Salat Jumat
Bagian dari seri |
Islam |
---|
Shalat Jumat (Arab: صلاة الجمعة Salāt al-Jum`ah) adalah aktivitas ibadah shalat wajib yang dilaksanakan secara berjama'ah bagi lelaki Muslim setiap hari Jumat yang menggantikan Shalatdzhuhur. Shalat Jumat hanya dipraktekkan oleh penganut Sunni dan tidak dipraktekkan oleh penganut Syi'ah.[1]
Fadlilah hari Jum’at
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا ثُمَّ هذَا يَوْمُهُمُ الَّذِيْ فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ فَالنَّاسُ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ الْيَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kita
adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi mendahului pada hari
qiyamat. Hanyasaja mereka diberi kitab sebelum kita. Kemudian ini (hari
Jum’at)
adalah hari yang ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih
padanya. Kemudian Allah menunjuki kita. Maka orang-orang mengikuti kita,
orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi”. [HR. Bukhari juz 1,
hal. 212]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ اْلجُمُعَةِ. فِيْهِ خُلِقَ ادَمُ وَ فِيْهِ اُدْخِلَ اْلجَنَّةَ وَ فِيْهِ اُخْرِجَ مِنْهَا وَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ اِلاَّ فِى يَوْمِ اْلجُمُعَةِ. البخارى 1: 216 Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya ialah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu Adam dimasukkan surga, dan pada hari itu pula ia dikeluarkan daripadanya (surga), dan tidaklah terjadi hari qiyamat kecuali hari Jum’at. [HR. Bukhari juz 1, hal. 216]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: نَحْنُ اْلآخِرُوْنَ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ بَيْدَ اَنَّهُمْ اُوْتُوا اْلكِتَابَ مِنْ قَبْلِنَا وَ اُوْتِيْنَاهُ مِنْ بَعْدِهِمْ وَ هذَا يَوْمُهُمِ الَّذِى فُرِضَ عَلَيْهِمْ فَاخْتَلَفُوْا فِيْهِ، فَهَدَانَا اللهُ لَهُ فَهُمْ لَنَا فِيْهِ تَبَعٌ فَاْليَهُوْدُ غَدًا وَ النَّصَارَى بَعْدَ غَدٍ. مسلم 2: 586 Dari Abu Hurairah, dari Muhammad Rasulullah SAW, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Kita adalah orang-orang yang datang akhir, tetapi kita adalah orang-orang yang mendahului pada hari qiyamat, hanya saja mereka diberi kitab sebelum kita, dan kita diberi kitab sesudah mereka. Dan ini adalah hari yang telah ditetapkan kepada mereka, tetapi mereka berselisih padanya. Lalu Allah memberikan petunjuk kepada kita tentang hari itu, maka mereka menjadi mengikuti kita. Orang-orang Yahudi besoknya, dan orang-orang Nashrani besoknya lagi. [HR. Muslim juz 2, hal. 586]
Hukum Shalat Jumat
Shalat Jumat merupakan kewajiban setiap orang beriman, hal ini tercantum dalam Al Qur'an dan beberapa hadits:
Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, dan itu lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. (Al Jumu'ah 62:9).
Yang wajib shalat Jum’at
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ اِلاَّ اَرْبَعَةً: عَبْدٌ مَمْلُوْكٌ اَوْ امْرَأَةٌ اَوْ صَبِيٌّ اَوْ مَرِيْضٌ. الحاكم، فى المستدراك 1: 425، هذا حديث صحيح على شرط الشيخين
Dari Thariq bin Syihab, dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at adalah wajib atas setiap orang Islam dengan berjama’ah, kecuali empat golongan : hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit”. [HR. Hakim, dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 425, ini hadits shahih atas syarat Bukhari Muslim]
عَنْ تَمِيْمِ الدَّارِيّ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اَلْجُمُعَةُ وَاجِبَةٌ اِلاَّ عَلَى امْرَأَةٍ اَوْ صَبِيّ اَوْ مَرِيْضٍ اَوْ عَبْدٍ اَوْمُسَافِرٍ. الطبرانى، فى المعجم الكبير 2: 51،
Dari Tamim Ad-Daariy, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Shalat Jum’at itu wajib, kecuali bagi wanita, anak-anak, orang sakit, hamba sahaya, atau musafir”. [HR. Thabrani, dalam Al-Mu’jamul Kabir juz 2, hal. 51, dlaif, karena di dalam sanadnya ada Al-Hakam bin ‘Amr, ia tertuduh dusta, dan Dlirash bin ‘Amr Al-Multiy, ia matruk].
