Serangan lintas perbatasan di Sabah

artikel daftar Wikimedia

Serangan Moro di Malaysia adalah serangkaian serangan oleh Orang Moro dari Selatan Filipina ke atas Malaysia Timur sejak periode Inggris.[29][41] Banyak warga sipil tewas atau menderita selama insiden ini, menyebabkan peningkatan sentimen anti-Filipina di antara penduduk asli Sabah, terutama setelah serangan besar pada tahun 1985, 2000 dan 2013.

Serangan Moro di Malaysia

Serangan Moro ke atas Sabah dari kurun ke-19 hingga kini.
TanggalTercatat sejak tahun 1846[6] – kini
(168 tahun)
LokasiUtara dan bahagian timur Kalimantan
(Serangan saat ini)
Hasil

Sedang berjalan

  • Serangan bajak laut di barat Sabah berhasil dihentikan dan kehancuran benteng terakhir bajak laut di Tunku iaitu timur Sabah oleh Inggris.[7]
  • Deportasi Nur Misuari ke Filipina pada tahun 2001 setelah ia tinggal secara ilegal di sebuah pulau di Sabah untuk melarikan diri dari otoritas Filipina setelah pemberontakan yang gagal.[8]
  • Pembentukan RCI pada tahun 2012.
  • Pembentukan ESSCOM dan ESSZONE pada tahun 2013.[9][10]
  • Deportasi ribuan imigran ilegal Filipina di Sabah karena mereka menjadi musuh dalaman dan pengkhianat ketika kebuntuan 2013.[11][12]
Pihak terlibat

Imperium Britania

 Australia (1959–66)
 Selandia Baru (1957–66)


 Malaysia (1963–kini)


Didukung oleh:
 Brunei (pada tahun 1847 dan 2015)[1][2][3][4]

 Filipina (pada tahun 2013)[5]

Bajak laut Moro (sejak 1846)


Abu Sayyaf (2000–kini)


Misuari MNLF (2001–kini)


Kesultanan Sulu (fraksi Jamalul Kiram) (2013–kini)


Didukung oleh:

Filipina (1963–68)
Tokoh dan pemimpin

Henry Keppel (1846–49)
James Brooke (1846–49)
Johnson Brooke (1862)
William Pryer (1879)[13]
Roland Turnbull (1954–59)[14]


Najib Razak (kini)
Musa Aman (kini)


Didukung oleh:

Benigno Aquino III[5]

Berbagai pemimpin bajak laut
Saudara Muktadil (sejak 2014)[15]


Nur Misuari[16][17]


Jamalul Kiram III
Agbimuddin Kiram
Ismael Kiram II[18]
Phudgal Kiram[18]


Didukung oleh:

Diosdado Macapagal
Ferdinand Marcos
Pasukan

Angkatan Bersenjata Inggris[14]
 Angkatan Laut Australia[19]
 Angkatan Laut Kerajaan Selandia Baru[20][21]


Angkatan Bersenjata Malaysia
Polisi Diraja Malaysia


Angkatan Laut Filipina (memantau)[22]

Bajak laut Moro
Saudara Muktadil[23]


Penggarong Abu Sayyaf


Pengikut Misuari


Pasukan Keamanan Kerajaan Kesultanan Sulu dan Borneo Utara
Kekuatan
Pasukan Inggris:

Pasukan Australia

Pasukan Selandia Baru

Pasukan Malaysia:

  • ~kira-kira 10,000
Yang lain tidak diketahui

Pengikut Kiram:

Korban
Pasukan Inggris:

Pasukan Malaysia:

Bajak laut Moro:

Pengikut Kiram:

Penyusup tak dikenal:

~ Total diperkirakan lebih tinggi dari apa yang telah ditampilkan.

Latar belakang

Budaya Orang Moro

Ini telah menjadi bagian dari budaya untuk Kesultanan Sulu terlibat dalam aktivitas bajak laut.[29][42][43] Selama ekspedisi oleh kapal Inggris HMS Dido pada tahun 1846, Kapten Henry Keppel bahkan menyebutkan;

Bajak laut yang paling tidak pernah putus asa dan aktif dari seluruh Kepulauan Melayu adalah suku dari kelompok pulau Sulu yang terletak dekat dengan pantai utara Kalimantan.[6]

— Kapten Henry Keppel.

