menilai kisah itu sebagai rekayasa, katanya: "Hadits yang memuat kalimat, 'Sesungguhnya mereka adalah orang-orang Gharaniq yang agung, dan mereka diharapkan syafaatnya,' adalah dusta belaka. Tidak sahih dari segi periwayatan dan tidak patut untuk dianut, karena rekayasa dusta itu berada dalam kemampuan siapa pun."[16]

Menurut Ibnu Taimiyah, ada dua pendapat tentang hal ini. Diriwayatkan bahwa para ulama terdahulu (Salaf) mempercayai kisah tersebut, sedangkan para ulama yang datang kemudian (Khalaf) mengatakan bahwa riwayat tersebut tidak dapat dipercaya.[1]

Periode Abad Pertengahan

sunting

Karena sifatnya yang kontroversial, tradisi Ayat-Ayat Setan tidak pernah masuk ke dalam kompilasi hadis kanonik (kutubus sitah) mana pun.[17] Referensi dan tafsir tentang Ayat-ayat tersebut muncul dalam sejarah-sejarah awal.[18][19][20] Selain muncul dalam tafsir Tabarī, ia digunakan dalam tafsir Muqātil karya ʽAbd al-Razzaq al-Sanʽani dan Ibnu Katsir serta naskh Abu Ja'far an-Nahhās, kumpulan asbāb Wāhidī dan bahkan kompilasi al-Durr al-Manthūr fil-Tafsīr bil-Mathūr karya as-Suyūtī.

Penolakan terhadap insiden tersebut telah diajukan sejak abad keempat Islam, seperti dalam karya an-Nahhās dan terus diajukan pada generasi berikutnya oleh para ulama seperti Abu Bakr ibnu al-‘Arabi (w. 1157), Fakhruddin Ar-Razi (1220) serta al-Qurtubi (1285). Argumen paling komprehensif yang diajukan terhadap fakta insiden tersebut muncul dalam ash-Shifa' karya Qadi Iyad.[7] The incident was discounted on two main bases. Peristiwa itu ditolak karena dua alasan utama. Pertama, peristiwa tersebut bertentangan dengan doktrin ismat al-Anbiya. kedua, uraian tentang rantai transmisi yang ada sejak periode itu tidak lengkap (mursal) dan tidak sahih.[7]

Fakhruddin ar-Razi mengomentari Al-Quran 22:52 dalam Tafsir al-Kabir-nya dan menyatakan bahwa "para ahli tafsir" menyatakan bahwa kisah tersebut adalah rekayasa belaka, dengan mengutip argumen-argumen pendukung dari Al-Qur'an, Sunnah, dan akal. Ia kemudian meriwayatkan bahwa Muhaddith Ibnu Khuzaimah yang terkemuka berkata: "itu adalah rekayasa kaum bid'ah" ketika ditanya tentang hal itu. Ar-Razi juga mencatat bahwa al-Bayhaqi menyatakan narasi kisah tersebut tidak dapat dipercaya karena para perawinya memiliki integritas yang dipertanyakan.

Al-Shaukani menyatakan bahwa kisah tersebut tidak shahih, dengan mengatakan: "Dan tidak ada satu pun dari kisah ini (kisah Gharaniq) yang shahih, tidak pula terbukti [kecuali] karena ke-tidak shahih-annya dan kepalsuan sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama ahli hadis karena bertentangan dengan Kitab Allah Ta'ala". Ia kemudian mengutip ulama lain yang juga menganggapnya tidak shahih, seperti Al-Bazzar, Al-Baihaqi, dan Ibnu Khuzaymah.[21]