Ancaman bagi yang meninggalkan Jum’at
Rasulullah SAW bersabda,
عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ وَ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ عَلَى اَعْوَادِ مِنْبَرِهِ: لَيَنْتَهِيَنَّ اَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمُ اْلجُمُعَاتِ اَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللهُ عَلَى قُلُوْبِهِمْ، ثُمَّ لَيَكُوْنُنَّ مِنَ اْلغَافِلِيْنَ. مسلم 2: 591
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa keduanya mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas kayu mimbar beliau, “Sungguh kaum-kaum itu mau menghentikan dari meninggalkan Jum’at atau (kalau nekad) Allah pasti akan menutup hati mereka, kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai”. [HR. Muslim juz 2, hal. 591]
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ اَبِى قَتَادَةَ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ تَرَكَ اْلجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ. الحاكم فى المستدرك 1: 430
Dari ‘Abdullah bin Abu Qatadah, dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali bukan karena berhalangan, maka Allah akan menutup hatinya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 430]
عَنْ اَبِى اْلجَعْدِ الضَّمْرِىّ وَ كَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ تَرَكَ ثَلاَثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللهُ عَلَى قَلْبِهِ. الحاكم فى المستدرك 1: 415
Dari Abul Ja’diy Adl-Dlamriy, ia adalah seorang shahabat, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang meninggalkan Jum’at tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya”. [HR. Hakim dalam Al-Mustadrak juz 1, hal. 415]
Adzan pada hari Jum’at
Rasulullah SAW bersabda,
عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ قَالَ: كَانَ النّدَاءُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اَوَّلُهُ اِذَا جَلَسَ اْلاِمَامُ عَلَى اْلمِنْبَرِ عَلَى عَهْدِ النَّبِيّ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ رض، فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رض وَ كَثُرَ النَّاسُ زَادَ النّدَاءَ الثَّالِثَ عَلَى الزَّوْرَاءِ. البخارى 1: 219
Dari Saib bin Yazid, ia berkata, “Dahulu Adzan hari Jum’at pada awwalnya yaitu pada masa Nabi SAW, Abu Bakar dan ‘Umar RA adalah apabila imam sudah di atas mimbar. Kemudian setelah pada masa ‘Utsman RA, dan orang-orang sudah bertambah banyak, ia menambah adzan yang ketiga di Zauraa’ “. [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]
عَنِ ابْنِ شِهَابٍ اَنَّ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ اَخْبَرَهُ اَنَّ التَّأْذِيْنَ الثَّانِيَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اَمَرَ بِهِ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ رض حِيْنَ كَثُرَ اَهْلُ اْلمَسْجِدِ وَ كَانَ التَّأْذِيْنُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ حِيْنَ يَجْلِسُ اْلاِمَامُ. البخارى 1: 219
Dari Ibnu Syihab bahwasanya Saib bin Yazid menceritakan kepadanya, bahwasanya adzan yang kedua pada hari Jum’at yang ‘Utsman bin ‘Affan RA perintahkan adalah ketika orang-orang yang akan datang ke masjid bertambah banyak, dan dahulu adzan untuk hari Jum’at itu ketika imam sudah duduk (di atas mimbar). [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]
عَنِ الزُّهْرِيّ قَالَ: سَمِعْتُ السَّائِبَ بْنَ يَزِيْدَ يَقُوْلُ اِنَّ اْلاَذَانَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ كَانَ اَوَّلُهُ حِيْنَ يَجْلِسُ اْلاِمَامُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ عَلَى اْلمِنْبَرِ فِى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ ص وَ اَبِى بَكْرٍ وَ عُمَرَ رض. فَلَمَّا كَانَ فِى خِلاَفَةِ عُثْمَانَ رض وَ كَثُرُوْا اَمَرَ عُثْمَانُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ بِاْلاَذَانِ الثَّالِثِ فَاُذّنَ بِهِ عَلَى الزَّوْرَاءِ فَثَبَتَ اْلاَمْرُ عَلَى ذلِكَ. البخارى 1: 219
Dari Zuhriy, ia berkata : Aku mendengar Saib bin Yazid berkata : Sesungguhnya adzan pada hari Jum’at pada awalnya adalah ketika imam sudah duduk di atas mimbar pada hari Jum’at, pada masa Rasulullah SAW, Abu bakar dan ‘Umar RA. Kemudian pada masa khalifah ‘Utsman (bin ‘Affan RA), dan ummat Islam sudah banyak, Khalifah ‘Utsman menyuruh pada hari Jum’at untuk adzan yang ketiga. Maka dilakukan adzan di zaura’. Lalu keadaan itu berlanjut seperti itu. [HR. Bukhari juz 1, hal. 219]
Keterangan :
1. Yang dimaksud adzan ketiga adalah adzan yang dilakukan sebelum khathib berada di atas mimbar. Dikatakan adzan ketiga (seruan ketiga) karena sebelum masa khalifah ‘Utsman sudah ada dua seruan. Seruan pertama yaitu adzan ketika imam sudah duduk di mimbar. Seruan kedua yaitu iqamah ketika khathib sudah turun dari mimbar akan dilaksanakan shalat Jum’at.