Kepulauan Sulu terkenal dengan aktivitas "pasar budak" dengan orang mereka sering ke Pulau Kalimantan untuk mencari budak.[44] Pada tahun 1910, tetangga Inggris, iaitu Hindia Belanda di Kepulauan Sulawesi diserang oleh tujuh bajak laut Moro yang telah menyeberang dari selatan Filipina, dua pedagang Belanda tewas dalam insiden itu.[41] Laporan selanjutnya dari pemerintah Inggris di Borneo Utara melaporkan bahwa Moro Jolo meneror penduduk Kalimantan Utara, menjarah kota-kota kecil dan membunuh orang.[24] Meskipun Inggris melakukan banyak untuk memerangi pembajakan,[41] kantor perusahaan Inggris kemudian digerebek oleh dua belas bajak laut Moro di Kalabakan pada Juli 1958. Serangan serius lain yang lebih awal dilakukan pada kota terdekat Semporna pada 29 Maret 1954.[14] Selama tahun terakhir pemerintahan Inggris di Borneo Utara, baik pelaut dan permukiman pesisir mengalami tingginya jumlah serangan dari bajak laut yang diyakini berasal pada Tawi-Tawi.[29] Antara tahun 1959 dan 1962, sudah 232 kali bajak laut menyerang dicatat oleh otoritas Inggris di Borneo Utara, tetapi ini dianggap cuma sedikit kerna lebih banyak serangan tidak dilaporkan.[29] Gubernur Borneo Utara pada saat itu, Roland Turnbull pernah meminta bantuan ke pangkalan Inggris di Britania Raya untuk memberikan dia keamanan dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara Britania Raya tetapi tidak ada bantuan dikirim sehingga media Inggris, Daily Telegraph menghiasi laporan anti-Indonesia ketika sudah dekat dengan era konfrontasi;[14]

Borneo Inggris telah selama bertahun-tahun menjadi sasaran serangan dari bajak laut dari Filipina dan Indonesia, media itu mengklaim.[14]

Migrasi Moro ke Sabah

Arus migrasi wilayah di Asia Tenggara bukan fenomena yang luar biasa. Hubungan sosial dan budaya antara Sabah, bagian selatan Filipina dan provinsi Kalimantan Utara di Indonesia telah wujud selama berabad-abad. Tradisi migrasi dari Kepulauan Sulu ke Sabah wujud dari abad ke-16.[45] Gelombang pertama migrasi ini dikaitkan dengan penjajah Spanyol yang mulai mendorong ke selatan menuju pulau Sulu dan Tawi-Tawi dari Manila, yang merupakan pusat administrasi Spanyol selama waktu itu. Perjuangan dominasi antara kelompok etnis yang berbeda dan Spanyol di wilayah selatan Filipina menyebabkan meningkatnya imigrasi kelompok etnis Moro Filipina yang kebanyakannya Suluk dan Bajau ke Sabah.[45]

 
Sebuah pemukiman besar etnis Moro di Pulau Gaya berdekatan Kota Kinabalu.

Kedatangan imigran ilegal pertama di Sabah pada tahun 1960 dikatakan terkait dengan presiden Filipina saat itu Ferdinand Marcos dan klaim negaranya untuk wilayah utara pulau Kalimantan.[45] Pada saat yang sama, Suluk dari selatan Filipina, Mustapha Harun menjadi Ketua Menteri ketiga bagi Sabah. Selama masa jabatannya dari tahun 1967 sampai tahun 1975, ia diyakini telah mendorong banyak warga Suluk untuk pindah ke bagian utara pulau Kalimantan untuk mendirikan sebuah komunitas Muslim yang kuat yang diwakili oleh Organisasi Nasional Serikat Sabah (USNO).[45] Migrasi tinggi mendadak ke Sabah dapat dijelaskan dengan niat individu politisi berusaha untuk mencapai tujuan-tujuan politik dan pribadi mereka.[45]

