id.wikipedia.org/w/index.php?title=Istimewa%3AKontribusi_yang_dihapus&offset=&limit=500&target=Bennylin&namespace=0 https://web.archive.org/web/20131015174631/http://pahlawancenter.com:80/daftar-makam-provinsi/jakarta/tmpn-utama-kalibata/daftar-makam-tahun-1997-1998/
Rudy Saladin

Ini adalah halaman pengguna Wikipedia.

Jika Anda menemukan halaman ini pada situs selain Wikipedia, artinya Anda sedang membuka sebuah situs salinan (mirror site). Halaman ini bisa saja sudah lama tidak diperbarui, dan bahwa pengguna halaman ini tidak punya hubungan khusus dengan situs lain selain Wikipedia itu sendiri. Halaman asli berada di alamat https://id.wikipedia.org/wiki/Pengguna:Jeromi_Mikhael.

Yayasan Wikimedia
GoatPandansari1.jpg

Jeromi Mikhael
Nuvola apps kcoloredit.png
Unggah Gambar
Nuvola apps bookcase.png
Bicara
Kontribusi
Nuvola apps ktip.png
Kotak Pasir

Biologi adalah kimia terapan
Kimia adalah fisika terapan
Fisika adalah matematika terapan
Matematika adalah filsafat terapan
Filsafat adalah bahasa terapan

Memperbaiki tanpa banyak bacot diam-diam adalah gaya gue saya

Saya penuh keberanian BLA BLA BLA BLA BLA tiga tahun persis...UMUM ORA UMUM UMUM ORA UMUM....BOHONG...BOHONG

Video ora umum

NgutipSunting

IGK Manila:[1] Ruslan Tjakraningrat:[2] Wasita Kusumah:[3]

Referensi

  1. ^ Suryana; Pangkapi, M. Ridwan (Juli 1999). "Nasib Sekolah Birokrat". Panji Masyarakat. Bandung: Yayasan Nurul Islam. Diakses tanggal 20 Januari 2022. Gambaran itu bisa dilihat pada sistem pendidikannya. Dalam kurikulumnya ditanamkan pendidikan kemiliteran dan mental dwifungsi ABRI. Wajib militer diterapkan di semua kelas, dan semua serba diseragamkan. Tak heran, di bawah Brigjen I.G.K. Manila pada waktu itu STPDN semakin kaku, otoriter, dan sangat militeristis. 
  2. ^ "Perkembangan Islam, Kepemerintahan dan Kharisma Ulama di Madura". Lontar Madura. 12 Maret 2011. hlm. 7. Diakses tanggal 21 Januari 2022. ... dan RA. Moh. Roslan Tjakraningrat yang meninggal pada tanggal 23 Desember 1976. 
  3. ^ Tambunan (1 September 1986). "Kesederhanaan Dua Bekas Gubernur Di Sepanjang Hari-Hari Pensiun". Sarinah. hlm. 12-13. Diakses tanggal 21 Januari 2022. 

Opslihkon (Operasi Pemulihan Kontribusi)Sunting

Pantau terusSunting

KembangkanSunting

https://www.kompas.id/baca/arsip/2019/01/07/dan-para-copet-pun-bermusyawarah

Dan Para Copet Pun BermusyawarahSunting

KOMPAS edisi Senin 7 Januari 2019Halaman: 11Penulis: XAR

Dan Para Copet Pun BermusyawarahSunting

XAR Dan Para Copet Pun Bermusyawarah

Pencopet dari Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta, dan Yogyakarta bermusyawarah di Kota Bandung, Jawa Barat, pada Januari 1977. Musyawarah juga dihadiri dua tokoh copet dari Palembang selaku peninjau. Salah satu hal yang dibicarakan adalah bahwa pencopet perlu meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi aksi copet, terutama menyangkut ketertiban.

Dibahas pula tentang wilayah operasi yang harus dipatuhi. Mereka mempunyai pembagian wilayah masing-masing. Saat itu, banyak pencopet ”bekerja” di luar wilayah yang telah ditentukan atau mencopet di wilayah kelompok lain.

Pada 1977, aksi pencopetan dan penodongan dinilai meresahkan warga. Sampai-sampai Menteri Pertahanan dan Keamanan menginstruksikan kepada Kapolri Jenderal Polisi Widodo Budidarmo untuk melakukan pembasmian. Instruksi serupa juga dikeluarkan Kas Kopkamtib Laksamana Sudomo kepada Kepala Daerah Kepolisian (Kadapol) Metro Jaya Mayor Jenderal Polisi Sutadi untuk membasmi pencopetan dan penodongan.

Sudomo mengatakan bahwa pencopetan mungkin hanya bermotif mencari makan atau malas bekerja. ”Tetapi, bagaimanapun, itu adalah kejahatan yang harus ditindak tegas,” kata Sudomo.

Selain dompet dan jam, pulpen atau pena bermerek terkenal menjadi sasaran copet. Sekali peristiwa pada September 1979, seorang pencopet berhasil menyambar pena bermerek Parker dari seorang pria yang sedang berjalan-jalan di Alun-alun Bandung. Berkat petunjuk saksi mata, korban pencopetan itu mengetahui identitas pencopet. Laki-laki yang kecopetan itu pun berjalan mendahului si pencopet.

”Dengan cekatan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, ia meraih pena yang ada di saku pencopet tersebut,” tulis Kompas, 1 September 1979.

Dan, betapa kagetnya ia ketika melihat pena yang diambil dari saku si pencopet ternyata bukanlah pena miliknya, melainkan pena lain yang harganya jauh lebih mahal.