2. Zauraa’adalah nama suatu tempat di pasar Madinah.
Hal - hal yang disunnahkan pada Shalat Juma'at
Mandi Jum’at
Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض يَقُوْلُ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَنْ جَاءَ مِنْكُمُ اْلجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ. البخارى 1: 215
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang datang untuk shalat Jum’at hendaklah ia mandi”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 215]
عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ اْلخُدْرِيّ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: غُسْلُ يَوْمِ اْلجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُحْتَلِمٍ. البخارى 1: 212
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Mandi hari Jum’at itu wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (telah baligh)”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِذَا اَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ يَأْتِيَ اْلجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ. مسلم 2: 579
Dari ‘Abdullah, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian akan pergi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi”. [HR. Muslim juz 2, hal. 579]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّ عُمَرَ بْنَ اْلخَطَّابِ بَيْنَمَا هُوَ قَائِمٌ فِى اْلخُطْبَةِ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ رَجُلٌ مِنَ اْلمُهَاجِرِيْنَ اْلاَوَّلِيْنَ مِنْ اَصْحَابِ النَّبِيّ ص فَنَادَاهُ عُمَرُ: اَيَّةُ سَاعَةٍ هذِهِ؟ قَالَ: اِنّى شُغِلْتُ فَلَمْ اَنْقَلِبْ اِلَى اَهْلِى حَتَّى سَمِعْتُ التَّأْذِيْنَ فَلَمْ اَزِدْ اَنْ تَوَضَّأْتُ. فَقَالَ: وَ اْلوُضُوْءَ اَيْضًا، وَ قَدْ عَلِمْتَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ يَأْمُرُ بِالْغُسْلِ. البخارى 1: 212
Dari Ibnu ‘Umar RA, bahwasanya ‘Umar bin Khaththab ketika dia berdiri berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum muhajirin yang awwal dari shahabat Nabi masuk, maka ‘Umar memanggil orang itu, (lalu bertanya), “Sa’at apa sekarang ini ?”. Orang itu menjawab, “Aku disibukkan oleh sesuatu hal, maka tidak ada kesempatan bagiku untuk pulang ke keluargaku sehingga aku mendengar suara adzan. Maka aku tidak dapat berbuat lebih kecuali hanya wudlu saja”. ‘Umar berkata, “Hanya wudlu saja ?”, padahal kamu sudah tahu bahwa Rasulullah SAW menyuruh supaya mandi !”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ عُمَرَ رض بَيْنَمَا هُوَ يَخْطُبُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ رَجُلٌ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ رض: لِمَ تَحْتَبِسُوْنَ عَنِ الصَّلاَةِ؟ فَقَالَ الرَّجُلُ: مَا هُوَ اِلاَّ اَنْ سَمِعْتُ النّدَاءَ تَوَضَّأْتُ. فَقَالَ: اَلَمْ تَسْمَعُوا النَّبِيَّ ص قَالَ: اِذَا رَاحَ اَحَدُكُمْ اِلَى اْلجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ؟البخارى 1: 213