Faktor-faktor lain yang menyebabkan migrasi yang tinggi ini disebabkan oleh ketidakstabilan Filipina pada tahun 1977 yang telah menyebabkan masalah ekonomi utama untuk Sabah.[35] Serangan tentara Filipina terhadap fraksi anti-Marcos di Pulau Sulu dan Mindanao telah meninggalkan banyak infrastruktur hancur, memaksa sekitar 100,000 orang Moro di Selatan Filipina mengungsi ke Sabah. Sementara mereka yang tidak meninggalkan pulau Filipina telah terlibat dalam kegiatan kriminal, terutama pada penyelundupan dan perampokan bersenjata.[35] Sampai hari ini, sejumlah besar imigran ilegal Moro hadir di sebagian besar kota Sabah seperti Kota Kinabalu, Kinarut, Lahad Datu, Sandakan, Semporna, Tawau dan Telipok.[46][47][48][49][50]

Selain itu, kesenjangan ekonomi antara selatan Filipina dan Sabah menjadi alasan utama mengapa banyak warga ilegal Moro menyelinap ke Malaysia. Beberapa warga Moro ini juga masih menganggap bagian timur Sabah adalah bagian dari negara Filipina yang membuat mereka merasa bahwa mereka bisa masuk Sabah karena hak istimewa atau hak sejarah mereka.[51]

Pada tahun 2014, Intelijen Koordinasi Keamanan Perintah Keselamatan Timur Sabah (Esscom) Hassim Justin telah menyalahkan pada korupsi, penerbitan kartu identitas ilegal dan otoritas lokal yang tidak mengambil tindakan apapun untuk memerangi koloni liar yang sekarang telah mengkontribusi pada peningkatan tinggi populasi imigran ilegal di Sabah, ia menyebutkan tentang budaya imigran tersebut;

Meskipun orang asing ini tinggal di Sabah, loyalitas mereka ke Filipina tidak pernah hilang dan mereka membawa kejahatan seperti narkoba, penyelundupan dan pembajakan. Orang-orang Filipina dari wilayah ini juga pendendam dan pemarah, di mana bila ada perselisihan sering kali mengakibatkan penembakan dan berakhir dengan perseteruan berdarah. "Suatu budaya yang mereka sering sebut sebagai Rido".[52]

Serangan

Abad ke-20

Pada tahun 1962, tujuh orang Moro Filipina bersenjata dengan parang menyerang kota Kunak dan merampok pengusaha di sana. Mereka sekali lagi menyerang pada tahun 1963, kali ini menyerang kota Semporna dan membunuh sejumlah penduduk.[28] Pada bulan Oktober 1979, sebuah kapal penumpang dalam perjalanan ke Semporna dari Lahad Datu dengan 48 penumpang diserang dan dipaksa ke Pulau Adal. Tiga penumpang tewas ditembak, seorang perempuan diperkosa dan penumpang yang lainnya dibawa ke Filipina tetapi segera ditemukan oleh pasukan keamanan Filipina. Pada tahun 1980, sebuah kelompok yang terdiri dari 6-8 orang Moro menyerang sebuah pulau dekat Semporna dengan senapan M-16, membunuh penduduk desa sementara mereka masih tidur. Pada akhirnya, tujuh warga desa tewas sementara 11 lainnya luka-luka. Pada tahun 1982, sebuah kelompok masyarakat Moro sekali lagi menyergap sebuah desa di Pulau Timba-Timba, mereka mulai menembak, merampok dan membunuh penduduk desa. Motif segera ditemukan adalah kerna balas dendam. Sementara insiden pada tahun 1985 dianggap sebagai salah satu insiden yang paling menakutkan apabila 21 orang terbunuh dan 11 lainnya luka-luka. Sebagai pembalasan, lima dari penyusup ini kemudiannya dibunuh oleh polisi laut Malaysia sementara yang lain berhasil meloloskan diri. Pada akhir tragedi itu, salah satu korban mengatakan;

Aku tidak bisa berhenti bertanya pada pemerintah kita, yang tidak bisa melindungi kami dari perampok tersebut.[35]

Pada tahun 1987, dua manajer Jepang tewas sementara yang lain terluka setelah dua belas penyusup Moro menyerang sebuah pabrik di Pulau Boheydulang, memaksa perusahaan tersebut untuk tutup dan memindahkan pabrik mereka ke Indonesia.[34]