Para ulama yang mengakui historisitas kejadian tersebut tampaknya memiliki metode yang berbeda untuk menilai laporan daripada yang telah menjadi metodologi Islam standar. Misalnya, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa karena laporan tafsir dan sira-maghazi umumnya disampaikan melalui isnad yang tidak lengkap, laporan-laporan ini tidak boleh dinilai menurut kelengkapan mata rantai tetapi lebih pada dasar penyampaian makna umum yang berulang-ulang di antara laporan-laporan tersebut.[7] Ibnu Taimiyah mengganggap insiden tersebut tidak menyalahi konsep ismat al-Anbiya, dan ia menganggap bahwa peristiwa tersebut dapat menjadi bukti atas kebenaran dan kejujuran Muhammad, karena insiden ini menunjukkan kesediaan Muhammad untuk menyampaikan Wahyu Ilahi dengan setia, meskipun dengan risiko memberatkan dirinya sendiri dengan mengakui kesalahannya.[1]

Ulama Islam Modern

sunting

Banyak cendekiawan Muslim modern yang menolak cerita tersebut. Argumen penolakan mereka terdapat dalam artikel Muhammad Abduh “Masʾalat al-gharānīq wa-tafsīr al-āyāt”, Hayat Muhammad karya Muhammad Husain Haykal (1933), Fi Zilal al-Quran karya Sayyid Qutb (1965), Tafhim-ul-Quran karya Abul Ala Maududi (1972) danNasb al-majānīq li-nasf al-gharānīq karya al-Albani.[7]

Perdebatan Historisitas

sunting

Sejak zaman orientalis William Muir, historisitas cerita ini telah diterima oleh akademisi sekuler.[22] Namun, beberapa orientalis menentang autentisitas historis ayat-ayat ini dengan berbagai alasan.[23] Sean W. Anthony mengamati tren kajian orientalis terkini yang cenderung menolak historisitas cerita tersebut setelah masa ketika para orientalis lebih terpecah belah dan bervariasi.[24]:220