Dari Abu Hurairah, bahwasanya ‘Umar RA ketika dia berkhutbah pada hari Jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki masuk, maka ‘Umar bin Khaththab RA berkata, “Kenapa kalian terlambat untuk shalat ?”. Maka orang laki-laki itu berkata, “Tidak ada yang menghalangi, hanyasaja aku mendengar adzan, lalu berwudlu”. Maka ‘Umar berkata, “Apakah kamu tidak mendengar bahwa Nabi SAW bersabda, “Apabila salah seorang diantara kalian pergi shalat Jum’at, hendaklah ia mandi ?”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: بَيْنَمَا عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ يَخْطُبُ النَّاسَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِذْ دَخَلَ عُثْمَانُ بْنُ عَفَّانَ فَعَرَّضَ بِهِ عُمَرُ، فَقَالَ: مَا بَالُ رِجَالٍ يَتَأَخَّرُوْنَ بَعْدَ النّدَاءِ؟ فَقَالَ عُثْمَانُ: يَا اَمِيْرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ، مَا زِدْتُ حِيْنَ سَمِعْتُ النّدَاءَ اَنْ تَوَضَّأْتُ ثُمَّ اَقْبَلْتُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَ اْلوُضُوْءَ اَيْضًا. اَ لَمْ تَسْمَعُوْا رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلىَ اْلجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ. مسلم 2: 580
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Ketika ‘Umar bin Khaththab sedang berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Jum’at, tiba-tiba ‘Utsman bin ‘Affan datang masuk masjid. Kemudian ‘Umar menyindirnya dengan berkata, “Kenapa orang-orang berlambat-lambat (untuk datang shalat Jum’at) setelah mendengar adzan ?”. Kemudian ‘Utsman berkata, “Ya amirul mu’minin, setelah mendengar adzan saya tidak sempat untuk berbuat lebih, kecuali saya hanya berwudlu, kemudian saya datang kemari”. ‘Umar berkata, “Hanya wudlu saja ? Apakah kalian tidak mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian akan datang pada shalat Jum’at, maka hendaklah mandi”. [HR. Muslim juz 2, hal. 580]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ النَّاسُ يَنْتَابُوْنَ اْلجُمُعَةَ مِنْ مَنَازِلِهِمْ مِنَ اْلعَوَالِى فَيَأْتُوْنَ فِى اْلعَبَاءِ وَ يُصِيْبُهُمُ اْلغُبَارُ فَتَخْرُجُ مِنْهُمُ الرّيْحُ فَاَتَى رَسُوْلَ اللهِ ص اِنْسَانٌ مِنْهُمْ وَ هُوَ عِنْدِى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَوْ اَنَّكُمْ تَطَهَّرْتُمْ لِيَوْمِكُمْ هذَا. مسلم 2: 581
Dari ‘Aisyah bahwasanya ia berkata, “Dahulu orang-orang berdatangan untuk shalat Jum’at dari rumah-rumah mereka di dataran tinggi sekitar Madinah, dengan memakai mantel sehingga debu pun mengenai mereka, sehingga berbau apek. Kemudian ada seseorang diantara mereka menemui Rasulullah SAW, sedangkan beliau ketika itu di sisiku. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Alangkah baiknya jika kalian mandi untuk harimu ini”. [HR. Muslim juz 2, hal. 581]
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَبِهَا وَ نِعْمَتْ وَ مَنِ اغْتَسَلَ فَاْلغُسْلُ اَفْضَلُ. الترمذى 2: 4، و قال حديث حسن
Dari Samurah bin Jundab, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berwudlu pada hari Jum’at, maka yang demikian itu bagus. Tetapi barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih utama”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 4, ia mengatakan hadits hasan]
Keterangan :
Dari hadits-hadits di atas bisa dipahami bahwa mandi Jum’at itu sangat ditekankan, namun demikian hukumnya tetap sunnah.
Memakai wangi-wangian dan bersiwak.
عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ اْلاَنْصَارِيُّ قَالَ: اَشْهَدُ عَلَى اَبِى سَعِيْدٍ قَالَ: اَشْهَدُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: الْغُسْلُ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُلّ مُحْتَلِمٍ. وَ اَنْ يَسْتَنَّ وَ اَنْ يَمَسَّ طِيْبًا اِنْ وَجَدَ. البخارى 1: 212
Dari ‘Amr bin Sulaim Al-Anshariy, ia berkata : Saya menyaksikan Abu Sa’id, ia berkata : Aku menyaksikan Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Mandi pada hari Jum’at itu wajib atas setiap orang yang telah bermimpi, menggosok gigi dan memakai wewangian, jika ada”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 212]
عَنْ سَلْمَانَ اْلفَارِسِيّ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ يَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ وَ يَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ اَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيْبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ فَلاَ يُفَرّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ثُمَّ يُصَلّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ يُنْصِتُ اِذَا تَكَلَّمَ اْلاِمَامُ اِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلجُمُعَةِ اْلاُخْرَى. البخارى 1: 213
Dari Salman Al-Farisiy, ia berkata : Nabi SAW bersabda, “Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at, bersuci semaksimalnya, lalu memakai minyak rambut, atau minyak wangi keluarganya, kemudian keluar dan tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk), lalu ia shalat yang telah ditetapkan untuknya, kemudian ia diam ketika khathib berkhutbah, melainkan diampuni dosanya antara Jumat itu dan Jum’at yang lain”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]
عَنِ الزُّهْرِيّ قَالَ طَاوُسٌ قُلْتُ ِلابْنِ عَبَّاسٍ ذَكَرُوْا اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِغْتَسِلُوْا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ وَ اغْسِلُوْا رُءُوْسَكُمْ وَ اِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا جُنُبًا وَ اَصِيْبُوْا مِنَ الطّيْبِ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ اَمَّا اْلغُسْلُ فَنَعَمْ وَ اَمَّا الطّيْبُ فَلاَ اَدْرِي. البخارى 1: 213
Dari Zuhriy ia berkata, Thawus berkata : Aku menanyakan kepada Ibnu ‘Abbas, (karena) orang-orang menyebutkan bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Mandilah pada hari Jum’at, siramlah kepala kalian walaupun kalian tidak junub, lalu pakailah minyak wangi”. Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tentang mandi, memang benar. Adapun tentang memakai minyak wangi, aku tidak tahu”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَوْلاَ اَنْ اَشُقَّ عَلَى اُمَّتِى اَوْ عَلَى النَّاسِ َلاَمَرْتُهُمْ بِالسّوَاكِ مَعَ كُلّ صَلاَةٍ. البخارى 1: 214
Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Sekiranya tidak akan memberatkan ummatku atau memberatkan manusia, tentu aku perintahkan untuk bersiwak pada setiap akan shalat”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 214]
Memakai pakaian yang bagus.
عَنِ عَبْدِ اللهِ ابْنِ سَلاَمٍ اَنَّهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ عَلَى اْلمِنْبَرِ فىِ يَوْمِ اْلجُمُعَةِ: مَا عَلَى اَحَدِكُمْ لَو اشْتَرى ثَوْبَيْنِ لِيَوْمِ اْلجُمُعَةِ سِوَى ثَوْبَى مِهْنَتِهِ. ابن ماجه 1: 348
Dari Ibnu Salam, bahwasanya ia mendengar Rasulullah SAW bersabda di atas mimbar pada hari Jum’at. “Apa kesulitannya salah seorang diantara kalian apabila membeli dua pakaian yang ia pakai untuk hari Jum’at, selain dari pakaian yang ia pakai untuk kerja/harian”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 348]
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ فَرَأَى عَلَيْهِمْ ثِيَابَ النّمَارِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا عَلَى اَحَدِكُمْ اِنْ وَجَدَ سَعَةً اَنْ يَتَّخِذَ ثَوْبَيْنِ لِجُمُعَتِهِ سِوَى ثَوْبَيْ مِهْنَتِهِ. ابن ماجه 1: 349
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW berkhutbah di hadapan orang-orang pada hari Jum’at, lalu beliau melihat orang-orang memakai pakaian loreng (yang biasa untuk kerja). Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apa kesulitannya seorang diantara kalian kalau mempunyai kelonggaran untuk menggunakan dua pakaian untuk shalat Jum’at, selain pakaian hariannya ?”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 349]
Berangkat awal waktu.