Pada tahun 1996, dua kelompok bersenjata dari selatan Filipina menyerang kota Semporna, kumpulan pertama menyerang kantor polisi dengan melemparkan bom ikan sedangkan kelompok kedua berhasil mencuri perhiasan senilai sekitar RM100,000 di sebuah toko emas. Selama tembak-menembak, dua anggota dari kelompok ini ditangkap polisi Malaysia dengan 200 peluru berhasil dirampas. Namun, sebagian dari mereka berhasil meloloskan diri. Pada bulan Maret 1996, serangan lain dari 10-20 orang Moro terjadi pada kota Semporna ketika tiga kelompok bersenjata yang terpisah menyerang tempat yang berbeda dalam waktu yang sama. Kelompok pertama menyerang markas polisi sementara kelompok kedua menyerang kantor polisi. Motif mereka diketahui apabila dua kelompok ini sebenarnya membuat waktu tertunda sementara membiarkan keberhasilan kelompok ketiga dalam merampok toko emas. Tidak ada penangkapan dilakukan dan semua penyusup berhasil meloloskan diri dengan RM200,000. Sekali lagi pada bulan Juli 1996, empat pria bersenjata menyerang sebuah toko emas di Tawau dan berhasil mencuri perhiasan senilai sekitar RM150,000. Namun, salah satu pria bersenjata kemudian membuat kesalahan ketika ia mundur ke sebuah desa pengungsi di Tawau di mana ia ditembak mati oleh polisi. Setelah satu jam penyelidikan, 5 orang bersenjata dari kelompok lain turut dibunuh oleh polisi.[34]

Abad ke-21

Pada tahun 2000, kelompok Abu Sayyaf menculik sejumlah besar sandera. 10 daripadanya adalah para wisatawan dari Eropa dan Timur Tengah, sementara 11 adalah pekerja resort Malaysia. Semua sandera kemudian diselamatkan oleh pasukan keamanan Filipina di Jolo, Sulu. Pada tahun 2003, enam orang asing diculik oleh 10 bajak laut Moro. Pada tahun 2004, dua warga Serawak dan seorang warga Indonesia diculik oleh kelompok berbasis Abu Sayyaf. Pada tahun 2005, lima warga Filipina menculik tiga awak Indonesia dari sebuah perusahaan perdagangan berbasis Sandakan di Pulau Mataking berhampiran Semporna. Pada tahun 2010, sekumpulan kru kapal nelayan ditangkap kelompok bersenjata Filipina ketika perahu mereka tersesat ke perairan Filipina dekat Pulau Boan. Semua kru kemudian dibebaskan tanpa sebarang uang tebusan dibayarkan. Juga pada tahun yang sama, seorang manajer dan pengawasan rumput laut diculik oleh empat warga Filipina bersenjata di Pulau Sebangkat. Kedua korban dibebaskan 11 bulan kemudian. Pada tahun 2011, sepuluh warga Filipina bersenjata menculik seorang pengusaha Malaysia.[28] Pada 11 Februari 2013, sekelompok warga Filipina berada dalam sekitar 100-200 orang, yang mana beberapa dari mereka bersenjata, tiba dengan perahu di Lahad Datu, Sabah dari pulau Simunul, Tawi-Tawi, di selatan Filipina.[53] Mereka dikirim oleh Jamalul Kiram III, salah satu pengadu ke tahta Kesultanan Sulu. Tujuan mereka adalah untuk menegaskan klaim teritorial yang belum terselesaikan pada Sabah. Selama kebuntuan, 68 pengikutnya tewas termasuk 2 warga sipil dan 10 polisi dan tentara Malaysia.[54][55][56] Pada November 2013, tersangka militan Abu Sayyaf menewaskan seorang warga Taiwan di Pulau Pom Pom dan membebaskan istrinya sebulan kemudian di selatan Filipina.[57]

Pada bulan Januari 2014, sebuah percobaan penyusupan lebih lanjut oleh unsur-unsur asing di Sabah dapat diblokir oleh pasukan keamanan Malaysia.[58] Pada 2 April 2014, seorang turis Cina dan warga Filipina diculik dari Singamata Adventures Reef dan Resort, Semporna. Dua bulan kemudian, mereka diselamatkan oleh pasukan keamanan Malaysia dan Filipina. Pada tanggal 6 Mei 2014, penculikan yang melibatkan seorang warga negara Cina terjadi di Silam, dekat daerah Lahad Datu di Sabah.[57] Ia kemudian dibebaskan pada 10 Juli.[59] Pada tanggal 16 Juni, seorang peternak ikan dan pekerja Filipina diculik dari Kunak.[32][60] Manajer peternakan ikan dibebaskan pada tanggal 13 Desember dengan bantuan dua perunding Filipina, dengan salah satu dari mereka adalah pemimpin dari Front Pembebasan Nasional Moro.[33] Pada tanggal 12 Juli, seorang polisi ditembak mati dan polisi laut lainnya diculik di Mabul Water Bungalows Resort, Pulau Mabul.[61] Pada bulan Oktober 2014, dua nelayan Vietnam yang bekerja untuk majikan Malaysia, telah ditembak oleh bajak laut Filipina. Semua dari mereka kemudian diselamatkan oleh pasukan keamanan Malaysia dan dikirim ke Rumah Sakit Queen Elizabeth di Kota Kinabalu, Sabah.[62][63]