Lihat juga

sunting

Catatan

sunting
  1. ^ a b c d Ahmed, Shahab (1998). "Ibn Taymiyyah and the Satanic Verses". Studia Islamica. Maisonneuve & Larose. 87 (87): 67–124. doi:10.2307/1595926. JSTOR 1595926. 
  2. ^ John L. Esposito (2003). The Oxford dictionary of Islam. Oxford University Press. hlm. 563. ISBN 978-0-19-512558-0. Diarsipkan dari versi asli tanggal 11 June 2016. 
  3. ^ McAuliffe, Jane Dammen, ed. (2001). Encyclopaedia of the Qurʾān: EQ. Leiden: Brill. hlm. 533. ISBN 978-90-04-14743-0. 
  4. ^ Watt, William Montgomery (2009). Muhammad at Mecca (edisi ke-9. impr; Repr. [of the ed.] 1953). Karachi: Oxford Univ. Press. ISBN 978-0-19-577278-4. 
  5. ^ Ernst, Carl W. (2011). How to read the Qur'an: a new guide, with select translations. Chapel Hill: The University of North Carolina Press. ISBN 978-0-8078-3516-6. 
  6. ^ Hoyland, Robert (March 2007). "Writing the Biography of the Prophet Muhammad: Problems and Solutions". History Compass. 5 (2): 581–602. doi:10.1111/j.1478-0542.2007.00395.x. ISSN 1478-0542. 
  7. ^ a b c d e Ahmed, Shahab (2008), "Satanic Verses", dalam Dammen McAuliffe, Jane, Encyclopaedia of the Qurʾān, Georgetown University, Washington DC: Brill (dipublikasikan tanggal 14 August 2008) [pranala nonaktif permanen]
  8. ^ Ibn Ishaq, Muhammad (1955). Ibn Ishaq's Sirat Rasul Allah - The Life of Muhammad Translated by A. Guillaume. Oxford: Oxford University Press. hlm. 165. ISBN 9780196360331. 
  9. ^ Militarev, Alexander; Kogan, Leonid (2005), Semitic Etymological Dictionary 2: Animal Names, Alter Orient und Altes Testament, 278/2, Münster: Ugarit-Verlag, hlm. 131–132, ISBN 3-934628-57-5 
  10. ^ "The "Satanic Verses" | Common Errors in English Usage and More | Washington State University". 8 February 2017. 
  11. ^ Holland, Tom (2012). In the Shadow of the Sword. Doubleday. hlm. 42. ISBN 978-0385531368. 
  12. ^ Rubin, Uri (14 August 2008), "Muḥammad", dalam Dammen McAuliffe, Jane, Encyclopaedia of the Qurʾān, Georgetown University, Washington DC: Brill [pranala nonaktif permanen]
  13. ^ Ahmed, Shahab (2017). Before Orthodoxy: The satanic verses in early Islam. Cambridge, Massachusetts; London, England: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-04742-6. 
  14. ^ Ibn Kathir. Tafsir Ibn Kathir Archive.org. The Interpretation of Ibn Kathir. Darussalam
  15. ^ Rubin, Uri (1997), The eye of the beholder: the life of Muḥammad as viewed by the early Muslims: a textual analysis, Princeton, NJ: Darwin Press (published 1995), p. 161
  16. ^ Ibn, Hazm. Al Fasl fi Al Ahwa wa Al Nihal (dalam bahasa Arabic). hlm. 2/311.  Full text: Islamweb.net
  17. ^ Rubin, Uri (1997), The eye of the beholder: the life of Muḥammad as viewed by the early Muslims: a textual analysis, Princeton, NJ: Darwin Press (dipublikasikan tanggal 1995), hlm. 161, ISBN 0-87850-110-X 
  18. ^ ibn Isḥāq ibn Yasār, Muḥammad; Ibn Hishām, ʻAbd al-Malik, Sīrat Rasūl Allāh 
  19. ^ Ṭabarī, Ṭabarī, Tārīkh ar-Rusul wal-Mulūk 
  20. ^ Ṭabarānī, Sulaymān ibn Aḥmad, al-Mu'jam al-Kabīr 
  21. ^ Shawkānī, al- (2007). Fath al-Qadīr. Dār al-Maʿrifah. hlm. 969–970. 
  22. ^ Orientalis yang tidak menerima historisitas narasi ini bisa dilihat di:
    • Michael Cook, Muhammad. In Founders of Faith, Oxford University Press, 1986, p. 309.
    • Montgomery Watt, Muhammad: Prophet and Statesman. Oxford University Press 1961, p. 60.
  23. ^ Orientalis yang tidak menerima historisitas narasi ini bisa di lihat di:
  24. ^ Anthony, Sean (2019). "The Satanic Verses in Early Shiʿite Literature: A Minority Report on Shahab Ahmed's Before Orthodoxy". Shii Studies Review. 3 (1–2): 215–252. doi:10.1163/24682470-12340043. Diakses tanggal 16 August 2022. 

Kepustakaan

sunting
  • Fazlur Rahman (1994), Major Themes in the Qur'an, Biblioteca Islamica, ISBN 0-88297-051-8 
  • John Burton (1970), "Those Are the High-Flying Cranes", Journal of Semitic Studies, 15: 246–264, doi:10.1093/jss/15.2.246. 
  • Uri Rubin (1995), The Eye of the Beholder: The Life of Muhammad as Viewed by the Early Muslims: A Textual Analysis, The Darwin Press, Inc., ISBN 0-87850-110-X 
  • G. R. Hawting (1999), The Idea of Idolatry and the Emergence of Islam: From Polemic to History, Cambridge University Press, ISBN 0-521-65165-4 
  • Nāsir al-Dīn al-Albānī (1952), Nasb al-majānīq li-nasfi qissat al-gharānīq (The Erection of Catapults for the Destruction of the Story of the Gharānīq) 
  • Shahab Ahmed (2018), Before Orthodoxy: The Satanic Verses in early Islam, Harvard University Press, ISBN 978-0-674-04742-6

Pranala luar

sunting