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ غُسْلَ اْلجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا اَقْرَنَ وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَ مَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ اْلخَامِسَةِ فَكَاَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً. فَاِذَا خَرَجَ اْلاِمَامُ حَضَرَتِ اْلمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُوْنَ الذّكْرَ. البخارى 1: 213
Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mandi Jum’at seperti mandi janabat, kemudian berangkat, maka seolah-olah ia berqurban seekor unta. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang kedua, maka seolah-olah ia berqurban seekor lembu. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang ketiga, seolah-olah ia berqurban seekor kibasy bertanduk. Barangsiapa yang berangkat pada saat yang keempat, seolah-olah ia berqurban seekor ayam. Dan barangsiapa yang berangkat pada saat yang kelima, seolah-olah ia berqurban sebutir telur. Apabila imam sudah datang, maka malaikat berdatangan untuk mendengarkan khutbah”. [HR. Bukhari juz 1, hal. 213]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا كَانَ يَوْمُ اْلجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلّ بَابٍ مِنْ اَبْوَابِ اْلمَسْجِدِ مَلاَئِكَةٌ يَكْتُبُوْنَ اْلاَوَّلَ فَاْلاَوَّلَ، فَاِذَا جَلَسَ اْلامَامُ طَوَوُا الصُّحُفَ وَ جَاءُوْا يَسْتَمِعُوْنَ الذّكْرَ. وَ مَثَلُ اْلمُهَجّرِ كَمَثَلِ الَّذِيْ يُهْدِى اْلبَدَنَةَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى بَقَرَةً ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى اْلكَبْشَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى الدَّجَاجَةَ ثُمَّ كَالَّذِى يُهْدِى اْلبَيْضَةَ. مسلم 2: 587
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila pada hari Jum’at, maka pada tiap pintu dari pintu-pintu masjid ada malaikat yang mencatat orang yang datang awwal, lalu yang datang berikutnya. Dan apabila imam sudah duduk, malaikat menutup buku catatan dan para malaikat datang untuk mendengarkan khutbah. Dan perumpamaan orang yang datang awwal, seperti orang yang berqurban seekor unta, kemudian seperti orang yang berqurban seekor lembu, kemudian seperti orang yang berqurban seekor kibasy, kemudian seperti orang yang berqurban seekor ayam, kemudian seperti orang yang berqurban sebutir telur”. [HR. Muslim juz 2, hal. 587]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: عَلَى كُلّ بَابٍ مِنْ اَبْوَابِ اْلمَسْجِدِ مَلَكٌ يَكْتُبُ اْلاَوَّلَ فَاْلاَوَّلَ. مَثَّلَ اْلجَزُوْرَ ثُمَّ نَزَّلَهُمْ حَتَّى صَغَّرَ اِلَى مَثَلِ اْلبَيْضَةِ. فَاِذَا جَلَسَ اْلاِمَامُ طُوِيَتِ الصُّحُفُ وَ حَضَرُوْا الذّكْرَ. مسلم 2: 587
Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Pada setiap pintu masjid ada malaikat yang mencatat orang yang datang awwal, lalu yang datang berikutnya. Rasulullah SAW memberi gambaran orang yang datang awwal seperti berqurban seekor unta, kemudian mengecil hingga seperti orang yang berqurban sebutir telur. Maka apabila khathib sudah duduk, maka catatan itu ditutup, dan para malaikat datang untuk mendengarkan khutbah”. [HR. Muslim juz 2, hal. 587]
Sumber hadits terkait
Berikut adalah sumber dalam Hadits berkenaan dengan ShalatJumat dan hari Jumat :
- "Mandi, mencabut bulu-bulu tak perlu, memakai siwak, mengusapkan parfum sebisanya pada hari Jumat dianjurkan pada setiap laki-laki yang telah baligh." (Muttafaq 'alaih)
- "Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at seperti mandi jinabat, kemudian dia pergi ke masjid pada saat pertama, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor unta dan siapa yang berangkat pada saat kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi, dan siapa yang pergi pada saat ketiga, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor domba yang mempunyai tanduk, dan siapa yang berangkat pada saat keempat, maka seakan-akan dia berkurban dengan seekor ayam, dan siapa yang berangkat pada saat kelima, maka seolah-olah dia berkurban dengan sebutir telur, dan apabila imam telah datang, maka malaikat ikut hadir mendengarkan khutbah." (Muttafaq ‘alaih)
- "Tidaklah seseorang mandi pada hari Jum’at dan bersuci sebisa mungkin, kemudian dia memakai wangi-wangian atau memakai minyak wangi, lalu pergi ke masjid dan (di sana) tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk berjajar), kemudian dia Shalatyang disunnahkan baginya, dan dia diam apabila imam telah berkhutbah, terkecuali akan diampuni dosa-dosanya antara Jum’at (itu) dan Jum’at berikutnya selama dia tidak berbuat dosa besar." (HR. Al-Bukhari)
- "Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at, sesungguhnya tidak seorang pun yang membaca shalawat kepadaku pada hari Jum’at kecuali diperlihatkan kepadaku shalawatnya itu." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
- "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka dia akan mendapat cahaya yang terang di antara kedua Jum’at itu." (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi, hadits shahih)
- "Sesungguhnya pada hari Jum’at ada saat yang apabila seorang hamba muslim mendapatinya sedang dia dalam keadaan Shalatdan memohon kebaikan kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya." (HR. Muslim)
Referensi
- ^ Iskan, Dahlan. "Ke Iran Setelah 20 Tahun Diembargo Amerika". PLN.co.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 Mei 2011. Diakses tanggal 19 Mei 2014.