Taktik serangan

Taktik ini berbeda berdasarkan motif mereka untuk setiap kelompok, pada dasarnya mereka akan menyerang dan melarikan diri ke wilayah Filipina atau pulau terdekat ketika kegiatan mereka terlihat oleh pasukan keamanan. Pada saat modern ini, mereka biasanya akan mencuri mesin perahu, makanan dan hal-hal lain yang berguna seperti televisi dan bahkan decoder Astro.[64] Dalam beberapa kasus, orang Moro juga menyerang kota-kota, membunuh warga sipil tak berdosa dan penculikan seperti yang dibuktikan pada serangan Lahad Datu dan Semporna.[34] Imigran ilegal Filipina memainkan peran penting untuk membantu mereka untuk memberikan informasi tentang target mereka yang selanjutnya.[12]

Langkah penanggulangan

Keamanan geografi

 
Polisi Laut Malaysia berpatroli di perairan sekitar Semporna terutama pada desa Bajau Laut untuk mencegah intrusi selanjutnya.

Sejak zaman Inggris, Inggris telah mengalami sejumlah besar serangan, hal ini menyebabkan pengerahan Henry Keppel dan James Brooke pada tahun 1846 untuk mencari setiap sarang bajak laut di utara pulau Kalimantan.[6] Setelah perjalanan panjang berjuang dengan bajak laut, sarang bajak laut terakhir di Tunku, Lahad Datu dihancurkan oleh Inggris.[65]

Intrusi terbaru tahun 2013 membuat pemerintah Malaysia menetapkan Perintah Keselamatan Timur Sabah (ESSCOM), Zona Keamanan Timur Sabah (ESSZONE) dan mengerahkan aset ketentaraan terbesar bagi Sabah.[66] Selain aktivitas serangan bajak laut Moro dan Abu Sayyaf yang tak terbendung, pemerintah Malaysia telah memutuskan untuk memberlakukan jam malam di perairan timur Sabah dan mulai menggunakan radar untuk mendeteksi aktivitas yang mencurigakan pada setiap pemukiman kecil di sepanjang kawasan pantai timur.[67][68]

Terdapat juga panggilan dari mantan Ketua Menteri Sabah, Harris Salleh kepada pemerintah federal Malaysia untuk mempertimbangkan kembali usulan untuk memindahkan pangkalan Angkatan Udara Malaysia (RMAF) dari Butterworth ke Labuan. Beliau menyarankan pangkalan angkatan udara harus dipindahkan ke Tawau untuk kepentingan keamanan di timur Sabah.[69] Menteri Transportasi Malaysia, Liow Tiong Lai juga telah mengusulkan untuk memperluas wilayah ESSCOM dan ESSZONE untuk menutupi seluruh Sabah sebagaimana yang telah diusulkan oleh Yong Teck Lee.[70]

Pada tanggal 23 Januari 2015, Angkatan Udara Kerajaan Brunei memberi tetangga Malaysia empat S-70A Black Hawk sebagai hadiah. Malaysia mengatakan bahwa ia akan menggunakannya dalam penambahan aset yang tersedia untuk mempertahankan Sabah dari kemungkinan serangan lebih lanjut oleh warga Moro Filipina.[4]

Keamanan sosial

Referensi

  1. ^ Ranjit Singh (1984). Brunei, 1839–1983: the problems of political survival. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-582571-8. 
  2. ^ Steven Runciman (3 Februari 2011). The White Rajah: A History of Sarawak from 1841 to 1946. Cambridge University Press. hlm. 116–. ISBN 978-0-521-12899-5. 
  3. ^ Nicholas Tarling (17 Juni 2013). Southeast Asia and the Great Powers. Routledge. hlm. 58–. ISBN 978-1-135-22941-2. 
  4. ^ a b Marcel Burger (23 Januari 2015). "Brunei gives four Black Hawks as present to Malaysia". AIRheads. Diakses tanggal 24 Januari 2015. 
  5. ^ a b Ubac, Michael Lim (7 Maret 2013). "Aquino: I won't allow Sulu sultan to drag PH into war with Malaysia". The Philippine Daily Inquirer. Diarsipkan dari versi asli tanggal 24 Juli 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. President Aquino said in a statement, ‘I appeal to you (Jamalul Kiram III) — we should be really clear on this — this incident is wrong. If this is wrong, why should we (the government) lend support to this? We should support what is right… which will lead us to brighter prospects; the wrong option will only bring us ruin. That's it, that's my simple message.’ He also added ‘Let's not forget: What they (the Jamalul Kiram III faction) are pushing for is their right as so-called heirs of the sultan of Sulu. It's not yet clear if their rights have been transferred to the Philippines. But we (the Philippines citizens and our nation) will all be affected by their conflict (with Malaysia).’ 
  6. ^ a b c CAPTAIN THE HON. HENRY KEPPEL, R.N. (1846). THE EXPEDITION TO BORNEO OF H.M.S. DIDO FOR THE SUPPRESSION OF PIRACY. hlm. 214–. 
  7. ^ Oxford Business Group. The Report: Sabah 2011. Oxford Business Group. hlm. 12–. ISBN 978-1-907065-36-1. 
  8. ^ "Nur Misuari to be repatriated to stand trial". Australian Broadcasting Corporation. 20 Disember 2001. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Juli 2014. Diakses tanggal 8 Juli 2014. 
  9. ^ Vanar, Muguntan (29 Juni 2013). "Lahad Datu: Ops Daulat officially ends today". The Star. Diakses tanggal 11 Oktober 2013. 
  10. ^ "ESSCOM will continue to hold programmes on security within ESSZONE". The New Sabah Times. 22 Oktober 2013. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Juni 2014. Diakses tanggal 26 Oktober 2013. 
  11. ^ Jaymalin, Mayen (25 Maret 2014). "Over 26,000 Filipino illegal migrants return from Sabah". The Philippine Star. ABS-CBN News. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  12. ^ a b Gindol, Kanul (31 Mei 2014). "'Localised' illegal immigrants helping 'foreign' relatives in Sabah". The Ant Daily. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  13. ^ "Sandakan Heritage Trail". etawau. 3 April 2014. Diakses tanggal 7 November 2014. William Pryer was the founder of modern Sandakan in 1879. He cleared the bay of pirates and took the first steps to eliminate slavery which was rampant at the time. 
  14. ^ a b c d e Greg Poulgrain (1998). The Genesis of Konfrontasi: Malaysia, Brunei, Indonesia, 1945–1965. C. Hurst & Co. Publishers. hlm. 177–. ISBN 978-1-85065-513-8. 
  15. ^ "Sabah kidnaps work of Muktadil brothers: Cops". Daily Express. 24 Agustus 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  16. ^ Teoh El Sen (14 Maret 2013). "MNLF supports Sulu claim, says Nur Misuari faction". Astro Awani. Diarsipkan dari versi asli tanggal 5 Juli 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  17. ^ "Nur Misuari involved, says Zahid". Bernama. MySinChew English. 16 Juli 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 16 Juli 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  18. ^ a b Rashvinjeet S. Bedi (27 Januari 2015). "Self-styled Sulu Sultan names Phugdal to be Raja Muda". The Star. Diakses tanggal 27 Januari 2015. 
  19. ^ a b Ian Pfennigwerth (2008). Tiger Territory: The Untold Story of the Royal Australian Navy in Southeast Asia from 1948 to 1971. Rosenberg. hlm. 69–. ISBN 978-1-877058-65-3. 
  20. ^ a b New Zealand. Registrar-General's Office; New Zealand. Census and Statistics Dept; New Zealand. Dept. of Statistics (1957). New Zealand official yearbook. Dept. of Statistics. 
  21. ^ New Zealand. Dept. of External Affairs (1963). External Affairs Review. 
  22. ^ Vanar, Muguntan (22 Februari 2013). "Lahad Datu Standoff: Philippines naval ships in Tawi-Tawi waters to help stabilise situation". The Star. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  23. ^ PK Katharason; Muguntan Vanar; Ruben Sario; Stephanie Lee; Philip Golingai (22 Juni 2014). "Muktadir kin – mastermind behind kidnaps?". The Star. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  24. ^ a b c Vic Hurley (1 Oktober 2010). Swish of the Kris, the Story of the Moros, Authorized and Enhanced Edition. Cerberus Books. hlm. 203–. ISBN 978-0-615-38242-5. 
  25. ^ Chris Bellamy (14 April 2011). The Gurkhas: Special Force. Hodder & Stoughton. hlm. 217–. ISBN 978-1-84854-515-1. 
  26. ^ Great Britain. Colonial Office (1961). Colony of North Borneo: Annual Report. H.M. Stationery Office. 
  27. ^ Abigail C. Kwok (10 April 2013). "Sulu Governor: No MNLF rescue mission for Filipinos in Sabah". Inter Aksyon. Diakses tanggal 8 November 2014. 
  28. ^ a b c d "Major incidences of Sabah cross-border crimes". The Star. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  29. ^ a b c d e f Stefan Eklöf (1 Januari 2006). Pirates in Paradise: A Modern History of Southeast Asia's Maritime Marauders. NIAS Press. hlm. 38–. ISBN 978-87-91114-37-3. 
  30. ^ a b c d e f Kronologi pencerobohon Lahad Datu (video) (dalam bahasa Malay). Astro Awani. 15 Februari 2014. Berlangsung pada 1:20. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  31. ^ a b "Malaysian cop killed, another kidnapped in Sabah". One News. Televisi Selandia Baru. 13 Juli 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  32. ^ a b "Extremists threaten to kill Malaysian hostage". Gulf Times. 30 September 2014. Diakses tanggal 7 November 2014. 
  33. ^ a b "Abu Sayyaf frees Malaysian hostage in Philippines despite massive military campaign". Mindanao Examiner. 10 December 2014. Diakses tanggal 11 December 2014. 
  34. ^ a b c d e Ramli Dollah (9 Disember 2004). "Lanun atau Mundu di Sabah" (PDF) (dalam bahasa Malay). Universitas Malaya. hlm. 176, 178 dan 180 (6, 8 dan 10). Diakses tanggal 5 November 2014. 
  35. ^ a b c d e f Masayuki Doi (30 Oktober 1985). "Filipino pirates wreak havoc in a Malaysian island paradise". The Sydney Morning Herald. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  36. ^ "Lahad Datu Recalls Its Blackest Monday". New Straits Times. 24 September 1987. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  37. ^ Muguntan Vanar (5 November 2014). "Sabah police chief: Penampang robbers were Sulu militants". The Star. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  38. ^ Charles Ramendran (26 Oktober 2014). "Intruder shot dead in boat off Semporna". The Sun. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  39. ^ "Alleged Pinoy intruder shot at PHL-Malaysian border —report". GMA News. 5 September 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  40. ^ "Abu Sayyaf behind Taiwanese man's murder, wife's kidnapping, police say". Taipei Times. 17 November 2013. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  41. ^ a b c Eric Tagliacozzo (2007). Secret Trades, Porous Borders: Smuggling and States Along a Southeast Asian Frontier, 1865–1915. NUS Press. hlm. 115–. ISBN 978-9971-69-385-5. 
  42. ^ David Joel Steinberg (1 Januari 2000). The Philippines: A Singular and a Plural Place. Basic Books. hlm. 91–. ISBN 0-8133-3755-0. 
  43. ^ James Francis Warren (2007). The Sulu Zone, 1768–1898: The Dynamics of External Trade, Slavery, and Ethnicity in the Transformation of a Southeast Asian Maritime State. NUS Press. hlm. 147–. ISBN 978-9971-69-386-2. 
  44. ^ George MacDonald Fraser (7 May 2013). Flashman's Lady. Penguin Group US. hlm. 254–. ISBN 978-1-101-63386-1. 
  45. ^ a b c d e Sina Frank (Mei 2006). "Project Mahathir: 'Extraordinary' Population Growth in Sabah (The History of Illegal Immigration to Sabah)" (PDF). Im Fokus. German Institute of Global and Area Studies. hlm. 72 dan 73 / 2 dan 3. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  46. ^ Kamal Sadiq (2 December 2008). Paper Citizens: How Illegal Immigrants Acquire Citizenship in Developing Countries. Oxford University Press. hlm. 47–. ISBN 978-0-19-970780-5. 
  47. ^ Examiner. L.O. Ty. 1979. 
  48. ^ "Deal sealed but to most Filipinos, Malaysia is home". The Star. 9 Oktober 2012. Diakses tanggal 16 Disember 2014. 
  49. ^ "Uncertainty at Sabah's Kinarut settlement". The Star/Asia News Network. The Brunei Times. 7 Disember 2014. Diakses tanggal 16 Disember 2014. 
  50. ^ Paul Mu (7 Disember 2014). "Berjaya govt let 73,000 refugees into Sabah". New Sabah Times. Diakses tanggal 16 Disember 2014. 
  51. ^ "RCI: Job opportunities attract illegal immigrants to Sabah". New Straits Times. 3 Disember 2014. Diakses tanggal 3 Disember 2014. 
  52. ^ "Illegals: Graft, illegal issuance of ICs, councils blamed". Daily Express. 24 Juni 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Juni 2014. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  53. ^ "Heirs of Sultan of Sulu pursue Sabah claim on their own". Philippine Daily Inquirer. 16 Februari 2013. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  54. ^ Mike Frialde (23 Februari 2013). "Sultanate of Sulu wants Sabah returned to Phl". The Philippine Star. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  55. ^ "Kronologi pencerobohon Lahad Datu" (dalam bahasa Malay). Astro Awani. 15 Februari 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  56. ^ "Dakwaan anggota tentera terbunuh hanya taktik musuh – Panglima Tentera Darat" (dalam bahasa Malay). Astro Awani. 12 Agustus 2013. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  57. ^ a b Pinghui, Zhuang (31 Mei 2014). "Chinese tourist kidnapped in Malaysia is rescued by security forces". South China Morning Post. Diakses tanggal 24 Juni 2014. 
  58. ^ Zolkepli, Farik (11 Januari 2014). "Another Sabah intrusion warded off". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 24 Juni 2014. 
  59. ^ Lee, Stephanie (10 Juli 2014). "Filipino gunmen free kidnapped Chinese fish farm manager". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 29 Juli 2014. 
  60. ^ Vanar, Muguntan (16 Juni 2014). "Kunak kidnap: Filipino gunmen kidnap fish breeder, worker in Sabah east coast". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 29 Juli 2014. 
  61. ^ Vanar, Muguntan (13 Juli 2014). "Mabul attack: Massive hunt for gunmen after cop killed, another feared kidnapped during shootout". The Star (Malaysia). Diakses tanggal 29 Juli 2014. 
  62. ^ "Filipino pirates shoot Vietnamese fishermen off Malay coast". Thanh Nien News. 17 Oktober 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  63. ^ "Vietnamese vessel attacked in Malaysia". Hanoi Times. 17 Oktober 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  64. ^ "Armed group fails to kidnap cage-fish farmer in Semporna". The Borneo Post. 8 Juli 2014. Diakses tanggal 5 November 2014. 
  65. ^ Borneo. Ediz. Inglese. Lonely Planet. 2008. hlm. 26–. ISBN 978-1-74059-105-8. 
  66. ^ Roy Goh (13 Oktober 2014). "More assets to enhance security in Sabah". New Straits Times. Diakses tanggal 7 November 2014. 
  67. ^ "Curfew for Sabah's east coast after spate of kidnappings". The Straits Times. 17 Juli 2014. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  68. ^ "Sabah security officials to assess threat on tiny settlements". The Star/Asia News Network. asiaone. 19 Agustus 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 22 Agustus 2014. Diakses tanggal 6 November 2014. 
  69. ^ "Harris: Shift RMAF base to Tawau, not Labuan". Daily Express. 3 November 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 7 November 2014. Diakses tanggal 7 November 2014. 
  70. ^ "Sabah's Safety Concern Should Be For Whole State – Liow". Bernama. 15 Juli 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 Juli 2014. Diakses tanggal 6 November 2014. 

Catatan

  1. ^ a b c d Lihat Pertempuran Mukah.